My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 87.



Anggi sedang menyuapi Dafi makan di kamarnya, dia benar-benar ingin mengurus putranya itu.


"Sayang, Mama boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Ma?"


"Sebenarnya apa yang kamu tahu tentang pernikahan papamu? Terus kenapa istri barunya memanggil papa kamu dengan sebutan Om?"


Dafi terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Dia sudah berjanji pada Damar akan merahasiakan sandiwara ini dari siapa pun, dia tak ingin ingkar sebab takut sang ayah berubah pikiran dan membatalkan niatnya untuk berpisah dari Sera.


"Sayang, kenapa kamu diam? Apa ada masalah? Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama?" cecar Anggi curiga.


Tapi ponsel Anggi berdering, dia buru-buru meraih telepon genggam itu dari dalam tasnya. Namun Anggi hanya bergeming menatap layar ponselnya saat melihat ID si penelepon, membuat Dafi bingung dengan sikap mamanya itu.


"Siapa yang menelepon, Ma? Kenapa tidak dijawab?"


Wajah Anggi tampak tegang bercampur cemas, "Datuk Dahlan, Mama tidak ingin bicara padanya."


"Kenapa? Mama sedang bertengkar dengannya?" tanya Dafi.


Anggi mengangguk lesu, "Mama minta cerai darinya."


Dafi tercengang, dia kaget setengah mati karena Anggi ingin bercerai. Padahal selama ini tak sekalipun dia mendengar ada berita miring atau problem yang terjadi dalam rumah tangga Anggi, yang dia tahu sang ibu hidup bahagia dan bergelimang harta di Malaysia.


"Memangnya ada masalah apa, Ma? Kenapa Mama ingin bercerai dari dia? Apa dia menyakiti Mama?" selidik Dafi.


Bukannya menjawab, Anggi malah menangis terisak-isak, membuat Dafi semakin cemas.


Tanpa pikir panjang, Dafi merebut ponsel Anggi yang terus berdering, "Sini, biar aku yang bicara padanya!"


"Jangan, sayang! Jangan!" Anggi merebut kembali ponselnya dan menolak panggilan dari suaminya itu.


"Kalau begitu katakan, Ma! Apa yang terjadi?" desak Dafi kesal.


"Baiklah, Mama akan cerita."


***


Setelah selesai menikmati makanan di restoran Jepang, Damar mengajak Sera ke sebuah taman di tengah kota. Mereka duduk di salah satu bangku panjang di bawah pohon rindang sambil menikmati es krim.


"Es krim nya enak, ya, Om?" cicit Sera.


"Iya, manis kayak kamu."


"Idih, gombal!"


Damar tergelak.


Sera begitu menikmati es krim di tangannya, bahkan sampai belepotan di bibirnya. Melihat itu, Damar geleng-geleng kepala dan berinisiatif membersihkannya.


"Dasar anak kecil, makan es krim belepotan begini." Damar mengusap bibir Sera yang kotor dengan ibu jarinya.


Sera tertegun karena perlakuan Damar itu, lagi-lagi dia merasa jantungnya berdebar dan diiringi getaran aneh, seperti ada sengatan listrik di dalam aliran darahnya. Entah mengapa sejak Damar menciumnya tempo hari, dia sering merasakan hal-hal semacam itu.


"Hei, kenapa melamun?" tegur Damar, membuat Sera tersentak kaget.


"Eh, i-iya, Om." Sera kembali memakan es krimnya dengan cepat demi menghindari rasa gugup dan canggung.


Damar mengernyit heran, "Kamu kenapa?"


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa, kok."


"Aneh." Damar memalingkan wajahnya, menatap hamparan rumput nan luas, di mana beberapa anak laki-laki sedang bermain sepak bola.


Suasana hening sejenak, keduanya menikmati es krim dengan pikiran masing-masing, sampai pertanyaan tak terduga Damar memecah keheningan.


"Kamu masih cinta dengan Dafi?"


Sera sontak memandang ke arah Damar yang masih menatap lurus ke depan, "Kenapa tiba-tiba Om bertanya seperti itu?"


"Om hanya ingin tahu saja, tapi kalau kamu tidak mau jawab, tidak apa-apa."


Sera terdiam, dia sendiri pun bingung dengan perasaannya saat ini. Dia masih mencemaskan Dafi, namun tak dipungkiri dia juga membenci mantan kekasihnya itu. Ditambah lagi getaran aneh dan perasaan asing yang sering dia rasakan saat berada di dekat Damar, sungguh membuat Sera tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan hatinya.


Damar mengerutkan keningnya, "Bingung kenapa?"


"Bingung dengan perasaanku saat ini, kalau boleh jujur, aku membenci Dafi karena telah menyakiti ku, tapi aku juga masih mencemaskan dirinya."


Hati Damar seperti tertusuk saat mendengar itu. Sakit.


"Jika kita berpisah nanti, apakah kamu akan balikan lagi dengan dia?"


"Sepertinya ... eh ...." Sera terkejut saat sebuah bola melayang dan menghantam es krimnya hingga jatuh ke tanah, hal itu membuat dia tak jadi melanjutkan kata-katanya.


Damar spontan berdiri dan menatap Sera dengan cemas, "Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak, Om. Aku tidak apa-apa, cuma es krimnya saja yang jatuh."


Seorang bocah datang dan berdiri di hadapan mereka dengan kepala tertunduk, "Tante, maafkan aku, ya? Aku tidak sengaja menendang bola itu sampai mengenai Tante."


Sera tersenyum dan mengusap kepala anak itu, "Tidak apa-apa, kamu kan tidak sengaja."


Damar terpana melihat kebaikan hati dan sikap lembut Sera pada anak itu.


"Kalau begitu aku boleh ambil bolanya?"


Sera mengangguk, "Boleh, dong!"


Damar mengambil bola itu lalu memberikannya kepada si bocah, "Ini bola kamu, mainnya hati-hati, ya."


"Iya, Om. Terima kasih."


Anak itu pun berlari setelah mendapatkan bolanya dan bergabung kembali bersama teman-temannya yang lain.


"Kamu baik banget, ramah lagi pada anak-anak," puji Damar.


"Dia kan sudah minta maaf, Om. Lagipula dia juga tidak sengaja, dan mau mengakui kesalahannya. Jadi aku harus hargai itu, dong!"


"Beruntung sekali anak-anak yang memiliki ibu seperti kamu, pasti mereka bahagia."


Sera tertawa dan berseloroh, "Tapi aku juga bisa jahat, loh."


"Ah, masa, sih? Om belum pernah lihat tuh kamu jahat, selama ini Om tahunya kamu itu baik dan cengeng," ledek Damar.


"Enak saja bilangin aku cengeng! Mau lihat kalau aku jahat seperti apa?" ujar Sera pura-pura marah.


"Mana? Coba tunjukkan! Om mau lihat sejahat apa kamu." tantang Damar sambil memakan es krim di tangannya yang mulai mencair.


Tanpa di duga, Sera mendorong tangan Damar sehingga es krim itu mengenai hidung sang suami, kemudian dia lari menjauh sambil tertawa-tawa.


Damar terperangah dengan tingkah nakal Sera itu, dia mengusap hidungnya yang kotor.


"Awas kamu, ya!" Damar mengejar Sera yang masih tertawa mengejeknya dari kejauhan.


Keduanya pun kejar-kejaran di taman seperti anak kecil. Sejak mengenal Sera, Damar jadi sering bertingkah seperti anak muda bahkan cenderung kekanak-kanakan, tapi dia menyukai itu, sebab membuat dia merasa jauh lebih mudah dari umurnya.


Akhirnya Damar berhasil menangkap Sera yang mulai kelelahan, dia merangkul gadis itu dan mengajaknya istirahat di bangku tadi. Akibat berlari-larian, keduanya kini jadi berkeringat dan kegerahan.


"Aku lelah, Om," keluh Sera sambil mengibaskan tangannya di depan wajah, dia ngos-ngosan.


"Om juga," balas Damar yang terengah-engah, "kalau begitu Om beli minum dulu, kamu tunggu di sini."


Sera mengangguk, Damar pun beranjak meninggalkan gadis itu.


Tak berapa lama, Damar kembali dengan membawa dua kantung plastik berisi berbagai macam minuman dingin.


Sera terkesiap, "Banyak banget, Om?"


"Buat mereka juga." Damar menunjuk anak-anak yang sedang bermain bola tersebut.


Sera tersenyum, dia semakin kagum dengan kebaikan hati Damar.


Keduanya pun memanggil anak-anak itu, lalu membagikan minuman kepada mereka, tentu saja mereka semua sangat senang dan berterima kasih.


***