Just Married

Just Married
episode 98: Janji Altezza



"Apa yang di bilang Alex itu benar, Altezza?" Selidik mama Hani kepada Altezza.


"Itu memang benar. Tapi sebelumnya..." Sesal Altezza.


"Jadi, kamu adalah Gibran Abraham yang Aisha cari selama ini?" Sela mama Hani dengan menahan rasa senang.


"I, iya" ucap Altezza ragu.


"Apa Aisha sudah tahu?" Selidik mama Hani.


"Aisha, sudah tahu tante" ucap Altezza.


"Ha??" Mama hani tak percaya dengan apa yang ia dengar itu.


"Bagaimana bisa? Dan kapan Aisha tahu? Dan juga kenapa Aisha tak memberi tahuku?" Ucap mama Hani kemudian dengan perasaan sedikit kecewa kepada Aisha.


"Han, Aisha juga baru tahu beberapa hari yang lalu saat Aisha di sini. Saat itu Aisha tak sengaja menemukan sebuah album rahasia milik Altezza" jelas mama Via.


"Dan kami juga baru tahu, kalau Aisha juga mengalami gegar otak ringan yang menyebabkan Aisha melupakan sebagian ingatannya" imbuh mama Via yang merasa sedih.


"Itu... Karena..." mama Hani tak meneruskan ucapannya lantaran insiden itu cukup membuat mama Hani enggan untuk mengingatnya.


"Ah, Aisha juga pernah kemari?" Ucap mama Hani kemudian.


"Hehe, itu aku yang menyuruh Altezza membawanya kemari. Maaf han, jika aku tak meminta izin kepadamu dulu" ucap mama Via dengan sedikit canggung.


"Ah, tidak apa-apa. Itu hal yang wajar kok mbak, kalau di Indonesia mungkin aku juga akan meminta Aisha untuk mengajak Altezza datang kerumah" ucap mama Hani dan memandang Altezza, tentu saja membuat Altezza sedikit salah tinggah.


"Nanti aku pasti akan berkunjung ke rumah tante, saat Aisha sudah wisuda dan kembali ke Indonesia" ucap Altezza dengan ramah.


"Baiklah, aku akan menunggu. Tapi ada sesuatu yang membuatku ingin bertanya kepadamu Altezza" ucap mama Hani kemudian dengan wajah serius.


"Apa itu, tante?" Selidik Altezza.


"Elan dan juga Boni, itu berarti suruhanmu bukan? Kenapa kamu lakukan itu? Bahkan kamu tak segan membantu usaha tante dan juga membiayai seluruh biaya sekolah Aisha, bahkan biaya hidup Aisha selama di Amerika. Tante tahu kamu juga telah mengganti biaya pengeluaran yang Danial keluarkan untuk Aisha di Amerika. Kenapa kamu lakukan semua itu untuk keluarga tante?" Ucap mama Hani, dengan nafas berat Altezza pun mulai membuka suara.


"Karena Altezza sudah berjanji untuk melindungi keluarga yang Altezza cintai sejak dulu, karena Altezza sudah bersumpah saat Altezza gagal untuk menolong om Amon dan juga kak Ares" ucap Altezza dengan berat namun terdengar tegas.


Deg, ucapan Altezza mampu membuat mama Hani terpukul dan membuat mama Hani ingin mengajukan banyak pertanyaan, lantaran mama Hani benar-benar tak menyangka Altezza mengetahui tentang insiden kecelakaan itu.


"Ba, bagaimana kamu tahu tentang itu?" Selidik mama Hani dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku tante, maafkan aku. Itu semua salah Altezza" ucap Altezza yang langsung berjongkok di hadapan mama Hani dan menggenggam erat tangan mama Hani.


"Apa maksud kamu?" Selidik mama Hani.


"Itu karena Altezza yang meminta om Amon juga kak Ares untuk membantu mempertemukanku dengan Aisha di puncak, tetapi kami kecolongan saat Rendra mengetahui keberadaan om Amon yang akan pergi ke puncak dan sengaja melakukan insiden kecelakaan itu untuk melenyapkan om Amon" sesal Altezza.


"Apa?" Mama Hani tak percaya.


"Han, kamu tahu kan inti masalahnya apa?" Sela papa Abraham.


"Iya, aku sudah tahu persis inti masalahnya antara Rendra dengan Amon" ucap mama Hani yang merasa sedikit syok.


"Bukan hanya Amon, tapi juga Ares" ucap papa Abraham.


"Apa?" Mama Hani tak percaya.


"Ya, sebenarnya Ares adalah anak yang cerdas sama seperti Alex, hanya saja dia merahasiakannya darimu. Dia mampu membaca situasi dengan tepat, bahkan dengan kecerdasannya aku yakin dia mampu mengalahkan Rendra, tentu hal itu menjadi ancaman bagi Rendra dan membuat keberadaan Ares cukup berbahaya" jelas papa Abraham dan membuat mama Hani tak percaya namun merasa kagum dengan Ares, putra pertamanya.


"Han, beberapa hari nanti akan ada seseorang yang datang kemari. Dia lebih tahu tentang Ares, kamu bisa memintanya untuk menceritakan semua tentang Ares yang tidak kamu ketahui selama ini" imbuh mama Hani.


"Siapa?" Selidik mama Hani yang sangat penasaran.


"Tentu, sahabat terbaik Ares" ucap papa Abraham dengan senyum bangga, tentu hal itu membuat mama Hani sangat penasaran.


"Itu sebabnya kamu membawaku kemari?" Ucap mama Hani dan menatap lekat Altezza yang masih berjongkok di hadapannya, yang masih menggenggam erat tangan mama Hani.


"Bukan... Sebenarnya bukan itu" ucap Altezza dan menunduk, lantaran ia tak kuasa untuk memberitahu yang sebenarnya.


"Han, sebetulnya Altezza meneruskan perjuangan Ares juga sahabatnya itu untuk mengalahkan Rendra. Altezza sudah berhasil mengakuisisi perusahaan milik Rendra dan berhasil menemukan bukti-bukti kejahatan Rendra dan juga kasus pembunuhan itu. Tapi..." sela mama Hani.


"Tapi apa mbak?" Selidik mama Hani dengan perasaan tak sabar.


"Rendra telah berhasil meloloskan diri karena ada yang membantunya, itulah mengapa kami membawamu kemari secara mendadak. Lantaran Rendra tengah mencoba untuk menyelidiki sisa keluarga Amon, lantaran bukti insiden itu membuat Rendra curiga jika sisa keluarga Amon lah yang melakukannya atau ada seseorang di balik rencana itu"


"Rendra yang bekerja sama dengan dunia bawah tak pernah menyerah untuk mencari siapa yang tengah berani menyentuhnya, rupanya pergerakan Alteza membuatnya marah dan terpaksa Altezza harus turun tangan untuk mengakhiri semuanya" imbuh papa Abraham.


"Apa???" Mama Hani terbelalak, ia kaget bukan main dengan apa yang ia dengar barusan itu.


"Jangan. Jangan lakukan itu" ucap mama Hani dan berbalik menggenggam erat tangan Altezza dengan gemetar.


"Maaf, tante" lirih Altezza.


"Tidak. Kamu jangan lakukan itu, kamu tahu sendiri kan Amon dan Ares yang berakhir bagaimana? Tante tidak mau hal itu terjadi lagi" ucap mama Hani dengan perasaan terpukul.


"Han, jika Altezza tak melakukannya, ini akan berbahaya untuk kamu, Alex juga Aisha" sela mama Via, dan berhasil membuat mama Hani dilema.


"Kamu tenang Han, aku tahu betul Altezza. Altezza lebih dari Ares bahkan diriku sendiri, kamu harus tahu sahabat Ares juga akan membantunya sampai tuntas. Kamu harus percaya kepada mereka" sela papa Abraham dengan mantap.


"Tak hanya itu, kami memiliki para anak buah yang terlatih dengan pengawasan ketat, dari sisi manapun kami memiliki semuanya. Aku yakin kita pasti akan berhasil mengalahkan Rendra" imbuh mama Via menenangkan.


"Tapi..." Belum sempat mama Hani berucap, Altezza langsung menyela.


"Ada satu hal yang ingin Altezza sampaikan kepada tante" ucap Altezza dengan mantap.


"Apa itu?" Ucap mama Hani.


"Beberapa bulan lagi Aisha akan wisuda, Altezza mau melamar putri tante di hari wisudanya nanti. Tapi sebelum itu, Altezza harus berhasil mengalahkan Rendra, jika tidak keluarga kita akan selalu dalam bahaya" ucap Altezza dengan mantap.


"Maka dari itu, mohon restui Altezza pergi untuk mengakhiri semuanya dan melamar putri tante" imbuh Altezza.


"Apa?? Yah, a,aku akan merestui kamu untuk melamar putriku, tapi tidak untuk..."


"Ma, Alex selama ini tidak tahu papa itu seperti apa, bahkan selama ini Alex tumbuh tanpa papa. Alex pun tidak tidak terima jika papa dan kakak meninggal dengan cara seperti itu, apalagi kak Aisha juga menderita. Ma, jika kak Altezza tidak pergi menyelesaikan semuanya, kita semua akan berakhir atau Alex yang akan pergi untuk membalaskan dendam itu" ucap Alex dengan kemarahan seorang anak kecil sekaligus rasa kesedihan yang amat dalam, bahkan mama Hani baru menyadari itu jika selama ini Alex telah menyimpan semua darinya.


"Alex..." Mama Hani pun rapuh, ia juga lupa jika Alex juga menderita yang tumbuh tanpa kehadiran sosok seorang ayah, mama Hani pun terpukul hebat di sana ia pun menangis dengan perasaan dilema dengan kuat Altezza menggenggam tangan mama Hani untuk menenangkan.


"Han, percayakan pada Altezza dan restuilah dia" ucap mama Via kemudian.


"Tapi, mbak..." Mama Hani merasa berat.


"Percayalah pada Altezza, tante" ucap Altezza dengan mantap.


Mama hani dilema, ia merasa berat lantaran Altezza merupakan Aisha cintain, mama Hani takut jika Altezza gagal Aisha akan mengalami seperti dirinya, apalagi ia juga sudah merasa akrab dengan Altezza, mama Hani yang masih meneteskan air mata pun memejamkan mata dan mengambil nafas panjang untuk mempercayakan dirinya.


"Baiklah. Tante akan mempercayai mu, tapi kamu cepatlah kembali dan kamu harus selamat. Tante tidak mau Aisha merasakan seperti apa yang pernah tante alami, kamu mengerti kan?" ucap mama Hani dengan perasaan pasrah dan menggenggam tangan Altezza kuat-kuat.


Deg, ucapan mama Hani seketika mengingatkan Altezza akan senyum Aisha yang terasa menentramkan dan selalu ia nantikan, bahkan ia tahu jika Aisha bersedih karena dirinya, tentu Altezza akan merasa terpukul.


"Mengerti. Aku berjanji akan segera kembali, aku Altezza tidak akan pernah mengecewakan siapapun" ucap Altezza dengan tegas dan mantap, ia pun mencium tangan mama Hani sebagai permohonan restu.


Setelah itu Altezza bangkit dan memberi salam hormat kepada mama Hani dan semuanya yang ada di sana sebagai tanda bahwa detik itu pula Altezza akan pergi ke medan perang. Altezza pun memantapkan langkah kakinya dan bergegas pergi yang kemudian di susul Leon yang rupanya sudah berhasil membaca situasi dan menanti Altezza di sisi pintu aula ruang keluarga. Selang beberapa waktu, Alex pun berlari untuk menyusul Altezza yang sudah jauh dari ruangan keluarga.


"Kakak ipar!!" panggil Alex, rupanya ia juga merasa berat akan kepergian Altezza, apalagi mereka belum ada kesempatan untuk mengobrol.


"Alex?" Ucap Altezza saat menoleh ke arah Alex yang nampak sedih dan berlari ke arah Altezza, Altezza pun tersentuh dan merasa bangga dengan tingkah Alex yang terlihat sedih itu, dengan refleks Altezza berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Alex.


"Eh? Siapa yang mau memelukmu?" Ucap Alex dengan angkuhnya saat sudah berada tepat di depan Altezza, bahkan Alex berpose bagaikan orang sombong.


"Hemp" Leon menahan tawa, begitu juga yang lainnya yang tanpa sengaja ikut melihat akan hal yang memalukan itu.


"Ada apa?" Ucap Altezza kemudian.


"Kakak ipar, kita belum ada waktu untuk berbicara. Dan, kak Aisha belum menikah jadi..."


"Aku tahu, aku tidak akan membuat kakakmu menjadi janda, oke" ucap Altezza sedikit acuh.


"Hehe... Baiklah, aku pegang ucapanmu itu. tapi jika kamu gagal dan meninggal jangan salahkan Alex jika Alex tidak akan pernah menganggap kamu sebagai kakak iparku, bahkan Alex akan mencarikan kakak ipar yang lebih tangguh darimu untuk kak Aisha" ancam Alex.


Deg,


"Haih... Anak ini, membayangkan Aisha dengan yang lainnya saja hatiku sudah sesakit dan semarah ini" suara rintihan dalam hati Altezza.


"Hei bocah, jangan remehkan kemampuanku. Kamu tunggu saja nanti, sebaiknya kamu persiapkan diri untuk aku hukum saat aku kemabali nanti" ucap Altezza yang tiba-tiba terasa mencekam.


Gleg,


"Ke, kenapa kakak ipar terasa menyeramkan" batin Alex dan menelan ludah lantaran merasa ketakutan dengan aura yang mencekam itu.


"Se, sepertinya aku telah meremehkan kemampuan kakak ipar" batin Alex.


"Ba, baiklah. A, aku tidak takut" ucap Alex yang masih melawan namun terdengar sedikit gagap.


"Bagus. Sebaiknya cepatlah kembali dan belajarlah dengan benar bocah kecil" tandas Altezza yang masih terdengar menyeramkan.


"Ba, ba, baiklah" ucap Alex yang masih dengan gagap karena ketakutan itu.


"Hemp. Bhuahahaha..." Tiba-tiba Altezza tertawa keras karena ia merasa menang dari Alex.


"Hehehe, memang adik nona Aisha ini benar-benar menarik" batin Leon yang juga menahan tawa.


Gleg, Alex pun menelan ludah. Sedangkan dalam pikiran Alex telah di penuhi binatang kelelawar yang tengah berterbangan dari dalam hutan.


"Altezza!" tiba-tiba papa Abraham datang dan menghampiri mereka, dengan buru-buru Alex bersembunyi di belakang papa Abraham dengan ekspresi ketakutan.


"Altezza, apa yang kamu lakukan kepada Alex sampai ketakutan seperti ini?" Ucap papa Abraham.


"Hanya memberi sedikit pelajaran kepada bocah yang sombong" ucap Altezza dengan entengnya dan bermaksud menyindir Alex yang tengah mengintip ke arahnya.


Plak... Papa Abrahan memukul kepala Altezza.


"Dasar bodoh. Ini anak orang, mau kamu jika mamanya tidak memberimu restu tentang hubunganmu dengan Aisha?" Ucap papa Abraham.


"Itu... Altezza hanya bercanda pa" tiba-tiba Altezza merasa kalah dan membayangkan jika mama Hani tak merestui hubungannya.


"Haha, memang keluarga yang harmonis" batin Leon dan menahan tawa.


"Baiklah. Altezza pergi" ucap Altezza kemudian dan berbalik badan kemudian bergegas pergi. Begitu juga Leon, ia memberi salam hormat kepada papa Abraham lebih dulu kemudian menyusul Altezza untuk pergi.


Sedangkan Alex dan papa Abraham yang masih berada di sana.


"Bagaimana?" Seru papa Abraham.


"Yes" ucap Alex dan mereka pun saling menepuk tangan satu sama lain sebagai tanda kemenangan.


"Akhirnya aku bisa mengalahkan Altezza" seru papa Abraham dengan bangga, lantaran selama Altezza tumbuh dewasa papa Abraham susah untuk mengatur Altezza.


"Tapi jangan lupa, Alex bisa kasih tahu kepada tante" ucap Alex kemudian dengan liciknya.


"Hah? Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?" ucap papa Abraham dalam hati, ia pun menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya sebagai rasa tak percaya akan tingkah anak kecil itu.


"Alex, om mohon jangan kasih tahu tante ya. Nanti om janji akan membawa Alex jalan-jalan, oke?" ucap papa Abraham yang tengah menyogok itu.


"Deal" ucap Alex, ia pun bergegas pergi bagaikan orang dewasa.


"Amon, Amon, tidak ada kamu yang biasa mengerjai ku sekarang anak kamu yang mengerjaiku" ucap papa Abraham dalam hati, ia pun tersenyum akan tingkah Alex yang memang cerdik di usianya itu.


Di sisi lain kota Manhattan, saat waktu itu sudah sore menjelang petang.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman.." keluh Aisha dalam hati yang tengah duduk melamun di dalam mobil saat sedang dalam perjalanan pulang menuju vila kediaman Altezza.


"Apa karena aku sudah lama tidak mengabari mama?" Gumam Aisha dalam hati, ia mulai merasa gelisah.


"Atau... Ah tidak tidak, mungkin aku terlalu lelah" gumam Aisha dalam hati ia pun menggelengkan kepalanya.


"Aisha, apa yang kamu pikirkan? Baru berapa hari, masa iya sudah kangen Altezza" keluh Aisha dalam hati.


"Tapi perasaan ini terasa aneh..." Gumam Aisha dalam hati.


"Nona Aisha? Apakah nona bai-baik saja?" Ucap paman Edo lantaran ia tak sengaja melihat Aisha yang terlihat gusar dari kaca spion dalam mobil.


"Ah, tidak. Mungkin aku hanya merasa lelah saja" ucap Aisha.


"Apa nona mau saya antar untuk rileksasi?" Tawar paman Edo.


"Boleh juga ide paman" ucap Aisha tanda menyetujui, ia baru menyadari beberapa tahun di Amerika jarang sekali ia memanjakan diri lantaran sibuk dengan kuliah dan juga jadwal-jadwal lainnya.


"Eh?" Aisha terhentak ketika tanpa sengaja melihat seorang anak laki-laki kecil yang pernah ia temui sebelumnya waktu bersama Altezza (eps.67) yang tengah berjalan di trotoar.


"Paman Edo, tolong menepi sekarang" pinta Aisha.


"Baik nona" ucap paman Edo.


Setelah mobil menepi dan berhenti, dengan buru-buru Aisha turun keluar untuk menghampiri anak kecil itu.


"Nona? Mau kemana nona?" Ucap paman Edo.


"Hai?" Sapa Aisha ketika sudah sampai di hadapan anak kecil itu.


"Kamu..." Anak kecil itu yang tengah mencoba untuk mengingat wajah Aisha.


"Kamu mau kemana?" Ucap Aisha, beberapa detik kemudian anak kecil itu pun menyadari jika Aisha adalah wanita yang pernah menolongnya dulu.


"Kakak?" Seru anak kecil itu setelah mengingatnya dengan jelas.


"Aku mau pulang, apa kakak mau berkunjung ke rumah kami?" Ucap anak kecil itu dengan perasaan senang.


"Boleh. Tapi, jauh tidak?" Ucap Aisha dengan senyum ramah.


"Ah tidak, hanya beberapa puluhan meter saja" ucap anak kecil itu dan menunjuk ke sebuah gang yang tak jauh dari mereka berada.


"Baiklah. Paman Edo, ikutlah dengan kami" perintah Aisha.


"Baik nona" ucap paman Edo.


"Adik kecil, bagaimana kabar kamu? Sudah lama kita tidak bertemu lagi, ku rasa kamu terlihat jauh lebih ceria" Ucap Aisha dengan ramahnya.


"Iya, keadaan kami sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, berkat suami kakak" ucap anak kecil itu dengan bangga.


"Eh? Maksud kamu?" Selidik Aisha, untuk memastikan apakah yang di maksud itu adalah Altezza.


"Siapa lagi kalau bukan tuan Altezza" seru anak kecil itu.


"Nah kan, sudah aku duga. Pria manalagi yang gemar mengaku-ngaku selain Altezza di kota ini" ucap Aisha dalam hati.


"Kok bisa begitu? Bagaimana ceritanya?" Selidik Aisha, ia ingat bet perlakuan Altezza saat itu tidak begitu lembut meskipun sebenarnya sangat perhatian.


"Nanti kami akan menjelaskan semuanya setelah kita tiba di rumah kami" seru anak kecil itu


"Baiklah, aku setuju" ucap Aisha, saat mereka masih berjalan di sebuah gang Aisha teringat akan suatu hal yang ia lupakan.