
JM_eps97
Satu minggu kemudian, di vila Altezza kota Manhattan.
"Uhhh... Sejak kembali dari London, aku selalu di sibukkan dengan tugas kampus. Bahkan Altezza hanya dua hari disini karena aku selalu sibuk dan sering mengabaikannya" keluh Aisha dalam hati, lantaran ia sudah tertinggal beberapa hari dan harus mengerjakan banyak tugas.
"Sepertinya kondisi kak Aisha sedang buruk" gumam Lala dalam hati, saat sedang menyiapkan sarapan untuk Aisha.
"Tugasnya berat ya kak?" Ucap Lulu yang juga menyadari akan hal itu.
"Bukan berat, tapi aku hanya lelah akhir-akhir ini setelah dari London tugasku terasa banyak sekali" keluh Aisha.
"Semangat dong kak, jangan sampai kak Aisha mengulanginya kembali?" Seru Lala.
"Iya, pokoknya aku harus tetap semangat. Tinggal sedikit lagi semuanya akan selesai, semangat" ucap Aisha kemudian dengan semangat, ia pun melahap roti sandwich buatan Lala.
"Biar tambah semangat, susu kedelai varian coklat" seru Lulu dan menuangkan segelas susu kedelai coklat untuk Aisha.
"Wah, harum sekali" ucap Aisha yang sudah tak sabar untuk menikmati minuman itu.
Setelah di tuangkan, Aisha pun langsung meraih dan meminumnya selagi masih hangat.
"Nikmat sekali, memang coklat bikin rileks" ucap Aisha dengan perasaan yang menenangkan.
"Oh ya, di mana bibi Lin?" Ucap Aisha kemudian.
"Bibi sudah keluar tadi pagi sekali" ucap Lulu.
"Baiklah, kalian cepatlah sarapan" ucap Aisha.
"Baik" ucap Lala dan Lulu serentak, mereka bertiga pun sarapan bersama.
Sedangkan di Indonesia.
Malam itu di kediaman mama Hani mendadak melakukan persiapan untuk terbang ke London, lantaran perintah Altezza untuk segera membawa mama Hani dan juga Alex ke London. Elan dan juga Boni pun dengan sigap menjalankan perintah itu, sekalipun semua persiapan serba mendadak seakan-akan membuat mama Hani ragu dan merasa curiga sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Alex pun meyakinkan mama Hani, jika kali ini adalah kesempatan mama Hani untuk bertemu dengan Gibran Abraham.
Mama Hani hanya mampu menurut, ia mencoba untuk menuruti apa kata Alex. Di sisi lain mama Hani juga merasa penasaran seperti apa Gibran Abraham itu yang selama ini telah menjaga keluarganya bahkan tak segan membantu dirinya untuk mengembangkan usahanya. Selang beberapa waktu setelah persiapan, mereka telah siap untuk berangkat ke bandara, lantaran jadwal penerbangan hanya tinggal beberapa jam lagi.
Dalam perjalanan, Boni yang bertugas untuk mengemudi itu telah mempercepat laju kecepatan mobil agar segera tiba di lokasi, Alex masih menutup mulut dan tak mau berbicara mengenai hal itu begitu juga dengan yang lainnya, seakan-akan perjalanan malam itu terasa sunyi.
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa mengundang kami secara mendadak dan hari ini juga" ucap mama Hani dalam hati yang merasa khawatir.
"Semoga saja, tidak ada apa-apa di sana" batin mama Hani yang tengah berdoa.
Tak terasa mereka telah tiba di bandara, Elan dengan sigap turun dan memandu mama Hani dan juga Alex, sedangkan Boni tentu pergi untuk memarkirkan mobil di sebuah tempat. Setelah itu Boni buru-buru untuk menyusul Elan dan yang lainnya di suatu tempat, setelah beberapa saat kemudian Boni telah berhasil menemukan mereka dan ikut untuk duduk di sana.
Mereka duduk di sebuah bangku untuk menunggu waktu penerbangan yang hanya tinggal sebentar lagi, Elan mempersiapkan semuanya sebelum mereka masuk dan naik ke dalam pesawat, beberapa saat kemudian terdengar pengumuman jika penerbangan akan di lakukan beberapa menit lagi. Dengan sigap, Boni dan Elan memandu mama Hani dan juga Alex untuk segera masuk kedalam pesawat.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk di dalam pesawat dan pesawat itu pun telah siap untuk terbang menembus langit malam dan melakukan perjalanan yang cukup panjang.
"Akhirnya, setelah sekian lama bekerja kita akan tahu bos kita seperti apa" ucap Elan dengan suara pelan.
"Aku tahu, kita semua penasaran. Jika bukan karena kita yang lebih dekat dengan keluarga tante, mana mungkin kita bisa seberuntung ini" ucap Boni dengan suara pelan juga.
"Kamu benar" timpal Elan.
Perjalanan itu memanglah panjang dan memakan waktu lebih dari setengah hari, sebagian penumpang ada yang tertidur ada pula yang masih terjaga, begitu pula mama Hani yang masih terjaga lantaran ia masih kepikiran dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai rasa kantuk itu pun menyerang mama Hani dan membuatnya tertidur cukup pulas.
Tanpa terasa waktu telah berlalu, saat mama Hani sudah membuka mata rupanya ia masih dalam perjalanan dan bahkan malam itu sudah berganti pagi, perjalan yang panjang dan lama itu mampu membuat mama Hani mulai merasa tidak nyaman, ia pun teringat bagaimana Aisha yang menempuh perjalanan ke Amerika yang lebih jauh dari London. Mama Hani pun tak kuasa membayangkan perjalanan yang sangat melelahkan yang di tempuh anak perempuannya di sana, mama Hani hanya berharap Aisha selalu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat itu mendarat dengan selamat di bandara internasional kota London. Dengan sigap Elan dan juga Boni telah bersiap untuk mengkawal mama Hani dan juga Alex.
"Bos, sepertinya mereka sudah tiba di bandara" ucap Leon, saat mereka tengah melakukan perjalanan untuk pertemuan bisnis.
"Aku tahu" ucap Altezza.
"Sebetulnya aku juga merasa sedikit gerogi untuk bertemu dengan calon ibu mertua, aku tidak tahu kesan apa yang harus aku tunjukkan kepada ibu mertua nanti" ucap Altezza dalam hati.
Di sisi lain, rombongan mama Hani sudah di jemput oleh suruhan dari keluarga Abraham. Mereka kini tengah melakukan perjalanan terakhir untuk menuju kediaman Altezza, namun dari sorot mata anak kecil yang tengah menatap pemandangan kota legendaris itu sudah pasti merasa senang, lantaran sedari tadi ia terus menatap kearah luar jendela pintu mobil dan memandang indahnya kota London.
Beberapa saat kemudian mobil rombongan mama Hani sudah tiba di area kediaman Altezza, mama Hani pun takjub ketika melihat bangunan megah bak istana itu, begitu besar dan mewah. Bahkan tampak ada beberapa pelayan tengah berdiri untuk menyambut kedatangan dirinya beserta rombongannya.
Setelah mobil berhenti, seorang pelayan pria datang untuk menghampiri mobil yang mama Hani tumpangi, pelayan itu pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan mama Hani untuk turun begitu juga Alex. Saat mama Hani turun dari mobil, ia baru menyadari jika mobil yang ia tumpangi rupanya di kawal beberapa mobil lainnya.
"Sepertinya, Gibran ini bukan sembarangan orang, duh bagaimana ini" Mama Hani mulai was-was.
"Mari, nyonya. Semuanya sudah menunggu nyonya di dalam" ucap salah seorang pelayan wanita dan mempersilahkan mama Hani untuk berjalan dan masuk kedalam istana itu.
"Baik, terimakasih" ucap mama Hani, ia pun berjalan sembari memeluk pundak Alex dan melangkah bersama untuk menuju sebuah pintu besar yang tepat lurus dengan jalan setapak yang di desain bagaikan taman dengan pemandangan air manur yang begitu indah.
"Beruntung sekali kak Aisha" gumam Alex dalam hati.
"Selamat datang" ucap beberapa pelayan dan memberi hormat kepada mama Hani dan juga Alex, justru perlakuan itu membuat mama Hani merasa sungkan.
"Silahkan masuk, nyonya, tuan muda kecil" ucap seorang pelayan yang menjemputnya tadi dan mempersilahkan untuk masuk kedalam.
Betapa kagetnya mama Hani saat melihat sosok seorang wanita yang tak asing bagi dirinya yang tengah berdiri tersenyum kepadanya dengan seorang pria yang tak asing pula, merekalah tante Silvia alias mama Via dan juga papa Abraham teman terbaik mama Hani dan juga Amon, mereka tersenyum kepada mama Hani dengan perasaan senang.
"Mbak Silvia?" Ucap mama Hani yang merasa tidak percaya.
"Iya, ini aku Silvia. Han, ayo masuk" ucap mama Via yang langsung menghampiri mama Hani.
"Alex. Sekarang kamu sudah tidak penasaran lagi kan dengan tante?" Ucap mama Via kepada Alex.
"Ehem. Rupanya tante seperti ini ya" ucap Alex, lantaran mama Via tak lagi bersikap bak seorang bangsawan, mama Via bersikap lumrahnya seperti wanita biasa yang bertemu dengan kerabat dekat.
"Alex..." Mama Hani memperingatkan untuk menjaga sopan santun.
"Heheh, maafkan Alex karena orangnya..." Belum sempat mama Hani meneruskan ucapannya.
"Tidak apa-apa, memang dia persis seperti Amon. Aku malah suka dengan dia yang seperti ini" sela papa Abraham dan tertawa kecil.
"Ayo Han masuk, kamu pasti sangat lelah bukan. Biar aku tunjukkan kamar untukmu, Alex bisa dengan om Abraham ya" seru mama Via dan menggandeng tangan mama Hani.
"Ah, iya. Terimakasih" ucap mama Hani merasa sungkan.
"Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kepala pelayan, tolong suruh untuk mempersiapkan makan siang" perintah mama Via kepada kepala pelayan.
Mama Hani dan mama Via pun berjalan bersama, sampai mama Hani lupa untuk mempertanyakan tentang Gibran Abraham.
"Hei bocah kecil, ayo ikut om. Om jamin, kamu pasti suka" seru papa Abraham.
"Tapi om, ngomong-ngomong dimana kakak ipar?" Bisik Alex.
"Hahaha... Kamu ini, dia masih ada kerjaan. Mungkin setelah makan siang dia akan kembali" bisik papa Abraham, entah kenapa ia merasa terhibur dengan tingkah Alex.
"Oke, sip" ucap Alex yang seperti orang dewasa bahkan menunjukkan jempol tangannya dengan percaya diri.
"Hahaha, dasar Amon kecil. Ayo, om tunjukkan kamar Alex" ucap papa Abraham dan menggandeng tangan Alex.
"Oh ya om, om pasti teman baik papa bukan? Bisa om ceritakan tentang papa?" Ucap Alex, saat mereka berjalan bersama.
"Baik, nanti om akan cerita tapi kamu harus istirahat dulu" ucap papa Abraham terdengar ramah dan terasa akrab.
Memang mereka berdua terlihat sangat akrab, persis seperti seorang anak dengan seorang ayah. Mungkin Alex mendambakan figur seorang ayah, lantaran ia hidup hanya dengan seorang ibu dan juga kakak perempuan tentu Alex akan merasa nyaman saat bersama papa Abraham, apalagi papa Abraham orang yang baik dan supel.
"Gila. Ini rumah apa istana, gedhe banget" ucap Elan yang tengah berjalan menuju tempat istirahat khusus anak buah.
"Pantas saja, gaji kita saja tidak main-main padahal pekerjaan kita hanya main-main, hahaha" gelak Boni.
"Iya, iya. Aku juga baru sadar, rupanya kerjaan kita hanya main-main" ucap Elan.
"Sudah sampai, silahkan kalian untuk istirahat. Nanti akan ada pelayan yang mengantar makanan untuk kalian, mari" ucap seorang pelayan pria yang di utus untuk mengantarkan Elan dan Boni di kamar khusus.
"Terimakasih" ucap Elan.
"Terimakasih kembali" ucap pelayan itu.
"Buset, kamar buat anak buah saja senyaman ini" ucap Elan yang terpesona dengan desain kamar itu.
"Ya anggap saja hari ini kita kaya, tapi hoammm aku sudah ngantuk berat" ucap Boni yang langsung membanting tubuhnya di atas ranjang.
"Yahh, aku juga merasa ngantuk. Mumpung ada waktu. Aaaghhh... Sebaiknya kita tidur sebelum ada tugas lainnya nanti" Ucap Elan yang tengah meregangkan otot-ototnya.
Tanpa menunggu waktu yang lama mereka pun tertidur dengan pulas.
"Mbak, boleh aku bertanya?" Ucap mama Hani saat mereka sudah sampai di dalam kamar dengan mama Via.
"Iya?" Ucap mama Via yang masih dengan senyum ramahnya.
"Waktu tadi aku melihat ada..."
"Foto Aisha dengan Alrezza bukan?" Sela mama Via.
"Iya. Jadi..."
"Iya, dia putraku. Bagaimana, sangat tampan bukan, terlihat sangat cocok untuk Aisha kan?" Seru mama Via.
"Hah? Apa mbak Silvia tidak merasa keberatan, karena kita hanyalah.."
"Hush... Tidak baik bicara seperti itu, bukankah kita sama? Dan kamu harus ingat, itu kebahagiaan anak kita, kita tidak boleh menghalanginya" sela mama Via yang masih terdengar ramah.
"Tapi, Aisha kan masih... Kenapa fotonya sudah ada di dalam rumah ini?" Selidik mama Hani dengan hati-hati.
"Aisha orang yang sangat di cintai Altezza, Han. Tentu kami sudah tahu itu sejak dulu, dulu sekali malahan. Bahkan kami semua menyukai Aisha, pokoknya ceritanya panjang, lebih baik kamu istirahatlah dulu" ucap mama Via dan terdengar menenangkan itu.
"Oh iya, aku kemari atas undangan Gibran Abraham. Jika Altezza adalah... Berarti..." Pikir mama Hani yang baru menyadari akan hal itu. Ia berfikir jika Altezza dan Gibran Abraham adalah saudara kakak beradik, tapi bagaimana mungkin mereka memperebutkan Aisha?
"Han, nanti pokoknya kamu akan tahu semuanya. Istiratlah, sebentar lagi kamu akan menemuinya" ucap mama Via begitu lembut saat menyadari mama Hani tengah memikirkan sesuatu.
"Ah, baiklah" ucap mama Hani menurut.
Beberapa jam kemudian setelah acara makan siang, mereka tengah bercanda ria di ruangan keluarga utama, sesekali mama Hani takjub dan tak percaya jika foto anaknya itu sudah berada di sana yang artinya keberadaan Aisha telah di terima dengan sangat baik apalagi mama Via adalah teman baik mama Hani.
"Dimana mereka?" Ucap Altezza yang melangkah cepat saat sudah tiba di halaman.
"Mereka ada di ruang keluarga utama, tuan" ucap seorang pelayan pria.
"Sepertinya aku harus pergi" ucap Leon dalam hati, lantaran ia tahu untuk tidak mengganggu acara dua keluarga itu.
Saat Altezza berjalan cepat menuju ruang keluarga, tiba-tiba perasaannya semakin berdebar dan sedikit gerogi untuk menemui calon ibu mertua.
"Rupanya seperti ini rasanya" gumam Altezza dalam hati.
"Nah itu dia Altezza" seru mama Via, saat melihat Altezza datang.
Deg, mama Hani yang melihat Altezza secara nyata yang saat ini berjalan menuju dirinya benar-benar merasa takjub. Sosok seorang pria sejati, gagah nan rupawan, membuat mama Hani mengucapkan banyak syukur. Rupanya apa yang dikatakan Aisha benar, dia tampan, muda dan energik.
"Tante, selamat datang di kediaman kami" sapa Altezza yang langsung mencium tangan mama Hani, tanpa sadar mama hani tersenyum haru dan mengusap lembut pundak Altezza.
"Aku tak percaya jika ini benar-benar nyata" ucap mama Hani dalam hati.
"Bagaimana kabar tante?" Ucap Altezza.
"Baik, kabar tante baik" ucap mama Hani.
"Ehem" Alex sengaja berdehem.
"Huft... Lagi-lagi Alex" keluh mama Hani dalam hati.
"Lex, kemari beri salam kepada kak Altezza" ucap mama Hani.
"Baik" seru Alex, ia pun beranjak berdiri kemudian berjalan menuju ke arah Altezza.
"Salam kakak ipar" seru Alex dan mencium tangan Altezza, Altezza pun tersenyum dan mengacak-acak gemas rambut Alex.
"Gibran Abraham" ucap Alex kemudian penuh dengan penekanan bahkan sengaja.
"Apa??" Mama Hani tersentak kaget akan ucapan Alex.
"Yah, anak ini... Memang betul apa kata istriku" keluh Altezza dalam hati lantaran ia merasa tertindas.
"Hehe, anu..." Altezza yang masih merasa gerogi di tambah dengan ucapan Alex yang mampu membuat dirinya susah untuk merangkai kata, bahkan hampir membuat dirinya salah tingkah.