Just Married

Just Married
episode 25: Altezza, Awas Kamu!!



Tok tok tok... Tok tok tok...


Dinggg... Dung..


Suara pintu kamar apartemen Aisha begitu terdengar berisik, bahkan suara bel pintu itu pun ikut terdengar berisik.


"Hemmm... Siapa sih, pagi-pagi sekali mengganggu orang saja" ucap Sally yang masih merasa ngantuk berat.


"Biar aku yang buka, Sally" ucap Aisha yang merasa sudah terbangun jiwanya.


Lantaran suara di awal pagi itu sangatlah mengganggu dan membuat Aisha terbangun tanpa ada rasa kantuk sedikitpun, Aisha pun berjalan keluar menuruni anak tangga dan menuju pintu yang masih terdengar berisik akan ketukan. Entah siapa dibalik pintu itu, begitu sengaja berbuat berisik di awal yang masih sangat pagi.


Sampailah Aisha didepan pintu, dengan cepat Aisha membuka pintu itu agar tak lagi terdengar berisik, ia pun penasaran dengan pelaku pembuat onar itu. Saat Aisha membuka pintu, ia pun terkejut lantaran ada empat orang pria berpakaian serba hitam dan berbadan cukup besar dan tinggi, mereka langsung saja menerobos masuk tanpa memberi peluang Aisha untuk kabur, jangankan kabur untuk melongo saja Aisha sudah ditenteng lebih dulu bagaikan sampah masyarakat yang meresahkan warga.


"Eh, kalian mau..." Ucap Aisha Kaget, saat seorang pria tengah meraihnya.


"Cepat lepaskan aku" berontak Aisha, ketika sudah di tenteng oleh dua orang pria.


Dua pria yang menenteng Aisha hanya diam, dengan di susul dua pria dibelakangnya. Aisha merasa ini merupakan penculikan, tapi di apartemen mana ada penculikan secara gamblang begitu.


"Altezza bodohhh" teriak Aisha, saat menyadari adegan penculikan pastilah ulah Altezza. Aisha tetap memberontak agar terlepas dari cengkraman pria yang merupakan suruhan Altezza, namun sialnya Aisha tak mampu melepaskan diri. Setiap Aisha hampir terlepas dan kabur, pasti empat pria itu dengan sigap memapah Aisha kembali, yang saat kini menjadi pusat perhatian di apartemen.


Sesampainya di luar apartemen, sebuah mobil telah terparkir jelas seperti sedang menyambut kedatangan Aisha. Pintu itu pun terbuka dengan lebar, namun anehnya disana tidak ada Altezza melainkan hanya terlihat sopir. Badan Aisha yang kecil itu pun dihimpit oleh dua badan pria yang menentengnya tadi. Dengan di susul sebuah mobil dibelakangnya.


Mobil itu pun langsung melaju dengan cepat, Aisha merasa pengap akan keadaan seperti seorang penjahat yang telah tertangkap oleh polisi.


Wajah Aisha nampak geram dengan adegan itu, Aisha pun diam pasrah dan menunggu sampai orang-orang itu mempertemukannya kepada Altezza. Ingin sekali, Aisha segera memarahi Altezza dan memukul Altezza yang begitu licik dan bertindak semaunya.


Selang beberapa waktu, mobil itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Cukup jauh perjalan itu mereka tempuh, lima belas menit kemudian sampailah pada sebuah Hotel elit, disana terpampang jelas tulisan Hotel Qiu.


Aisha dipaksa untuk turun, dengan patuh Aisha turun dan di iringi empat pria bahkan ada beberapa bodyguard lain untuk mengarak Aisha. Disanalah nampak bibi Lin tengah menunggu kedatangan Aisha, dengan wajah geram Aisha menghampiri bibi Lin.


"Dimana dia?" Pekik Aisha.


"Nona, sebaiknya nona ikut dengan kami lebih dulu" ucap bibi Lin.


"Kenapa? Dimana dia, bibi katakan?" Ucap Aisha tak sabar.


"Maaf nona, tuan masih dalam perjalanan kesini. Karena tuan baru saja turun dari pesawat" ucap bibi Lin.


"Maksud bibi Lin?" Ucap Aisha tak mengerti.


"Maaf, nona Aisha. Sebaiknya cepatlah ikuti kami, atau tuan muda akan marah kepada kami" ucap bibi Lin, yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


Aisha pun menyetujuinya, toh sebentar lagi Altezza akan kemari. Aisha tak sabar lagi untuk meghajar Altezza, Aisha pun mengalah sementara lantaran tak ingin bibi Lin kena marah dengan Altezza.


Mereka berjalan dan memasuki lift, tak lama kemudian mereka sampailah pada lantai yang ia tuju. Dengan segera bibi Lin mengarahkan untuk tetap mengikutinya dengan disusul beberapa bodyguard, sampailah pada pintu tertulis A72, dengan segera bibi Lin membuka pintu, Aisha pun di persilahkan untuk masuk, sedangkan para bodyguard itu berjaga di depan pintu.


"Ah, selamat datang nona muda" seru kedua pelayan itu dengan cerianya dan begitu riang saat melihat Aisha telah datang, Aisha seperti mengenali kedua pelayan itu.


"Ah, nona. Sebaiknya nona cepat mandi" sela bibi Lin.


"Baiklah" ucap Aisha, dengan segera masuk kedalam kamar mandi. Aisha pun membersihakn diri di sana.


"Altezza, tak kan ku ampuni kamu" geram Aisha, saat air mulai keluar dari shower dan mulai membasahi tubuh Aisha. Beberapa lama saat Aisha menikmati segarnya air yang mengucur seluruh tubuhnya. Aisha di buat kaget, lantaran ketukan pintu kamar mandi di barengi suara bibi Lin untuk mempercepat mandinya.


Aisha pun dengan sigap menyudahi ritual mandinya. Aisha keluar dengan lilitan handuk berwarna putih, dua pelayan itu pun terlihat antusias dan senang melihat Aisha. Dengan sigap Aisha di layani oleh dua pelayan itu, untuk membantu Aisha.


"Eh, stop. Soal pakaian biar aku yang memakainya sendiri" pinta Aisha dengan nenyilangkan kedua tangannya.


"Hehe. Baiklah, kalau begitu. Nona muda, ini lah gaun yang nona harus pakai" seru salah satu pelayan sembari menyerahkan gaun berwarna pastel.


"Oke. Tunggu di luar jangan ikuti aku" perintah Aisha.


"Baik, nona" seru kedua pelayan.


Bibi Lin yang melihat itu hanya tersenyum termangu. Beberapa saat kemudian Aisha keluar dengan gaunnya itu sangat anggun di tubuhnya yang langsing.


Dengan sigap, kedua pelayan itu pun melayani Aisha dengan keahlian dalam mempercantik seorang wanita, yaitu makeup.


"Wow, nona. Tuanku memang benar, nona sangat sangat sangatt cantik" seru salah satu pelayan, saat selesai merias wajah Aisha.


"Bodoh. Ini karena make-up yang kau tempelkan di muka ku" ucap Aisha yang tak terima itu.


"Ah, tidak. Tanpa make-up pun, nona sudah sangat cantik" puji pelayan yang satunya.


"Kalian terlalu memuji" ucap Aisha.


"Maaf, nona Aisha. Tuan muda sudah menunggu di ruangannya" sela bibi Lin, ketika melihat Aisha sudah selesai di rias.


"Antarkan aku ke sana, bibi Lin" pinta Aisha.


"Baik, nona" ucap bibi Lin.


Aisha pun di arak menuju sebuah ruangan kusus, yang tak jauh dari kamar Aisha. Dalam diri Aisha, ia benar-benar tidak sabar untuk memaki Altezza yang telah membawanya hingga saat ini, apalagi dengan adegan bak penculikan itu.


"Heemmm.. hoaaammmmmn... Jam berapa ini, sepertinya sudah cukup siang... Hooaammm..." ucap Sally, sembari meregangkan otot-ototnya dengan wajah yang masih mengantuk.


"Aisha dimana ya?" Sally pun bangun dan melihat sekitar untuk mencari keberadaan Aisha.


"Aku ingat, tadi pagi kan berisik sekali. Coba aku cek di ruang tamu saja lah" gumam Sally


Sally pun turun kebawah dan mencari keberadaan Aisha. Namun sesampainya disana, ia tak menemukan Aisha. Sally pun mencari Aisha ke dapur, bahkan kamar mandi pun tidak ada.


"Kemana Aisha ya. Ha? Itu ponsel Aisha? Tapi kemana orangnya?" Ucap Sally sedikit panik.


"Ah, mungkin di bawah lagi cari makan. Mandi dulu lah, setelah itu nyusul Aisha ke bawah" pikir Sally, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.