
Di pagi yang cerah, dengan sinar mentari yang begitu indah dan menghangatkan tubuh.
Aisha yang masih pulas dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memberinya perhiasan dan juga pria yang pernah menolongnya dulu.
Didalam mimpi itu Aisha menjadi rebutan bagi kedua pria tersebut, hingga tangan Aisha merasa sakit, dan Aisha pun berteriak.
"Stopppp..."
Sally yang sedari tadi sedang mencoba untuk membangunkan Aisha itupun kaget dan langsung berhenti menarik tangannya, akan tetapi bukannya Aisha bangun malah bergeliat dan memeluk gulingnya, seraya berkata, "Bagus, kalian pergilah, pergi."
"Tunggu. Dia, mengigau?" Sally pun cekikikan melihat kelakuan Aisha.
"Hooo... aku tahu..." Selly memiliki niat terselubung.
Dan benar saja, Selly berteriak kencang didepan telinga Aisha, "maling..."
Sontak,.Aisha terperanjat bangun dengan wajah kucel dan rambut yang berantakan, "cepat. Cepat, panggil polisi," Aisha gelagapan.
Selly yang melihat tingkah Aisha pun tertawa, dan membuat Aisha tersadar, "Selly...!!!" teriaknya.
"Hahaha, ampun."
Selly berlarian seperti anak kecil, sedangkan Aisha seperti seorang ibu yang sedang mengejar anaknya yang super aktif.
"Selly, berhenti yuk. Aku sudah capek, nanti lanjutin lagi kejar-kejarannya. Kita istirahat dulu, oke," ucap Aisha kemudian yang sudah menyerah.
"Hahaha, jangan ngaco. Mana ada mengejar musuh diberi waktu untuk istirahat, yang ada musuhnya kabur tau," seru Sally.
"Biarin, lagian kamu sih. Ngapain ngerjain orang lagi tidur, kan aku jadi..." Belum selesai Aisha berbicara, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
Tok tok tok... Mereka berdua mulai menebak dan bertanya, siapa? Aisha berpikir itu Danial, tetapi tidak mungkin. Sebab Danial masih satu bulan lagi untuk datang berkunjung.
Tetapi rupanya Selly sudah berjalan ke arah pintu, dan sudah siap menemui seseorang yang ada diluar sana.
Tapi tak lama, Sally datang kembali dengan wajah ceria, bahkan tangannya sedang membawa bunga buket yang besar.
"Dari si..." belum sempat Aisha bertanya, Selly sudah langsung memotongnya dengan pertanyaan yang tajam, "Aisha, kamu punya pacar?"
"Mana ada," Aisha mengelak, karena dirinya memang merasa tidak memiliki pria manapun.
"Ini buktinya. Bunga buket ini, untukmu," ucap Sally dan menyerahkan bunga buket kepada Aisha.
"Apa?" Aisha terbelalak tak percaya.
"Ini, ada suratnya. Coba kamu baca, apa isinya," ucap Sally kemudian.
Buru-buru Aisha membuka isi surat tersebut, Aisha pun membacanya dengan seksama.
'selamat pagi, Aisha. Akhirnya aku menemukan kamu'
Surat itu tertulis dengan singkat, Aisha semakin waspada karena merasa diteror, Aisha pun mserasa sedikit lemas setelah membacanya.
Selly yang penasaran dengan isi surat tersebut, dengan sigap Selly merebut surat mungil itu dan membacanya.
"Oh, astaga. pria itu romantis sekali," seru Selly.
Aisha yang mendengar ucapan Selly, rasanya ingin sekali memukul kepala Selly, entah terbuat dari apa isi kepalanya itu.
"Ngomong-ngomong... kira-kira ini dari siapa ya?" selidik Selly sekaligus curiga kepada Aisha.
"Ya mana aku tahu," tegas Aisha.
Selly terpikir, "Apa jangan-jangan, dari pria kemarin?" tebak Selly.
Deg, jantung Aisha serasa terhenti. "Ku harap, jangan," gumamnya.
Aisha merasa was-was, jika memang itu dari pria yang kemarin malam, lantas apa tujuannya?
"Haha, ku pikir itu malah bagus. Bukankah itu kesempatan untuk memanfaatkannya?" ucap Selly sembarangan.
"Selly. Jangan bercanda!" Aisha cemas.
"Sebelumnya, kehidupanku dulu cukup rumit. Ini... sulit bagiku, aku takut..." Aisha semakin khawatir.
Selly menangkap ada suatu yang menakutkan tersembunyi dalam diri Aisha, dengan cepat Selly meminta maaf. "Maafkan aku, Aisha. Aku tidak tahu, apa yang sudah kamu lalui sebelumnya."
"Sudahlah, lupakan. Aku, pergi mandi dulu," ucap Aisha yang mencoba untuk menepis semua dugaan yang tak pasti.
Aisha pergi mandi, sedangkan Selly beranjak mempersiapkan diri. Karena hari itu mereka, akan menerima tugas yang cukup berat bagi keduanya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sudah siap pergi ke kampus, untuk menemui profesor Chris.
Setibanya di sana, mereka berdua sudah menerima data-data dari Professor Chris, untuk mereka kerjakan.
Dan mereka berdua telah sepakat, sebaiknya tugas itu di kerjakan di apartemen, agar lebih leluasa dan nyaman.
"Sebelum kita pulang... Bagaimana kalau kita beli sarapan dulu?" tawar Aisha.
"Ide bagus," Selly mengangguk setuju.
Mereka berdua berjalan kearah restoran cepat saji, dan memesan dua porsi burger dan dua gelas minuman.
"Ayo, cepatlah. Aku sudah lapar," ucap Selly yang terburu-buru ke arah bangku dekat jendela kaca yang sangat besar.
Ketika mereka sedang menyantapnya, tiba-tiba Aisha melamun.
"cuaca seperti ini, sepertinya paling enak makan makanan yang berkuah. Soto, soup... sepertinya bakso juga menggoda," gumamnya dalam hati.
"Aisha? Apa kamu baik-baik saja?"
"Hanya kangen makanan khas Indonesia, saja," terang Aisha.
"Oh... Bukankah disini ada orang Indonesia yang menjual makanan khas Indonesia?"
"Iya, tapi bukan itu yang ku maksud. Melainkan seperti bakso? soto? sop iga?" Aisha membeberkan.
"Haishhh... kau buat sajalah sendiri," celetuk Selly.
"Mana mungkin," bukannya Aisha tak mau.
"Baiklah, aku mengerti," Selly juga sudah tahu, karena kehidupan sehari-hari mereka sudah tersita akan jadwal kampus juga kerja paruh waktu.
"Tapi, kapan-kapan kamu buatlah. biar aku yang menjadi jurimu," imbuh Selly.
"Tentu," Aisha setuju.
Mereka berdua kembali fokus menyantap makanannya, hingga tak perlu waktu yang lama, mereka sudah selesai dan buru-buru pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dan setibanya di apartemen, mereka berdua langsung bersiap dengan meja kerja mereka, dan bergelayut dengan kesibukan yang ada.
Mereka berdua nampak fokus dan serius, hingga tak terasa, mereka sudah melaluinya berjam-jam di meja kerja mereka.
"Oh... aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Selly yang langsung bergegas pergi meninggalkan Aisha.
Dan saat itu pula, Aisha meraih ponselnya untuk melihat waktu jam berapa, rupanya angka itu sudah menunjukkan pukul satu siang lebih enam menit.
"Pantas saja perutku mulai keroncongan," gumamnya.
Aisha pun meregangkan otot-ototnya, dan bersiap untuk makan siang di luar. Namun tiba-tiba ada suara ketukan pintu, refleks lah Aisha pergi untuk membukanya.
"Permisi," rupanya seorang pria pengantar makanan.
"Iya,"
"Pesanan atas nama Aisha?"
Aisha mengernyitkan kedua alisnya, ia merasa dirinya tak memesan apapun.
"Tapi aku tidak pesan apapun?"
"Oh, tadi teman kakak yang memesan,"
Aisha berpikir, rupanya Selly yang memesan, "pantas saja, dia pergi ke kamar mandi," gumamnya dalam hati.
"Baiklah. berapa?"
"Oh, ini sudah di bayar. Silahkan," pria tersebut menyerahkan paper bag yang cukup besar itu.
"Baik terimakasih," ucap Aisha kemudian dan kembali menutup pintu.
Aisha berjalan sembari melihat isi apa yang ada didalam paper bag tersebut, rupanya dua kotak makanan bento.
Dengan cepat Aisha mengambil satu dan membukanya, kemudian Aisha melahapnya karena dirinya sudah merasa lapar.
Satu suapan baru masuk kedalam mulutnya itu, sudah mampu membuat Aisha terkejut. "Astaga... enak sekali," Aisha meleleh.
Dengan lahap Aisha kembali memakannya, dan ketika itu pula Selly baru keluar dari kamar mandi dan berjalan pergi kearah Aisha yang sepertinya sedang makan.
"Woahhh... makanan," mata Selly berbinar dan langsung meraih satu kotak yang ada di atas meja, "ini untukku, bukan?" imbuhnya sembari membuka kotak bento tersebut.
Sontak, Aisha terkejut. "Bukankah, kamu yang memesannya?" tanya Aisha.
"Tidak. Aku tidak pesan apapun," terang Selly yang sudah menyuapkan satu suapan kedalam mulutnya.
"Ouhhh... ini enak sekali..."
"Uhuk, uhuk," Aisha tersedak dan menepuk dadanya.
Selly yang sedang menjejal makanan di mulutnya itupun terhenti, dan menatap Aisha dengan perasaan bingung.
"Kamu kenapa?" Selly yang masih belum sadar.
"Kalau bukan kamu yang pesan, lalu siapa?" terang Aisha.
"Hah? bukannya kamu?" Selly tersadar.
"Tunggu," Selly menyadari sesuatu, dengan segera Selly meraih paper bag dan membongkar apa yang ada di dalamnya.
Sebuah kertas yang sebelumnya Selly kira adalah struk pembayaran, rupanya sebuah surat kecil.
Selly membuka dan membaca isi surat tersebut, "Makanlah yang kenyang, sayangku Aisha. Karena bekerja itu juga perlu energi. G.A."
"Oh astaga, aku yakin ini dari orang yang sama," Selly kegirangan.
Tapi tidak dengan Aisha, pikirannya menjadi tak karuan, lantaran pria itu sudah mengetahui tempat tinggal bahkan apa yang ia sedang lakukan. Terlebih lagi dirinya sudah melahap makanan itu, sudah habis setengahnya.
"Sudahlah. Nanti kita cari tahu, sebaiknya kita makan saja," ucap Selly kemudian, ia tak terima jika makanannya itu harus di buang.
"Anggap saja, hari ini kita sedang berhemat," imbuhnya.
Aisha ragu, tetapi makanan itu memanglah sangat lezat, sayang sekali kalau makanan itu harus di buang.
"Semoga saja, ini bukan dari orang jahat atau ada racunnya," celetuk Aisha.
Seketika Selly tersadar dan tersedak, "Puft.. Uhuk, uhuk..."