
Siang itu, pukul satu lebih tiga puluh lima menit. Altezza membawa Aisha di pusat perbelanjaan di kota Manhattan. Altezza hanya ingin memanjakan kekasihnya itu, dengan membawa Aisha di pusat perbelanjaan, mereka berjalan bergandengan tangan sembari melihat-lihat jika ada yang terlihat menarik perhatiannya. Tapi sayangnya, Aisha tak menginginkan apapun. Mulai dari pakaian, perhiasan, sepatu, bahkan tas pun Aisha enggan untuk memilah.
Aisha hanya perlu menikmati kebersamaan yang ada, dengan pria yang ada di sampingnya itu, Altezza. Aisha memeluk lengan Altezza, begitu nampak cerianya wajah Aisha. Namun sayangnya, kebahagiaan mereka menimbulkan kebencian yang amat dalam kepada Aisha, yaitu Amy.
Amy tanpa sengaja melihat kemesraan mereka, di saat Amy tengah memilah perhiasan dengan seorang pria tua, yang di duga sugar daddy nya Amy.
"Apa kamu menginginkan sesuatu, sayang?" Ucap Altezza, ketika Aisha terhenti di depan sebuah toko perhiasan.
"Tidak. Aku hanya mengingat tempat ini, dimana pertama kali kita bertemu dulu" ucap Aisha, sembari mengingat kejadian waktu itu.
"Sayang, tempat ini bukan pertama kali kita bertemu" ucap Altezza.
"Maksudnya?" Aisha tak mengerti.
"Aku sudah melihatmu lebih dulu, jadi bukan pertama kali bertemu" ucap Altezza dengan entengnya.
"Altezza..." Aisha mencubit tubuh Altezza, Altezza hanya meringis.
"Berani nyubit? Apa mau aku melahapmu di sini, sayang?" Goda Altezza.
"A,apa?" Aisha gelagapan, ia nampak malu
Altezza terus menggodanya, hingga membuat Aisha ingin merengek manja. Amy yang melihat tingkah laku pasangan itu, semakin terbakar api dalam dirinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Ucap pria tua itu, saat melihat Amy nampak kesal.
"Tidak. Tidak apa-apa" ucap Amy dengan kesal.
"Apa aku belum memuaskanmu, sayang" bisik pria tua itu dengan mesumnya.
"A,apa? Tidak, bukan itu" Amy mengelak, namun dalam dirinya tidak bisa menolak, karena ia sudah menahannya cukup lama. Lantaran Amy, sudah tiga minggu lebih hasratnya belum terpuaskan. Karena Amy, benar-benar terikat kontrak dengan pria tua itu. Jika Amy melanggarnya, tentu akan membawa masalah bagi dirinya.
"Pelayan, tolong bungkuskan yang ini untuk istri saya" perintah pria tua itu kepada pelayan toko, untuk segera mengemas perhiasan yang Amy pilih.
"Ayo, sayang. Kita pulang dan bersenang-senang" ajak pria tua itu sembari memeluk tubuh Amy dengan nafsu yang membara. Setelah mereka selesai membayar dan menerima barang yang sudah ia pesan itu.
"Sial. Lagi-lagi aku terpaksa dipuaskan oleh pria tua bodoh ini. Hooo... Aku benar-benar menginginkan Altezza, dia pasti lebih perkasa dari pria tua sialan ini" gerutu Amy dalam hati.
"Sayang..." Panggil Altezza.
"Hem?" Aisha menoleh kearah Altezza.
"Kita kembali ke toko perhiasan tadi" ucap Altezza.
"A, apa? Mau ngapain?"
"Ya mau beli lah sayang, masak mau ngutang" ucap Altezza dengan entengnya.
"Altezza?" Aisha merasa kesal.
"Sudah, nurut saja. Kalau tidak aku akan melahapmu disini?"
"Kamu?" Altezza pun langsung membawa Aisha ke toko perhiasan tadi yang sebelumnya mereka berhenti sebentar.
"Bagus, sudah pergi" gumam Altezza dalam hati.
Ternyata Altezza menyadari jika ada Amy disana, beruntung Aisha tidak melihat bahkan tidak minat untuk masuk kesana. Dan lima menit yang lalu pula, Altezza melihat sepintas Amy sudah keluar dari sana bersama seorang pria tua. Di saat dirinya sedang duduk di suatu tempat untuk istirahat sejenak bersama Aisha.
Altezza langsung mengatakan kepada pelayan, untuk segera memperlihatkan beberapa cincin yang simpel, elegan tapi terlihat mewah dan berkelas. Pelayan itu pun langsung mengeluarkan beberapa cincin dari brand ternama, bahkan limited edition. Pandangan Altezza tertuju pada sebuah cincin yang sederhana namun tetap berkelas tinggi.
"Sayang, kemarikan tanganmu" ucap Altezza, sembari meraih tangan kiri Aisha.
"A, apa?" Aisha ragu.
"Sudah, kemarikan tanganmu" ucap Altezza dan langsung memasukkan cincin itu ke jari manis Aisha.
"Sangat cocok untukmu" ucap Altezza, saat cincin itu sudah melekat dengan indahnya menghiasi jari Aisha.
"Pelayan, berapa harganya?" Ucap Altezza, yang bermaksud untuk langsung membayarnya.
"Altezza, apa maksudnya dengan ini?" Ucap Aisha.
"Itu untukmu, sayang. Tugasmu, jagalah cincin ini mulai sekarang dan seterusnya" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha, sontak membuat pelayan menjadi canggung akan pemandangan itu.
"Tuan, totalnya dua juta dollar" Ucap pelayan itu, Altezza langsung membayarnya dengan kartu debit platinum berwarna emas itu.
"Altezza. Ini terlalu mahal" bisik Aisha, ia merasa ragu untuk menerimanya. Apalagi saat mendengar harga perhiasan itu, jika di rupiahkan, berapa miliar.
"Ini masih tak seberapa dengan berlian yang jauh lebih mahal lagi, sayang" ucap Altezza dan mencium pipi Aisha, lagi-lagi pelayan itu merasa canggung.
"Tapi..."
"Hemm?" Altezza hanya menatap Aisha dengan senyuman yang penuh arti.
Aisha merasa, bahwa Altezza sedang memberi pesan, jika ia tidak menurut, Altezza akan melahapnya disana. Aisha pun diam dan menurut, ia hanya menahannya untuk menghujani Altezza nanti saat sudah berada di rumah.
Tanpa terasa waktu sudah berlalu, saat Altezza mengecek jam tangannya, rupanya sudah menunjuk ke angka tiga. Altezza pun mengajak Aisha untuk pulang.
Di dalam perjalanan, Aisha merasa perjalanan itu sangat lama. Bahkan jalanan yang mereka lalui nampak seperti bukan jalan pulang.
"Altezza, aku merasa kita tidak pulang" ucap Aisha dengan wajah bingungnya itu.
"Hemp... Apa iya?" Ucap Altezza.
"Altezza, apa kamu merencanakan sesuatu dariku?" Selidik Aisha.
"Sudah, nikmati saja perjalanannya. Aku lelah sayang" ucap Altezza, ia pun menyenderkan kepalanya di atas pundak Aisha.
Aisha, hanya menurut. Karena ia merasa Altezza memang cukup lelah akan pekerjaannya, dan kini mengajaknya jalan-jalan hanya semata-mata untuk menyenangkan dirinya.
Sudah cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, kini tibalah mereka di suatu tempat. Tempat itu merupakan tempat yang paling di gandrungi para wanita pecinta Fashion. Iya, toko yang cukup besar dengan tulisan brand ternama.
"Altezza? Kenapa ke sini?" Ucap Aisha.
"Ikut saja" ucap Altezza, ia pun menggandeng dan membawa Aisha masuk kedalam sana.
"Tuan muda" para pelayan menunjukkan hormat kepada Altezza, ketika meilhat Altezza masuk kedalam toko itu.
"Carikan yang cocok untuk nona muda kalian" perintah Altezza.
"Baik, tuan" beberapa pelayan itu menggiring Aisha untuk menuju ke sebuah ruangan khusus, mereka pun melayani Aisha atas perintah Altezza. Disana Aisha di dandani, dan dipilihkan beberapa gaun yang cocok bagi Aisha. Cukup lama Altezza menunggu di depan ruangan itu, bahkan Altezza sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih mewah dari biasanya. Tak lama kemudian, Aisha keluar dari ruangan itu. Aisha terlihat berjalan dengan malu-malu saat menuju Altezza yang sedang duduk di ata sofa.
Altezza yang mengetahui, bahwa Aisha sudah selesai pun menoleh ke arah Aisha. Sontak Altezza di buat kagum tak mengedipkan mata sedikitpun, ketika melihat sosok Aisha yang benar-benar berubah sangat cantik dan lebih menggoda lantaran gaunnya terlihat membentuk lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi, bahkan dadanya lebih terlihat menonjol dan sudah pasti membuat Altezza harus mampu menahan diri.
Hari itu Aisha benar-benar berbeda, jauh berbeda dari biasanya saat menghadiri pesta bersama Altezza sebelumnya, dengan balutan gaun merah yang terkesan mewah namun tetap elegan nan berkelas tinggi, ditambah kulit putih bersihnya Aisha, plus gaya rambut Aisha yang berbeda. Aisha benar-benar cantik, sangat cantik dan terlihat dewasa. Apalagi dengan sentuhan make up yang begitu mengesankan bak seorang ratu yang catik nan bijaksana.
Altezza langsung menarik tangan Aisha dan kemudian merangkulnya sembari menatap mata Aisha. Kini Aisha juga baru menyadari akan ketampanan Altezza yang benar-benar berbeda dari biasanya, jas hitam mewah yang sudah membaluti tubuh Altezza, ditambah dasi berwarna merah yang seakan-akan sudah menjadi couple dengan gaun yang Aisha kenakan. Apalagi pakaian itu menunjukkan layaknya seorang pria sejati. Altezza benar-benar terlihat lebih gentle, dirinya terlihat lebih memikat.
"Hemph.." Altezza menahan tawa.
"Ke,kenapa kamu tertawa?" Ucap Aisha, ia merasa malu jika dirinya ada yang salah.
"Wajahmu memerah, sayang" ucap Altezza.
"A,apa?" Aisha semakin malu.
"Tidak. Ayo, kita berangkat" ucap Altezza dengan semangat, kemudian memberi celah agar Aisha memeluk lengan Altezza.
"Kemana?" Ucap Aisha.
"Nanti kamu akan tahu" ucap Altezza, dan mencium kening Aisha.
Aisha pun langsung merangkul lengan Altezza. Mereka berjalan keluar dan segera menuju mobil, mereka pun pergi ke suatu tempat. Dimana tempat itu yang sempat tertunda sebelumnya, hari itu Altezza akan membawa Aisha ke sana.
Mobil Altezza melaju dengan cepat, hanya perlu sepuluh menit untuk tiba disana. Saat mobil sudah berhenti. Aisha melihat sebuah bangunan bergaya eropa yang sangat mewah.
"Sayang, ayo turun" ucap Altezza.
"I,ini dimana?" Aisha masih tak percaya.
"Sayang, apa harus aku menggendongmu?" Ucap Altezza.
Aisha langsung turun dengan memegang tangan Altezza yang sedari tadi mengulurkan tangannya untuk Aisha genggam. Mereka bagaikan seorang pangeran dengan seorang putri. Altezza pun mengajak Aisha memasuki bangunan itu, menaiki tangga demi tangga, hingga sampailah di sebuah balkon utama yang terlihat gelap tanpa cahaya lampu. Namun disanalah, nampak pemandangan sisa-sisa senja yang mengagumkan, danau yang cukup luas, pepohonan yang terlihat gelap tanpa cahaya lampu, dan kerlap kerlip lampu kota Manhattan.
"Sayang..." Panggil Altezza, Aisha langsung menoleh ke arah Altezza.
Dengan sekejap, lampu- yang ada di balkon itu hidup sedikit terang, dengan di hiasi lampu-lampu tumbl, dan beberapa hiasan bunga-bunga yang di tempatkan sedemikian apiknya, hingga mengesankan suasana romantis. Dan yang paling mengejutkan ialah, suara alunan musik romantis mulai terdengar begitu menggairahkan untuk berdansa dan merajut cinta yang lebih kuat.
Altezza meraih kedua tangan Aisha dan meletakkan di atas pundaknya. Altezza kemudian meraih tubuh langsing Aisha.
"Altezza. Aku, aku tidak bisa berdansa" ucap Aisha ragu, dan menarik kembali kedua tangannya dari pundak Altezza.
"Ikuti saja" ucap Altezza dan meletakkan kembali kedua tangan Aisha di atas pundaknya. Aisha pun menuruti apa kata Altezza.
Altezza pun langsung memulai gerakan perlahan untuk menuntun Aisha berdansa dengannya. Lambat laun Aisha sudah bisa menyesuaikan gerakannya dengan tepat. Benar-benar menakjubkan, Aisha yang awalnya sama sekali tidak bisa berdansa, malam itu Aisha benar-benar bisa melakukannya tanpa kesalahan sedikitpun, ia pun menghayati setiap alunan musik dan gerakan melambat itu, benar-benar romantis dan membuat iri siapapun yang melihatnya.
"Altezza" panggil Aisha dengan lembut, saat mereka masih berdansa.
"Hem?" Altezza hanya menatap kedua mata Aisha.
"Terima kasih" ucap Aisha, tanpa sadar Aisha menitikkan air mata dan berhenti berdansa.
"Sayang..." Ucap Altezza dengan lembut, ia pun mengangkat dagu Aisha.
"Setialah untukku, dan jadilah satu-satunya wanita untukku" ucap Altezza kemudian.
Tanpa menunggu lama. Altezza langsung mencium bibir Aisha dengan lembut, begitu hangat mereka memadu kasih. Dengan iringan malam bertabur bintang. Dengan suasana romansa, bahkan di waktu yang bersamaan, kembang api meluncur dan menebarkan warna-warni di langit malam dengan meriahnya. Membuat suasana semakin terkesan dan tak terlupakan.
"Aisha..." Lirih Altezza, saat dirinya melepaskan ciumannya itu. Aisha hanya menatap lekat-lekat wajah kekasihnya itu. Tanpa ragu, Altezza menciumnya kembali dengan iringan kembang api yang masih menebarkan keindahan malam, seakan-akan ia tak ingin pisah dengan kekasihnya itu.