
"Amy, rupanya kamu kalah telak dari perempuan itu" ucap seorang perempuan bergaun merah.
"Tutup mulutmu Mollie, aku bahkan lebih cantik dari perempuan itu" pekik Amy.
"Hemmm, tapi lihatlah Amy. Kamu sudah benar-benar kalah. Kalian tahu? Aku mendengar bahwa tuan Altezza sudah mengumumkan, jika perempuan itu yang akan menjadi nona muda" ucap Keyna.
"Ahahaha, sudah tidak ada ruang" seru Mollie.
"Sial. Sehebat apa sih perempuan itu" pekik Amy, dan menggenggam gelas dengan erat.
"Amy, sudahlah. Cari yang lain, yang kaya banyak. Yak gak?" Seru Keyna.
"Tidak. Aku harus mendapatkan tuan Altezza" pekik Amy.
"Bagaimana caranya? Kamu saja tergantung dengan Joseph" seru Mollie.
"Lelaki tua itu, sama sekali tak memberi kepuasan pada diriku. Bahkan dia lebih memilih istrinya daripada diriku" pekik Amy.
"Amy Amy, kamu cantik. Tapi bodoh" ejek Mollie.
"Kalian buta? Lihatlah baik-baik tubuh Altezza, aku yakin dibalik baju yang ia kenakan pasti sangatlah menggoda, badannya yang sexy dan bibirnya yang indah, ditambah lagi uangnya selalu mengalir dari dibelahan dunia manapun" seru Amy bak ular betina.
"Gila kamu, Amy. Walaupun umur kalian hanya berselisih satu tahun, tapi aku merasa bahwa Altezza lelaki yang tidak mudah untuk di goda. Apalagi, aku tak mempungkiri. Perempuan itu benar-benar sempurna untuknya" ucap Keyna.
"Omong kosong. Aku bakal buktikan, kalau aku bisa merebut Altezza ku dari perempuan ular itu" pekik Amy.
"Hahaha. Buktikan Amy. Mau taruhan?" Ucap Mollie.
"Tentu" ucap Amy dengan angkuh.
Amy menatap sinis Aisha, Amy benar-benar membenci Aisha. Amy, merupakan seorang model majalah dewasa. Ia mengenal Altezza, saat ia tanpa sengaja bertemu disebuah acara pertemuan bisnis di sebuah hotel. Amy merasa jatuh hati kepada Altezza saat tanpa sengaja tertabrak dengan Altezza. Namun ia tak memungkiri, usaha dulu yang pernah ia lakukan. Altezza tak memperdulikan sama sekali, jangankan menoleh, melirik sedikit saja tidak.
Amy merasa dirinya ingin memiliki Altezza, ia pun mencari informasi melalui Joseph, seorang pengusaha yang cukup terbesar di kota New York. Amy merupakan istri simpanan Joseph dan itu sudah tentu Joseph tergoda akan kemolekan tubuh Amy, sedangkan Amy menginginkan uang joseph.
Dunia sangatlah menjijikkan, ketika kehormatan tak lagi ada nilainya daripada uang, kedudukan, jabatan bahkan kekayaan. Semua hanya nafsu belaka yang suatu saat, dunia pasti akan menimpanya tanpa ampun sedikit pun.
Aisha merasa dirinya seperti sedang di pantau oleh seseorang. Dalam hatinya merawa was-was, sedangkan Altezza yang membaca diri Aisha berusaha untuk menenangkannya. Namun sialnya, tanpa sengaja Aisha menangkap sorot mata Amy yang penuh dengan kebencian. Dengan secepat kilat, Aisha mengalihkan pandangannya dan tetap berlaku seanggun mungkin dan berusaha untuk bersikap masa bodoh.
"Mungkin hanya perasaanku saja" batin Aisha yang sedang mencari topik pemandangan untuk dipandang.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Altezza.
"Ah, gak. Gak apa-apa. Altezza, aku mau minum" ucap Aisha.
"Baiklah. Setelah itu kembali kesini lagi ya" ucap Altezza dan mencium kening Aisha.
Aisha gelagapan tersipu malu, lantaran Altezza telah mencium keningnya didepan umum. Aisha buru-buru pergi ke meja prasmanan untuk mencari minuman. Keberadaan Aisha oun tak jauh dari pandangan Altezza, Aisha langsung mengambil segelas minuman segar berwarna merah dan langsung menelannya tanpa sisa.
"Ah, aku akan membawakan untuk Altezza" pikir Aisha, karena sedari tadi Altezza belum minum sama sekali.
Aisha membawa segelas minuman segar itu untuk Altezza, namun sialnya seseorang telah sengaja menjebak Aisha, dengan mengulurkan kaki disaat Aisha hendak melangkah. Aisha terjerambab jatuh tersungkur dan menumpahkan segelas minuman itu ke tubuh Amy.
"Haa??" Amy melebarkan mulutnya untuk ekspresi menganga, layaknya tengah terkejut akan kejadian yang menimpa dirinya.
"Aw... Kenapa bisa..."
"Dasar kamu wanita ular. Kamu sengaja membasahiku?" Hardik Amy, yang langsung memotong ucapan Aisha.
"Ha? Apa? Sepertinya ada yang salah" batin Aisha saat mendongakkan kepalanya ke arah Amy.
Hampir semua orang yang mendengar hardikan Amy pun datang mengerumuni mereka berdua, lantaran suara Amy yang benar-benar mengejutkan para tamu. Aisha yang melihat sekeliling itu pun merasa sungkan bahkan malu, ia telah menjadi pusat perhatian.
"Kamu gak punya mata? Apa kamu mampu menggantikan bajuku!" Hardik Amy, saat Aisha mulai bangkit.
"Dasar perempuan ular. Kamu tidak akan sanggup mengganti rugi bajuku sekaligus dengan tubuhmu, dasar perempuan ular..." Pekik Amy sejadi-jadinya.
Hampir saja Amy menampar wajah Aisha dengan keras, beruntung Altezza datang dan menahan tangan Amy. Altezza mencengkram kuat-kuat tangan Amy, hingga Amy nampak menahan sakit di tangannya.
"Katakan. Berapa harga bajumu?" Suara Altezza cukup lantang.
"Aku tidak ada urusan sama kamu, Altezza. Urusanku dengan perempuan ular ini" pekik Amy sembari menunjuk-nunjuk Aisha. Altezza semakin kuat mencengkram tangan Amy.
"Lepaskan tanganmu, sakit" hardik Amy. Semua kerumunan tertuju pada mereka. Bahkan suara bisik-bisik pun mulai terdengar.
"Altezza, sudah. Ini salahku, cepat lepaskan" pinta Aisha, ia merasa tak nyaman dengan sorot mata yang tertuju kearah mereka.
"Kalau bukan karena, calon istriku yang meminta. Kamu sudah akan habis aku tampar" pekik Altezza dengan tegas. Altezza pun melepaskan cengkraman itu.
"Sial. Sakit banget tangan aku" batin Amy dan memegang pergelangan tangan Amy yang terasa sakit.
"Hei, kamu wanita ular. Aku tak akan melepaskanmu" pekik Amy.
"Wah berani sekali, Amy mengancam didepan tuan Altezza" bisik-bisik.
"Tutup mulut kamu, Amy" suara Altezza menggelegar.
Wajah Amy nampak ketakutan saat Altezza benar-benar marah kepadanya, dengan segera Amy meninggalkan kerumunan itu. Ia pun masih sempat memberi tanda kepada kepada Aisha, bahwa ia akan membuat Aisha menderita.
"Sudah bubar-bubar, mari lanjutkan acara pestanya. Bukan kejadian apa-apa hanya kecelakan saja" ucap seorang pria yang tengah membubarkan kerumunan itu.
"Tuan Lester, maafkan kelancangan kami, yang telah membuat kegaduhan diacara pesta pernikahan putri tuan Lester" ucap Altezza dengan ramah.
"Ah, tidak tidak. Ini hanya sebuah kecelakaan, hanya Amy saja yang terlalu berlebihan" ucap Lester.
"Apa sebaiknya, tuan muda Altezza bawa nona muda ke kamar istirahat. Sepertinya, nona muda dalam suasana kurang baik" ucap Lester.
"Ah, jika anda mengizinkannya" ucap Altezza.
"Tentu tuan muda. Katty, Katty..." Panggi Lester kepada Ketty, yang tak lain pelayan dari pemilik acara pesta, tuan Lester.
"Tunjukkan tuan muda dan nona muda ini ke kamar istirahat" perintah Lestes, saat Katty sudah berada disana.
"Baik, tuan" ucap Katty.
"Mari, tuan, nona" ucap Katty dan mengarahkan mereka untuk pergi ke kamar istirahat. Altezza pun memapah bahu Aisha, Altezza merasa ia telah kecolongan dengan kejadian ini.
Setibanya didepan pintu kamar istirahat, yang tak lain di lantai dua itu, Katty mempersilahkan Altezza dan Aisha untuk masuk. Dengan segera Altezza membuka pintu, katty pun pergi untuk mengambil sesuatu untuk tamu terhormat.
Tok tok.. klek...
"Maaf tuan. Tuan Lester menyuruh saya untuk mengantarkan sedikit hidangan untuk nona" ucap Katty.
"Silahkan taruh dimeja" ucap Altezza.
"Terima kasih" ucap Altezza, Katty pun bergegas keluar dan kembali menutup pintu.
"Aisha" panggil Altezza, Aisha hanya menoleh ke arah Altezza.
"Turun dari ranjang" perintah Altezza.
"Apa-apaan, baru juga duduk kamu menyuruhku untuk turun?" Aisha merasa kesal dengan sikap Altezza.
"Aku bilang, cepat turun" perintah Altezza, Aisha yang mengingat amarah Altezza pun dengan terpaksa untuk turun. Kemudian Altezza yang duduk di tepi ranjang.
"Sekarang, berdiri disini" perintah Altezza, Aisha pun menuruti perintah Altezza dan berdiri didepan Altezza
"Aisha.." panggil Altezza dengan lembut, Altezza meraih tubuh Aisha, dan mengangkat tubuh Aisha, agar Altezza dapat memangku Aisha seperti yang ia lakukan di hotel Qiu.
"Altezza" ucap Aisha, saat dirinya sudah berhasil di pangkuan Altezza seperti seorang bayi.
"Aisha. Jangan pikirkan wanita gila itu, aku akan menjagamu. Maafkan aku, sayang" ucap Altezza dengan lembut.
Aisha hanya terdiam dan menatap wajah Altezza, begitu terasa tenang. Aisha ingin menangis disana, Aisha melingkarkan tangannya ke tubuh Altezza, Altezza pun bergerak untuk mencari posisi nyaman agar lebih leluasa mendekap kekasihnya itu. Altezza pun duduk menyila dan bersandar, tepat disisi ranjang. Altezza seperti sedang mengemban seorang gadis.
Tanpa terasa air mata Aisha keluar, saat ia sudah menyenderkan kepalanya ke bahu Altezza. Altezza mendekap kekasihnya itu untuk menenangkan, sesekali Altezza mencium kening Aisha.