Just Married

Just Married
episode 108: Berkumpul



Waktu menjelang malam, di kota Manhattan.


"Tuan" ucap paman Edo dan paman Albert dan memberi salam ketika Altezza sudah tiba di vila. Namun Altezza hanya diam dan buru-buru bergegas pergi untuk segera menemui Aisha, lantaran ia sudah terlalu cemas.


"Tuan, nona ada di kamar" ucap bibi Lin yang juga menyambut kedatangan Altezza, Altezza pun langsung menaiki tangga secepat mungkin.


Setibanya di kamar, dengan buru-buru Altezza membuka pintu dan melihat Aisha terbaring lemah dengan selimut menutupi setengah badannya, begitu juga ada Lala dan Lulu yang setia menemani Aisha di sana.


"Tuan" ucap Lala dan Lulu yang seketika berdiri dan memberi hormat kepada Altezza, sedangkan Altezza hanya fokus dengan Aisha.


"Aisha" ucap Altezza saat dirinya sudah dekat dengan Aisha yang nampak terlelap, Altezza pun menyentuh dahi Aisha yang terasa cukup panas.


"Apa yang terjadi padamu, sayang" ucap Altezza dalam hati, ia pun meraih tangan Aisha yang terasa hangat.


"Maaf tuan, sejak tadi pagi kak Aisha begitu lemah, suhu badannya juga sangat tinggi" ucap Lulu dengan perasaan sesal.


"Tapi suhu tubuhnya sekarang sudah mulai sedikit membaik, sebelumnya kami juga sudah membujuk kak Aisha untuk membawanya kerumah sakit. Tapi kak Aisha bersikeras menolaknya" imbuh Lala.


"Kemudian, bibi Lin meminta seorang dokter untuk datang kemari. Kata dokter, kak Aisha tidak ada penyakit yang serius, kak Aisha hanya kelelahan dan akibat beban pikiran" jelas Lulu dengan hati-hati.


"Selama aku tidak ada di sini, apa saja yang sudah Aisha lakukan?" Ucap Altezza.


"Tidak ada pekerjaan yang membuat kak Aisha kelelahan, sungguh tuan" ucap Lala.


"Iya, untuk mengisi waktu senggang kak Aisha kadang berkunjung ke kediaman nyonya Madison, kadang ke perusahaan untuk sekedar bertemu dengan kak Sally, kadang pula mengajak kami ke taman" imbuh Lulu.


"Kak Aisha selalu ceria malahan, hanya saja entah kenapa tiba-tiba tadi pagi kak Aisha jatuh sakit, padahal semalam kita sempat berbincang bersama dengan bibi Lin juga" jelas Lala.


"Aku mengerti, kalian keluarlah dulu dan siapkan bubur untuk Aisha jika dia sudah bangun nanti" perintah Altezza.


"Baik, tuan" ucap Lala dan Lulu hampir bersamaan, dengan segera Lala dan Lulu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.


"Apa yang telah membuatmu tertekan, Aisha?" Keluh Altezza dalam hati, ia juga bingung kenapa. Pdahal sejauh ini Aisha selalu baik-baik saja, kalaupun Aisha demam tak pernah selemah ini.


Beberapa saat kemudian, Aisha pun terbangun dari tidurnya karena ia merasa sangat haus. Saat dirinya bergerak ia baru menyadari jika tangannya tengah di genggam oleh seseorang, Aisha pun menoleh dan melihat Altezza tengah tertidur dengan posisi duduk dan menundukkan kepalanya di sisi Aisha dan wajahnya nampak terlihat sedikit jelas.


"Altezza?" Ucap Aisha dalam hati.


"Baru kali ini aku melihat wajah lelah Altezza" ucap Aisha dalam hati.


"Hem, Aisha?" Ucap Altezza yang terbangun saat menyadari Aisha tengah menyentuh pipi Altezza.


"Sayang? Apa yang kamu rasakan? Bagian mana yang sakit? Apa kamu haus? Lapar? Atau kamu ingin sesuatu? Apa kamu ingin aku membantu membangunkanmu? Atau kamu ingin aku melakukan sesuatu untukmu?" Ucap Altezza kemudian dengan cerewetnya.


"Altezza" panggil Aisha dengan tersenyum dan terdengar lembut tapi juga sedikit lemah.


Altezza pun diam dan menatap Aisha menanti akan apa yang Aisha ucapkan, tetapi Aisha hanya tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya sebagai tanda jika Aisha hanya ingin memeluknya. Dengan perasaan haru, Altezza langsung memeluk Aisha.


"Apa kamu sakit karena merindukan aku, sayang?" Sesal Altezza.


"Tidak" ucap Aisha.


"Lalu apa?" Selidik Altezza.


"Aku hanya sangat merindukanmu, Altezza" ucap Aisha dan memeluk tezza semakin erat.


"Jangan membuatku cemas, Aisha. Jika kamu merindukan aku maka cukup kamu katakan padaku, aku akan segera datang untukmu, jangan menyiksa dirimu seperti ini" ucap Altezza.


"Baiklah, lain kali aku akan mengatakannya padamu. Jangan memarahiku" rengek Aisha.


"Baiklah" ucap Altezza.


"Maafkan aku Altezza" sesal Aisha dalam hati.


Keesokan harinya,


"Pagi, istriku" ucap Altezza dengan lembut dan manja bahkan mencium tangan Aisha, ketika Aisha sudah terbangun dari mimpinya itu.


"Pagi juga, suamiku" ucap Aisha dengan senyuman menawan.


"Eh, apa? Kamu bilang apa tadi?" Ucap Altezza sengaja, namun sebenarnya ia sangat kegirangan.


"Tidak. Aku tidak bilang apa-apa" ucap Aisha membela diri.


"Tidak, aku tadi mendengarnya kamu mengatakan itu" ucap Altezza tak mau kalah.


"Kalau sudah mendengarnya, kenapa kamu menyuruhku mengulanginya lagi" ucap Aisha merajuk.


"Tidak jelas, ayo ulangi lagi" pinta Altezza.


"Tidak"


"Ayo"


"Tidak"


"Kalau tidak mau, aku akan menghukummu saat ini juga" ucap Altezza yang langsung mengunci tubuh Aisha.


"Altezza" ucap Aisha.


"Syukurlah, istriku sudah baik-baik saja" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha, saat Altezza menyadari suhu tubuh Aisha sudah kembali normal dan terlihat cukup bugar.


"Tak apa jika kamu tidak mau mengulanginya lagi, tapi kelak kamu harus mengatakannya setiap pagi" ucap Altezza dan mencubit hidung Aisha.


"Baiklah, aku akan menurut" ucap Aisha.


"Sebenarnya ada apa dengan Aisha, sekarang jadi lebih menurut" pikir Altezza.


"Baiklah, ayo kita ke bawah" ajak Altezza.


"Baik" ucap Aisha tanda menyetujuinya.


Sebetulnya, pagi itu Aisha masih menyimpannya sebuah rahasia yang ia pendam di dalam hatinya. Namun, saat Aisha melihat Altezza ia seolah-olah lupa dan terlihat kuat tapi percayalah ada sebuah perasaan yang cukup ia rasakan dan ia kelola sendiri, Aisha menganggap apa yang di rasakan tak kan sebanding dengan apa yang Altezza lakukan padanya selama ini, apalagi ketika Aisha mendapati wajah lelah Altezza, benar-benar membuat Aisha tersentuh dan selalu ingin membuat Altezza merasa senang bersamanya.


Hari itu Altezza memutuskan untuk tinggal di Manhattan lebih lama dari biasanya, sampi acara wisuda Aisha. Setelah itu, Altezza akan membawanya ke London agar mereka tak lagi menjalani hubungan jarak jauh, apalagi setelah kejadian waktu kemarin Aisha jatuh sakit, benar-benar membuat Altezza sangat cemas.


Satu minggu kemudian, mama Via datang dengan papa Abraham. Kediaman Altezza di Manhattan itu pun terasa cukup ramai, apalagi sebelumnya mama Via yang selalu di tahan Altezza untuk tidak datang terlalu cepat karena keadaan Aisha sudah membaik. Aisha jadi lebih ada teman banyak untuk berbicara, menghabiskan waktu bersama. Waktu seperti itulah yang berharga bagi Aisha, karena ia tak lagi merasakan akan rasa kesepian.


Waktu begitu terus berlalu, acara wisuda tinggal menghitung hari maksudnya hanya tinggal dua hari. Mama Via sudah sibuk mempersiapkan keperluan Aisha, mama Via juga yang merekomendasikan untuk memakai busana khas Indonesia, kebaya dan batik namun bernuansa modern, sedangkan Altezza dan papa Abraham mereka berdua akhir-akhir ini terlihat lebih akrab bahkan sering Aisha temui mereka berbincang bersama, pembicaraan antar lelaki maksudnya.


"Jadi dulunya itu temannya papa?" Ucap Altezza.


"Iya, tapi itu dulu" ucap papa Abraham dan menyeruput secangkir kopi.


"Hem, sekarang Altezza mengerti. Proyek yang ini juga sedikit bermasalah, sebaiknya aku harus cepat menanganinya" ucap Altezza.


"Tentu, harus itu" ucap papa Abraham tanda setuju.


"Ih, dasar laki-laki. Proyek mulu yang di bicarakan" tiba-tiba mama Via datang dan langsung ikut nimbruk.


"Altezza, bagaimana. Hani sudah berangkat kan?" Ucap mama Via.


"Sudah ma, kan sudah ada Gavin bahkan sahabat kecilnya Aisha juga ikut" jelas Aisha.


"Wah, bagus malah semakin ramai kita merayakan kelulusan Aisha kan?" Seru mama Via.


"Ma, bukannya ini berlebihan ya? Kan acara itu punya Aisha, harusnya cukup keluarga Aisha saja..."


"Pa, pa, Aisha itu menantu kita. Kita harus rayain dong, ya kan Altezza?" sela mama Via.


"Ya kalau menurut Altezza sih, lebih bagusan saran papa" ucap Altezza tanpa dosa, lantaran ia ingat saat Dathu wisuda dulu bagaimana hebohnya mama Via di acara wisuda Dathu, istrinya Gavin.


"Tapi tidak ada papa, mama bisa apa hayo" goda papa Abraham.


"Pa... Kamu ini, anak sama bapak sama aja" ucap mama Via tersipu namun tetap tak mau kalah.


"Sudahlah, Altezza mau keluar sebentar" ucap Altezza yang langsung berdiri.


"Mau kemana?" Ucap mama Via.


"Bisnis" ucap Altezza yang langsung pergi begitu saja.


"Dasar anak ini... Kamu juga, acara penting begini gak boleh di rayain ramai-ramai" keluh mama Via.


"Bukannya tidak boleh istriku sayang, kita boleh rayakan kelulusan Aisha tapi di tempat lain bukan seperti dulu waktu itu" ucap papa Abraham dengan sengaja dan gemas.


"Tahu lah Pa, kamu selalu tak mengerti keinginan mama" rengek mama Via, ia pun beranjak pergi meninggalkan papa Abraham seorang diri.


"Ma?" Panggil papa Abraham, namun dihiraukan oleh mama Via.


"Haihhh... Dasar wanita yang selalu benar dan pria selalu tidak peka" gumam papa Abraham, ia pun menyeruput kembali kopinya.


Di sisi lain, dalam pesawat.


"Akhirnya, anakku tamat juga kuliahnya" ucap mama Hani dalam hati.


"Aku ingin tahu, seperti apa kehidupan Aisha di sana. Dan Amerika itu seperti apa, sampai-sampai Aisha membelanya datang kemari" ucap mama Hani dalam hati.


"Res, andaikan kamu masih ada tentu kamu juga akan sebahagia seperti tante saat ini kan?" batin Gavin, saat menyadari akan raut wajah seorang ibu yang sedang bahagia.


Beberapa waktu kemudian, rombongan mama Hani datang bahkan Danial dan Deva juga ikut untuk merayakan kelulusan Aisha. Saat rombongan mama Hani datang pun mampu membuat Aisha terkejut saat Leon datang bersama keluarganya dan sahabat masa kecilnya itu, dengan haru Aisha lari dan memeluk mama Hani, air matanya pun menetes. Akhirnya di saat acara wisuda nanti sosok seorang ibu akan hadir menemani dan melihat anaknya naik ke atas panggung dan tersenyum bahagia dan mempersembahkan akan keberhasilan dalam menyelesaikan study dengan prestasi yang membanggakan, itulah sebuah persembahan sederhana yang akan Aisha berikan untuk mama Hani.


"Ma, Aisha kangen mama. Maafkan Aisha jika Aisha selalu sibuk dan tak pernah pulang" sesal Aisha dalam pelukan mama Hani.


"Tak apa nak, yang terpenting kamu sehat selalu dalam keadaan baik-baik saja, mama juga senang bisa menyaksikan mu nanti" ucap mama Hani dengan lembut.


"Mbak? Makasih ya sudah membawa kami kemari" ucap mama Hani setelah melepaskan pelukan Aisha dan berjabat tangan dengan mama Via.


"Ah, biasa saja. Kan kita besan" seru mama Via.


"Hahaha, mbak bisa saja" ucap mama Hani.


"Deva?" Seru Aisha dan memeluk sahabat masa kecilnua itu.


"Aisha... Aku kangen sekali, kamu semakin cantik saja, makin gemas saja aku lihatnya" ucap Deva dan memeluk Aisha dengan gemasnya.


"Tunggu, Aisha. Kamu terasa berbeda, kamu sama Altezza sudah sejauh mana?" Bisik Deva saat menyadari akan volume dada Aisha saat berpelukan terasa lebih besar milik Aisha.


"Deva? Kamu ini, aku ini masih prawan" bisik Aisha.


"Iya aku tahu, kamu tipe yang seperti itu. Tapi tidak mungkin kan kamu memompanya sendiri?" bisik Deva dan melirik ke arah dada Aisha.


"Sialan kamu Dev, mana ada Altezza tak pernah melakukannya" bela Aisha dengan memelankan suaranya.


"Masa? Tak percaya" ucap Deva.


"Nanti aku tunjukkan sesuatu padamu, jangan berfikiran kotor, oke" bisik Aisha.


"Baiklah" ucap Deva.


"Ngomong-ngomong, Alex di mana Ma?" Ucap Aisha, ia baru menyadari seperti ada yang kurang, rupanya Alex tak ada disana.


"Iya ya, tadi Alex ada kok. Kenapa tiba-tiba tidak ada" ucap mama Hani.


"I,itu. Alex eh maksudnya tuan muda kecil sudah pergi dengan bos" sela Leon dengan hati-hati.


"Eh?" Aisha tak percya, sedekat itukah Alex dengan Altezza.


Sedangkan di sisi lain di waktu yang bersamaan,


"Bocah kecil, bagaimana dengan tantanganku dulu?" Ucap Altezza.


"Kakak ipar, apa sebaiknya kita baikan saja?" Tawar Alex.


"Tidak"


"Mengerikan, bagaimana kak Aisha bisa jatuh cinta dengan pria seganas ini" ucap Alex dalam hati.


"Apa yang kamu ucapkan dalam hatimu barusan itu?" Ucap Altezza.


"Tidak ada. Kakak ipar, lebih baik kakak ipar memberiku keringanan daripada Alex akan mengadu kepada kakak?" Ancam Alex.


"Aisha tidak akan membelamu" ucap Altezza.


"Kalau begitu, mama"


"Alex, kamu mau mengancamku? Jika kamu berani melakukannya maka kamu akan tanggung sendiri akibatnya. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, jangan kecewakan papamu yang sudah ada surga, kamu mengerti?" Tandas Altezza.


"Me,mengerti" ucap Alex sedikit gagap.


"Lalu, kita mau kemana?" Ucap Alex kemudian.


"Kita akan pergi ke suatu tempat untuk perlu kamu lihat" ucap Altezza dengan misterius.


"Haih... Semakin rumit saja, berani sekali dia menindas anak kecil. Lihat saja nanti kalau aku sudah dewasa dan menjadi kuat" ucap Alex dalam hati.


"Justru aku ingin membuatmu menjadi kuat, bukan ingin menyiksamu. Karena aku tidak rela jika kecerdasanmu akan tergerus saat di usia remaja atau sia-sia" ucap Altezza dalam hati.


Di sisi lain kediaman Altezza, vila itu nampak begitu ramai. Papa Abraham, mama Via, mama Hani dan juga Danial , mereka tengah berbincang hangat di ruangan tengah lantai satu. Sedangkan Aisha dan juga Deva tengah berada di dalam kamar Aisha, lantaran Aisha tengah meluruskan tentang pikiran kotor Deva.


"Oh, jadi ini biang keroknya" ucap Deva saat dirinya tengah melihat sebuah produk pembesar payudara.


"Iya, kamu pikir apa?" Ucap Aisha.


"Tapi tunggu, kamu memakai seperti ini... Ada apa denganmu Aisha? Jangan-jangan kamu..."


"Jangan sembarangan, ceritanya tuh panjang" sela Aisha.


"Kalau begitu persingkat saja" ucap Deva yang sudah penasaran.


"Yaa... Karena cemburu saja sih" ucap Aisha malu, wajahnya pun memerah.


"Hemp. Ya wajar juga sih, aku hanya tak menyangka saja kamu bisa berpikiran seperti ini padahal kamu dulu kamu orangnya cuek sekali tentang penampilan tapi sekarang?" ucap Deva dan menggelengkan kepalanya karena tak percaya akan perubahan Aisha.


"Yah, kamu juga begitu kan semenjak dengan Danial?" Ucap Aisha yang tak mau kalah.


"Hehe, iya juga sih" ucap Deva cekikikan.


"Ngomong-ngomong, boleh juga ini produk. Buat aku satu ya?" ucap Deva kemudian.


"Boleh, aku juga sudah gak pakai lagi kok Dev" ucap Aisha.


"Tapi, cerita sedikit dong Sha. Kamu bisa berpikir untuk memakai ini, pasti perempuan itu agak liar kan?" Selidik Deva.


"Yah, begitulah. Tapi gak bagus juga sih ngomongin orang dan aku lihat waktu itu dia juga tampak menyesal" ucap Aisha.


"Dikit aja kali Sha" ucap Deva yang masih saja berusaha.


"Hemmm, gimana ya? Tapi intinya saja ya" ucap Aisha.


"Oke" seru Deva, Aisha pun menceritakan kejadian waktu itu dengan sesingkat mungkin dan sejelas mungkin.