Just Married

Just Married
episode 70: Perasaan



Sudah satu minggu, setelah kepergian Altezza untuk kembali ke London. Aisha tengah mengenang di saat-saat bersama Altezza, Aisha tengah melamun di sudut perpustakaan. Pikirannya tak mampu untuk konsentrasi, jiwanya melayang entah kemana. Sally, yang sudah mencari-cari keberadaan Aisha sejak pulang kuliah itu pun akhirnya mengetahui dimana Aisha, setelah Sally bertanya kepada Angelica tentang keberadaan Aisha.


Sally, melihat Aisha yang hanya diam menatap keluar dari jendela dengan tumpukan buku yang ada di depannya, dengan beberapa buku dan kertas di hadapannya. Sally hanya menggelengkan kepalanya, ketika melihat Aisha yang baru pertama kali Aisha melamun dan terdiam seperti itu. Padahal, sebelumnya ketika masih tinggal bersama, Aisha hampir tak pernah melamun seperti itu. Kalaupun ada masalah Aisha sudah pasti sigap untuk mencari jalan keluar dan segera menyelesaikannya.


Sally berjalan dan mendekati Aisha, ia pun penasaran akan Aisha. Entah apa yang terjadi kepada Aisha, bisa melamun dan tak menyadari akan kehadirannya.


"Sha.." panggil Sally dan menepuk pundak Aisha.


Aisha pun kaget dan lamunannya seketika buyar, Aisha menoleh ke arah Sally dengan tatapan tanda tanya.


"Kamu kenapa? Kok tumben melamun seperti itu?" Selidik Sally.


"Sally, bisakah kita keluar dan mengobrol di tempat lain?" Ucap Aisha.


"Tentu"


Aisha pun merapikan buku-buku dan kertas yang berserakan diatas meja, ia pun baru menyadari ternyata hari sudah hampir gelap. Setelah selesai, Aisha menggendong tasnya dan berjalan dengan Sally. Mereka menyusuri lorong-lorong kampus yang begitu luas dengan suka cita, hingga sampailah mereka pada sebuah mobil yang telah menunggu Aisha. Paman Edo, yang selalu setia menanti tuannya.


"Paman, kita mampir di cafe dekat apartemen Sally" pinta Aisha, ketika mereka sudah masuk kedalam mobil.


"Baik, nona" ucap paman Edo.


Mobil itu pun melaju meninggalkan kampus dan menuju sebuah cafe yang tak jauh dari apartemen Sally. Dalam perjalanan itu, Sally mulai bertanya akan keadaan dirinya. Namun, Aisha enggan untuk bercerita lantaran malu ada paman Edo. Sally pun mengerti, sudah pasti tentang Altezza.


Setibanya di cafe dan mereka pun sudah memesan dua cangkir kopi dan beberapa camilan. Aisha mulai bercerita akan perasaannya, yang entah bagaimana ia jelaskan.


Ia bercerita kepada Sally, akan kerinduan kepada Altezza hingga mampu membuatnya tak terkendali, seperti merengek manja, marah tanpa sebab, lebih sensitif. Aisha khawatir jika sikapnya itu bisa-bisa membuat Altezza merasa tidak nyaman. Di tambah, terkadang Aisha tak mampu mengendalikan perasaan itu.


Setelah pertemuan yang hanya satu atau dua hari begiti terasa tak cukup, Aisha khawatir jika perasaan itu bisa mengacaukan kuliahnya.


"Dan kamu tahu Sally, semakin kesini aku semakin lupa akan tujuan awalku. Bahkan rasa dendamku perlahan mulai menghilang" ucap Aisha kemudian.


"Menurutku, itu hal yang wajar Aisha. Hubungan jarak jauh merupakan ujian terberat, kamu harus bisa mengendalikan rasa cemas, khawatir, cemburu bahkan rindu serta amarah. Karena tidak bertatap muka, coba saja kalau kamu sedang marah dengannya saat masih dalam satu rumh, pasti kamu bisa memarahinya secara langsung mungkin saja Altezza bisa merayumu" jelas Sally.


"Sebaliknya, jika kalian saling berjauhan. Kamu sibuk, dia sibuk. Ada masalah, mau marah juga seperti hal yang sia-sia. Seakan-akan kita berfikir kalau dia tak begitu peduli, sedangkan kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, bukan?" Imbuh Sally.


"Aku tahu, itu Sally. Tapi, hubungan seperti ini begitu sulit. Ini baru pertama kali bagiku, Sally" keluh Aisha.


"Tak apa, kalian harus saling percaya. Dan terlebih kamu juga harus menjadikan Altezza itu sebagai penyemangatmu untuk mengejar cita-citamu. Dan menurutku, itu bagus kalau kamu bisa melupakan tentang dendam yang pernah kamu ceritakan dulu. Itu sangat beresiko Aisha" jelas Sally.


"Tapi, kehilangan seseorang yang kita cintai juga hal terberat dalam hidupku, Sally"


"Aisha. Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi aku yakin jika ayah dan kakakmu di sana, akan lebih bahagia jika kamu mengikhlaskan atas kejadian dulu. Bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menyimpan bahkan membalas dendam?" Ucap Sally.


"Iya, aku tahu Sally. Tapi..."


"Kamu harus mencobanya, mengikhlaskan" tandas Sally dengan mata yang berbinar.


"Baikalah. Sebaiknya aku mengejar cita-cita lain, aku juga punya mimpi yang lebih terhormat" ucap Aisha kemudian.


"Bagus itu, tapi cita-cita apa itu? Jangan-jangan jadi istri yang baik nih, ahem" goda Sally.


"Wahhh... Ehem..." Goda Sally.


"Bukankah kita juga akan menjadi seorang istri? Seorang ibu?" Tandas Aisha tak mau kalah.


"Ah, iya iya. Mentang-mentang sudah ada calon nih" sindir Sally.


"Ku rasa, Leon juga lebih baik daripada Glen"


"Apaan sih, kok jadi bawa nama Leon" ucap Sally, wajah Sally terlihat malu.


"Haha, lihatlah wajahmu seperti udang rebus" ucap Aisha.


"Sudah Aisha, jangan memojokkanku" ucap Sally.


Aisha dapat membaca, jika Sally sepertinya tengah jatuh hati dengan Leon. Begitu terlihat cukup jelas bagaimana Sally tersipu malu ketika mendengar nama Leon. Tetapi entah bagaimana dengan perasaan Leon terhadap Sally.


Mereka berbincang dan saling bertukar pikiran akan dunia kampus yang begitu melelahkan, terkadang Aisha juga bertanya sesuatu yang tidak ia mengeti. Mereka saling meluangkan waktu walau hanya sejenak, hingga kemudian pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, lantaran mereka juga harus menyelesaikan beberapa tugas kampus. Apalagi Sally, ia harus kembali menyelesaikan suatu pekerjaan yang harus ia kerjakan.


"Sally, kami pamit pulang ya" seru Aisha, ketika mobil Aisha telah mengantarkan Sally sampai di area apartemen.


"Hati-hati dijalan, salam untuk Lala dan Lulu" ucap Sally.


"Bibi Lin?" Timpal Aisha


"Tentu saja"


"Baikalah" seru Aisha, ia pun melambaikan tangan ketika mobil yang ia tumpangi telah bergerak untuk pergi.


Dalam perjalan itu, Aisha mengecek ponselnya. Siapa tahu Altezza tengah memberi pesan singkat untuknya. Namun ternyata dugaan Aisha melesat, Aisha hanya mampu untuk bersabar. Ia pun menghela nafas dengan berat.


"Sudah biasa" gumam Aisha dalam hati.


Aisha hanya terdiam memandang luar dari pintu kaca mobil yang ada disisinya itu. Ia tengah melamun sesuatu yang tak begitu nyata. Tanpa disadari, mobil itu telah sampai di halaman villa Altezza. Aisha segera turun dari mobil, ia merasa tubuhnya begitu lengket. Aisha langsung berjalan menaiki tangga untuk segera mungkin sampai di kamar utama. Dan sampailah ia di kamar itu, Aisha langsung mengambil melepas sepatu dan kaos kaki yang masih melekat di kakinya. Setelah itu, ia langsung masuk kedalam kanar mandi.


Pukul tujuh lebih lima puluh menit, Aisha sudah terlihat segar dan wangi. Ia pun turun untuk makan malam, lantaran ia perlu energi sebelum ia bergelut dengan tugas-tugas yang telah menantinya.


"Kakak" seru Lala dan Lulu, ketika Aisha telah sampai di dapur.


"Hemmm... Kalian dapat salam dari Sally" ucap Aisha, ia pun langsung duduk dan membuka piring untuk segera makan.


"Salam kembali untuk kak Sally" ucap Lala dengan cerianya.


"Kak? Bolehkah malam ini kita ikut kak Aisha di ruang perpustakaan lagi?" Ucap Lala.


"Tentu saja boleh. Apa kalian sudah makan? Jika belum, ayo duduk temani aku makan" ucap Aisha yang sudah siap untuk melahap apa yang ada di piringnya itu


Lala dan Lulu pun ikut menemani Aisha makan disana hingga selesai, setelah itu mereka pergi ke ruang perpustakaan bersama. Bahkan di sela kesibukan Aisha, ia pun selalu memberikan perhatian kecil untuk Lala dan Lulu.