Just Married

Just Married
episode 26: Hal Tak Terduga



Brakkk...


"Altezza!!" Pekik Aisha, setelah berhasil membuka pintu cukup keras.


"Eh... Ahaha, maaf. Maafkan aku, a aku tak tahu kalau ada rapat disini" Aisha kaget bukan main, saat menyadari bahwa bukan hanya Altezza disana, namun ada beberapa pria lain lagi yang nampaknya seperti sedang mendiskusikan sesuatu, lantaran wajah mereka nampak serius bahkan berhenti berbicara lantaran Aisha tiba-tiba menggebrak pintu. Aisha hanya cengengesan karena malu, ia pun menjadi salah tingkah sendiri di sana.


"Ah, dia calon istriku. Maklum karena sudah lama kita berpisah, calon istriku sangat merindukanku. Hingga begitu senangnya setelah mengetahui calon suaminya ini, sudah ada di sini" ucap Altezza kepada rekan bisnisnya.


"Pasti dia sengaja" batin Aisha.


"Ohhh, jadi ini nona mudanya tuan muda Altezza. Sangat cantik, memang sangat cocok buat tuan muda Altezza" seru salah satu rekan bisnis


"Haha. Tentu tuan muda, istriku pun begitu kalau aku tinggal untuk urusan bisnis, meskipun hanya beberapa hari" seru rekan yang satunya lagi.


Aisha benar-benar malu dibuatnya, apa lagi dengan kata-kata Altezza yang begitu menyudutkan Aisha.


"Sayang, kemari lah" ucap Altezza dengan santainya.


"Altezza... Awas kamu" batin Aisha, lantaran geram kepada Altezza.


"Ahaha, baiklah" ucap Aisha, ia pun melangkah menuju tempat duduk disebelah Altezza.


"Bibi Lin, siapkan sarapan" perintah Altezza.


"Baik, tuan" ucap bibi Lin, ia pun segera melaksanakan tugasnya.


"Tuan muda, sepertinya kami tak harus mengganggu waktu tuan dan nona. Kalau begitu, kami pamit dulu tuan muda Altezza" ucap salah satu rekan bisnis Altezza.


"Haha, kalian terlalu pengertian" seru Altezza.


"Tidak tuan muda, kami hanya tidak enak jika nona muda sudah sangat ingin bertemu dengan tuan muda. Kami memaklumi itu, kita pun masih dapat membicarakannya lain waktu" ucap salah satu rekan bisnis Altezza.


"Apa maksudnya?" ucap Aisha dalam hati.


"Iya, tuanku. Lebih baik, tuan habiskan waktu dulu dengan nona. Sebaiknya kami pergi sekarang, permisi" ucap salah seorang rekan bisnis lainnya.


Kedua rekan itu pun pamit dan pergi meninggalkan Altezza dan juga Aisha. Saat dirasa kedua rekan bisnis Altezza keluar, Aisha pun langsung memaki Altezza.


"Altezza!!! Kamu.."


Belum sempat Aisha meneruskan ucapannya, Altezza sudah membungkam mulut Aisha dengan bibirnya. Aisha pun memberontak.


"Sialan kamu, Altezza!!" Pekik Aisha yang sudah marah itu.


"Bukannya kamu mencariku? Kenapa kamu memarahiku sayang? Apa kamu terlalu merindukanku?" Ucap Altezza yang menggoda Aisha.


"Siapa yang merindukanmu bodoh" kesal Aisha.


"Kenapa kamu selalu berbuat begitu kepadaku?" Ucap Aisha kemudian dengan kesal.


"Yang mana?"


"Yang tadi pagi itu. Itu sangat berlebihan Altezza, apa kamu tak memikirkanku?" hardik Aisha.


"Aku selalu memikirkanmu, sayang"


"Berhenti memanggilku sayang!!" Kali ini Aisha benar-benar marah.


"Aisha. Kapan kamu berhenti menyiksaku?" Ucap Altezza, kali ini Altezza merangkul tubuh Aisha.


"Jangan peluk-peluk, kamu yang selalu menyiksaku Altezza" pekik Aisha sembari mendorong Altezza untuk menjauh darinya.


Tok tok tok


"Tuan, sarapan" ucap bibi Lin dibalik pintu.


"Masuk" ucap Altezza.


Bibi Lin masuk dengan beberapa pelayan hotel, dengan sekejap sajian itu pun sudah berada dihadapan Aisha dan juga Altezza. Bibi Lin dan beberapa pelayan pun mengundurkan diri untuk pergi, kini tinggallah hanya Aisha dan Altezza di ruangan itu.


"Sebaiknya, kita sarapan dulu" ucap Altezza yang langsung mengambil sepiring roti omelet dan sosis.


"Altezza, aku masih marah padamu" ucap Aisha dengan kesalnya.


"Orang marah juga perlu energi, sayang. Buka mulutmu, biar aku suapi kamu" ucap Altezza dengan lembut.


"Tidak. Aku tidak mau makan" Aisha merajuk.


"Sedikit saja" bujuk Altezza.


"Tidak ya tidak" pekik Aisha.


Kruuekkkk...


"Dasar perut sialan" gumam Aisha, saat perutnya berbunyi cukup keras.


"Hihi" Altezza cekikikan.


"Jangan tertawa!!" Aisha salah tingkah.


"Sudahlah, cepatlah makan. Atau aku..."


"Tidak mau!!" Tolak Aisha.


"Ya sudah, kalau tidak mau" ucap Altezza. Altezza pun memakan makanan itu dengan lahap, Aisha masih terdiam dan merajuk marah.


"Apa-apaan sih, orang lagi marah malah enak-enakan makan" batin Aisha


Krukk kruuekkk...


"Ini perut juga, gak bisa di ajak kompromi" batin Aisha.


"Seriusan gak mau makan? Acaranya lama lho" iming Altezza.


"Gak. Aku mau pulang" ucap Aisha.


"Kamu mau pulang naik apa? Dompet saja tidak bawa, apalagi ponsel" ucap Altezza, dengan santainya.


"Sialan, aku lupa akan hal itu" pekik dalam diri Aisha.


"Sudahlah, makanlah cepat. Kita akan menghadiri pertemuan" ucap Altezza


"Hihi. Tak akan ku berikan"


"Kalau begitu, aku bisa meminjam dengan bibi Lin atau.."


"Jangan harap, mereka tidak akan menghianati tuannya" ucap Altezza, yang masih asik makan.


"Ya sudah. Toh aku sudah di dandani seperti ini, aku terlihat cantik dan memesona. Bisa dong aku mendapatkan uang, toh ini hotel pasti banyak orang kaya yang mau mengulurkan tangannya" ucap Aisha, ia berdiri dan siap meninggalkan Altezza.


Altezza mendengar perkataan Aisha pun marah, ia pun dalam sekejap berhenti untuk makan. Bahkan Aisha begitu pedenya meninggalkan Altezza keluar. Altezza pun hanya terdiam dan hanya membiarkan Aisha pergi, ia berfikir ini juga salah Altezza lantaran membuat ke onaran di waktu pagi. Selalu memaksa tanpa seizin Aisha lebih dulu. Altezza berfikir, cara membuat Aisha untuk jatuh cinta, serasa kurang berkenan. Apalagi jika Aisha sudah terbiasa dengan adegan penculikan, dan jika terjadi ada penculikan sungguhan Aisha hanya pasrah, jika Aisha berfikiran, toh dirinya lah yang menculik. Aisha akan pasrah dan...


"Aisha..." Pekik Altezza, ia pun buru-buru menyusul Aisha. Apalagi ia ingat, kawasan hotel ini merupakan orang berduit tak jarang banyak lelaki berhidung belang.


Altezza mencari kesana kemari, namun tak menjumpai Aisha. Entah kemana Aisha pergi begitu cepat, Altezza pun mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Aisha di kawasan hotel, siapa tahu Aisha sudah berada di luar area.


Cukup lama pencarian Aisha, Altezza dikejutkan dengan suara tangisan seorang wanita yang tak asing baginya. Pikirannya kalang kabut, mencemaskan gadis yang ia cintai dan ia sayangi.


"Tolong..." Suara sayu terdengar dibalik pintu hotel. Altezza yang mendengar itu pun tak segan-segan untuk mendobrak pintu kamar hotel.


Brakkk... Atezza berhasil membuka pintu, dalam sekejap amarah Altezza meluap dan memuncak. Ketika melihat Aisha yang sudah di atas ranjang yang hampir dimakan oleh lelaki tua berhidung belang.


"Singkirkan tangan kotormu itu!!" Suara Altezza terdengar menggelegar.


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami" ucap pria tua itu.


"Dia wanitaku!!" Pekik Altezza.


Tanpa sabar Altezza langsung menghajar habis lelaki tua itu, tak lama kemudian datanglah bodyguard Altezza dan juga Leon.


"Kalian. Uruslah dia sampai tuntas" perintah Altezza, wajahnya benar-benar marah.


Altezza menghampiri Aisha, ia pun langsung melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Aisha dengan jasnya, lalu menggendong Aisha yang masih menangis itu. Altezza merasa terpukul dengan kejadian yang sungguh tak ingin terjadi apalagi terjadi kepada gadis kesayangannya itu.


Sesampainya di depan pintu kamar A72, dimana awal pertama Aisha berada. Dengan sigap Altezza membuka pintu, Altezza membawa Aisha masuk disana.


"Hii...hiks... Bodoh. Altezza bodoh...hiks..." Lirih Aisha ketakutan dan menyalahkan Altezza.


Altezza hanya diam dan memeluk Aisha yang masih menangis. Sekalipun Aisha memukul-mukul dada Altezza, ia tetap diam dengan apa yang Aisha lakukan. Bagaimanpun ini salahnya Altezza, Aisha marah, kesal sekaligus takut. Namun Aisha juga bersyukur, Altezza menyelamatkannya kebeberapa kali lagi.


Aisha yang masih duduk dipangkuan Altezza, dengan menyandarkan kepalanya di dada Altezza yang masih dengan sesenggukan. Altezza mendekap dengan kenyamanan yang Aisha rasakan. Seolah-olah Aisha menemukan rumah yang hangat nan teduh. Tanpa sadar Aisha melingkarkan tangannya ke tubuh Altezza untuk melepaskan rasa ketakutannya dan menenggelamkan wajahnya di dada Altezza.


Setelah cukup lama, Altezza mencium kening Aisha, saat ia merasa Aisha sudah cukup tenang.


"Altezza.." lirih Aisha, Altezza hanya diam dan menatap wajah Aisha dengan lembut.


"Aku lapar.." rengek Aisha dan menyentuh perutnya yang sedang berdemo.


Altezza tersenyum gemas melihat wajah Aisha begitu lugunya, Altezza pun mencium kening Aisha. Altezza meraih telepon pesawat yang ada disamping ranjang itu, dan memesan makanan untuk segera dikirim di kamar A72.


"Altezza..." Panggil Aisha, kali ini dengan nada gemasnya. Altezza hanya menunduk diam dan menatap wajah Aisha.


"Terima kasih.." lirih Aisha dengan rasa malu, Aisha pun memberanikan diri untuk mencium bibir Altezza. Aisha merasa, Altezza tengah mengutuk dirinya sendiri atas kejadian itu. Aisha mencium bibir Altezza dan menempelkan tangannya ke pipi kanan Altezza dengan lembut.


Sontak Altezza kaget dengan sikap Aisha yang tiba-tiba itu. Altezza pun membalas ciuman itu dengan hangat, bahkan tangan kanan Altezza sama-sama memegang pipi lembutnya Aisha.


"Aisha.." ucap Altezza, Aisha terdiam memandang wajah Altezza.


"Kamulah gadis pertama yang berani menciumku" goda Altezza.


"A,apa???" Ucap Aisha kaget, dan menyentuh bibirnya. Ia menyadari akan perbuatannya terhadap Altezza dan wajahnya pun langsung memerah.


"Apa yang sudah aku lakukan?" Batin Aisha merasa sangat malu.


"Hehe, kita sama-sama kehilangan ciuman pertama" goda Altezza yang dapat membaca pikiran Aisha.


"Ah, diam bodoh" ucap Aisha malu.


Tok tok tok..


"Masuk" ucap Altezza cukup keras.


Bibi Lin dan dua orang pelayan, mengantar makanan untuk Aisha. Semua hidangan siap di santap, bibi Lin dan ke dua pelayan itu pun segera untuk keluar, mereka merasa sungkan dengan adegan Aisha yang masih terpangku diatas Altezza.


"Hehe.." tawa kecil Altezza, yang Aisha tak menyadari akan sesuatu.


"Apa yang kamu tertawakan?" Selidik Aisha.


"Kamu begitu nyaman, sayang" ucap Altezza, Aisha tetbelalak kaget karena dirinya masih berada di atas pangkuan Altezza. Dengan sigap Aisha menyingkir dari pangkuan Altezza. Namun Altezza tahan, dan tetap memaksa Aisha untuk tetap diam di atas pangkuan Altezza.


"Aku mau makan.." rengek Aisha yang masih berusaha melepaskan diri


"Biar aku yang suapin" ucap Altezza.


"Gak. Gak mau"


"Jangan keras kepala, patuhlah" ucap Altezza dengan mendekap tubuh Aisha. Aisha merasa kalah, jika ia merajuk takut akan kejadian seperti tadi. Toh, Altezza tidak pernah berbuat macam-macam dengannya. Paling hanya peluk dan cium, ya walau sebelumnya Aisha kesal telah kehilangan cium pertamanya. Tapi kehadiran Altezza terasa berbeda, apakah Altezza benar-benar pria yang baik untuk Aisha.


"Perasaan ini. Apa aku..." Batin Aisha, saat menyantap makanan dari suapan Altezza.


"Tapi terlalu cepat. Aku bahkan belum mengenal siapa Altezza" batin Aisha yang masih sibuk mengunyah.


"Pinter. Makan yang banyak ya cayang" goda Altezza sembari memainkan sendok yang penuh dengan makanan itu, bak pesawat terbang yang akan masuk kedalam gua.


Aisha merasa malu dan tertawa kecil dengan perlakuan Altezza, benar-benar mirip dengan seorang ayah yang tengah menyuapi anak kecilnya itu.


Deg deg.. deg deg...


Degupan jantung Aisha berdebar kencang, ia merasa begitu nyaman di dalam dekapan Altezza. Apalagi dengan perasaan yang aneh itu, dengan segera Aisha kendalikan, sebelum jantungnya benar-benar lepas terkendali.


"Altezza.." panggil Aisha dengan keberanian diri.


"Tidak akan. Aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Altezza, yang audah tahu akan apa yang Aisha ucapkan.


"Hemmm..." Aisha tersenyum menyeringai, ia tak mau kalah.


"Bukan itu. Tapi aku ingat, Sally. Dia pasti akan mencemaskanku" ucap Aisha.


Dugaan Aisha memang benar, Sally nampak kalang kabut saat tak menemukan keberadaan Aisha, bahkan ponsel, dompet Aisha masih tertinggal di sana. Sally tak habis pikir, entah siapa yang menculik Aisha. Entah apa yang di inginkan dari Aisha. Yang jelas Sally lupa akan tentang Altezza.