Just Married

Just Married
episode 34: Gombalan Yang Melesat



Aisha yang masih memakai clemek itu pun ikut duduk di samping Altezza, ia pun melayani Altezza dengan suka rela, seperti mengambilkan piring, menyajikan nasi untuknya. Bahkan tak lupa Aisha yang sudah membuatkan jus buah, Aisha pun langsung menuangkan jus itu kedalam gelas untuk Altezza, jus itu benar-benar terlihat menyegarkan.


"Altezza. Mau aku suapin?" Ucap Aisha dengan rayuannya yang sudah mengambilkan salah satu tempura. Altezza yang melihat sikap Aisha itu pun hanya tersenyum, padahal Altezza sudah mengambil satu dan mencicipinya dan benar, tempura itu terasa lezat.


"Hem, sayang. Apa kamu sedang berinsiatif untuk mengambil hatiku?" Ucap Altezza dengan penuh percaya diri.


"Bukan, bodoh. Tapi dalam tempura ini aku selipkan cabe utuh. Huahaha" pikir licik Aisha.


"Tentu, hari ini aku akan melayani tuan Altezza" ucap Aisha dengan manja yang ia buat.


"Bagus. Maka sebagai hadiahnya... Sini, sayang aku suapin kamu" ucap Altezza yang merebut tempura yang sudah ada ditangan Aisha. Dan membalikkan untuk menyuapi Aisha.


"Lho? Kok bisa jadi begini" ucap Aisha dalam hati, ia pun mulai merasa tidak tenang.


"Ahaha. Aku kan memasak untukmu" ucap Aisha, ia berusaha untuk menghindarinya.


"Justru itu, kamu yang memasak. Maka kamu juga harus mencicipi masakanmu, sayang" ucap Altezza dan menyodorkan tempura didepan mulut Aisha, sedangkan Aisha sudah terpikirkan akan rasa pedas itu.


"Tapi..."


"Oh, atau kamu suka dicocol sama sambal? Atau saus? Dua-duanya kali ya" ucap Altezza yang pura-pura polos dan mulai mencelupkan tempura ke dalam saus dan sambal. Aisha makin tak karuan, ia tahu cabe yang ada di dalam sana sudah sangatlah pedas apalagi ditambah cocolan sambal dan saus.


"Buka mulutmu sayang.." ucap Altezza kemudian yang sudah siap untuk menyuapi Altezza.


"Gimana ini, aku sendiri saja gak begitu suka dengan makanan pedas. Apa ini yang namanya senjata makan tuan" batin Aisha.


"Sayang?"


"Oh Tuhan... Tolong aku..." ucap Aisha dalam hati.


Aisha dengan berat hati membuka mulutnya, Aisha sudah mempersiapkan diri untuk menelan rasa pedas yang sudah terbayangkan di dalam pikirannya itu.


"Hanya pedas, iya hanya pedas. Ya Tuhan..." Batin Aisha yang mulai kalang kabut.


"Em...?" Aisha kaget, mata Aisha terbelalak. Bukan tempura pedas yang ia rasakan melainkan mulut yang menempel di bibirnya dan lidah yang mulai menjelajah kedalam mulut Aisha.


"Altezza.." Aisha mendorong Altezza. Terlihat Altezza tengah mengelap bibirnya dengan tangannya bahkan sedikit terlihat sensual.


"Itu hukuman untukmu, sayang" ucap Altezza kemudian.


"Hukuman, hukuman apa?" Ucap Aisha mengelak.


"Sayang, apa calon suami mu ini terlalu bodoh untuk kamu permainkan?" ucap Altezza.


"Maksud kamu?" Aisha mulai was-was, jika Altezza tahu akan rencananya


"Sayang, di dalam tempura ini pasti ada sesuatu. Dan aku yakin itu cabai, benar tidak?" ucap Altezza dan menggigit tempura dan mengunyah dengan santainya.


"Ha? Ba, bagaimana mungkin Altezza terlihat biasa saja?" ucap Aisha dalam hati, ia cukup terkejut akan ulah Altezza, bahkan gigitan Altezza itu pun sudah terbukti jika di dalam tempura ada sebuah cabai rawit.


"Sayang, calon suami mu ini suka dengan makanan pedas" ucap Altezza yang menikmati sensasi pedas itu. Terlihat begitu nikmat, Altezza hanya terlihat agak kepedasan sedikit, tapi anehnya ia tetap lanjut untuk memakan tempura itu.


Aisha hanya tertegun melihat Altezza yang begitu menikmati makanan pedas. Ia tak tahu jika Altezza penikmat makanan pedas. Aisha merasa malu dan merasa kalah dari Altezza.


"Lezat sekali. Bahkan aku ingin memakannya dengan nasi" ucap Altezza kemudian.


Deg deg... Jantung Aisha tiba-tiba berdebar kencang.


"Ha? altezza bahkan membuka kancing atas? Ya, ampun dadanya... Jantungku, ini tidak baik, ini tidak benar. Aisha, sadarlah" batin Aisha, ketika Altezza nampak menikmati makanan itu bahkan melepaskan beberapa kancing atas dan membuat Aisha semakin tak karuan, bahkan Altezza sudah menyadari akan gelagat Aisha.


"Hehe, kenapa kamu sayang" ucap Altezza dalam hati. Ia tahu jika Aisha tengah merasa tak nyaman akan apa yang ia lakukan, bibir yang terlihat sensual di tambah pemandangan telanjang dada, karena sebelumnya Altezza merasakan detak jantung Aisha waktu ciuman diatas ranjang setelah bangun tadi pagi. Bahkan Aisha menyebut telanjang dada, dan enggan untuk melihatnya yang telanjang dada, sudah pasti Aisha merasa sensitif jika melihatnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Ucap Altezza yang pura-pura polos.


"Ah, iya aku baik. Kenapa?" Ucap Aisha sedikit gelagapan, dengan segera Aisha mencoba untuk menguasai dirinya.


"Sayang, masakan kamu begitu lezat. Ingin sekali rasanya aku... Memakanmu.." bisik Altezza di telinga Aisha.


Boommm... Bisikan Altezza mampu membuat Aisha down akan hawa yang mampu membuatnya tidak tenang.


"A,apa yang kamu ucapkan? Cepatlah habiskan makananmu" Aisha menahan gejolak dalam dirinya, wajahnya memerah padam.


Altezza hanya tersenyum gemas melihat Aisha yang sudah salah tingkah.


"Sayang. Bagaimana kalau kita, menikah" ucap Altezza kemudian.


"A, apa yang kamu ucapkan Altezza. Jangan membuatku me... Ah, sudahlah cepat habiskan" ucap Aisha yang enggan untuk berdebat lantaran dirinya hampir saja menjawab, iya kita menikah saja.


"Apa yang kamu pikirkan Aisha, jangan karena tubuhnya kamu jadi luluh dan mau menikah dengan pria bodoh ini. Pikirkan masa depanmu, kuliah saja belum lulus" maki Aisha dalam hatinya.


"Eh? Apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha, yang tangannya tiba-tiba ditempelkan oleh Altezza tepat di dada Altezza.


Deg deg, deg deg...


"Aku menyentuhnya?" Ucap Aisha dalam hati.


Gejolak dalam diri Aisha begitu besar, tubuh Altezza benar-benar menawan. Inilah pertama kalinya Aisha menyentuh dada bidang milik seorang pria. Begitu tegap dan terlihat sangat gentle, gagah sekali dan itu sanggup membuat Aisha kalang kabut menghadapi godaan itu.


Aisha segera menarik tangannya, ia menyadari jantungnya namun Altezza kembali meraih tangan Aisha, kali ini dilekatkan kuat-kuat di dada kiri Altezza.


"Apa yang..."


"Dengarkan dan rasakan, Aisha" ucap Altezza.


Deg deg deg deg... Jantung Altezza terasa berdetak dengan kencang, Aisha refkels memandang wajah Altezza. Altezza menangkap sorot mata Aisha yang terlihat sedikit terkejut dan tak seperti tak mempercayai itu, Altezza pun menatap Aisha dengan tatapan serius.


"Jan, jantung kamu?" Ucap Aisha terbata.


"Aisha, apa kamu tak memepercayainya? Aku benar-benar mencintaimu sayang" ucap Altezza dengan serius.


Deg... Aisha terasa melayang akan ucapan Altezza yang barusan ia dengar, bahkan membuat Aisha ingin menjawab aku juga mencintaimu tetapi malu dan tentu saja rasa gengsi.


"Aku, aku..." Aisha tak tahu harus berkata apa.


"Hemmm... Sayang, kenapa kamu belum jatuh cinta kepadaku?" Ucap Altezza kemudian dengan rengekannya.


"Apa? Manusia ini benar-benar bermuka tebal. Percuma jantungku sudah melompat kegirangan" ucap Aisha dalam hati, yang merasa kesal itu.


"Bodoh. Altezza, aku mau pulang" ucap Aisha yang tiba-tiba merasa kesal itu.


Altezza hanya tersenyum puas melihat perubahan mimik wajah Aisha, begitu nampak ia telah melayang namun seketika terjatuh kebawah. Aisha langsung membereskan piring kotor itu, dan bermaksud untuk mencucinya. Namun tiba-tiba Altezza memeluk Aisha dari belakang dengan hangat dan lembut.


"Sayang. Aku tidak akan pernah menyerah, akan cinta kita" bisik Altezza ditelinga Aisha, Aisha merasa merinding geli dengan ucapan Altezza.