Just Married

Just Married
episode 11: Siapa Yang Lebih sampah?



Aisha masih menunduk dengan pura-pura membaca dokumen, namun Aisha harus bersikap tenang, jangan sampai Altezza menyadari perilaku Aisha yang sedang salah tingkah. Aisha pun mulai berusaha tenang dan kemudian Aisha memberanikan diri untuk menatap layar monitor yang ada didepannya untuk melanjutkan tugasnya, tetapi Aisha merasa ada sesuatu yang mengganjal dari pandangannya, Aisha pun melirik kearah tempat Altezza bekerja, betapa kagetnya Aisha saat melihat Altezza tak ada disana.


"Kemana pria bodoh itu?" Batin Aisha, sembari mencari-cari kemana Altezza berada.


Aisha pun merasa lega karena Altezza tak ada disana, mungkin Altezza sedang berada diluar. Dengan santainya Aisha menyandarkan badannya dipunggung kursi itu dengan hembunas nafas yang melegakan. Belum sempat punggung Aisha menempel pada punggung kursi, Aisha kaget bukan main saat Altezza yang sudah ada disamping kanannya agak kebelakang sedikit.


"Buadalahhh...eh buset, eh buset. Eh, anu... Ma, maaf. Ah sial, kenapa kamu ada disana" teriak Aisha kaget bukan kepalang saat melihat Altezza yang sudah ada disampingnya itu.


"Bukannya, kamu sedang mencariku tadi?" Ucap Altezza sembari menahan tawa karena latahnya Aisha yang benar-benar lucu.


"Siapa yang mencari kamu, bodoh" teriak Aisha.


"Barusan, waktu kamu melihat aku tidak ada disana, kamu begitu buru-buru melihat kearah sana dan kemari" ucap Altezza.


"Diammm, bodoh" ucap Aisha malu dan melemparkan sebuah buku kepada Altezza.


"Jadi, kamu sudah jatuh cinta kepadaku?" Ucap Altezza dengan tingkat kepedeannya yang luar biasa.


"Ci, cinta apaan. Cepat menjauh dariku" ucap Aisha yang sudah berdiri dan mendorong Altezza agar menjauh dari dirinya.


Altezza hanya tertawa kecil saat Aisha mendorongnya kearah meja kerjanya. Saat Aisha berhenti mendorong Altezza, Altezza membalikkan badannya dan menghadap Aisha, belum sempat Altezza berbicara, Aisha sudah buru-buru untuk pergi.


"A, aku mau ketoilet" ucap Aisha langsung berjalan tanpa memandang Altezza dan membuka pintu lalu menutup pintu itu kembali setelah sudah berada di luar.


"Benar-benar gadis yang unik, itu sebabnya kenapa aku ingin segera memilikimu" gumam Altezza saat Aisha sudah tak ada lagi disana.


Aisha yang sedang berjalan mencari toilet pun menggerutui Altezza dengan penuh rasa kesal. Setibanya Aisha ditoilet, dengan segera Aisha membasahi mukamya karena tingkahnya yang barusan membuatnya cukup malu dihadapan Altezza.


"Ah, dasar Aisha bodoh" gumam Aisha saat melihat dirinya dicermin tepat didepannya.


"Lalu, apa maksud perkataannya itu. Benar-benar, tapi kenapa aku malu? Sadar Aisha, dia hanya ingin mempermainkanmu. Jangan tertipu dengan wajah gantengnya, dia gila dia bodoh. Iya, dia gila dan bodoh" gerutu Aisha dan menepuk-nepuk kedua pipinya.


Aisha bergegas keluar, Aisha pun mengambil nafas panjang-panjang untuk merilekskan diri sebelum bertemu dengan Altezza di ruang kerjanya. Saat Aisha sedang membuka pintu, terlihat ada seorang wanita cantik dan seksi yang sedang bermanja kepada Altezza. Aisha melihat itu pun bersikap untuk berpura-pura tidak melihatnya dan segera kembali untuk bekerja.


"Selain gila dan bodoh, pria itu benar-benar mesum. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini, agar aku segera keluar dari tempat ini dan jauh dari pria bodoh itu" batin Aisha saat sudah mendekati meja kerjanya.


"Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa ada diruangan ini bersamamu?" Ucap wanita itu dengan nada angkuhnya.


"Diam" ucap Altezza tegas.


"Aku tahu, kau pasti wanita murahan yang mencoba untuk merayu tuanku Altezza, kan?" Ejek wanita itu saat menghampiri Aisha yang sedang bekerja, tetapi Aisha hiraukan.


"Beraninya kau mengabaikanku!!" Hardik wanita itu dan menyiram tubuh Aisha dengan minuman Aisha yang ada dimeja kerjanya itu.


Plakkk... Tamparan keras telah mendarat tepat dipipi kiri perempuan itu. Aisha dengan lantang tanpa rasa takut melawan tindasan wanita itu.


"Dasar manusia sampah, bukankah sudah jelas. Siapa yang murahan, aku atau kamu" hardik Aisha.


"Kau... Altezza, perempuan murahan ini telah menamparku" rengem wanita itu dihadapan Altezza dengan manja.


"Keluar!!!" Bentak Altezza kepada Wanita itu.


"Altezza, kamu..." Ucap wanita itu kaget sekaligus takut, raut wajah Altezza tiba-tiba saja menjadi sangat menakutkan.


"Aku bilang, keluar!!!" Kali ini bentakan Altezza sangat menakutkan. Wanita itu pun takut dan segera keluar, sebelum keluar wanita itupun memandang sinis terhadap Aisha.


"Aisha, kamu..." Ucap Altezza mendekati dan berusaha menyentuh Aisha, tetapi Aisha menghempaskan tangan Altezza yang hendak mau menyentuhnya.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya bapak jangan mendekatiku" ucap Aisha dengan wajah menahan amarah, Aisha kembali duduk dengan wajah sedikit lesu seperti tak bersemangat.


"Dengarkan aku, dia adalah salah satu anak dari pria tua yang kemarin dalam sebuah pesta. Ini hanyalah trik untuk merayuku, kamu jangan pikirkan itu" ucap Altezza menjelaskan.


"Cukup. Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun bahkan juga tak ingin tahu apapun itu tentang kamu. Kamu bukan siapa-siapa aku, kita hanya rekan kerja. Jadi, aku mohon. Pergilah dan menjauhlah dariku" ucap Aisha dengan nada datar. Wajahnya begitu muram.


"Tapi, kenapa wajah kamu begitu muram?" ucap Altezza yang enggan meninggalkan Aisha.


"Bodoh, siapa yang ingin ditindas seperti itu. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba menindas orang tanpa mengerti apa kesalahanku yang telah kuperbuat darinya? Bahkan mengenalnya pun tidak" icap Aisha dengan geramnya.


Altezza mendengar umpatan AIsha terasa mengiris hati Altezza, dengan sigap Altezza meraih badan Aisha untuk berdiri tepat didepannya. Altezza memeluk Aisha begitu erat.


"Maaf. Hal seperti ini tak kan terjadi lagi, karena sedikitpun aku tak akan pernah rela melihatmu disakiti oleh siapapun" ucap Altezza merasa bersalah.


"Kenapa? Ada apa ini? Kenapa pelukannya terasa begitu menenangkan?" Batin Aisha.


"Mulai sekarang, aku akan menjagamu" ucap Altezza dan melepaskan pelukannya.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, biar aku yang mengantarmu" ucap Altezza kemudian.


"Pulang? Setidaknya itu lebih baik, daripada aku harus memaksakan diri untuk tetap bekerja sampai malam" batin Aisha.


Altezza menggandeng tangan Aisha, untuk pulang bersama. Tetapi Aisha menolaknya dengan melepaskan genggaman tangan Altezza. Tetapi Altezza kembali meraih tangan Aisha dan mengenggamnya, Aisha pun menghempaskannya lagi. Namun Altezza taknbergeming, ia beersikeras untuk tetap menggandeng Aisha. Kini dengan erat Altezza menggenggam tangan Aisha, Aisha pun pasrah dengan sikap Altezza yang suka memaksa.


Entah harus dengan cara apa agar Aisha terlepas dari genggamannya itu, lantaran adanya pertunjukan itu membuat suasana di kantor menjadi ramai akan bisik-bisik tentang Aisha dengan bos mereka.