
Malam hari di sudut kota Manhattan, malam itu terasa begitu panjang. Altezza tengah membawa Aisha menyusuri jalanan malam dengan mengendarai mobil mewah milik Altezza.
"Altezza... Apa kamu tidak capek? Aku sudah lelah, kamu mau membawaku kemana" keluh Aisha dengan wajah tanpa semangat itu.
"Hemmm... Suatu tempat dimana untuk mengeratkan cinta kita" goda Altezza.
"Hei, bicara yang serius Altezza bodoh. Aku sedang tidak mood untuk bercanda denganmu" ucap Aisha yang masih dengan wajah datarnya.
"Aisha, apa hari ini kamu akan menjadi singa?" Ejek Altezza.
"Altezza, apa kamu tengah bermaksud membangunkan singa betina yang sedang tidur?" Aisha tengah menahan emosi.
"Sebagai singa jantan, aku berkuasa untuk membangunkan singa betinaku" ucap Altezza yang tak mau kalah.
"Dasar, karnivora" pekik Aisha yang mulai jengkel.
Altezza hanya cekikikan kecil melihat tingkah Aisha yang tengah menstruasi, memanglah begitu sensitif dan moodnya mudah kacau.
"Apa yang lucu?" ucap Aisha, yang terlihat begitu kesal.
"Kamu"
"Apa?"
"Kamu. Om-ni-vo-ra" tandas Altezza dengan jelas.
"Kamu. Kamu mengataiku rakus?" Emosi Aisha sudah meledak, sedangkan Altezza semakin menggila untuk menggoda Aisha.
Altezza hanya tersenyum dan tertawa kecil, entah kenapa Altezza merasa ingin sekali untuk terus menjahili Aisha. Karena dari wajah marahnya Aisha saat itu masih terlihat ada sisi manjanya. Altezza hanya ingin mengetahui seperti apa marahnya Aisha yang sesungguhnya apalagi di kondisi saat bulanannya, yang dengar-dengar marahnya seorang wanita yang tengah PMS akan terasa lebih mengerikan, rupanya Altezza dapat mematahkan mitos itu, karena kenyataannya dirinya malah menganggap Aisha begitu lucu.
"Turunkan aku disini!!" Teriak Aisha yang sudah sangat marah itu.
"Tidak. Itu tidak akan"
"Turunkan aku sekarang. Atau aku akan melompat!!" Tegas Aisha dengan aura kemarahan yang menggebu, tangannya pun sudah berkesiap untuk membuka pintu mobil.
"Haihhh... Baiklah. Leon, berhenti" perintah Altezza. Mobil pun berhenti di pinggir jalan, Aisha yang sedang marah itu pun langsung turun dan membanting pintu cukup keras, raut wajahnya yang marah itu masih saja terlihat sedang memaki Altezza.
Dengan sigap mobil Altezza pun melaju meninggalkan Aisha. Aisha semakin marah melihat mobil Altezza meninggalkan dirinya, di tepi jalan raya yang mungkin akan ada preman atau berandalan yang bisa saja memanfaatkan keadaan itu.
"Benar-benar bodoh, dasar lelaki tidak peka, tidak pengertian. Masak iya aku di turunin dan di tinggal di jalan raya beneran, yang entah ada dimana ini?" Gerutu Aisha sembari menyusuri tepi jalan raya dan melihat sekitar.
"Katanya cinta, heh, cinta apaan. Bodoh, benar-benar bodoh" gerutu Aisha yang masih marah dan kesal.
Entah apa yang merasuki Aisha, hormonnya memang terlalu tinggi. Moodnya benar-benar meledak. Tiba-tiba Aisha berhenti dan duduk ditepi trotoar, Aisha duduk dan melihat jalanan yang ramai akan kendaraan yang lalu lalang. Aisha pun berniat untuk mencari taksi, namun sialnya tas yang berisi ponsel dan juga dompet tertinggal di dalam mobil Altezza.
Aisha terduduk dan menunduk dengan menekuk lutut kemudian menyandarkan kedua tangannya diatas lutut, Aisha pun menunduk lesu. Tanpa terasa, amarah Aisha pun menjadi sebuah tangisan. Entah apa yang terjadi, hanya kemarahan dalam diri telah berubah menjadi sebuah tangisan.
Di dalam dada Aisha hanya terasa sesak, seperti ada rasa yang tertahan. Aisha yang merasa bersalah kepada Altezza dan juga atas kemarahannya, situasi telah membuatnya kesulitan. Itulah akibat dari amarah, jika tak mampu mengendalikan akan menjadi petaka bahkan kerugian untuk diri sendiri.
Brug... Aisha dikejutkan dengan sebuah jaket yang menutupi pundak Aisha yang masih menunduk dan menangis itu. Spontan Aisha mendongakkan kepala dan melihat siapa yang tengah berbuat sedemikian. Ya, dalam hatinya pasti akan mengharapkan sosok Altezza, ia berharap itu memang Altezza. Dan Tuhan menghendakinya, memanglah benar itu Altezza.
Aisha yang belum sempat mengusap air matanya pun langsung berdiri dan memeluk erat tubuh Altezza. Tangisan Aisha semakin menjadi, Altezza hanya membalas dengan pelukan kekasihnya itu, Altezza telah mengungkap sebuah rahasia.
"Kemarahannya memang kekanakan dan terlalu egois, tanpa berfikir lebih dulu bahkan tak memperdulikan suatu hal, tapi disisi lain dalam dirinya memiliki rasa penyesalan yang amat, sampai-sampai menangis seperti ini" gumam Altezza dalam hati.
"Menarik, wanita memanglah sangat menarik, bisa membuatku gila untuk memahaminya. Tapi, itu sudah tugasku sebagai pria, yang suatu saat, aku akan dibuat gila dengan jutaan kode dari makhluk yang bernama wanita" gumam Altezza kemudian, dan mencium kepala Aisha. Altezza tanpa berbicara pun hendak menuntun Aisha untuk masuk kedalam mobil.
"Gak mau" rengek Aisha yang sesenggukan itu.
"Aku gak mau masuk mobil dulu" ucap Aisha kemudian.
"Kenapa?" Ucap Altezza.
"Bodoh. Disana ada leon, aku malu" Aisha semakin menenggelamkan kepalanya di dada Altezza
"Baiklah. Apa yang ingin kamu katakan, katakanlah"
"Hemmm... Maaf. Aku minta maaf sudah memarahimu" rengak Aisha dan mendongakkan wajahnya, matanya terlihat agak sembab dan sorot matanya pun terlihat memelas, membuat Altezza tergoda akan keimutan yang terselubung.
Altezza mengangkat dagu Aisha dan hendak melumat bibir Aisha. Namun Aisha menahan tangan Altezza yang tengah mengangkat dagunya.
"Aku, aku tidak mau dicium" ucap Aisha dan memalingkan wajahnya.
Altezza hanya terdiam dan kemudian sedikit tersenyum, Altezza tidak peduli dengan rengekan Aisha. Altezza tetap saja, mendongakkan dagu Aisha dan langsung meluncur tanpa aba-aba. Altezza mencium bibir Aisha, namun keanehan itu muncul, awalnya Aisha yang sudah berhenti menangis, saat di cium ia malah kembali menangis dengan derasnya.
Altezza kebingungan melihat tingkah Aisha, namun dengan segera Altezza menguasai diri dan membaca maksud terselebung itu.
"Kenapa? Kenapa hatiku merasa bahagia, begitu nyaman jika dekat dengannya. Padahal tadi aku sudah memarahinya habis-habisan, tapi kenapa sikapnya membuatku kalah" ucap Aisha dalam hati.
Aisha semakin erat memeluk tubuh Altezza, kini Altezza mengerti. Yang Aisha butuhkan hanyalah dirinya untuk membuatnya selalu nyaman di sisinya, apalagi di acara bulanannya seorang wanita, pantas saja Aisha marah tiba-tiba, rengek manja, alasan malu dengan orang lain setelah adanya kejadian. Tidak, itu hanyalah cara perempuan untuk mencari perhatian, di saat bulanan melanda.
Malam itu, seharusnya Altezza mengajak Aisha ke suatu tempat yang masih rahasia. Namun sepertinya tidak jadi, lantaran Aisha telah nyaman disisi Altezza meskipun berada ditepi jalan. Ya, Aisha hanya membutuhkan Altezza, pria yang selalu membuatnya nyaman sekaligus membuat jantungnya berkerja lebih keras.
"Sayang, kita sudah cukup lama disini. Berhenti di tepi jalan raya juga tidak bagus, bagaimana kita pergi ke suatu tempat atau kamu ingin pulang?" Ucap Altezza kemudian.
Aisha hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya, begitu lesu tanpa ada semangat. Karena di dalam dirinya hanya ingin bersama Altezza, namun malu untuk mengungkapkannya.
"Baiklah. Sebaiknya kita masuk kedalam mobil dulu" ajak Altezza dan mencium kening Aisha.
Altezza menggandeng tangan Aisha dan membawa Aisha masuk kedalam mobil. Seharusnya waktunya masih ada cukup untuk pergi ke suatu tempat yang Altezza siapkan, tetapi sepertinya mood Aisha masih belum stabil. Altezza pun memutuskan untuk pulang.
Perjalanan itu cukup lama, Aisha mulai merasa mengantuk. Altezza menyandarkan kepala Aisha di dadanya sembari memeluk tubuh Aisha. Tak harus menunggu puluhan menit, dalam lima menit lebih Aisha sudah tertidur di dalam pelukan Altezza.
Sesampainya di kediaman Altezza, dengan segera Altezza menggendong Aisha dan turun dari mobil kemudian membawanya masuk kedalam villa, disambutlah bibi Lin yang tengah membukakan pintu rumah untuk tuannya, namun Altezza memerintahkan untuk memelankan suara. Bibi Lin pun mematuhi perintah itu, dan dengan segera bibi Lin mengikuti langkah Altezza, karena tugasnya untuk mengganti baju Aisha dengan piyama, baju tidur Aisha yang sudah Altezza sediakan di rumah itu.
Lima belas menit kemudian, bibi Lin keluar dari kamar utama yang merupakan kamar Altezza. Altezza yang mengetahui itu dengan segera masuk kedalam kamar, Altezza bahkan sudah selesai mandi yang hanya dalam sekejap karena ia harus segera menemani Aisha yang masih terlelap itu.
Altezza melihat wajah Aisha yang tengah terlelap, membuat Altezza langsung mendekat dan ikut merebahkan diri di sisi Aisha. Altezza melihat raut wajah kekasihnya itu nampak terlihat masih ada bekas guratan kesedihan. Altezza pun memeluk tubuh Aisha dan bermaksud untuk ikut tidur, namun baru saja Altezza memejamkan mata, Aisha telah membuatnya kaget, dengan acara bangun tiba-tiba dan terduduk dengan ekspresi wajah yang tengah kaget.
"Ada apa, sayang?" Ucap Altezza dengan menahan pusing dikepalanya.
"Kenapa aku ada di sini? Kamu tidak mengantarku ke apartemen?" Ucap Aisha dengan mata yang sudah seratus persen terang benderang.
"Sayang, tadi aku sudah nawarin, tapi kamu hanya diam. Aku pikir kamu ingin terus bersamaku, makanya aku bawa kemari" ucap Altezza dengan perasaan was-was, takut jika tebakannya melesat.
"I, iyaa. Tapi kan, ya jangan di rumahmu juga. Dasar Altezza bodoh" ucap Aisha merasa malu sekaligus kesal.
"Terus kemana? Ke hotel?" ucap Altezza kemudian.
"Eh. Hehe tidak" Aisha cengengesan.
"Bukankah kalau di sini, kita bisa lebih leluasa sayang?" Goda Altezza.
"Dasar, mesum" ucap Aisha dengan datar dan juga mimik wajah yang datar pula.