Just Married

Just Married
episode 55: Hari Pertama LDR'an



Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lebih, malam itu Aisha tak dapat tidur. Lantaran ia merasa ada sesuatu yang hilang. Di kamar itu, Aisha yang seorang diri yang tengah menatap bantal yang ada di sampingnya. Wajah Altezza yang masih pekat dalam ingatan Aisha, tanpa sadar ia menitikkan air mata.


"Inikah yang di namakan rindu? Belum juga satu hari, Aisha" gumam Aisha sembari mengusap air matanya.


Aisha terdiam dan menguatkan diri, ia mulai membayangkan Altezza yang selalu ada untuknya, yang membuatnya tertawa bahagia, hingga pada akhirnya Aisha terlelap dengan memeluk guling dan menyentuh bantal Altezza, yang menyisakan bau Altezza di sana.


Tanpa terasa, hari sudah pagi. Aisha membuka mata dan menemukan sebuah kenyataan bahwa, Altezza memang tidak ada di sana. Aisha beranjak dari ranjang itu, ia pun melangkah dengan lemah menuju kamar mandi. Aisha seperti enggan untuk membuka kimono handuk yang ia kenakan, ia merasa jiwanya tengah kehilangan semangat.


Pukul tujuh pagi, Aisha telah siap untuk berangkat ke kampus. Namun sebelum itu, Lala dan Lulu sudah mempersiapkan sarapan untuk dirinya. Aisha mulai kembali ceria, lantaran Lala dan Lulu selalu saja membuat dirinya tersenyum. Setelah selesai sarapan, paman Edo dengan segera mengantar nonanya untuk pergi ke kampus.


New York University, merupakan kampus terbaik di kota Manhattan, kampus itu pun tak sedikit menjadi incaran para calon mahasiswa manca negara, terutama Indonesia. Aisha yang tengah menatap gedung universitas itu, ia pun mulai membangunkan jiwanya untuk kembali bangkit, Aisha mengingat kembali akan tujuan awal ia masuk ke universitas itu.


"Yap. Aku tidak boleh larut karena cinta, aku harus fokus. Aisha, semangat" gumam Aisha dalam hati dengan rasa jiwa yang berkobar.


"Huft... Tapi tetap saja masih kepikiran, Altezza kamu bodoh sekali" keluh Aisha kemudian, ia merasa belum terbiasa menjalani hubungan jarak jauh.


Aisha pun melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam gedung yang megah itu, meskipun perasaan entah bagaimana jelasnya. Aisha tetap harus fokus untuk menimba ilmu, ia harus siap mengahadapinya sebagai pembelajaran diri.


Sedangkan disisi lain, kota London.


"Hattssiiii"


"Bos? Kenapa bos? Apa bos, sedang flu" ucap Leon.


"Tidak. Sepertinya, ada yang mengataiku" ucap Altezza.


"Apa mungkin... Bos sudah memberi kabar kepada nona Aisha?" Selidik Leon.


"Sial. Aku lupa, gara-gara sibuk aku jadi melupakannya" hardik Altezza, ia pun meraih ponsel yang tak jauh dari dokumen-dokumen yang berserkan di atas meja kerjanya.


"Jam segini, Aisha sudah pasti ada kelas. Sebaiknya tunggu jam makan siangnya" gumam Altezza dalam hati, ia pun meletakkan ponselnya kembali.


Leon yang memperhatikan Altezza hanya mampu mengerutkan alis, entah apa yang ada di dalam pikiran bosnya itu. Altezza membereskan beberapa dokumen, ia pun mulai meraih dokumen lain untuk ia pelajari.


"Leon. Tiga puluh menit lagi mulai adakan rapat" ucap Altezza kemudian.


"Bos, bukannya rapat dua jam lagi?" Ucap Leon.


"Apa kau sedang membantah?" Ucap Altezza.


"Eh, tidak bos tidak. Baik aku akan memberi kabar secepatnya" ucap Leon, ia pun langsung berlari keluar untuk segera memberitahukan kabar, jika rapat di ajukan tiga puluh menit lagi.


Tok tok tok


"Bos, semua sudah berkumpul" ucap Leon.


Altezza membereskan dokumen-dokumen itu sedemikian rapi, ia pun membawa beberapa dokumen dan menyerahkan ke Leon, untuk Leon bawa. Altezza melangkah keluar menuju ruangan meeting. Wajah Altezza seketika berubah begitu dingin dan mencekam. Ketika Altezza masuk, semua pun terdiam. Leon menarik kursi untuk tuannya, Altezza pun duduk tegap dengan tatapan tajam. Altezza memulai acara meeting itu, hingga memakan beberapa jam akhirnya meeting itu selesai. Altezza melihat jam tangannnya, dengan segera Altezza meraih ponsel untuk menelpon Aisha, sedangkan Leon tengah mengurus beberapa surat kontrak dan dokumen-dokumen lain yang masih duduk tak jauh dari Altezza.


"Apa?" Suara Aisha di balik ponsel.


"Sayang, apa kamu tidak merindukan aku?" Ucap Altezza.


"Sayang, apa kamu sedang marah padaku?" Selidik Altezza.


"Ha? Apa bos begitu tidak peka?" Batin Leon, saat mendengar ucapan Altezza barusan.


"Tidak. Altezza, aku sibuk. Nanti aku telfon kembali" ucap Aisha, ia pun menutup telfonnya.


"Aisha?" Gerutu Altezza, saat Aisha langsung menutup telfonnya.


Leon yang melihat ekspresi bosnya itu pun menahan tawa, lantaran yang awalnya begitu menakutkan, disaat telfon mendadak berubah menjadi manis tapi karena ketidak pekaanya, berubah melongo seketika.


"Nona Aisha, memang ajaib. Bisa merubah bos dengan begitu cepat" gumam Leon dalam hati.


"Apa yang sedang kau tertawakan?" Ucap Altezza begitu tegas, membuat Leon kaget dan kelimpungan.


"Ah, tidak bos. Tidak, sama sekali tidak" Leon mengelak.


"Apa yang kau ucapkan barusan itu?" Altezza tersinggung, lantaran ucapan Leon begitu mirip dengan ucapan Aisha sebelumnya.


"Leon, siapkan mobil. Kita pergi ke restoran XX untuk menemui clien untuk tanda tangan kontrak. Dan satu lagi, siapkan beberapa dokumen tentang perusahaan Exam. Suruh seseorang untuk terus mencari informsi tentang perusahaan itu, bila perlu awasi gerak geriknya" perintah Altezza, Leon pun bergegas melaksanakan perintah bosnya itu.


Altezza beranjak dari duduknya, ia pun melangkah keluar dari ruangan meeting. Ia berjalan tegap dan gagah, bahkan aura dan sorot mata begitu dingin. Sangat berbeda jika tengah bersama Aisha.


Altezza memasuki lift khusus Direktur, Altezza melihat jam tangannya kembali untuk mengecek waktu. Tak lama kemudian pintu Lift itu pun terbuka, Altezza segera melangkah keluar dari sana. Ia terus berjalan menuju parkiran, setelah sampai di sana rupanya Leon sudah siap bersama mobil hitam. Seseorang pun melangkah untuk membukakan pintu untuk bosnya, dengan sigap Altezza masuk kedalam mobil.


New York University, ruang kelas.


"Dasar bodoh, baru saja aku bisa untuk tidak bersedih karenanya. Malah telfon, kemarin saja tidak memberi kabar sama sekali" celetuk Aisha dalam hati


"Dasar bodoh" gumam Aisha.


"Apa? Kamu barusan bilang apa Aisha?" Ucap Angelica karena mendengar ucapan Aisha, namun menggunakan bahasa indonesia.


"Ah, hehe. Tidak ada apa-apa, Angelica. Aku hanya sedang mengeluh saja".ucap Aisha.


"Oh. Kalau begitu, yang semangat ya" seru Amgelica.


Angelica memang baik terhadap Aisha, ia juga tak segan-segan untuk membantu Aisha. Meskipun awalmya Angelica sempat merasa tidak cocok dengan Aisha, namun karena keramahan dan kebaikan Aisha, Angelica begitu luluh dengan sikap Aisha terhadap dirinya bahkan siapapun. Tak ayal, jika Sally saja bisa serekat itu jika bersama Aisha.


Waktu terus bergulir dengan cepatnya, tanpa terasa hari sudah hampir sore. Aisha sudah tidak ada lagi jam kampus, namun ia harus pergi keperpustakaan untuk mencari beberapa buku. Ketika Aisha tengah memilah buku-buku yang berjejeran di dalam rak besar, tiba-tiba ponsel Aisha bergetar. Aisha meraih ponselmya yang ada di saku celananya. Saat Aisha melihat, nama itu terlihat jelas nama, Altezza behubby.


"Haha, baru sadar. Aku bikin nama kontaknya seperti ini" gumam Aisha dalam hati, ia hanya mampu tersenyum geli.


"Di tutup?" Gumam Altezza, ia pun merasa tidak sabar, karena di London sudah begitu malam, tetapi Aisha tidak dapat di telfon bahkan tidak mengaktifkan ponselnya.


"Aisha... Kamu berhutang padaku, tunggu saja jika aku kembali" geram Altezza.


Entah kenapa Altezza malam itu merasa gelisah, ia merasa Aisha tengah menghindarinya entah marah kepadanya. Intinya Altezza ingin marah, tetapi juga gemas. Entahlah, mungkin rindunya Altezza tengah tertolak.