Just Married

Just Married
episode 7: Sosok Misterius



Hari demi hari, dan minggu demi minggu. Bahkan sudah hampir satu bulan, Aisha dibuat kepayang, akan kiriman misterius yang entah dari siapa dan terus datang tanpa henti.


Dan, kali ini surat itu berisi ajakan untuk bertemu di restoran ternama di kota Manhattan. Tentu ini adalah kesempatan untuk mengetahui siapa orang misterius tersebut.


Tetapi di sisi lain, Aisha juga merasa sedikit takut, jika orang itu ada maksud tertentu dengan dirinya. Tapi apa?


"Sudahlah, mau tak mau aku harus menghadapinya. Anggap saja latihan," gumam Aisha dalam hati dan meremas surat kecil tersebut.


Malam itu, Aisha benar-benar datang di restoran, yang sesuai ada didalam surat yang ia terima sebelumnya.


Aisha duduk seorang diri dan menunggu disana, bahkan sudah tiga puluh menit Aisha sudah menungguinya, dan orang itupun tak menampakkan batang hidungnya sedikitpun. menunggu disana.


"Apa aku sedang dipermainkan?" kesal Aisha.


"Permisi... apakah anda mau memesan?" pelayan itu datang kembali pada Aisha yang sedari tadi hanya duduk dan tak memesan apapun.


"Tidak, aku akan pergi sekarang," Aisha menolak dan berdiri dengan perasaan kesal.


Aisha berjalan keluar, tiba-tiba dirinya dihampiri oleh seorang pengirim bunga, "permisi. Dengan nona Aisha Olinda?" ucap pengirim bunga pada Aisha untuk memastikan.


"Iya?"


"Ini, ada kiriman bunga untukmu," pengirim bunga itupun menyerahkan buket bunga mawar biru yang nampak istimewa.


Aisha menerima dan tak peduli dengan bunga indah itu, yang ia pedulikan adalah secarik kertas yang ada di diatas bunga tersebut.


'apa kamu tidak takut, jika seandainya kamu diculik?''


Aisha cukup terkejut dengan isi surat tersebut, tetapi dirinya juga semakin geram dan tak sabar untuk mengetahui siapa sosok misterius itu.


"Siapa pengirimnya?" tanya Aisha kepada pengirim bunga tersebut.


"Seorang pria yang ada di mobil itu," jawabnya, sembari menunjuk kearah mobil hitam yang terparkir di seberang restoran.


Deg. Jantung Aisha serasa terhenti memompa, dirinya menjadi merasa was-was.


Aisha mengatur nafa dan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Aisha ingat dirinya tak sendiri, Selly sudah ada ditempat persembunyiannya.


"Baiklah, terimakasih," ucap Aisha setelah menandatangani nota pembuktian.


Dengan keberanian yang amatir itu, Aisha akhirnya memutuskan untuk pergi kearah mobil hitam yang pengirim bunga tunjukkan.


Aisha juga sudah mempersiapkan rencana, jika seandainya dirinya diculik atau ada kejadian lainnya, Setidaknya Aisha bisa melawan atau mencari cara untuk menyelamatkan diri.


Setibanya di sana, Aisha mengetuk jendela kaca pintu mobil yang ada disisi pengemudi.


Tok tok tok


"Permisi. Apakah anda..." belum sempat Aisha meneruskan pertanyaannya, tiba-tiba pintu mobil yang ada dibelakang kemudi terbuka dengan perlahan.


Refleks, Aisha menghampirinya untuk melihat sosok yang ada di sana, dan siap menghujani dengan kata-kata yang sudah Aisha persiapkan dalam pikirannya.


Baru saja, Aisha menengok. Tubuh Aisha langsung ditarik masuk kedalam oleh seseorang yang ada disana.


"Eh?" Aisha terperanjat kaget, apalagi tubuhnya terjatuh dalam pangkuan seseorang yang ada didalam sana, dengan posisi membungkuk kebawah.


"Sudah lama tidak berjumpa, kenapa kamu masih saja terlihat kurusan," kritik pria itu tanpa permisi.


"Apakah makanan yang aku kirim itu, masih belum cukup untuk membuatmu lebih berisi lagi?" imbuhnya.


Aisha cukup terkejut mendengar suara pria yang sedikit familiar, Aisha pun langsung menoleh dan melihat sosok pria tersebut.


Rupanya pria itu adalah, seorang pria yang sebelumnya pernah memberinya satu set perhiasan disalah satu pusat perbelanjaan kota Manhattan.


"Siapa kamu sebenarnya?" Ucap Aisha, dan mencoba untuk melepaskan dirinya dari dan terduduk disebelah pria tersebut.


Tapi sungguh sial, Aisha tersadar jika mobil itu sudah melaju cepat pergi meninggalkan area tersebut.


"Kamu... hentikan mobilnya," Aisha mencoba untuk memberontak, tetapi pria itu meraih tubuh Aisha dan menahannya.


"Lepaskan," Aisha terus memberontak.


Di sisi lain pemberontakan Aisha hanyalah trik kecil, padahal sebetulnya tangannya sedang mencari ponsel atau sebuah benda yang sebelumnya ia persiapkan.


Tapi sungguh sial, semua benda itu tidak ada satupun ia temukan di tubuhnya maupun saku.


"Sial!" hardiknya dalam hati.


"Kamu, cari ini?" pria itu memamerkan sebuah ponsel dan juga softgun listrik.


Aisha tertegun melihat barang miliknya itu yang sudah berpindah tangan, entah sejak kapan pria itu mengambilnya.


"Menyesal? Sudah terlambat," ucap pria itu.


"Kamu. Lepaskan a...emmm..." Aisha terbelalak, lantaran pria itu tanpa permisi mencium mulutnya dengan kuat.


Refleks, Aisha mendorongnya dengan kuat, "Kamu mau apa?" Aisha merasa takut.


"Hanya melepas rindu," jawab pria itu dengan enteng.


"Sudahlah, jangan takut. Aku hanya meminta bantuanmu," ucap pria itu kemudian.


Aisha mengernyitkan dahi dan merasa bingung, karena setelah diperhatikan, pria itu sepertinya pria yang baik, tapi mungkinkah? Atau hanya perasaan Aisha saja.


"Bantuan apa?" Aisha mencoba mencaritahu.


"Jadi pasanganku malam ini," terang pria itu dan menyerahkan sebuah surat undangan pada Aisha.


Aisha meraihnya dan membaca isi surat undangan tersebut, dirinya tersadar akan nama pria yang ada disampingnya, "Altezza? Rupanya, nama dia Altezza," gumam Aisha dalam hati.


"Anggap saja itu sebagai balas budimu, untuk membayar apa yang sudah kuberikan padamu," ucap Altezza kemudian.


"Tidak. Akan kembalikan semuanya padamu," tolak Aisha.


"Aku menolak," tegas Altezza.


"Aku tidak terima,"


"Aku tidak membutuhkannya,"


Aisha tak habis pikir itu mencoba untuk menenangkan diri, "baiklah, tapi setelah itu. kamu jangan pernah menggangguku lagi," tawar Aisha kemudian.


"Kamu?... Sebenarnya, apa yang kamu inginkan?"


"Kamu."


Aisha kehilangan kesabarannya, "tuan, anda sudah mencuri ciuman pertamaku, kemudian anda meminta diriku? Apa kamu sedang merendahkan ku?"


Altezza yang mendengar ucapan Aisha itu pun tersenyum tipis, "jadi, ini ciuman pertama kamu? Itu bagus."


Aisha sudah tak bisa berkata-kata, air matanya juga hampir menetes. Altezza yang menyadari itu pun berkata, "aku tidak akan melakukan apapun padamu, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Soal ciuman pertama, ini juga pertama bagiku. Tapi kalau kamu tidak terima, aku akan mengembalikannya padamu," terang Altezza kemudian.


Aisha terkejut, tapi itu tidak mungkin. Jika di perhatikan, pria itu sangat tampan dan postur tubuh yang mengagumkan. Tentu wanita manapun tak akan menolak, sudah pasti perkataan itu hanya bualan.


"Tapi... dia terlihat...sedikit malu?" batinnya.


Aisha mencoba berpikir jernih, tetapi ia tersadar. Mobil yang ia tumpangi rupanya sudah berhenti di sebuah hotel yang entah ada dimana.


"Ao aku serius dengan ucapanku, jadi tolong bekerjasama lah dengan baik untukku," ucap Altezza kemudian.


Deg.


"Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia tahu nama panggilan kecilku?" gumam Aisha dalam hati.


"Kamu... sebenarnya kamu siapa?" tanya Aisha.


"Apa kamu benar-benar lupa siapa aku?" selidik Altezza.


Aisha menatap lekat wajah Altezza, akan tetapi dirinya tak mengenalnya sedikitpun.


"Lupakan. Sebaiknya, kamu cepatlah turun. sebentar lagi aku akan datang kembali menjemputmu," ucap Altezza kemudian.


Pintu mobil sudah terbuka, bahkan di depan pintu itu sudah ada seorang wanita dan beberapa bodyguard yang menyambut dirinya.


"Selamat datang, nona muda. Mari, silahkan ikuti kami," ucap wanita itu.


"Patuh lah, dan jangan kabur," tegas Altezza.


Aisha menurut dan turun dari mobil, seketika mobil itu pergi dan Aisha dipandu pergi untuk masuk kedalam sana.


Keringat dingin sudah bercucuran membasahi tubuh Aisha, dirinya berpikir untuk kabur pun itu tidak mungkin.


pengawasan yang sangat ketat, bahkan Aisha sudah berpura-pura apapun tak mampu mengalihkan bahkan celah sedikitpun tidak ada.


"Mari nona, silahkan masuk," ucap wanita itu, saat sudah membuka pintu di sebuah kamar presiden suite.


"Selamat datang nona, ayo silahkan masuk," Aisha di kejutkan dengan dua orang wanita muda yang entah siapa mereka.


"Nona, kita hanya memiliki waktu tigapuluh menit. Jadi, mohon bantuannya," ucap wanita yang menjemputnya tadi.


Dua wanita muda itu langsung membimbing Aisha untuk melakukan sesi yang Aisha tiada sangka, "aku di suruh mandi?" gumamnya dalam hati.


Saat ini, Aisha hanya menurut. Setelah selesai mandi, salah seorang wanita muda yang menyambutnya langsung memberikan arahan.


Rupanya, dua wanita muda itu adalah stylish yang entah siapa namanya. Tapi yang pasti, cara kinerja mereka benar-benar sangat profesional.


Tak lama kemudian, Aisha sudah selesai didandani, bahkan tubuhnya sudah terbalut dress mewah nan elegan.


"Baik, tugas kami sudah selesai. Nona, kami permisi dulu," ucap salah seorang wanita muda tersebut.


"Baik, terimakasih," ucap Aisha.


Aisha yang masih duduk di depan cermin itu pun, tercengang melihat dirinya yang berubah menjadi sangat cantik, apalagi dengan balutan gaun mewah itu.


"Anda, cantik sekali nona. Pantas tuan muda sangat menyukaimu," puji seorang wanita yang menjemput Aisha didepan hotel tadi.


"Maksud anda?" Aisha tak mengerti.


Wanita itu belum sempat menjawab, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu.


Klak.


"Tuan, nona muda Aisha sudah siap," ucap wanita itu, yang rupanya yang tak lain ialah Altezza.


Altezza diam dan menatap Aisha yang begitu cantik malam itu, ingin sekali rasanya Altezza datang untuk memeluk dan mencium Aisha. Namun Altezza menahan diri, dan berpura untuk tidak terpesona sedikitpun.


"Keluar," perintah Altezza kepada wanita tadi.


"Baik," wanita itu menunduk dan pergi keluar meninggalkan mereka berdua.


Tiba-tiba, jantung Aisha berdebar kencang, lantaran Altezza mendekati Aisha begitu dekatnya.


Sampai-sampai, tubuh Aisha sudah terpentok pada sebuah meja yang membuatnya terduduk, dengan sigap Aisha menoleh dan menundukkan kepalanya.


Akan tetapi, Altezza mengangkat dagu Aisha dan mendekatkan wajahnya, semakin kalut lah Aisha di buatnya.


Bagaimana tidak, Altezza yang entah kenapa malam itu berubah menjadi tampan, bahkan sangat tampan.


Apalagi cara menyentuh dagu Aisha, benar-benar lembut dan mampu membuat Aisha hampir mabuk di buatnya.


"Kamu, kamu mau apa?" Ucap Aisha grogi.


Altezza hanya diam dan terus mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, Aisha tak tahan dan memejamkan mata.


"Kenapa kamu, memejamkan mata?" ucap Altezza kemudian.


Sontak Aisha membuka mata, Altezza pun kembali berceloteh, "apa kamu tak ingin mempersembahkan ciuman keduamu untuk kekasihmu nanti? Atau... Sebenarnya kamu ingin kucium lagi?"


"Kamu..."


"Husttt... coba kamu lihat di cermin itu,"


Refleks, Aisha menoleh. Rupanya ada sesuatu yang manis di leher Aisha.


Aisha pun terbelalak, "kalung ini..."


"Yang kamu inginkan sejak dulu bukan?" tandas Altezza, sontak Aisha menjadi penasaran siapa Altezza sebenarnya.