
Siang itu mama Hani mengajak Aisha di tempat usahanya, mama Hani bercerita jika ada pemuda yang baik hati membantu memberikan sebuah tempat untuk membuka usaha toko kue sekaligus catering. Bahkan pemuda itu tak segan memberi dana untuk membeli kios itu.
Aisha merasa berhutang budi dengan pemuda itu, Aisha berharap kelak akan dapat membalas budi atas jasanya yang telah membantu mamanya.
Aisha sudah puas berkeliling melihat-lihat toko itu bersama mamanya, bahkan para karyawan terlihat ramah, saat melayani pembeli pun tetap ramah. Aisha pun di ajak melihat kondisi dapur, yang ternyata sangat luas, sangat leluasa untuk memasak dan untuk proses pembuatan kue, bahkan ada beberapa gudang kusus untuk tempat bahan roti, wadah, mapun perlengkapan yang lainnya. Begitu tertata sangat fleksibel dan efisien.
Setelah itu, mama Hani pun mengajak Aisha di sebuah ruangan khusus alias ruangan bos. Di sana mama Hani mulai menyelidiki tentang Altezza, dengan malu-malu Aisha menceritakan tentang Altezza.
Aisha bercerita jika Altezza merupakan pria idaman, dia baik sosok bertanggung jawab, tidak pernah main-main, sejauh Aisha kenal, ia bahkan tidak menyukai minum bahkan main perempuan ataupun judi. Dia sangat pekerja keras, bahkan terkadang ia rela mengenyampingkan pekerjaannya demi dirinya. Dia pun tak segan-segan membuat Aisha nyaman dan merasa paling bahagia. Ditambah lagi Altezza merupakan sosok pria yang tampan dan gagah dan juga badannya cukup kekar nan menggoda, tetapi Aisha tidak menceritakan tentang dada bidang Altezza yang menggoda itu.
Mama Hani pun sempat menanyai tentang Gibran, Aisha hanya menjawab telah melupakannya lantaran ia tak tahu di mana selama dua tahun pencarian, dan juga karena keadaanlah yang telah membuat dirinya jatuh cinta kepada Altezza dan melupakan Gibran Abraham.
Mama Hani pun dengan hati-hati dengan mengandaikan, jika Gibran masih hidup dan menemui Aisha.
"Mama. Aisha sudah mantap dengan Altezza, sekalipun suatu saat Gibran datang menemui ku. Aku akan tetap memilih Altezza, tetapi mama tahu sendiri kan? Kita sudah mencarinya cukup lama, Aisha juga berhak untuk bahagia kan ma?" ucap Aisha
"Aku tahu, nak" ucap mama Hani.
"Seandainya kamu tahu, nak. Jika Gibran itu masih hidup, tapi bagaimana nasib Gibran nanti, jika mengetahui kamu sudah memiliki pria lain" gumam mama Hani dalam hati.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, tanpa jawaban pintu itu langsung terbuka dan sosok anak kecil menerobos masuk, yang tak lain ialah Alex.
"Aku pulang" ucap Alex, yang langsung menghampiri mama Hani dan mencium tangan mama Hani.
"Lex?" Ucap Aisha dan menyodorkan tangan kanannya, bermaksud Alex juga mencium tangannya.
"Kakak juga?" Wajah datar Alex, masih saja angkuh.
"Lex..." Ucap mama Hani.
"Iya iya... Kakak, kapan kamu pergi?" Ucap Alex, saat mencium tangan Aisha.
"Bicara macam apa itu" ucap Aisha.
"Maksud Alex bukan begitu, kakak. Lusa di sekolah Alex akan ada acara konser bakat siswa" ucap Alex yang selalu saja membuat salah paham.
"Oh, jadi maksud Alex. Alex mau mama dan Kakak Aisha ikut kesana?" Ucap mama Hani.
"Bukan. Tapi Alex bermaksud untuk mengajukan kakak, kan kakak punya bakat" ucap Alex dengan senyuman misterius.
"Apa?" Aisha mulai curiga.
"Akting jadi orang gila, kayak yang tadi pagi. Huahahaha..." Tawa Alex.
"A, apa?" Aisha merasa terintimidasi oleh anak kecil.
"Wekkk..." Ledek Alex.
"Kamu, ada-ada saja Lex" ucap mama Hani, sembari tertawa kecil.
Di kediaman Danial, Deva tengah membantu Danial untuk mempersiapkan segala keperluan untuk Danial pergi ke luar kota selama tiga hari. Di rumah Danial yang begitu luas nan mewah, hanya berpenghuni dirinya dan juga beberapa pembantu dan tukang kebun dirumahnya. Sedangkan orang tua Danial saat itu sedang berada di London.
"Sayang, kamu ingat ya. Hati-hati disana, jaga diri baik-baik, oke" ucap Deva, saat Danial sudah siap untuk berangkat
"Siap, bosku" seru Danial.
Deva memeluk kekasihnya itu dengan erat, Danial pun mengecup kening Deva dengan hangat. Tak lama kemudian suara klakson mobil dari luar sudah terdengar, tanda bahwa Danial harus pergi.
"Sayang..." Rengek Deva, saat Danial hendak melangkah.
Danial menoleh, tiba-tiba Deva melingkarkan tangannya di atas pundak Danial, dengan berjinjit Deva mengecup bibir Danial. Sontak Danial kaget, ia pun tak mau kalah dari Deva. Danial membalas kecupan itu dengan permainan ciuman yang cukup lama. Hingga nafas keduanya sedikit tersengal.
"Sayang, kamu jangan nakal. Ini demi masa depan kita lho" ucap Danial.
"Sabar, ya" ucap Danial dan kembali mengecup kening Deva, kemudian kedua pipi Deva.
Deva pun menggandeng Danial dan mengantarnya sampai didepan mobil. Saat itu pula Danial langsung memeluk sejenak kekasihnya itu dan bergegas masuk kedalam mobil. Saat mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah itu, Deva melambaikan tangan atas kepergian Danial untuk urusan bisnis.
"Ah, sebaiknya aku kembali kerja. Setelah itu ke rumah Aisha" gumam Deva, saat mobil Danial sudah pergi.
"Bibi, Deva pamit ya. Jaga rumah baik-baik ya, bi" ucap Deva kepada salah satu pembantu yang masih berada di teras.
"Baik, non" ucap bibi itu.
Deva berjalan menghampiri mobilnya, Deva pun masuk dan bergegas pergi ke tempat kerja. Iya, toko bunga yang sampai sekarang ia masih berkerja disana.
Begitu Deva sampai di toko bunga dan memarkirkan mobilnya. Deva pun masuk kedalam dengan semangat. Namun ia di kagetkan dengan seseorang pria, yang tak asing dialah mantan Aisha yang masih saja belum menyerah untuk mengejar Aisha.
"Kamu lagi?" Kesal Deva.
"Dev, aku dengar Aisha pulang. Apa benar?" Ucap Tomy mantan Aisha.
"Lalu?"
"Aku ingin menemuinya"
"Aku sarankan, berhenti mengganggunya. Karena dia sudah memiliki kekasih, dan yang pasti jauh lebih baik daripada kamu" ucap Deva.
"Maksud kamu apa?" Ucap Tomy merasa tersinggung.
"Sebaiknya kamu pergi" ucap Deva acuh.
Klang...
Suara membuka pintu toko, sontak salah satu karyawan pun langsung menghampiri tamu itu. Deva dan juga Tomy ikut melihat ke arah pintu untuk melihat calon pembeli, namun mereka di buat kaget, lantaran tamu itu ialah Aisha Olinda.
Bahkan Aisha sendiri kaget saat melihat Tomy ada di sana dengan Deva?
"Aisha?" Ucap Deva.
"Aisha" seru Tomy, yang langsung saja menghampiri Aisha dan menerkam tangan Aisha.
Salah satu pelayan itu pun mengerti, jika wanita itu merupakan teman Deva sekaligus mantan karyawan di toko itu.
"Lepasin tangan kamu, Tomy" pinta Aisha yang langsung memberontak.
"Aisha, aku kangen. Ayo kita pergi jalan-jalan" ucap Tomy.
"Tidak" tolak Aisha.
"Tomy, lepaskan tangan Aisha" hardik Deva.
"Kamu jangan ikut campur" hardik Tomy.
Aisha yang masih menggenggam ponsel itu pun memberontak, hingga pada akhirnya Aisha berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Tomy, namun sialnya ponsel Aisha jatuh ke lantai. Bahkan kayar ponsel Aisha menyala, Tomy melihat di layar ponsel Aisha ada sosok seorang pria. Spontan Tomy mengambil ponsel Aisha dan melihat jelas, foto Aisha yang tengah merangkul lengan Altezza, layaknya seorang sepasang kekasih.
"Siapa dia?" Bentak Tomy.
"Apa hak kamu?" Tantang Aisha.
"Aku masih mencintaimu"
"Tomy, aku bilang kamu keluar!!" Deva mulai marah, lantaran sahabatnya di perlakukan sedemikian. Dan juga itu bukan toko miliknya, khawatir jika mengganggu pengunjung.
Tomy tak bergeming, ia pun langsung menarik Aisha keluar dan mendorong Aisha untuk masuk kedalam mobilnya. Tomy benar-benar marah, Aisha yang ketakutan itu sudah sekuat tenaga untuk lepas dari Tomy. Namun sialnya, Tomy terlalu kuat untuk menahan Aisha. Deva kelabakan dan mulai bingung, ia mengejar Aisha namun tiba-tiba dua orang pria menghadang.
Deva panik, harus bagaimana untuk menolong Aisha. Karena yang ia dengar dari Danial, Tomy merupakan pria playboy yang suka bermain perempuan. Namun entah apa tujuan Tomy untuk terus mengejar Aisha, Deva tak dapat berbuat apa-apa di sana karena ada dua pria yang sudah pasti suruhan Tommy.