
"Nona, nona Aisha" seru Lala, ketika melihat Aisha turun dari mobil.
"Emmm..." Aisha berpikir untuk mengingat nama gadis yang tengah menyambutnya itu.
"Lala, nona. Tak apa, nona baru melihat kami. Nanti nona jadi hafal kok" seru Lala.
"Maaf, ya Lala" ucap Aisha.
"Tidak, nona. Tidak apa, nona cantik mau ku buatkan teh? Atau camilan? Desert?" Tawar Lala.
"Emmm, bagaimana kalau kita membuat kue. Aku pernah belajar dari mama, kalau kamu bisa, ajarin aku ya" ucap Aisha, ia berpikir untuk melupakan kesedihan dengan menyibukkan diri.
"Nona..." Rengek Lala, ia pun langsung memeluk Aisha. Layaknya seorang adik memeluk kakanya.
"Lala? Ada apa?" Aisha merasa heran dengan sikap Lala, yang sedikit kekanakan.
"Pilihan tuan, memang tidak salah. Nona, sebaiknya kita masuk sekarang. Aku tahu, kita harus membuat kue apa" ucap Lala dengan semangat.
"Oke" seru Aisha.
Mereka berjalan bersama memasuki rumah, Lala terus mengoceh dengan cerianya kepada Aisha, layaknya seorang kakak sendiri. Namun Aisha menyukai itu, apa lagi Lala dan Lulu masih sangatlah muda dan ceria. Mereka baru berumur tujuh belas tahun, namun mereka nampak seperti berumur tiga atau empat belas tahun.
Lala membuka persedian bahan roti, sedangkan Aisha tengah mengganti pakaian santai di kamar utama.
"Altezza..." Lirih Aisha, ia menyentuh jas Altezza yang tergantung di dalam lemari.
Seketika, Aisha merasakan rindu itu sudah datang begitu cepat. Belum ada satu jam, Aisha sudah merindukan Altezza. Aisha menyeka air matanya, lantaran terdengar suara ketukan pintu dengan di susul suara Lala, yang tengah memanggil dirinya. Aisha menutup kembali lemari itu dan melangkah cepat untuk membuka pintu dan keluar dari kamar.
"Wah, nona. Dengan pakaian ini pun, nona tetap cantik dan anggun. Nona, bisakah nona bocorkan resepnya untuk Lala?" Ucap Lala dengan polosnya, ketika mereka mulai melangkah untuk turun menuju dapur.
"Haha, kamu bisa saja. Mana ada resep seperti itu" ucap Aisha, ia merasa terhibur dengan pertanyaan konyol Lala.
"Ada, nona. Skincare, moneycare, dan tuancare" ucap Lala dengan nada bercanda.
"Hahaha, rumus dari mana itu. Mana ada tuancare" Aisha terpingkal.
"Eh? Memangnya tuan tidak care?" Ucap Lala.
"Emm, menurutmu?" Ucap Aisha.
"Menurutku, tuan muda sangatlah care. Nona, nona itu beruntung sekali bisa mendapatkan tuan" puji Lala.
"Kok bisa begitu?" Ucap Aisha.
"Ah, lain kali Lala akan cerita. Nona, tema hari ini adalah coklat. Bagaimana menurut nona?" Ucap Lala, yang tanpa sadar sudah sampai di dapur.
"Boleh" ucap Aisha.
"Lala..." Panggil Lulu, yang terlihat menenteng sebuah tas berisi sayur segar.
"Lulu?" Ucap Lala.
"Kamu curang, sudah sama nona duluan gak ajak aku, ih" ucap Lulu, yang langsung ikut nimbruk.
"Nona muda Aisha, kenapa nona harus merepotkan diri. Bukankah sudah ada Lala dan Lulu untuk mengerjakannya?' ucap bibi Lin dengan lembut.
"Ah, bibi Lin. Aisha hanya ingin belajar saja dari mereka, lagian jenuh jika hanya berdiam diri" ucap Aisha.
"Nona, nona. Lulu bantu ya" seru Lulu yang tak mau kalah dengan Lala.
"Hihi, baiklah. Bibi Lin, mau ikut juga?' tawar Aisha, ketika Lala dan Lulu dengan sigap mengambil alih untuk memulai membuat kue.
"Dengan senang hati, nona" ucap bibi Lin.
Memang terlihat berbeda, Lala dan Lulu begitu ceria dan tidak sebegitu formalnya seperti bibi Lin. Namun bibi Lin begitu ramah, ia hanya menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi di rumah itu dengan profesional. Sedangkan Lala dan Lulu, entah mengapa Aisha merasa ada sesuatu hal yang tersembunyi dari mereka.
Di dalam pesawat, di mana Altezza dan Leon berada. Mereka tengah duduk santai dan memainkan laptopnya, untuk mengerjakan sesuatu.
"Bos, apa Lala dan Lulu bisa di andalkan?" Ucap Leon tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Yang boleh menghawatirkannya, hanyalah aku. Leon, potong gaji" ucap Altezza dengan acuh dan kembali memainkan laptopnya.
"Bosss..." Keluh Leon.
"Ya Tuhan, kenapa aku selalu salah di mata bos" suara rintihan dalam hati Leon.
"Kamu bisa naik gaji, asalkan kamu bisa membuatku senang" ucap Altezza kemudian.
"Ah, baiklah" ucap Leon semangat.
"Apakah bos lelah? Biar Leon pijitin ya" rayu Leon dan memijit tangan Altezza.
"Leon.." ucap Altezza.
"Ah, atau kaki bos yang terasa pegal" Leon pun meraih kaki Altezza dengan sigap.
"Leon!" Ucap Altezza tegas.
"I,iya bos. Ma, maaf" spontan Leon diam seketika tanpa bergerak sedikitpun.
"Setidaknya, aku sudah berusaha untuk na...eh maksudku untuk bos" ucap Leon dalam hati.
Langit kota Manhattan sudah berganti gelap gulita, namun kota yang tak pernah mati itu pun sudah memamerkan cahaya lampu kota dengan indahnya. Sally yang berada di apartemen, sudah bersiap diri untuk pergi menemui Aisha, Sally mengambil ponselnya untuk menelpon Aisha, untuk menanyakan alamat Villa yang Aisha tempati sekarang.
Setelah Sally menelpon Aisha, selang beberapa detik kemudian, Aisha sudah mengirim lokasi villa yang ia tempati. Sally beranjak dari atas sofa, ia keluar dan menutup kembali pintunya. Sally berjalan dengan langkah yang cepat, tibalah Sally di pinggir jalan raya untuk mencari taksi. Beruntung, tanpa menunggu lama Sally langsung mendapatkan taksi. Segeralah ia untuk masuk, dan taksi itupun berjalan dengan tenangnya mengantarkan sang penumpang ke tempat tujuan.
"Nona Aisha. Apakah kak Sally itu sahabat nona disini?" Ucap Lala.
"Bagiku, dimanapun aku berada. Dia tetaplah sahabatku, Lala" ucap Aisha dengan ramahnya.
"Seperti apa, kak Sally itu?" Timpal Lulu.
"Nanti kalian akan melihatnya, aku yakin kalian pasti senang" ucap Aisha.
"Oh iya, Lulu. Blackforestnya masih, bukan? Cepatlah bawa kemari dan beberapa kue yang kita buat tadi. Dan kamu Lala, buatkan minuman hangat ya" ucap Aisha dengan santun.
"Baik, nona" ucap Lala dan Lulu serentak
Lala dan Lulu bergegas pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah Aisha, sedangkan bibi Lin masih menemani Aisha di ruang Tv lantai dasar yang tak jauh dari ruang tamu. Sebenarnya rumah itu, memiliki beberapa ruang TV, yang pertama di lantai dasar. Diperuntukkan untuk para tamu atau kerabat jika sedang bertamu di rumah itu. Yang ke dua, ruang TV yang di khususkan untuk para pelayan, namun para pelayan itu di bebaskan untuk menonton TV dimana saja, asalkan tidak di ruang TV utama di lantai dua, yang merupakan ruangan yang dikhususkan untuk pemilik rumah.
Tak lama kemudian, Lulu datang dengan membawa nampan berisi desert dan beberapa camilan. Kemudian di susul Lala dengan membawa nampan berisi teko dan beberapa cangkir putih berlukiskan warna emas. Beberapa saat itu pun, terlihat paman Albert datang untuk menghadap Aisha.
"Nona, maaf. Di depan ada tamu, seorang wanita" ucap paman Albert.
"Ah, itu pasti Sally. Suruh langsung kemari, paman. Terima kasih" ucap Aisha dengan santun.
"Baik, nona" paman Albert pun undur diri, ia segera menemui teman nonanya itu.
Tak lama kemudian terlihat Sally berjalan mengarah ke ruang TV, dimana Aisha berada. paman Albert pun langsung mempersilahkan Sally untuk menemui Aisha. Aisha dengan sigap berdiri dan melangkah cepat untuk memeluk sahabatnya itu.
"Sally..." Seru Aisha.
"Iya, ini aku" celetuk Sally.
"Hehe, masih sama. Memang Sally tidak pernah berubah" ucap Aisha.
"Oh iya, Sally ayo kemari. Tadi aku belajar buat kue lho" seru Aisha dan menggandeng tangan Sally untuk duduk bersama dengannya.
Sally duduk di samping Aisha, Lala dan Lulu pun memulai untuk berkenalan. Begitu juga bibi Lin, Sally tak menyangka kehidupan Aisha layaknya seorang putri, memiliki dua pelayan dengan pakaian pelayan yang khas ala ala lolita. Bahkan kedua pelayan itu terlihat energik dan ceria.
Sally pun tak habis pikir, bisa-bisanya dia bisa berbaur dengan bawahan, sedangkan yang Sally ketahui tak sedikit jika hidup bergelimang harta, akan semena-mena dengan bawahan, sedangkan Aisha. Malah memperlakukan bawahan seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Di ruangan itu, para perempuan tengah berkumpul dengan cerita masing-masing. Terutama Sally, sesekali ia membuat Aisha tersipu malu lantaran ia menggoda dengan nama Altezza, apa lagi Lala dan Lulu ikut menggoda Aisha hingga wajahnya memerah. Namun di saat itu pula, pertama kali Aisha melihat bibi Lin tertawa meskipun masih di tahan.
"Bibi Lin lebih cocok tersenyum seperti itu, lain kali jika bersamaku bibi Lin seperti ini saja. Jika ada Altezza, bibi boleh bersikap profesional" ucap Aisha.
"Ba, baik nona" bibi Lin merasa gugup, lantaran ia merasa, Aisha begitu peduli dengannya.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama, mereka saling bertukar cerita lucu hanya sekedar untuk menghibur Aisha. Aisha pun sejenak melupakan tentang perpisahan, bahkan ia merasa bersyukur memiliki sahabat yang baik seperti Deva, dan juga kehadiran Lala dan Lulu yang telah di siapkan oleh Altezza untuk selalu menemani Aisha.