
Tanpa menunggu lama, mama Hani pun berpamitan dan bergegas pergi, begitu juga Aisha, tapi tidak dengan anak satu ini yang sudah 'standby' di dalam mobil lebih dulu. Tinggal Elan dan Boni yang menjalankan perintah untuk mengangkut beberapa barang yang sudah disiapkan di luar rumah, untuk di masukkan kedalam mobil lainnya. Beberapa saat kemudian, keluarga mama Hani pun pergi meninggalkan rumah itu.
"Sesukses itukah Hani? Lihat, bahkan mobil yang menjemputnya terlihat sangat mewah" netizen yang suka gosipin tetangga.
"Alah, mungkin mobil sewa itu" netizen yang iri.
"Aku justru ingin tahu rumah barunya itu seperti apa, padahal rumahnya ini sudah cukup bagus lho" netizen yang suka kepo.
"Padahal dia janda lho tapi bisa sukses ya, anaknya yang perempuan juga kelihatannya nganggur aja tuh" netizen penggiring opini.
"Sudahlah ibu-ibu gak baik ngomongin orang, lebih baik ayo di minum jusnya, seger lho di minum siang-siang begini" netizen yang bijaksana, rupanya para netizen itu kebetulan sedang ada kumpulan arisan klub semi sosialita yang lokasinya kebetulan di depan rumah mama Hani.
Tentu hal itu terlihat cukup jelas jika ada pindahan di keluarga mama Hani, apalagi sebelumnya mama Hani sempat berpamitan kepada beberapa tetangga dekat, tak di sangka membuat beberapa orang yang membenci dengan menyebar berita yang tidak benar.
Beberapa waktu kemudian, keluarga mama Hani telah sampai pada halaman yang cukup luas, betapa kagetnya mama Hani ketika melihat rumah itu begitu gagahnya, besar, megah dan mewah, bahkan beberapa kali lipat dari rumah mewah sebelumnya yang pernah mereka tempati ketika Amon dan Ares masih hidup.
Tak hanya itu, di luar rumah mereka di sambut dengan beberapa pelayan wanita dan pria lengkap dengan seragam yang sopan. Ketika mereka keluar dari mobil, para pelayan itu memberi salam dan hormat kepada keluarga mama Hani, mama Hani pun sedikit kaget dan merasa jika perlakuan seperti itu mirip dengan pelayanan di London namun tak se-formal di London yang benar-benar patuh kepada tuannya dan lebih ketat.
Beberapa pelayan wanita itu pun mulai mempersilahkan masuk dan masing-masing menunjukkan kamar mereka yang sudah di siapkan sebelumnya, betapa kagetnya mama Hani ketika melihat desain interior itu benar-benar mewah lebih mewah dari yang pernah ia punya dulu. Saat melewati sebuah ruang keluarga, betapa kagetnya mama Hani saat melihat ada bingkai foto keluarga apalagi ada foto mendiang suaminya yang terpampang jelas di sana juga ada foto mendiang putranya, Ares.
Mama Hani pun menguatkan diri dan terus melangkah hingga tiba di kamar mama Hani, ia pun cukup kaget saat melihat akan luasnya kamar itu dan lebih kagetnya lagi ketika pelayan memberi arahan jika semua kebutuhan sudah di sediakan seperti ruang lemari pribadi yang cukup luas sudah terisi penuh lengkap dengan serba-serbi pakaian, sepatu, tas bahkan perhiasan dan aksesoris.
"Apakah keputusanku sudah benar? I,ini sungguh di luar logika manusia" ucap mama Hani dalam hati, ia pun hanya mamapu menelan ludah melihat kemewahan itu.
Sedangkan Alex, ia terlihat biasa saja karena sebelumnya ia sudah pernah melihat seluk beluk rumah itu sekitar lima hari yang lalu bersama Altezza, dimana hari itu merupakan hari terakhir finishing pembuatan rumah itu dengan total alias lengkap dengan desain interior maupun eksterior rumah tersebut, kemudian dalam lima hari itu pula Altezza langsung mendatangkan berbagai macam perlengkapan seperti pakaian branded, aksesoris, perhiasan, tas dan sepatu bahkan berbagai macam kosmetik dan itu terbukti ada di meja rias mama Hani dan juga di meja rias Aisha. Tak hanya itu, Altezza juga langsung mendatangkan beberapa pelayan dan koki bahkan seorang kepala pelayan yang tentu mereka sudah pernah melihatnya di London, yaitu paman Lee yang sekarang di angkat menjadi kepala pelayan sekaligus pengurus rumah itu.
"Dasar, Altezza" gumam Aisha, saat dirinya tengah menatap foto dirinya dengan Altezza terpampang jelas di dalam kamarnya.
Sedangkan di sisi lain,
"Bos, sepertinya mereka sudah ada di rumah baru, apa bos mau kesana dulu atau..." ucap Leon yang sedang mengemudi.
"Ke rumah baru" ucap Altezza singkat, Leon pun mengangguk tersenyum dan langsung menjalankan perintah Altezza.
Beberapa saat itu pun Altezza telah tiba di kediaman Aisha yang baru, paman Lee yang mengetahui akan kedatangan Altezza itu pun langsung buru-buru untuk menyambut kedatangan tuannya itu.
"Tuan" ucap paman Lee.
"Bagaimana?" Ucap Altezza.
"Sesuai perintah tuan" ucap paman Lee.
Altezza pun langsung bergegas masuk kedalam rumah dengan di temani paman Lee dan juga Leon dari belakang.
"Emm, paman Lee sebaiknya kita berbicara sesuatu di sana dulu" ucap Leon memberikan isyarat kepada paman Lee untuk tidak mengikuti tuannya, karena Altezza akan menemui Aisha secara diam-diam.
"Baik, asisten Leon" ucap paman Lee.
Sedangkan diwaktu bersamaan, Aisha yang tengah merebakan tubuhnya di ranjang karena mengantuk.
Tok tok tok... Aisha yang mendengar suara ketukan pintu itu pun membuat rasa kantuknya menjadi buyar, dengan cepat Aisha bangun dan bergegas pergi untuk menemui seseorang yang tengah mengetuk pintu kamarnya, yang mungkin ia rasa adalah mama Hani.
Pluk... Tiba-tiba Aisha di kejutkan dengan sebuah pelukan erat saat Aisha baru saja membuka dan belum sempat melihat jelas siapa sosok itu, bahkan tubuh Aisha langsung di dorong kedalam dan pintu pun di tutup kembali oleh seseorang yang tengah memeluknya dengan erat.
"Altezza? Apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha setelah tahu itu adalah Altezza, ia pun merasa was-was jika mama Hani datang ke kamarnya, sedangkan Altezza tak peduli dan tetap memeluk Aisha.
"Kangen istriku" ucap Altezza kemudian.
"Altezza, sebaiknya kita keluar sekarang, takut mama datang" ucap Aisha yang sudah cemas.
"Hemm?" Altezza pun menanggapinya dengan malas.
"Altezza..." Ucap Aisha lantaran Altezza tetap tak peduli malah bersikap manja.
"Huft... Baiklah, sebentar saja habis ini kita keluar, oke?" ucap Aisha kemudian Altezza pun hanya mengangguk manja.
"Entah kenapa kalau Altezza lagi manja terlihat memggemaskan sekali" ucap Aisha dalam hati, ia pun membalas pelukan Altezza dan mengusap-usap kepala Altezza dengan gemas.
Beberapa menit kemudian, Altezza melepaskan pelukannya.
"Sayang, aku akan turun dulu sebaiknya kamu berdandan lah sedikit untukku" bisik Altezza.
"Tidak akan" tolak Aisha.
"Sayang..." Altezza pun mulai mendekatkan wajahnya bahkan tatapan mata Altezza mengisyaratkan sesuatu.
"Baiklah, baiklah. Aku akan menuruti perintahmu, sekarang kamu keluar dulu dan tunggu aku di bawah" ucap Aisha dan mendorong Altezza keluar.
"Dasar Altezza" ucap Aisha saat Altezza sudah berada di luar kamarnya, Aisha pun beranjak melangkahkan kakinya.
Klek... Rupanya Altezza kembali membuka pintu kamarnya Aisha, sontak Aisha pun langsung menoleh dan membalikkan badannya.
"Apa lagi?" Ucap Aisha dengan nada sedikit kesal.
"Ganti baju" ucap Altezza singkat.
"Iya, iya. Ada lagi tidak?"
"Tidak ada"
"Ya sudah, tutup kembali pin... Aaa dasar Altezza" geram Aiaha, lantaran Altezza langsung menutup pintu ketika Aisha belum menyelesaikan ucapannya.
"Ehem" tiba-tiba Altezza yang tengah berjalan itu di kagetkan dengan suara deheman, yang tak lain ialah Alex.
"Bocah kecil, apa yang kamu lakukan di sini?" Ucap Altezza berlagak polos.
"Justru harus aku yang menanyakan itu padamu, kakak ipar" ucap Alex.
"Memangnya kamu mau menanyakan apa padaku?" Ucap Altezza sengaja.
"Lupakan. Mama sudah menunggumu di bawah" ucap Alex dengan nada mencurigakan.
"Apa? Mama ada di bawah?" Altezza mendadak menjadi was-was, sedangkan Alex bersikap masa bodoh dan berjalan meninggalkan Altezza.
Altezza pun mencoba untuk bersikap gentle dan siap menerima resiko jika memang nanti mama Hani akan memarahi dirinya karena telah lancang masuk kedalam kamar putrinya tanpa izin lebih dulu.
"Altezza? Kemari, mama ingin bicara sesuatu padamu" ucap mama Hani dengan santai, namun bagi Altezza sikap mama Hani itu merupakan sebuah persiapan bom yang siap di ledakkan.
"Oh, baik tante" ucap Altezza, ia pun langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan mama Hani.
"Silahkan, tante" ucap Altezza yang masih berusaha menguasai diri.
"Di dunia ini, aku tak pernah takut pada hal apapun. Kecuali, ibu mertua ku karena aku sudah ketangkap basah diam-diam memasuki kamar putrinya, oh sial!" suara jeritan Altezza dalam hati yang pertama kalinya merasa was-was.
"Tapi tunggu, kenapa Altezza terlihat seperti sedang gelisah?" ucap mama Hani dalam hati.
"Altezza, apa kamu baik-baik saja nak?" Ucap mama Hani.
"Tentu kakak ipar baik-baik saja, ma" celetuk Alex.
"Orang habis ketemu sama kakak" gumam Alex dengan suara rendahnya.
Diar.... Seketika, gemuruh petir mewarnai hati Altezza.
"Bocah sialan" umpat Altezza dalam hati.
"Oh... Benar juga sih, aku baru sadar tadi Altezza dari arah tangga ya bukan dari luar" ucap mama Hani dalam hati.
"Altezza, kamu dari kamar Aisha?" Selidik mama Hani spontan.
Diar... Diarrrr.... Altezza semakin kalut, sedangkan Alex menahan tawa dengan membuang mukanya ke arah lain lantaran ekspresi Altezza benar-benar berubah.
"Ma, maafkan, aku tante" ucap Altezza sesal.
"Hehe, tidak apa-apa. Mama tahu kok kalian di Manhattan juga satu kamar kan?" Ucap mama Hani dengan sengaja bahkan terdengar sangat santai, tetapi berbeda bagi Altezza bagaikan bom yang hanya tinggal beberapa detik saja akan meledak dan membinasakan dirinya.
"I,iya" Altezza benar-benar merasa kalah hari itu.
"Hehehe, tenang. Mama sudah tahu dari mama kamu Altezza, jadi kalian bisa cepet memberi kami cucu kan?" goda mama Hani dengan sengaja.
"A,apa?" Altezza pun kaget dan terbelalak akan ucapan mama Hani, bahkan hampir saja ia mengeluarkan keringat dingin.
"Ma..." Alex pun protes tak terima.
"Hahaha, hanya bercanda kok" ucap mama Hani.
"Memang betul apa kata mbak Via, Altezza kalau berhasil aku kerjai pasti akan terlihat lucu" ucap mama Hani dalam hati.
"Ehem, baiklah. Tidak masalah, yang terpenting kalian tidak melampaui batas saja. Tapi bukan berarti mama memberi kalian kebebasan ya, di sini kamu tidak boleh tidur bersama Aisha seperti di Manhattan ataupun di London karena kalian belum menikah" ucap mama Hani kemudian.
"Pasti ulah mama ini" ucap Altezza dalam hati.
"Baik, terimakasih atas pengertian tante" ucap Altezza, ia pun merasa tak percaya akan respon mama Hani yang tidak marah itu.
"Kalau begitu, Altezza kenapa kamu menyuruh kami untuk pindah kerumah ini?" Ucap mama Hani penasaran.
"Tante, sebelumnya Altezza minta maaf karena masalah ini belum saatnya Altezza menjelaskan semuanya" ucap Altezza.
"Kenapa?" Selidik mama Hani.
"Karena Aisha belum sah menjadi istriku" ucap Altezza.
"Apa alasannya?" Selidik mama Hani.
"Kami memiliki perjanjian" ucap Altezza.
"Maksud kamu?" Mama Hani semakin penasaran.
"Perjanjian antara diriku dengan om Amon" ucap Altezza.
"Itu artinya mama harus menunggu kamu menikahi Aisha dulu?" Ucap mama Hani.
"Benar"
"Kalau begitu, kamu kapan akan menikahi Aisha?"
"Setelah temannya itu menikah, Altezza akan mebawa Aisha ke London dan menikah disana" ucap Altezza dengan gentle.
"Aku ingat, mbak Via pernah mengatakan padaku jika mereka menikah nanti akan di laksanakan di London karena Altezza adalah penerus keluarga Abraham, dan lagi..." Gumam mama Hani dalam hati.
"Tapi Altezza, bukankah di luar sana banyak wanita yang jauh lebih dari putriku kenapa kamu begitu yakin ingin menikahi putriku? Bahkan kamu sendiri tahu kami bukanlah orang yang berada?" Ucap mama Hani yang tengah mencoba mengetes Altezza.
"Altezza sudah jatuh hati dengan Aisha sejak kecil tante, tekadku sampai menjadi sekarang ini juga karena putri tante" ucap Altezza mantap.
"Sungguh? Apa kamu tidak berbohong?"
"Aku bersumpah, tante" ucap Atezza tegas.
"Baiklah, jika kamu benar-benar mencintai putriku. Tapi tolong kamu jaga dia dengan baik, jika kamu menyakitinya aku akan mengambil putriku kembali, kamu mengerti?" ucap mama Hani tegas.
"Dan aku akan mencarikan kakak ipar yang baru, yang jauh jauh lebih bisa menyayangi kakak" sela Alex dengan sengaja.
Senut... Mendengar ucapan Alex cukup membuat hati Altezza merasa tak nyaman.
"Tidak akan ku biarkan itu terjadi, aku Gibran Altezza tidak akan pernah mengecewakan siapapun" ucap Altezza dengan percaya diri bahkan terdengar meyakinkan.
"Kamu sudah mendengarnya kan, sayang? Kini mama merasa lega untuk melepasmu dan merelakanmu untuk menjadi istri Altezza" ucap mama Hani dalam hati yang rupanya telah menyadari akan keberadaan Aisha yang tengah menyembunyikan diri untuk menguping.
Awalnya, Aisha tak mau menunjukkan diri karena ia tanpa sengaja mendengar ucapan mama Hani yang sudah tahu jika selama di Manhattan dirinya tidur satu kamar dengan Altezza, Aisha tak tahu harus bagaimana menghadapi mama Hani, ia merasa malu sekaligus takut jika mama Hani akan murka. Tetapi faktanya, mama Hani tidak marah sedikitpun malah mengerjai Altezza begitu blak-blakan.
Hal itu pula membuat Aisha tertahan dari persembunyiannya karena ia juga ingin mendengar alasan Altezza tentang perpindahan yang terasa janggal, namun sialnya Altezza juga tak membocorkannya meskipun terhadap mama Hani.
Tetapi sisi baiknya Aisha telah mendengar ucapan mama Hani yang tengah mengetes Altezza dan jawaban yang mampu membuat hatinya berdebar bahagia, bahkan Aisha baru menyadari jika mama Hani bisa tertawa lepas selepas itu setelah mengerjai Altezza, karena sejak kehilangan suami dan seorang putra sekaligus mampu membuat mama Hani trauma dan terluka begitu dalam, hingga membuatnya lupa bagaimana harus tertawa tanpa beban.
"Mama..." Gumam Aisha dalam hati dan menyeka air matanya yang hampir terjatuh itu.
Aisha tak mau bersedih, dengan segera ia merapikan diri dan mencoba untuk tetap tegar, ia pun mulai melangkahkan kakinya dengan mantap dan sesantai mungkin untuk ikut bergabung di ruangan itu yang nampak hangat nan harmonis.
"Kemari, sayang" ucap mama Hani yang melihat Aisha yang sudah tiba untuk bergabung.
"Bahkan, sekarang mama juga terlihat lebih ceria" ucap Aisha dalam hati dengan rasa syukurnya.
"Tak perlu malu dengan mama, mama pernah muda sayang" bisik mama Hani kepada Aisha, saat Aisha sudah duduk persis di sebelah mama Hani.
Aisha pun menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah, ia malu kepada mamanya namun ia juga baru menyadari jika rupanya mama Hani cukup terbuka seperti mama Via. Memang selalu membuat Aisha merasa nyaman, tak di sangka kehadiran Altezza telah membawa seberkas cahaya kedalam keluarga Aisha setelah sekian lama hidup dalam bayangan kegelapan.