
"Altezza, ada apa?" Ucap Aisha, ketika selesai mandi.
"Sayang, apa kamu ingin menghindariku?" Suara Altezza di balik ponsel Aisha.
"Tidak, tadi hanya sedikit sibuk. Altezza, bukankah disana sudah sangat larut malam?" Ucap Aisha yang tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Sayang, apa kamu sedang habis mandi?" Ucap Altezza.
"I, iya. Kenapa?" Ucap Aisha.
Tak lama kemudian, Altezza merubah telfon itu menjadi video call. Aisha yang melihat panggilan itu pun merasa senang sekaligus berdebar. Aisha pun mendadani wajahnya sedikit agar terlihat lebih cantik, setelah siap Aisha baru mengangkat panggilan itu.
"Sayang, kenapa lama mengangkatnya?" Ucap Altezza yang ada di layar ponsel Aisha.
"Tidak. Tadi aku sedang mengembalikan handuk sebentar" Aisha berbohong.
"Sayang, bagaimana hari ini?" Ucap Altezza yang tengah merebahkan badannya di atas ranjang.
"Altezza, tunggu. Coba perlihatkan sekelilingmu" pinta Aisha, ia menyadari sesuatu. Altezza pun menuruti kemauan Aisha.
Di saat Altezza menunjukkan sekeliling, Aisha hampir tak mempercayainya. Kamar Altezza begitu megah dan lebih luas dari kamar villa yang Aisha tempati. Bahkan perabot itu seperti bernuansa kerajaan, Aisha berfikir. Sebenarnya siapa Altezza ini, kenapa begitu misterius baginya.
"Sayang, apa kamu sedang mencurigaiku?" Ucap Altezza seketika membuyarkan lamunan Aisha.
"Altezza, sebenarnya kamu siapa?" Ucap Aisha tanpa sadar.
"Apa yang kamu katakan, sayang? Aku ini suamimu, masa kamu lupa?" Altezza pura-pura tak mengerti.
"Ah, maksudku bukan itu. Lupakan. Altezza aku merasa kamarmu itu jauh lebih mewah dan megah daripada kamar ini" ucap Aisha, ia bermaksud menyelidiki Altezza. Lantaran dari bentuk arsitektur dan model perabotan di sana, beserta hiasan-hiasan mahal, itu menunjukkan jika Altezza bukan orang sembarangan.
"Sayang, apa yang kamu ucapkan? Nantinya kamu juga yang akan menemaniku tidur disini. kita pun akan menghabiskan malam-malam yang indah, bahkan membuat banyak anak yang lucu-lucu dan menggemaskan" ucap Altezza, dan berhasil membut Aisha tersipu malu bahkan wajah Aisha memerah, tak hanya itu jantungnya pun menjadi tak menentu.
"Altezza. A,apa yang yang kamu ucapkan? Itu sungguh di luar kendali" ucap Aisha yang menjadi salah tingkah.
"Sayang, apa kamu sudah ingin menikah sekarang?" Goda Altezza.
"Ha? Bodoh. Siapa yang mau menikah" kesal Aisha.
"Lalu, kenapa wajahmu teihat begitu"
"Ma,maksud kamu?" Aisha merasa dirinya seperti ada yang salah.
"Sayang, kamu membuatku ingin memakanmu" goda Altezza.
"Bodoh. Dasar Altezza, sudah ridur sana" geram Aisha. Ia pun langsung menutup telfonnya.
"Dasar bodoh, selalu saja membuatku salah tingkah. Tapi, membayangkan itu aku jadi... Hah? Apa yang sedang aku pikirkan!!" Aisha merasa kesal sendiri.
"Pasti Altezza sengaja, biar aku luluh dan mau menikah dengannya. Sama cara dia membuatku jatuh cinta kepadanya, ah benar-benar licik" Aisha masih kesal. Ia pun melangkah dengan cepat untuk keluar dari kamar.
"Tapi, entah aku juga akhirnya jatuh cinta kepadanya. Ah menyebalkan" gerutu Aisha, saat membuka pintu tanpa sadar Lulu sudah berdiri di sana bahkan hampir mengetuk wajahnya.
"Ha? Nona, nona maafkan Lulu nona" Lulu merasa cemas.
"Eh. Hehee tidak apa-apa Lulu, lagian tidak kena wajahku. Ada apa Lulu?" Ucap Aisha, ia juga kaget lantaran tangan Lulu hampir mengenai wajahnya.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin mengingatkan makan malam sudah siap, nona" ucap Lulu.
"Ah, soal itu. Kamu jangan khawatir Lulu, aku tidak pernah lupa untuk makan" celetuk Aisha.
"Ah, siapa tahu nona sedang merindukan tuan muda, hingga tidak nafsu makan" goda Lulu.
"A,apa?" Wajah Aisha memerah, ia merasa malu. Tapi yang di katakan Lulu ada benarnya, ia hampir kehilangan nafsu makannya, jika saja Altezza tidak membuatnya kesal sudah pasti Aisha akan tertidur malas dengan membayangkan wajah Altezza, lantaran rasa rindu itu sudah menyiksanya.
Lulu menggandeng lengan Aisha, mereka berjalan bersama menuruni tangga. Bahkan Lulu tak segan manja layaknya seorang adik, tak jarang menimbulkan rasa iri kepada Lala, atau sebaliknya.
"Sepertinya tidak. Ada apa?" Ucap Aisha, sekaligus penasaran.
"Tidak. Kalau ada kak Sally, suasana jadi semakin ramai" seru Lulu.
"Lulu" panggil Lala yang sudah terlihat cemberut itu.
"Lala? Ada apa?" Ucap Lulu.
"Kamu curang lagi" rengek Lala.
"Hemp. Hahahaha, kalian ini. Lala, Lulu, bagaimana kalau kalian panggil saja aku kakak. Lagian aku juga menginginkan adik perempuan" tawar Aisha.
"Ha? Serius?" Ucap Lala.
"Iya, apa betul boleh?" Timpal Lulu tak yang hampir percaya.
"Tentu" seru Aisha.
"Hore... Akhirnya kita punya kakak lagi" seru Lala dan Lulu serempak.
Aisha melihat wajah Lala dan Lulu begitu gembira, bahkan Aisha tak segan di peluk oleh Lala dan Lulu.
"Baiklah. Sebaiknya kita makan sekarang, Lala Lulu maukah nanti kalian temani kakak belajar?" Ucap Aisha, begitu tulus layaknya seperti seorang kakak yang penyayang.
"Mau, mau. Lala mau" seru Lala.
"Aku juga mau" imbuh Lulu.
"Bagus. Oh iya, bibi Lin dimana?" Tanya Aisha, lantaran ia tak melihat bibi Lin ada di sana.
"Bibi Lin, sepertinya sedang keluar" ucap Lala.
"Kemana?'
"Entahlah, tadi bersama paman Albert. Kalau tidak salah, ada yang bermasalah di garasi" ucap Lala.
"Ooh, begitu. Baiklah kita makan saja lah" ucap Aisha.
Acara makan malam itu terlihat harmoni, mereka pun saling melempar tawa untuk menghidupkan suasana itu. Jika ada Altezza, Aisha pasti akan mengalami hal romantis hingga membuat bibi Lin canggung. Seandainya hari itu Lala dan Lulu tidak ada disana, entah apa yang akan terjadi dengan Aisha, sudah pasti ia akan merasa kesepian sepanjang waktu. Namun kenyataannya Aisha tetap kesepian, di sepanjang malam menjelang tidurnya.
Detik perdetik telah berlalu, arah jarum jam pun terus berbutar. Aisha yang masih mengerjakan tugas di ruang perpustakan, dengan di temani Lala dan Lulu yang cukup berisik tak begitu mengganggu Aisha. Justru Aisha merasa senang, bahkan sesekali ia memandang dua gadis muda itu tengah asik berdiskusi dengan laptop Aisha yang lama. Iya, Aisha memakai laptop baru yang pernah Altezza berikan dulu.
"Entah kenapa, melihat mereka berdua aku merasa senang. Apa seperti ini punya adik. Berbeda sekali dengan Alex yang super angkuh itu" gumam Aisha dalam hati.
Sedangkan disisi lain, negara Indonesia, di kediaman mama Hani.
"Uhuk uhuk.."
"Lex? Kenapa? Kok sampai keselek begitu makannya?" Ucap mama Hani, merasa cemas.
"Uhuk... Sepertinya kakak sedang mengataiku di sana" ucap Alex, ia pun meminum air yang sudah mama Hani tuangkan untuknya.
"Kamu ini, mana ada seperti itu. Kamunya saja makan gak berdo'a dulu, sudah gitu makannya terburu-buru lagi" ucap mama Hani.
"Ma, Alex sudah kenyang. Alex pamit berangkat ma" ucap Alex kemudian, Alex hanya menghindar dari kutbah sang mama.
"Kebiasaan. Hati-hati di jalan, ingat jangan nakal" ucap mama Hani, saat Alex mencium tangan mama Hani.
"Iya, ma" ucap Alex.
Alex melangkah keluar begitu di antar mama Hani sampai kedepan, di sana sudah ada Elan yang akan mengantar Alex pergi ke sekolah. Setelah itu, Elan akan mengantar mama Hani ke toko, tempat usaha mama Hani.