Just Married

Just Married
episode 86: Ungkapan Hati



"Soal Liana. Altezza apa kalian tengah menyembunyikan sesuatu dari kami?" Ucap mama Via.


"Hemmm... Mama ingin tahu? Kenapa mama tidak mencoba untuk menyelidikinya?" Ucap Altezza dengan santainya.


"Heh unggas, kamu hanya tinggal menjawabnya" Ucap papa Abraham.


"Pa, anak kita kok di katain unggas?" Protes mama Via.


"Lalu apa, ma?" ucap papa Abraham.


"Burung hantu, pa" celetuk mama Via.


"Hemp. Hahaha, apa matanya Altezza begitu lebar seperti burung hantu, ma?"


"Haha, sudah pa sudah ah bercandanya" ucap mama Via.


"Haihhh..." Altezza hanya menghela nafas, karena seperti biasa, jika kedua orang tuanya hendak membicarakan sesuatu penting pasti ada saja bercandanya.


"Hah... Pa, Altezza yakin mama sudah mencoba untuk menyelidikinya dari kami. Jika mama sudah tahu, menurutku itu sudah terlihat cukup jelas untuk mama. Ma, Pa, Altezza bukan anak kecil yang harus bercerita tentang masalah atau mempermasalahkan suatu hal kecil kepada mama dan papa. Altezza bukan anak kecil yang suka mengadu kepada mama atau pun papa jika terjadi suatu masalah denganku. Sudah ma, Altezza tidak mau membahas soal itu lagi, jika mama masih bersikeras untuk lebih jauh untuk tahu tentang hal itu, mama bisa mengandalkan Leon. Tapi ingat, Altezza tidak mau menanggung resiko apapun" ucap Altezza, ia pun bergegas berdiri dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


"Ma, apa benar kamu telah menyelidikinya?" Ucap papa Abraham.


"Ma, kenapa kamu selalu ikut campur masalah anak muda. Kita tahu bagaimana Altezza, anak kita kan. Apa mama tidak mempercayai Altezza, anak kita?" Ucap papa Abraham.


"Pa. Kamu kok bilang begitu sih?" Ucap mama Via yang tiba-tiba merasa sensitif.


"Ah, maafkan papa ma. Maafkan papa" ucap papa Abraham yang langsung mencoba untuk membujuk istrinya yang sepertinya mulai rewel.


"Sejak awal papa sudah tidak percaya kepada mama, kalau mereka seperti ada suatu masalah. Tapi papa tak percaya kan?" ucap mama Via yang masih dengan wajah cemberut.


"Iya ma, iya. Papa percaya, kok" ucap papa Abraham yang masih berusaha untuk merayu istrinya.


"Tahu ah, mama pergi saja. Papa begitu, jahat" ucap mama Via yang langsung berdiri dan bergegas pergi tanpa menoleh ke arah suaminya itu.


"Ma, maafkan papa ma" ucap papa Abraham yang masih duduk dan memandang istrinya tengah berjalan meninggalkan dirinya.


"Bodoh amat" ucap mama Via sedikit keras.


"Sayang... Cintaku... Istri papa paling cantik..." Ucap papa Abraham yang tengah memanggil istrinya, namun mama Via masih tetap tak bergeming meninggalkan suaminya itu.


"Aduh. Kenapa mulutku bisa kecolongan" keluh papa Abraham sembari menepuk-nepuk bibirnya itu.


Di tempat lain, Altezza tengah berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Setibanya di depan pintu kamarnya, Altezza langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat itu Aisha masih tengah berendam di bathtub dan tidak menyadari jika Altezza telah masuk kedalam kamar.


Cukup lama setelah Aisha selesai berendam dan mandi, Aisha pun keluar dengan kimono handuk berwarna putih bersih itu. Rambutnya yang basah itu pun tengah ia usap-usap dengan handuk putih, ia berjalan tanpa menyadari akan keberadaan Altezza, bahkan Altezza yang masih duduk di sofa tengah memperhatikannya dengan seksama.


Altezza menyadari jika Aisha belum sadar, jika dirinya tengah menatapnya bahkan berada di sana. Altezza berdiri dan melangkah pelan tanpa menimbulkan suara langkah kakinya, sedangkan Aisha masih belum menyadari jika Alezza tengah mendekatinya lantaran Aisha terus mengusap lembut rambutnya yang basah.


Bukkk... Aisha yang engah mengakibatkan rambutnya dan tanpa sengaja menampar wajah Altezza.


"Aaah..." Altezza kaget dan merasa sakit, lantaran rambut Aisha telah mengenai salah satu mata Altezza.


"Altezza? Sejak kapan kamu ada di sini" Ucap Aisha, ia pun kaget saat tanpa sengaja rambutnya telah melukai wajah Altezza. Bahkan Aisha langsung panik ketika melihat Altezza tengah menahan sakit di matanya.


"Altezza, maafkan aku. Lagian kamu jalan gak ada suaranya" ucap Aisha.


"Aisha, bantu aku. Tiupkan ke arah mataku" ucap Altezza yang masih menutup mata.


Tanpa ragu Aisha langsung berjinjit dan memegang wajah Altezza, salah satu tangannya pun mulai membuka kelopak mata Altezza, dan Aisha langsung meniup lembut ke arah mata Altezza.


"Ya ampun, sampai memerah begitu" ucap Aisha dalam hati, entah kenapa ia merasa bersalah bahkan ia terus meniup kearah mata Altezza yang sakit. Tanpa sadar tangan Altezza mulai melingkarkan ke tubuh Aisha dan menggeser tubuh Aisha agar lebih dekat dan menempel ke tubuhnya.


"Hemmm..." Altezza pun tersenyum licik.


"Altezza? A, apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha, tubuhnya sudah terkunci di dalam pelukan Altezza.


Dengan pelan, Altezza membuka mata bahkan dengan senyum kemenangannya. Ia pun langsung mengangkat tubuh Aisha yang sudah ia dekap sejak tadi.


"Altezza. Turunkan aku" rengek Aisha. Altezza tak bergeming, ia terus mengangkat tubuh Aisha dan berjalan menuju ranjang.


Brukkk... Dua orang pun terjatuh di atas ranjang yang empuk dan nyaman itu. Dengan posisi, Aisha yang ada di atas tubuh Altezza.


"Altezza, apa yang kamu laku... Emmm.." Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan melumatnya. Aisha hanya pasrah, dan membiarkan Altezza bermain sebentar.


"Altezza..." Panggil Aisha, setelah Altezza sudah melepaskan ciumannya.


"Iya?"


"Jadi, pria yang waktu itu mencripatkan air kotor adalah kamu?" Ucap Aisha.


"Yang mana?" Altezza tak mengerti.


"Waktu kamu hendak ke toko bunga bersama bos Adwan" ucap Aisha, ia teringat akan kejadian itu dan kebetulan saat itu bos Adwan pernah menyinggung soal itu, Aisha pun berkesimpulan jika itu adalah Altezza.


"Oh, jadi perempuan itu kamu, sayang?" Ucap Altezza dan mengelus lembut kepala Aisha. Altezza pun teringat akan waktu itu saat dirinya merasa ada sesuatu yang janggal dengan sepeda yang ada di toko bunga milik bos Adwan.


"Kamu tahu, itu merupakan hari tersialku" ucap Aisha kemudian.


"Maafkan aku, Aisha" ucap Altezza, entah kenapa ucapan Aisha terasa sesak di dalam dada Altezza


"Hahhh... Waktu itu, ada pria gendut dan bodoh yang sedang mengaku kalau dialah pelakunya. Dia begitu genit dan mencoba untuk merayuku, ihhh rasanya pengen aku kempesin perutnya" keluh Aisha dan memandang manja Altezza.


"Jadi, bukan hal itu?" Gumam Altezza dalam hati.


"Sayang?" Panggil Altezza.


"Hem?" Aisha pun mengernyitkan kedua alisnya dan menatap manja Altezza yang masih dibawahnya.


"Seandainya Gibran Abraham itu bukan aku, apa kamu akan tetap bersamaku?" Ucap Altezza.


Aisha tertunduk dan diam seketika, Altezza yang melihat sikap Aisha pun merasa sedikit sesak dalam hatinya. Dari sikap Aisha, Altezza berkesimpulan apabila Gibran Abraham bukan dirinya dan jika Aisha telah menemukannya, tentu Aisha akan memilih Gibran Abraham daripada dirinya.


Aisha kembali menatap wajah Altezza yang terlihat tengah menunggu jawabannya.


"Altezza... Apa kamu tahu, seberapa keras aku mencari Gibran Abraham? Seberapa putus asanya diriku mencarinya? Yang tanpa ku tahu sedikitpun informasi tentang dirinya, yang entah masih hidup atau sudah mati?" Ucap Aisha.


"Memang, sejak awal aku begitu sulit menerima siapapun bahkan dirimu untuk melepas dirinya" ucap Aisha kemudian, suasana itu pun sejenak terasa sepi.


"Altezza. Sejak kehadiranmu yang terus menggangguku waktu itu, dan kamu terus membuatku untuk jatuh hati kepadamu dan aku pun jatuh hati kepadamu" ucap Aisha, matanya pun mulai berbinar.


"Apa kamu tahu Altezza? Sejak aku jatuh hati kepadamu, saat itu pula aku telah memutuskan untuk melupakan dirinya sepenuhnya. Aku pun berkata pada diriku, seeandianya jika suatu saat nanti aku di pertemukan kembali dengan Gibran Abraham dan saat itu pula aku sudah bersamamu..." Aisha tak meneruskan ucapannya.


"Tentu aku akan tetap memilihmu, Altezza" ucap Aisha, tanpa terasa air matanya menetes.


"Altezza. Apa kamu tahu, betapa beruntungnya aku betemu denganmu. Tetapi entah kenapa kebahagiaan itu terasa berlipat-lipat padaku setelah aku mengetahui, jika kebenaran Gibran Abraham itu adalah kamu" ucap Aisha sedikit keras dan memukul-mukul dada Altezza.


"Altezza. Apa kamu tak percaya akan diriku? Aku mencintaimu, Altezza" ucap Aisha dengan rintikan air mata. Aisha pun menangis di atas dada Altezza.


Altezza pun tersenyum, tangannya pun mulai mengusap lembut kepala Aisha yang tengah menangis itu. Akhirnya, sekian lama Aisha memendam untuk tidak mengatakan akan perasaannya, namun saat itu entah kenapa Aisha tak mampu untuk menahannya.


"Aku juga mencintaimu, sayang" ucap Altezza kemudian.


Aisha menangis haru dan bahagia, hatinya merasa begitu lega setelah mengungkapan perasaan itu yang cukup sekian lama ia pertahankan dalam hatinya.


"Kali ini aku yang akan memperjuangkanmu, Altezza. Karena Liana tidak menyerah untukmu, tentu aku juga tidak akan menyerah untukmu" ucap Aisha dalam hati.


Aisha pun berinisiatif untuk memeluk Altezza, wajahnya ia benamkam di antara pundak dan kepala Altezza. Kemudian wajahnya ia hadapkan ke arah leher Altezza, di sanalah Aisha dapat mencium aroma khas Altezza yang selalu ia rindukan. Sedangkan Altezza merasa ada kesejukan dari hembusan nafas Aisha di lehernya, Altezza pun berusaha untuk menoleh ke arah Aisha, namun Altezza tak dapat melihatnya lantaran Aisha begitu menempel dengan dirinya, tanpa ragu Aisha mencium pipi Altezza saat berusaha menoleh kepadanya.


Namun, di sisi lain terlihat begitu jelas, bunga-bunga yang sedang bermekaran indah di dalam diri Altezza, akhirnya ia mendengar pengakuan tulus dari Aisha. Ia terus memeluk kekasihnya itu sampai merasa tenang, setelah ia mendengar pengakuan Aisha yang telah membuat air mata Aisha tak mau berhenti. Bahkan, tanpa terasa hari pun sudah mulai gelap.


Di sebuah ruang makan, semua orang sudah berada di sana untuk makan malam bersama. Namun ada yang aneh dengan Altezza dan juga Aisha yang tak juga kunjung turun untuk makan malam bersama, mama Via pun merasa cemas jika Aisha sebenarnya marah akan suatu kebenaran tentang siapa Gibran Abraham. Padahal pelayan sudah tiga kali memberitahukan Altezza untuk segera turun untuk makan malam.


Sedangkan di kamar Altezza, dimana dua sejoli itu yang masih enggan untuk turun.


"Altezza. Apa wajahku masih terlihat sembab?" Ucap Aisha, saat ia sudah berusaha untuk menenangkan dirinya tetapi entah kenapa air matanya tetap menetes.


"Sayang, bagaimana kalau aku suruh pelayan antarkan makanan kesini?" Usul Altezza.


"Jangan. Aku tidak enak dengan mama dan papa mu" ucap Aisha.


"Tapi kita sudah terlambat" ucap Altezza.


"Tapi..." Aisha merasa bingung.


"Ya sudah. Kamu tunggu disini" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha.


Aisha hanya terdiam menurut, Altezza langsung turun dari ranjangnya kemudian segera untuk bergegas pergi.


"Hehe, gara-gara aku. Altezza pun belum juga mandi" ucap Aisha dengan tertawa kecil saat Altezza sudah pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar.


Dengan langkah cepat Altezza menuruni anak tangga untuk segera sampai di ruang makan. Setibanya di sana, mama Via yang melihat kedatangan Aisha langsung melontarkan pertanyaan.


"Altezza? Kenapa kamu turun sendiri? Di mana Aisha?" Ucap mama Via yang merasa cemas.


"Dia baik-baik saja, ma. Hanya saja dia sedang tidak enak badan" ucap Altezza.


"Beritahu kepada Lala, untuk segera mengirim makanan untuk nona Aisha dan menemaninya sampai aku kembali kesana" perintah Altezza kepada pelayan.


"Baik, tuan muda" ucap pelayan itu, dan langsung melaksanakan perintah Altezza.


"Baik-baik saja bagaimana? Sakit begitu, mama harus melihat kondisinya" ucap mama Via.


"Ma, biarkan dia untuk sendiri" ucap Altezza.


Mama via mengernyitkan kedua alisnya sembari menatap Altezza, jika di lihat dari wajah Altezza wajahnya sepeti ada bunga-bunga yang terpancar indah. Tetapi kenapa dengan Aisha seperti sedang menghindar.


"Altezza?" Panggil mama Via, wajahnya pun menjadi serius. Sedangkan Altezza tengah duduk dan sibuk mengambil beberapa sajian untuk ia makan.


"Altezza. Jika mama perhatikan dari wajahmu seperti ini... Apa kamu...." Ucap mama Via menjadi sedikit ragu.


"Apa?" Ucap Altezza yang telah siap untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di atas piringnya.


"Mama serius, Altezza. Apa kamu telah menghamili Aisha?" Ucap mama Via dengan spontan.


"Uhuk uhuk..." Liana yang mendengar itu pun tersedak lantaran kaget akan ucapan mama Via.


"Uhukk... Uhuk..." Papa Abraham pun ikut tersedak akan ucapan mama Via.


"Pa?" Ucap mama Via.


"Liana? Aduh, pelan-pelan makannya sayang, cepat minum air, kamu juga pa" ucap mama Via dan menuangkan segelas air untuk Liana dan juga papa Abraham, sedangkan Liana tengah menepuk-nepuk dadanya sedikit keras.


Sedangkan di sisi lain, yaitu tepatnya di bawah meja makan. Kaki Altezza tengah menyenggol kaki papa Abraham sebagai jawaban yang Altezza sampaikan. Papa Abraham yang tengah meneguk air putih itu pun melirik ke arah Altezza, terlihat Altezza dengan wajah tenang berarti tidak terjadi apa-apa. Gerakan seperti itu, sudah Altezza lakukan sejak kecil jika tengah merahasiakan sesuatu dari mamanya.


"Terima kasih ma" ucap Liana, yang langsung meraih segelas air itu.


"Sial. Kalau benar ****** itu hamil, bagaimana bisa aku merebut Altezza. Ah bodo amat lah, aku tidak peduli" ucap Liana dalam hati sembari meneguk air yang sudah mama Via berikan.


"Sudah?" Ucap mama Via penuh perhatian.


"Iya, ma" ucap Liana.


"Ya sudah, lanjutkan makannya. Ingat pelan-pelan, mama tidak akan merebut makananmu" canda mama Via.


"Hehe iya, ma. Terima kasih" ucap Liana dengan senyumannya.


"Altezza?" Panggil mama Via.


"Hemm?" Altezza seperti enggan untuk angkat bicara, ia tetap sibuk mengunyah.


"Pertanyaan mama bagaimana?" Ucap mama Via.


"Ma, apa yang sedang kamu bicarakan" ucap Altezza dengan nada malasnya, lantaran ia tahu di sana ada Liana.


"Mama tanya serius..."


"Sudah ma, pertanyaannya nanti kita lanjutkan. Jangan sampai suasana makan malam menjadi kacau" ucap papa Abraham cukup tegas.


"Maafkan mama, pa" ucap mama Via menurut.


Acara makan malam itu pun berjalan dengan baik, sekalipun suasana itu terlihat cukup sedikit canggung. Sedangkan di sisi lain, di kamar Altezza. Lala yang masih menemani Aisha dan makan di sana, bahkan Aisha sedikit bercerita kepada Lala yang sudah ia percaya.


"Jadi, kak Aisha menjadi sedih karena teringat akan papanya kak Aisha dan juga kakaknya kak Aisha?" Ucap Lala setelah mendengar cerita Aisha.


"Iya, aku hanya merasa terlalu bahagia hingga teringat kepada papa dan juga kakak. Seandainya mereka masih ada di sini, tentu papa akan merasa sangat senang apalagi kakak yang selalu menjagaku dengan baik" ucap Aisha.


"Hemmm. Kak Aisha tak perlu sedih lagi, sudah ada tuan muda untuk kak Aisha. Dan Lala lihat, nyonya dan tuan begitu sangat menyayangi kak Aisha. Kak Aisha masih beruntung daripada Lala" ucap Lala, ia pun teringat akan kakaknya yang telah tiada.


"Lala..."


"Tapi Lala bahagia, karena Lala memiliki kak Aisha yang mau menyayangi Lala. Tuan muda yang selalu memberi tempat yang nyaman untuk kami, nyonya dan tuan yang mau memperlakukan kami sebagaimana manusia semestinya" sela Lala, ia tak mau Aisha menjadi merasa bersalah.


"Lala..." Ucap Aisha, ia pun memeluk Lala.


"Lala. Apa kamu punya keinginan untuk kembali bersekolah?" Ucap Aisha kemudian.


"Lala... Lala sudah cukup bahagia menjadi pelayan di rumah ini, Lala sudah lebih cukup bisa melayani kak Aisha dan tuan muda. Lala sudah tidak menginginkan apapun lagi, selain Lala bisa untuk tetap melayani kak Aisha" ucap Lala dengan senyumannya, namun Aisha menangkap ada sorot mata yang terpendam jauh keinginan.


"Tidak. Aku tidak setuju" ucap Aisha tegas.


"Usiamu masih sangat muda, kamu harus tetap bersekolah. Kamu berhak memiliki kehidupan yang lebih layak, cita-cita yang lebih layak. Aku melihat kemampuan mu Lala, kamu berhak untuk itu" ucap Aisha dengan mantap.


"Tapi kak, jika aku pergi bukankah aku tidak akan bisa menemui kak Aisha lagi?" Ucap Lala dengan sorot mata terlihat sedih.


"Siapa bilang? Aku akan selalu ada untuk kalian, aku akan beruaaha untuk tetap menemui kalian" ucap Aisha kemudian.


"Tapi...."


"Tidak. Sekali tidak ya tidak. Lala, jalanmu masih panjang, kamu berhak mendapatkan jauh yang lebih baik. Pelayan memang bukan pekerjaan buruk, tetapi kamu jangan berhenti dalam satu titik. Nanti, kak Aisha akan coba bantu kamu. Tuan muda Altezza pasti akan menyetujuinya" ucap Aisha.


Di balik pintu, rupanya ada Altezza yang sudah berdiri cukup lama dan tanpa sengaja mendengar obrolan mereka berdua. Altezza pun tersenyum dan merasa tersentuh akan ucapan Aisha. Bahkan ia merasa bangga akan kebaikan Aisha, begitu perhatian kepada Lala bahkan Lulu.


Rupanya dugaan Altezza begitu tepat, hanya Aisha lah yang mampu melihat kemampuan Lala dan Lulu. Rupanya, diam-diam Altezza telah mrngatur sesuatu yang Aisha belum ketahui.


"Kak Altezza..." Panggil Liana.


Suara Liana cukup keras, bahkan suaranya mampu terdengar dari dalam kamar Altezza, lantaran pintunya masih sedikit terbuka. Tentu Aisha yang mendengar itu pun segera bergegas menghampiri Altezza yang ia rasa sudah ada di depan pintu.


Sedangkan Liana tengah berlarian menghampiri Altezza, dengan sengaja Liana menyandungkan kakinya agar terlihat terjatuh tepat di hadapan Altezza.


Brukkk... Liana pun terjatuh dan tepat ada seseorang yang tengah menangkapnya, dengan senyum bangga Liana pun langsung menoleh kearah Altezza yang tengah menangkapnya dengan tepat.