Just Married

Just Married
episode 94: Kekacauan Pesta Malam



"Em, para hadirin sekalian. Saya rasa anda sekalian pasti penasaran dengan anak kecil yang menggemaskan ini bukan?" Ucap mama Via kepada para tamu.


"Dia Arsya cucu pertama kami dari putra pertama kami Gavin Abraham dan menantuku Dathu Maharani. Memang keberadaan Gavin tak semenarik seperti adiknya ini Altezza, karena Gavin lebih senang dan memilih untuk berada di kampung halamannya Indonesia bersama istrinya dan mengembangkan bisnisnya di sana" jelas mama Via kepada hadirin, Gavin dan Dathu pun berjalan kedepan dan menghadap kepada hadirin.


"Dan mereka malam ini datang khusus untuk menemui calon adik iparnya, Aisha. Karena Aisha ini adalah orang yang paling spesial bagi keluarga kami, jadi kami mohon untuk tidak menyebar berita yang tidak benar mengenai keluarga kami" tandas mama Via.


"Baiklah, mari kita nikmati acara pesta malam ini" seru Gavin dan mengangkat segelas minuman segar sebagai tanda pesta telah di mulai, Gavin pun mengajak untuk bersulang bersama dengan para tamu.


"Bibi cantik, boleh Arsya ikut dengan bibi?" Ucap Arsya kepada Aisha.


"Tentu" seru Aisha, ia pun meraih tubuh Arsya dari gendongan Altezza, begitu Arsya sudah dalam gendongan Aisha, Arsya langsung memeluk Aisha dan mencium pipi Aisha.


"Hahaha, sepertinya Arsya sangat menyukaimu sayang" ucap mama Via dan mengusap lembut kepala Arsya.


Dengan refleks, Aisha pun mencium gemas pipi Arsya. Ia baru menyadari jika anak kecil itu sangatlah menggemaskan, apalagi ia ingat bagaimana angkuhnya Alex yang tidak seperti seorang adik, kali ini Aisha merasa bersyukur telah merasakan bahagianya menjadi seorang kakak. Tanpa sadar pemandangan yang begitu akrab terpancar dari Aisha juga Arsya bagaikan ibu dengan seorang anak, begitu terlihat harmonis Aisha membuat Arsya tertawa dalam gendongannya.


Hingga cukup lama Aisha mulai merasakan berat saat menggendong Arsya, meskipun masih kecil Arsya cukup berat jika lama-lama menggendongnya, apalagi Aisha sudah lama menggendong anak kecil. Altezza yang menyadari itu pun mencoba untuk membawa Arsya kembali dalam gendongannya.


"Arsya, ayo kemari dengan paman" ucap Altezza dan meraih tubuh Arsya dari gendongan Aisha.


"Paman, apa bibi cantik mau pergi?" ucap Arsya.


"Tidak, bibi cantik masih di sini. Paman hanya kangen dengan Arsya, apa Arsya tidak kangen dengan paman?" ucap Altezza.


"Tidak. Arsya kangennya sama bibi cantik" ucap Arsya dengan tingkah angkuhnya yang menggemaskan.


"Arsya, bibi cantik itu milik paman sama seperti mama Arsya milik papa Arsya..." ucap Altezza yang belum selesai itu.


"Mama milik Arsya" sela Arsya.


"Hemp. Hahaha, rasain kamu Altezza" ucap Aisha, ia pun tertawa kecil.


"Hemmm, apa istriku sedang menertawakan ku?" ucap Altezza dan menatap lekat Aisha.


"Ah, tidak tidak. Aku minta maaf" ucap Aisha.


"Tidak" ucap Altezza.


"Hem..." Aisha cemberut dan menatap Altezza.


"Hemmm" gumam Altezza dan menunjukkan pipinya sebagai isyarat cium aku.


"Altezza apa kamu sedang mempermainkan aku?" ucap Aisha, karena ia sadar aula begitu ramai.


"Arsya, bibi tidak tahu bagaimana mencium paman, coba Arsya cium pipi paman" ucap Altezza yang sengaja itu.


Dengan polos, Arsya pun mencium pipi Altezza dan membuat Aisha malu, mana mungkin anak kecil mengajarinya seperti itu. Tetapi, tiba-tiba Arsya mencium pipi Aisha dengan gemasnya.


"Bibi, Arsya sudah mencium bibi, sekarang bibi yang mencium Arsya dan juga paman" ucap Arsya kemudian, sontak membuat Aisha terkejut, Aisha pun melirik ke arah Altezza rupanya Altezza sudah siap menerima ciuman itu.


"Baiklah" ucap Aisha menyetujuinya, Aisha pun mendekati wajah Arsya dan mencium pipi Arsya kanan dan kiri.


"Satu untuk Arsya dan satu lagi untuk paman, boleh kan?" ucap Aisha kepada Arsya.


"Tentu" ucap Arsya yang rupanya senang di cium Aisha dan merasa beruntung.


"Istriku, tunggu setelah pesta selesai aku pasti akan menghukum mu" bisik Altezza, ia pun memeluk pundak Aisha.


Beberapa saat kemudian


"Arsya, ikut mama dulu ya. Bibi cantik biar sama paman dulu, nanti kita main lagi, ya" ucap Dathu istri Gavin yang sudah mengulurkan tangan.


"Bibi cantik, nanti main lagi ya" ucap Arsya.


"Iya" ucap Aisha dengan senyum termanisnya.


Kini Arsya sudah berpindah tangan dengan mamanya, Arsya pun di bawa pergi mamanya untuk duduk di sofa yang berada di sisi aula, di sana pula Arsya terlihat senang saat di bawakan kue oleh papanya, Gavin.


"Kenapa?" Ucap Altezza yang tiba-tiba memeluk pundak Aisha.


"Ah" Aisha cukup kaget.


"Apa istriku sudah menginginkan seorang anak? Jika iya, ayo kita bikin sendiri yang jauh lebih menggemaskan dari Arsya" bisik Altezza.


"Altezza" ucap Aisha sedikit menekan, wajahnya terlihat memerah tentu hal itu membuat Aisha tersipu.


"Anak?" Gumam Aisha dalam hati. Tiba-tiba jantungnya berdebar tak menentu apalagi dalam sekilas ia membayangkan jika dirinya memiliki seorang anak kecil dengan Altezza, tentu bayangan itu membuat Aisha sedikit kalap dan salah tingkah.


"Altezza, aku mau ke toilet sebentar" ucap Aisha yang sudah tak mampu untuk mengotrol dirinya.


"Cepat kembali, aku tunggu di sini" ucap Altezza.


"Iya" ucap Aisha, ia pun bergegas pergi ke toilet.


"Tuan muda Altezza..." Sapa seseorang pria paruh baya dan mengajak Altezza untuk mengobrol.


"Perempuan itu sepertinya mau ke toilet, kalian ikuti dia dan segera kerjakan tugas kalian" perintah Liana ponselnya.


"Apakah sudah di mulai?" Ucap teman Liana dengan riang.


"Tentu. Permainan sudah kita mulai, mari kita tunggu dan lihat pertunjukkan dari wanita ****** itu" ucap Liana dengan rasa penuh dengan kemenangan.


"Kamu hebat Liana" puji teman Liana.


Beberapa saat kemudian, Aisha yang sedari tadi pergi ke toilet pun tak kunjung datang kembali sedangkan pesta dansa akan segera di mulai, Altezza pun mulai mencemaskan Aisha. Bahkan pandangan Altezza mulai menulusuri sisi aula namun tak ada tanda-tanda keneradaan Aisha di sana, Altezza pun cemas dan bermaksud untuk menyusul Aisha di toilet, tetapi ada saja beberapa tamu yang menyapanya dan mengajaknya untuk sekedar mengobrol. Altezza ingin segera pergi, namun ia juga sungkan jika meninggalkan tamu kehormatan dengan begitu saja.


Pada Akhirnya, Altezza pun jengah dan memutuskan untuk segera mencari Aisha, ia khawatir jika terjadi sesuatu kepadanya.


"Maaf tuan..." Belum sempat Altezza meneruskan ucapannya, tiba-tiba seorang pelayan wanita datang dan langsung memotong pembicaraan Altezza.


"Tuan muda, tuan muda. maaf tuan. Di ruang, di ruang sana..." Ucap pelayan wanita itu dengan gagap dan wajahnya panik pucat pasi, tentu hal itu membuat Altezza semakin cemas, dan tentu hal itu menjadi pusat perhatian sebagian orang yang mendengar dan melihatnya.


"Bicara yang benar" tekan Altezza yang sudah tidak sabar.


"Di, di kamar tamu ruang sebelah... Saya melihat nona masuk bersama pria lain di sana. Saat s,saya mencoba untuk mendekatinya, nona, nona...." Pelayan wanita itu ketakutan dan tak meneruskan ucapannya.


Altezza yang sudah tidak sabar dan mulai merasa marah itu pun bergegas pergi ke ruang sebelah untuk memastikan apa yang terjadi, pikiran Altezza pun kalut tak mampu untuk membayangkan apa yang terjadi, tetapi ia mencoba untuk menekankan diri dan memastikannya terlebih dahulu.


Setibanya di ruang sebelah tepatnya di salah satu kamar tamu, Altezza sudah berada di depan pintu sesuai petunjuk dari pelayan, begitu juga disusul oleh mama Via dan juga papa Abraham, bahkan beberapa tamu undangan pun ikut penasaran. Mereka mendengar suara rintihan yang menggelikan, dan itu membuat Altezza kalut, marah dan cemburu membara.


"Aisha. Apa yang kamu lakukan padaku" geram Altezza dalam hati, dengan cepat Altezza mendobrak pintu dengan paksa.


Brakkk... Pintu pun berhasil terbuka dengan lebar, dan terlihat jelas gaun merah yang seperti Aisha kenakan berserakan di lantai bahkan baju formal seorang pria juga berserakan di sana, bahkan posisi mereka berdua itu pun terlihat gamblang meskipun tertutup dengan selimut hanya menyisakkan sebagian atas sampai kepala.


"Astaga... Apa yang terjadi" bisik-bisik para tamu yang ikut menyaksikan.


"A, Aisha?" Ucap mama Via yang tak percaya.


"Aisha... Kenapa?" Geram Altezza dalam hati.


"Lihatlah kak, calon istrimu itu sungguh tidak tahu malu. Bahkan mereka sama sekali tak mau berhenti, meskipun di lihat begitu banyak orang. Benar-benar wanita ******" ucap Liana yang mulai memprovokasi saat Altezza hendak mencoba untuk menghajar bahkan tangan Liana mulai merangkul lengan Altezza untuk menahan Altezza.


"Liana? Apa maksud kamu membicarakanku seperti itu?" Ucap Aisha yang tiba-tiba ada dalam kerumunan.


"Aisha?" Semua terkejut akan kehadiran Aisha yang secara tiba-tiba itu, bahkan Aisha masih lengkap dengan gaun merah yang ia kenakan sedari tadi ia kenakan.


"Ba, bagaimana ini bisa terjadi. Lalu, siapa wanita yang ada di sana?" Ucap Liana dalam hati, ia pun mulai kalut.


"Cepat tutup pintunya" perintah mama Via kepada pelayan wanita.


"Baik, nyonya" ucap sang pelayan dan langsung menutup pintu.


"Liana, apa maksud dengan ucapanmu tadi? Apa kamu sedang mencoba untuk memfitnahku?" Ucap Aisha yang kini mulai untuk memprovokasi.


"A,aku... " Liana tak mampu menjawab.


"Sial. Kenapa bisa begini?" Umpat Liana dalam hati.


"Liana. Jelaskan pada kami, apa maksud kamu memfitnah Aisha?" Tekan mama Via.


"Ah, mohon untuk segera kembali ke aula Ini sungguh di luar kendali, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya, kami mohon kerja samanya kalian" ucap papa Abraham agar para tamu yang ikut menyaksikan membubarkan diri.


"Eh, lihatlah di sana ada sesuatu" ucap salah seorang tamu saat melihat aula menjadi ramai.


Beberapa tamu yang ikut untuk melihat kejadian itu pun berbondong-bondong kembali ke aula dan penasaran akan apa yang terjadi di sana.


Sedangkan di sisi Lain, Liana pun tarik mama Via untuk pindah tempat dan membicarakan masalah itu.


"Liana. Sekarang jawab, apa kamu telah merencanakan sesuatu kepada Aisha?" Tekan mama Via, saat sudah tiba di salah satu ruangan.


"A,aku. Aku tidak merencanakan sesuatu, Liana hanya berpikir karena gaun itu sama persis dengan apa yang di kenakan kak Aisha ma" Liana mengelak.


"Aku pun juga sempat berfikir seperti itu, tapi..." ucap mama Via dalam hati.


"Mama, tolonglah percaya pada Liana. Liana hanya salah paham karena gaun itu atau jangan-jangan ada seseorang yang tengah menjebak Liana dan mencoba untuk mengacaukan keluarga kita" ucap Liana.


"Ada benarnya juga kata Liana, bisa jadi ada seseorang yang tengah membuat kekacauan dalam keluarga kami, tapi..." Ucap mama Via dalam hati.


"Tapi tetap saja dengan ucapan mu yang tidak pantas di lontarkan, kamu tahu bagainana keluarga Abraham kan, Liana?" Tekan mama Via.


"Huft... Masalah ini sebaiknya kita urus nanti, lebih baik kita selesaikan dulu acara pesta malam ini dengan baik, tidak enak dengan para tamu undangan kita tinggal begitu saja" ucap papa Abraham dan menggandeng mama Via untuk segera kembali ke aula.


"He... Lihatlah Aisha, meskipun aku tak berhasil membuatmu malu. Setidaknya aku bisa membuat keberadaanmu di curigai oleh keluarga Abraham" ucap Liana dalam hati, ia pun merasa menang.


"Ah, aku hampir lupa. Tinggal aku selesaikan sisanya dan waktunya beraksi, mungkin beberapa saat lagi aku yang akan bermain dengan kak Altezza ku sayang" ucap Liana dalam hati.


Altezza yang hanya diam sedari tadi itu pun bergegas pergi bahkan ia cukup bersikap acuh kepada Aisha, dan itu cukup membuat Aisha sedikit kecewa.


"******. Bagaimana? Apa kamu masih ingin melawanku?" Ucap Liana, saat hanya tinggal mereka berdua.


"Huft..." Aisha hanya diam dan menghela nafas panjang, bahkan raut wajahnya terlihat lesu.


Aisha pun bergegas pergi untuk segera menyusul Altezza yang terlihat seperti sedang marah itu, sedangkan Liana pun ikut mencari keberadaan Altezza dan mencoba untuk mencari kesempatan, karena Liana telah memberikan obat perkasa kepada Altezza.


"Hehe, aku sudah tidak sabar. Apapun yang terjadi, jika mereka semua melihatnya tentunya aku yang akan menjadi korban, dan pada akhirnya kak Altezza akan menjadi milikku seutuhnya" ucap Liana dalam hati.


Aisha berjalan cepat untuk segera menyusul Altezza, namun sudah hampir sampai pada aula, Aisha sama sekali tak menemukan keberadaan Altezza. Bahkan sempat untuk mengintai pada ruangan aula, Aisha tak menemukannya sama sekali.


"Kemana perginya Altezza, biasanya dia tidak bersikap seperti ini" gumam Aisha dalam hati.


"Sudahlah" ucap Aisha, ia pun mulai melangkahkan kakinya. tiba-tiba ada seseorang yang mencoba untuk menyekap dirinya, bahkan seseorang itu menutup mulut Aisha dengan kuat kemudian menariknya secara paksa dan membawanya pergi masuk ke dalam ruangan yang tak jauh dari aula utama, yang tak jauh pula dari salah satu ruangan kamar tamu yang sebelumnya menjadi kekacauan.


"Emmn...." Aisha mencoba memberontak, namun sialnya ia sudah berhasil di bawa masuk ke dalam ruangan yang nampak seperti kamar tamu lainnya, Aisha pun belum sempat melihat pelakunya ia sudah di dorong paksa oleh pelaku yang masih misterius itu.


Buk... Tubuh Aisha sudah berhasil di banting di atas ranjang, tubuhnya pun sudah di tindih oleh pelaku yang rupanya seorang pria, Aisha pun panik bukan main, ia mencoba untuk memberontak dan berusaha melepaskan diri, tetapi cengkraman itu sangatlah kuat. Aisha juga berusaha keras untuk meminta tolong, tapi mulutnya masih tertutup oleh tangan pelaku. Di tambah suasana kamar itu cukup gelap sehingga membuat Aisha tidak mampu untuk mengenali wajah pelaku tersebut, yang ia khawatirkan hanya jika dirinya berakhir di sana bagaimana nasib Aisha selanjutnya.