
Jalanan yang awalnya cukup lengang, kini sudah mulai sedikit ramai, kemacetan pun sudah hampir terjadi dalam sekejap. Tanpa sengaja, Gavin melihat sosok seorang wanita yang tak asing bagi dirinya, wanita itu berada tak jauh dari jalan raya yang terlihat tengah berusaha berjalan menuju ke arah ledakan. Tubuh wanita itu pun terlihat teruka cukup parah, bahkan terlihat pula ada darah yang mengalir segar dari kakinya. Saat Gavin sudah mendekat, betapa kagetnya Gavin, melihat sosok wanita yang tak asing bagi dirinya itu, rupanya mamanya Ares, alias mama Hani.
"Tante!!" Panggil Gavin begitu panik, ia pun langsung turun dari mobil dan menghampiri mama Hani. Para musuh pun melarikan diri dari genggaman Gavin saat itu, tetapi anak buah Gavin yang lain masih terus mengejar.
"Sial!!" Umpat Gavin dalam hati.
"Tolong... Tolong, bawa aku kesana... Aku... Argh..." Ucap mama Hani begitu terlihat sangat jkesakitan, bahkan wajahnya pun sudah terlihat pucat pasi.
"Tidak. Tante, harus segera ke rumah sakit sekarang. Ini berbahaya untuk tante dan juga bayi tante" tegas Gavin.
"Tapi... Su, suamiku... Agh... Hiks.." mama Hani tak mampu berkata, rasa sakit itu pun semakin menjadi, mama Hani refleks menangis bahkan beberapa saat kemudian, ia pun jatuh pingsan tepat dalam tangkapan Gavin.
"Sial!!! Kenapa bisa begini?" Geram Gavin dengan amarah.
"Cepat, kau harus cepat membawanya ke rumah sakit" ucap seorang wanita yang lebih tua dari Gavin, saat melihat kondisi mama Hani yang begitu memprihatinkan.
"Biar ku bantu, nak" ucap salah seorang pria paruh baya.
"Terimakasih, paman" ucap Gavin.
Mama Hani di bopong ileh Gavin dengan di bantu pria paruh baya, mama Hani sudah berhasil di masukkan kedalam mobil, dengan seorang wanita yang mendekati Gavin sebelumnya pun ikut masuk untuk menjaga mama Hani selama perjalanan menuju rumah sakit.
"Maaf, aku harus merepotkan tante. Tapi perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang menegangkan, aku mohon akan bantuan tante" ucap Gavin yang siap untuk meluncurkan aksinya, untuk segera menyelamatkan mama Hani.
"Baiklah, aku mengerti" ucap wanita paruh baya itu, ia pun segera mempersiapkan diri dalam posisi teraman dengan menjaga seseorang yang terluka dalam keadaan hamil.
Mobil pun melaju dengan cepatnya, bahkan klakson mobil tak kalah ramainya Gavin mainkan. Tak peduli para pengguna jalan lain akan marah, tetapi nyawa seorang ibu dari seorang teman, jauh lebih utama bagi Gavin. Lantaran Gavin tahu, ia harus menyelamatkan mama Hani bagaimanapun caranya.
"Kalian urus semuanya. Dan laporkan secepat mungkin" perintah Gavin melalui earphone.
"Tante harus selamat. Harus!!!" ucap Gavin dalam hati.
Gavin pun menambah kecepatan laju mobilnya, agar segera tiba di rumah sakit. Setelah beberapa saat kemudian, Gavin pun berhasil membawa mama Hani di rumah sakit dengan selamat. Begitu juga dengan seorang wanita yang sedari tadi mendampingi mama Hani, ia langsung menghela nafas lega, lantaran Gavin menyetir mobil bagai pembalap yang kesetanan.
Gavin langsung turun dan berlarian ke arah UGD, ia pun berteriak seperti orang yang tidak sabaran. Para tim medis pun langsung berlarian keluar untuk menangani sang korban kecelakaan, lantaran mereka merasa teriakan Gavin cukup menggelegar. Bahkan mampu mengagetkan apa yang ada di dalam sana.
"Bagaimanapun caranya, kalian harus selamatkan dia. Kalau tidak, kalian semua yang akan tanggung akibatnya!!" Ancam Gavin dengan tegasnya dan rasa amarah sekaligus rasa sesal dalam dirinya. Sorot matanya yang menajam nan mengerikan itu, mampu membuat seorang dokter menelan ludahnya.
Dua hari kemudian.
Mama Hani terbangun dari komanya, karena ia telah menjalani operasi caesar untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya waktu itu. Di tambah lagi, luka yang ia alami cukup parah dan harus menhalani operasi caesar untuk menyelamatkan ibu sekaligus bayi yang ada dalam kandungannya.
"Hani? Syukurlah kamu sudah sadar" ucap mama Via, terlihat jelas wajah sedikit lega itu.
"Mbak Silvia?... Amon, bagaimana dengan Amon?" Ucap mama Hani dengan isak tangis dan rasa cemas yang memuncak, karena ia ingat betul akan ledakan waktu itu.
"Tenanglah Hani, kamu harus kuat. Sekarang kamu harus kuat, demi Amon kecilmu. Karena Amon, sudah tiada" ucap Silvia, alias mama Via dengan berat sekaligus sesal.
"Hiks... Amon... Aku tak percaya, kamu benar-benar pergi meninggalkan aku?" Mama Hani menangis pilu. Perasaan sesak dalam dada, rasa sakit bahkan rasa sesal, bercampurkan dengan perasaan rindu untuk bertemu dengan seseorang yang ia cintai. Ia jadi teringat akan perpisahan saat itu, hanya ucapan maaf dan kecupan kening sebagai tanda perpisahan.
"Kenapa kamu tinggalkan aku, Amon?" Sesal mama Hani dalam hati, ia harus terima kenyataan yang begitu pahit dan sangat menyakitkan.
Mama Via, dengan berat hati ia mengatakan sebuah kebenaran. Jika Area juga meninggal, sedangkan Aisha masih belum sadarkan diri di ruang ICU. Sedangkan anak yang mama Hani kandung, telah berhasil di selamatkan. Tetapi, harus menjalani perawatan secara intensif. Tentunya, kabar yang sangat memilukan bagi mama Hani, dengan naluri seorang ibu, mama Hani harus setegar karang. Karena masih ada tanggung jawab bagi mama Hani, untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya seorang diri.
Dan acara pemakaman itu sudah di laksanakan oleh keluarga Abraham, dua hari yang lalu. Gavin selalu menemani Ares sampai di peristirahatan terakhirnya. Penyesalan, amarah, kesedihan, semuanya tercampur aduk menjadi satu dalam diri Gavin. Bahkan di hari kedua kematian Ares, Gavin masih selalu mendatangi makam Ares juga papa Amon. Bahkan papa Abraham ikut menemaninya di sana, karena ia juga merasa bersalah dan kehilangan akan sahabatnya itu.
"Res. Bukankah kita sudah berjanji akan mimpi kita?" Ucap Gavin dalam hati.
"Res. Maaf, jika aku akan memilih mundur. Karena aku tidak pantas untuk semua itu, jika kamu sudah tiada karena aku. Aku sudah gagal Res, aku sungguh tidak layak untuk menerimanya, sedangkan kamu... Maafkan aku Ares, maaf... Selamat jalan Ares. Semoga kamu tenang di alam sana, dan semoga kamu tak marah padaku" lirih Gavin.
"Kamu sudah mencoba yang terbaik, Gavin" ucap papa Abraham, saat menepuk lembut pundak Gavin.
"Papa. Gavin sudah memikirkannya. Di depan makam Ares, Gavin ingin bersumpah. Bersumpah untuk mengundurkan diri sebagai penerus keluarga Abraham" ucap Gavin.
"Aku bersumpah, demi Ares dan juga om Amon" ucap Gavin kemudian dengan mantap dan menekan dadanya.
"Gavin..." papa Abraham tak mampu untuk menolak sumpah Gavin, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang kawan seperti dirinya yang sudah kehilangan Amon, partner sekaligus sahabat terbaik yang pernah ia miliki.
Cerita yang mengerikan masa lalu itu sangat menyakitkan bagi Aisha, ia sangat terpukul. Bahkan ia tak mampu membendung airmatanya untuk terus mengalir. Bahkan, tanpa sadar Aisha pun jatuh pingsan karena rasa sakit di kepalanya juga menyerang. Tentu, membuat semua orang yang ada di ruang perpustakaan itu menjadi panik akan kondisi Aisha.
Malam pun sudah kian larut, Aisha pun sudah ditangani oleh dokter pribadi keluarga Abraham. Aisha masih saja terbaring lemah dengan raut wajah kesedihannya. Altezza yang selalu menemani Aisha pun tetap terjaga, meskipun rasa kantuk sesekali menyelimuti dirinya, bahkan rasa pening pun juga ikut andil Altezza rasakan.
Di dalam mimpi Aisha saat itu, Aisha perlihatkan sebuah mimpi tentang insiden kecelakaan bersama kakaknya yang terlihat samar-samar, namun begitu terasa menakutkan bagi Aisha. Keringat dingin pun bercucuran dari tubuh Aisha, Altezza yang menemani Aisha pun panik dan terus menggenggam erat tangan Aisha.
Tak hanya itu, Altezza juga sesekali mengelap lembut keringat dingin Aisha dengan handuk kecil. Sampai pada akhirnya, Aisha mulai merasa tenang, Altezza sedikit meras lega akan hal itu. Ia pun berbaring di sisi Aisha, tanpa sadar ia kalah dengan rasa kantuknya, dan tertidur dengan memeluk tubuh Aisha.
Pagi telah tiba, Altezza membuka mata dan melihat wajah Aisha yang masih memejamkan mata bahkan terlihat ada sisa kesedihan disana. Entah mengapa, Altezza merasa terpukul dan merasa sesal di dalam hatinya.
"Bodoh. Dasar Altezza bodoh" sesal Altezza, yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Baru sadar, kalau kamu memang bodoh" sahut Aisha yang terdengar sedikit serak, tentu membuat Altezza kaget dan langsung menatap Aisha yang rupanya sudah bangun dan sedikit tersenyum kepadanya.
"Maafkan aku, Aisha" ucap Altezza dengan perasaan sesal.
"Bodoh" ucap Aisha dengan senyum kecilnya, ia pun merangkul tubuh Altezza yang sedari tadi ada di sampingnya itu.
Tok tok tok...
"Bos. Ini aku, Leon" suara dibalik pintu kamar Altezza, terdengar nyaring.
Aisha pun melepaskan pelukannya, kemudian Altezza turun dari ranjang dan bergegas pergi untuk menemui Leon. Setibanya di sana Leon melaporkan sesuatu yang mampu membuat Altezza ingin marah, setelah selesai melapor. Leon kembali dan melaksanakan tugas dari Altezza.
"Rupanya, masih belum menyerah juga" gumam Altezza, yang kemudian berjalan menghampiri Aisha yang masih berbaring malas di atas ranjang.
Namun Aisha menyadari dari sorot mata Altezza, terlihat jelas ada sebuah penyesalan di sana. Aisha dapat membacanya dengan tepat, lantaran sebelumnya Altezza meminta maaf kepada dirinya dan Aisha tahu maksud maaf dari Altezza itu tentunya mengarah pada kasus kematian papa Amon dan juga Ares. Bahkan, Aisha juga merasa pagi itu Altezza terasa berbeda dari biasanya, yang hanya terlihat lebih banyak diam dan terlihat sedikit murung.
Tapi, bagaimanapun di dalam diri Aisha juga merasa bersalah, jika saat itu ia mau mendengar nasihat papa Amon untuk tidak berpacaran dulu, tentunya Altezza tak akan meminta untuk di pertemukan dan tentunya kecelakaan itu takkan pernah terjadi.
Dengan senyum manja Aisha haturkan untuk Altezza yang terlihat murung itu, Aisha pun bersikap begitu manja agar Altezza berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Dan Aisha menunjukkan diri, bahwa Aisha sama sekali tak menyalahkan Altezza ataupun kejadian yang telah berlalu.
Aisha yang bersikap manja dengan senyuman yang menggoda, Aisha pun merentangkan kedua tangannya ke atas yang mengarah ke arah Altezza, yang saat itu Altezza juga tengah berjalan ke arahnya, sebagai tanda untuk meminta pelukan hangat dari Altezza. Dengan gemas Altezza tersenyum kepada Aisha dan langsung menghampirinya, Aisha pun langsung bangun dan duduk, kemudian kembali merentangkan kedua tangannya.
Altezza yang sudah tak sabar itu pun langsung mempercepat langkah kakinya dan langsung memeluk kekasihnya itu, Altezza juga tahu jika Aisha tengah mencoba untuk menenangkan dirinya, tentunya Altezza akan melakukan yang terbaik untuk Aisha.
"Kangen..." rengek Aisha terdengar manja.
"Bodoh" ucap Altezza, tentu ia tak percaya lantaran setiap waktu ia habiskan bersama dirinya selama di London.
"Hehehe... Jangan lepas dulu peluknya" pinta Aisha dengan sedikit merengek, ia hanya ingin menumpahkan segala kerinduan dan kesedihan di dalam pelukan Altezza.
"Sayang..." Panggil Altezza.
"Apa kamu tidak merasa gerah?" Ucap Altezza.
"Tidak"
"Tapi aku gerah, sayang"
"Hemm" Aisha tak peduli, malah semakin erat ia memeluk Altezza.
"Sayang. Yang gerah itu, bukan badanku yang belum mandi. Tapi..."
"Jika kau mau, lakukan saja" Aisha tak peduli, dan ia tahu maksud Altezza.
"Kau menantangku?"
"Tidak. Aku hanya merasa, aku milikmu dan kamu milikku" ucap Aisha dengan ceria dan sikap manjanya.
"Bodoh"
"Bukannya semalam, papa bilang seperti itu. Jika aku sudah memiliki Altezza bodoh ini" ucap Aisha dan melepaskan pelukannya.
"Dasar, bodoh" ucap Altezza dan mencubit gemas hidung mancung Aisha.
"Hehe..." Tawa kecil Aisha.
Altezza pun terdiam, ia masih merasa belum sepenuhnya bisa memaafkan dirinya. Di tambah lagi, jika melihat Aisha yang begitu ceria dan berusaha untuk menunjukkan ketegarannya, semakin membuat Altezza tak karuan.
Aisha menyadari akan hal itu, justru jika Altezza bersikap seperti itu akan terasa menyakitkan bagi Aisha. Aisha pun meraih pipi Altezza dengan kedua tangannya, dengan mendekat Aisha mengecup bibir Altezza. Aisha hanya berusaha meyakinkan jika dirinya sudah melupakan semuanya, dan memaafkan segalanya apa yang telah terjadi.
Altezza merasakan kelembutan yang Aisha berikan itu, begitu trenyuh yang ia rasakan. Rasa sesak cukup membuat air matanya ingin mendobrak keluar. Namun, sekali lagi Altezza yakinkan. Ini bukan saatnya untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk masa depan.
Dengan meyakinkan diri, Altezza pun enggan melepaskan kecupan Aisha, saat Aisha hendak melepaskan ciumannya. Altezza menahan kepala Aisha dan terus ******* bibir Aisha, Altezza hanya ingin memastikan, apakah Aisha tengah berusaha agar terlihat tegar atau malah ada benih kebencian kepada dirinya?
Namun, apa yang terjadi cukup membuat Altezza terkejut, bagaimana bisa Aisha terasa begitu lembut dan menenangkan, bahkan rasa kepiluan itu terasa sudah lenyap dari dalam diri Aisha. Tak hanya itu, Aisha pun ikut andil untuk mengusap lembut kepala Altezza, begitu jelas kelembutan itu Altezza rasakan. Altezza merasa jika Aisha benar-benar sudah memaafkan dirinya. Jika tidak, tentunya Aisha akan merasa canggung jika Altezza lakukan itu kepadanya atau Aisha akan merasa sedikit risih kepadanya. Tetapi, kenyataannya Aisha menikmati itu.
"Rupanya, kau lebih dari yang aku duga, Aisha" gumam Altezza dalam hati, ia pun memejamkan matanya dan menikmati kelembutan itu.
"Aku hanya menginginkanmu, Altezza. Aku tak mau kehilangan yang kedua kalinya. Karena aku benar-benar mencintaimu" ucap Aisha dalam hati yg begitu tulus.
"Aisha?" Panggil Altezza dengan lembut, saat ia berhenti mencium bibir Aisha.
"Hem?" Aisha pun menatap lembut mata Altezza dengan tatapan manja.
Tanpa berkata, Altezza kembali mengecup bibir Aisha. Kali ini, Altezza menghujani Aisha dengan banyak kecupan di wajahnya, bahkan sanggup membuat Aisha kewalahan.
"Hahaha... Altezza, hentikan..." Ucap Aisha dengan tawa kecilnya.
"Altezza, hentikan. Kamu belum mandi, belum gosok gigi juga" rengek Aisha.
"Siapa yang mulai duluan tadi?" Ucap Altezza.
"Emm?" Aisha tak mampu menjawab, namun binar matanya masih saja menunjukkan sikap manjanya. Apalagi gaya khas manja cemberutnya mampu membuat Altezza gemas dan ingin memakannya.
"Kamu kan? Makanya, aku harus membayarnya berkali-kali lipat untuk istriku ini" ucap Altezza yang tak mau menghentikan aksinya.
"Hahaha, Altezza wajahku bisa banjir jigong. Cepat hentikan" Aisha pun mencoba untuk menyingkirkan tubuh Altezza, lantaran ia juga merasa sedikit geli.
"Biar, nanti kalau sudah jadi istriku betulan malah bisa lebih dari ini" goda Altezza, kemudian berhenti dari aksinya. Ia pun merebahkan tubuhnya di samping Aisha dengan perasaan lega.
Aisha kembali memposisikan tubuhnya, ia kembali memeluk tubuh Altezza dengan hangat. Tentunya dengan sikap manjanya yang tidak seperti biasanya itu.
"Altezza" panggil Aisha dan mendongakkan kepalanya ke arah wajah Altezza.
"Iya?"
"Altezza... Aku sudah kehilangan seorang ayah sekaligus kakak" ucap Aisha sedikit lirih dan kembali membenamkan wajahnya tepat di hadapan dada bidang Altezza.
"Jadi, aku tidak ingin kehilangan sekali lagi. Altezza, berjanjilah padaku. Ya?" ucap Aisha dengan sorot mata pengharapan, namun wajahnya yang terlihat manja itu pun mampu membuat Altezza harus menahan apa yang harus ia tahan.
"Hem..." Altezza hanya mampu tersenyum dan mengecup kepala Aisha.
"Aku berjanji, sayang" ucap Altezza kemudian dan mendekap hangat tubuh Aisha.
Aisha tersenyum, ia mempercayai itu. Aisha merasa jika Altezza itu berbeda dari lelaki yang pernah ia temui, tanpa sadar Aisha merasa trenyuh akan perjuangan Altezza demi dirinya, apalagi sebuah kenyataan bahwa Altezza setegar itu ketika melihat dirinya bersama pria lain. Sesakit apa yang Altezza rasakan waktu itu, jika posisi itu adalah Aisha, tentunya akan membuat hidup Aisha menjadi kacau. Tapi bagi Altezza? Justru ia semakin melambung tinggi untuk membuktikan sebuah cinta yang tulus darinya.
"Altezza. Jika kakakmu tak mau meneruskan sebagai hak waris, lalu siapa yang meneruskannya?" Ucap Aisha, yang hanya sekedar tak ingin larut dari perasaan bersalah kepada Altezza.
"Bodoh. Tentu Gibran Altezza, suamimu ini" ucap Altezza.
"Kenapa kamu?" Ucap Aisha dengan wajah meremehkan.
"Tentu aku jauh lebih pandai dari Gavin" ucap Altezza dengan pedenya.
"Hemp... Hahaha, pede sekali. Hanya sebagai pewaris, apa yang kamu banggakan. Dasar bodoh" tawa Aisha.
"Hemm? Siapa yang kamu bilang bodoh itu?" Ucap Altezza dan menatap lekat Aisha.
"Hehe, ya maaf" ucap Aisha terkekeh.
"Jangan remehkan. Sebagai penerus keluarga Abraham, tentunya itu tidak mudah. Apalagi, kamu yang akan menjadi nyonya muda Altezza" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha.
"Iya deh, maaf" sesal Aisha dengan wajah manjanya.
"Tapi, kamu mau kemana?" Rengek Aisha, saat Altezza beranjak dari tempat tidurnya karena ia khawatir jika Altezza tersinggung dengan ucapannya.
"Apa nyonya muda Aisha bersedia, untuk memandikan tuan muda Altezza?" Goda Altezza.
"Berhenti berbicara seperti itu" ucap Aisha, ia merasa menyesal telah mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Altezza.
"Gadis bodoh. Aku mau mandi dulu, jika kamu lapar, turunlah. Tapi jika kamu ingin mandi, datanglah. Aku pasti akan selalu siap untukmu" goda Altezza dengan wajah pedenya.
"Diam, bodoh" ucap Aisha, dan melempar bantal ke arah Altezza. Sedangkan Altezza hanya tertawa kecil dan kemudian beranjak meninggalkan Aisha untuk membersihkan diri.
Setelah Altezza sudah berada di dalam kamar mandi, Aisha pun turun dari tempat tidurnya, kemudian ia berjalan menuju ke arah balkon. Saat Aisha membuka pintu balkon, pemandangan kota London pun terlihat jelas dan cukup memanjakan mata. Di tambah lagi, cahaya mentari pagi yang begitu terasa menghangatkan tubuhnya, betapa teduhnya pagi itu Aisha rasakan. Tetapi, ada sedikit kabut yang tengah menghampiri Aisha.
"Aku tak menyangka, bisa berada di sini. Tapi aku juga tak menyangka, jika Altezza adalah kekasihku. Tapi.... Altezza adalah pewaris keluarga Abraham..." gumam Aisha dalam hati.
"Bagaimana? Apa aku mampu bersanding dengan Altezza?" Keluh Aisha, dengan perasaan sedih.
"Altezza? Apa aku pantas untukmu?" Ucap Aisha dalam kesendiriannya itu, dengan menatap jauh kearah barat yang entah seberapa jauh mata Aisha memandang.