Just Married

Just Married
episode 60: Syukurlah Ini Bukan Mimpi



Malam sudah begitu larut, rumah itu masih terjaga dengan ketat. Beberapa waktu kemudian, paman Edo datang dengan paman Albert. Beberapa pengawal langsung menghampiri paman Edo dan juga paman Albert ketika datang. Kemudian mereka tengah berdiskusi di ruang tamu. Paman Edo memberitahu, jika masalah dengan geng mafia sudah di urus tanpa sisa sedikitpun.


Akhirnya beberapa pengawal itu kembali ke markas rahasia. Tinggalah hanya beberapa orang yang masih mengkawal untuk menjaga rumah itu, selebihnya mereka masih memiliki tugas.


Malam itu kian larut, Aisha masih nampak terlelap cukup tenang meski wajahnya masih terlihat gusar. Sedangkan di luar sana, beberapa para pengawal dan paman Edo juga paman Albert berjalan menyusuri anak tangga untuk mencapai sebuah tempat yang Aisha belum ketahui, yaitu tempat terbuka yang luas diatas villa itu. Mereka nampak buru-buru untuk segera tiba diatas sana, beberapa waktu kemudian mereka sampai diatas sana. Disanalah tempat untuk pendaratan sebuah helikopter, disaat itu pula sudah terlihat sebuah helikopter yang hendak mendarat.


Para pengawal, paman Edo dan juga paman Albert berbaris dengan rapi, tak lama kemudian helikopter itu pun mendarat dengan pasti. Lalu keluarlah seorang pria, yaitu Leon yang tengah mengkawal bosnya, Altezza. Ya, Altezza malam itu datang untuk Aisha, setelah ia mendapatkan laporan atas kejadian yang telah menimpa kekasihnya itu, ia tak begitu tenang di saat ada acara rapat penting di kota Landon. Setelah rapat itu selesai, Altezza menyuruh Leon untuk segera menyiapkan pesawat pribadi yang kemudian di jemput dengan helikopter jika sudah sampai di New York. Dan berangkatlah mereka secepat mungkin untuk segera sampai di Manhattan, lebih tepatnya villa milik Altezza.


"Selamat datang, bos" ucap para pengawal untuk menyambut bosnya itu.


Altezza hanya memberi isyarat tangan, bahwa penyambutannya telah ia terima. Altezza berjalan dengan cepat dengan di kawal Leon. Sedangkan Helikopter itu mulai meninggalkan tempat itu, dan pergi ke suatu tempat.


"Paman Edo, segera beri aku laporannya. Aku tunggu di kamar dan kamu Leon. Kerjakan apa yang harus di kerjakan" perintah Altezza.


"Baik, bos" ucap Leon.


"Oh, ya Leon. Jika boleh, kamu temani Sally sebentar" ucap Altezza, ia pun langsung meninggalkan kawalan itu.


"Hei? Apa maksud dari ucapan bos tadi?" Gumam Leon dalam hati, ia pun merasa bingung.


Altezza melangkah lebih cepat untuk segera sampai di kamar utama, dan pada akhirnya, Altezza melihat sebuah pintu yang tak lain ialah pintu kamar utama, disana juga ada bibi Lin yang tengah menunggu Altezza. Dengan perlahan Altezza mendekati pintu itu.


"Tuan, nona masih tidur. Tetapi, sedari tadi nona belum mau makan bahkan minum, tuan" ucap bibi Lin dengan hormat.


"Buatlah kembali, aku yang akan menyuapinya jika ia bangun nanti" perintah Altezza.


"Baik tuan" bibi Lin pun pergi untuk melaksanakan tugas dari Altezza.


Altezza membuka pintu dengan perlahan, ia memandang sebuah ranjang yang disana ada Aisha yang masih terlelap. Altezza melepas dasi dan juga jasnya, ia pun menaruh jas dan juga dasinya di sofa. Altezza berjalan dengan pelan tapi pasti, ia terus menatap kekasihnya itu. Baru satu minggu ia tinggal, kenapa hal itu bisa terjadi. Altezza menatap wajah kekasihnya itu yang masih terlelap, wajah Aisha terlihat begitu sedih dan sembab. Altezza mengepalkan tangannya bahkan tatapan tajam yang menimbulkan aura yang sangat menakutkan, itu pertanda bahwa ia telah marah, marah lantaran sudah ada yang berani melakukan itu kepada Aisha, kekasihnya itu.


Tok tok tok... Suara ketukan pintu terdengar, Altezza kembali melangkah untuk segera membuka pintu. Ternyata paman Edo, ia pun menyerahkan beberapa dokumen kepada tuannya, kemudian bibi Lin datang membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Altezza membiarkan bibi Lin masuk untuk meletakkan makanan dan minuman hangat untuk Aisha. Setelah itu, mereka pergi dari kamar itu. Altezza kembali menutup pintu, ia pun melangkah sembari membaca dokumen yang sudah berada di genggamannya. Ia geram dan marah, bahkan meremas berkas itu tanpa ampun.


Altezza kembali menghampiri Aisha yang terbaring lemah dan masih terlelap, berkas itu Altezza tutup dan menaruhnya di meja dekat ranjang. Altezza duduk di ranjang dan meraih guling yang masih Aisha peluk, dengan perlahan akhirnya guling itu bisa disingkirkan oleh Altezza. Ia pun merebahkan diri tepat dihadapan Aisha, Altezza memeluk kekasihnya itu. Dan entah kenapa, Altezza merasa begitu teriris hatinya ketika kekasihnya telah semenderita ini. Altezza pun mencium kepala Aisha dengan lembut, Aisha yang masih terlelap itu bergerak dan memeluk Altezza begitu erat.


Sedangkan Aisha yang terlelap itu, bermimpi dan merasakan seolah-olah Altezza tengah memeluknya. Beban Aisha pun terasa berkurang, bahkan dalam tidurnya pun ia merasa sangat nyaman. Aisha merasakan aroma khas tubuh Altezza yang ia rindukan yang ia harapkan kehadirannya, kini telah datang untuk memberinya kenyamanan.


Altezza melihat air mata Aisha yang telah menetes, Altezza pun langsung mengusap air mata itu. Kemudian Altezza mencium kening Aisha, bahkan Aisha terlihat sangat menenggelamkan dirinya didalam pelukan Altezza.


Selang beberapa waktu yang cukup lama, dalam tidur Aisha ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia seperti tengah memeluk sesuatu yang lebih tinggi dan besar dibanding guling. Ia pun memastikan untuk meraba, ia merasa ragu, mungkin itu hanya halusinasinya. Perlahan Aisha membuka mata dan menatap tepat dihadapannya, sebuah dada bidang yang tertutup dengan kemeja namun terlihat sedikit terbuka, lantaran beberapa kancing telah di lepas dengan sengaja, Aisha pun langsung mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah wajah seorang pria yang tengah terlelap. Pria yang tak asing bagi dirinya, tanpa terasa air mata Aisha menetes, betapa senangnya ia melihat Altezza berada disampingnya.


"Apa aku sedang bermimpi? Atau hanya halusinasiku? Tapi jika hanya mimpi, aku sudah bersyukur" gumam Aisha dalam hati, ia pun mencubit pipinya untuk memastikan.


"I,ini bukan mimpi!! A, Altezza? Ini benar Altezza?" Aisha pun terbelalak menatap Altezza yang masih terlelap.


Aisha pun langsung menubruk tubuh Altezza dan memeluknya dengan erat. Altezza yang terlelap itu pun terbangun dari tidurnya, ia melihat Aisha tengah menangis di atas dadanya.


"Sayang..." Ucap Altezza.


Aisha hanya diam dan menangis disana, Alatezza pun sedikit menaikkan badannya bertumpu bantal. Altezza meraih tubuh Aisha dan menggeserkan tubuh Aisha agar lebih dekat dengan wajahnya.


"Sayang, kenapa menangis? Mimpi buruk lagi?" Ucap Altezza dengan lembut sedangkan Aisha masih sesenggukan.


"Huft..." Altezza menarik nafas panjang dan membuang nafas dengan perlahan.


Altezza mendongakkan wajah Aisha dan membelai lembut wajah Aisha, Altezza pun mengusap air mata Aisha yang masih saja mengalir.


"Sayang, apa kamu ingin terus memandikanku dengan air mata mu itu? Apakah ini hukumanku karena aku belum mandi?" Ucap Altezza, yang berusaha untuk menghibur Aisha.


"Au..." Altezza merasakan sakit, lantaran Aisha mencubitnya.


"Altezza, aku senang ini bukan mimpi" ucap Aisha dengan tertawa kecil meskipun dengan air mata yang masih mengalir.


"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?" Ucap Altezza.


"Aku tidak peduli, jika aku telah menggodamu. Aku hanya senang, kamu telah berada disini. Altezza aku sangat takut..." ucap Aisha begitu memelas.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan Altezza kembali untukku. Meski hanya sebentar, aku sudah sangat bahagia untuk saat ini" gumam Aisha dalam hati, ia pun memeluk Altezza dengan erat.


"Sayang, dari semalam kamu belum makan, bukan?" Ucap Altezza.


"Emmm..." Aisha menyadari, bahwa ia memang belum menyentuh makanan bahkan sekedar untuk minum. Altezza pun bergerak untuk bangun, namun ditahan oleh Aisha.


"Sayang? Apa kamu sedang menginginkan sesuatu?" Goda Altezza. Namun Aisha hanya diam, entah Aisha mau atau tidak tetapi sepertinya Aisha sudah terbiasa.


"Sial. Aku tidak dapat menolaknya, aku memang menginginkannya" gumam Aisha dalam hati, Altezza tersenyum ketika melihat gelagat Aisha seperti salah tingkah.


Altezza pun menurunkan badannya lebih sedikit, agar lebih dekat dengan wajah Aisha, Altezza pun mengangkat dagu Aisha dengan perlahan. Jantung Aisha berdebar tak menentu, ia tahu apa yang akan terjadi. Tetapi ia tak memungkirinya, bahwa ia juga menginginkan kelembutan itu.


"Altezza..." Lirih Aisha, ia pun menatap lekat wajah Altezza, Altezza pun dapat membacanya disana.


Tanpa menunggu waktu lama, Altezza langsung mencium bibir Aisha dengan lembut, Aisha hanya menerima ciuman itu dan memeluk Altezza dengan erat. Tangan Altezza masih menyentuh wajah Aisha, begitu cukup lama Altezza menciumnya.


"Sudah?" Ucap Altezza, Aisha diam hanya tersipu malu.


Altezza kembali mengecupnya dengan singkat. Berkali-kali Altezza mengecup bibir Aisha degan singkat, dan menjelajahi pipi Aisha dengan gemasnya. Kini Aisha mulai merengek, karena Altezza terus menghujaninya dengan kecupan.


"Altezza, sudah. Basah, tahu" rengek Aisha.


"Aku belum puas" ucap Altezza, menggoda dan masih saja mengecupi kedua pipi Aisha dan juga bibirnya secara acak.


"Entah kenapa aku jadi merasa gemas seperti ini" gumam Altezza dalam hati. Ia pun berhenti mengecupi Aisha, kemudian memeluknya.


"Altezza?" Ucap Aisha dengan manja.


"Hemm?"


"A,aku haus" ucap Aisha.


"Bukankah sudah ku beri tadi?" Goda Altezza.


"Altezza? Bukan itu, tapi lepaskan aku. Aku mau minum" ucap Aisha.


Altezza bergerak melepaskan pelukannya, ia pun bangun dan beranjak dari ranjang, Aisha yang melihat itu hanya menatap dan bertanda tanya. Saat Aisha hendak turun, Altezza sudah melarangnya untuk turun. Lantaran Altezza sudah membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Sekalian makan, aku suapin" ucap Altezza.


"A,apa?"


"Sudah, kemari duduklah disini. Kamu tinggal makan dan memelukku" ucap Altezza.


Aisha tersipu malu, dengan malu-malu Aisha menghampiri tubuh Altezza yang tengah duduk bersila ditepi ranjang. Aisha malah masuk dan duduk menyamping dipangkuan Altezza.


"Suapi aku seperti dulu" rengek Aisha.


"Kamu ya" Altezza merasa gemas.


"Kamu sendiri yang datang kepadaku" gumam Altezza kemudian, seketika itu pula Altezza mengecup Aisha tanpa ampun.


"Haha, Altezza itu geli. Sudah, hentikan" rengek Aisha, tetapi Altezza masih saja menggoda Aisha.


"Altezza... Hentikan..." Terdengar Aisha masih merengek dan sedikit tertawa.


Sedangkan di luar pintu kamar mereka, ada yang tengah menguping. Ya, Lala dan bibi Lin. Awalnya mereka hanya ingin mengantar makanan dan minuman untuk Aisha. Lantaran khawatir makanan sebelumnya sudah dingin.


"Bibi, sebaiknya kita pergi. Sepertinya nona Aisha sudah jauh lebih baik" bisik Lala.


Bibi Lin menyetujuinya, akhirnya mereka membawa kembali nampan itu, dan mereka berjalan dengan perlahan, karena takut jika langkah mereka akan terdengar oleh penghuni kamar utama.