Just Married

Just Married
episode 105: Takut Kehilangan



Beberapa saat kemudian, di saat sepasang kekasih masih meluapkan kerinduan mereka dalam hangatnya pelukan.


"Aaaaaa..." Tiba-tiba Altezza menjerit kesakitan lantaran diam-diam Aisha mencubit perut Altezza dengan sekuat-kuatnya.


"Aaw... Sakit, yang..." Rengek Altezza.


"Kemana saja kamu selama dua puluh lima tahun ini?" Selidik Aisha, yang tiba-tiba berubah menjadi sensitif.


"Maaf sayang" ucap Altezza memelas seperti anak kecil.


"Aku tidak butuh permintaan maafmu, coba jelaskan. Apa maksud dari semuanya!" Ucap Aisha.


"Boleh aku jelaskan lain waktu saja?" Altezza memelas.


"Tidak" ucap Aisha tanpa ampun.


"Tapi aku kangen istriku" Altezza masih memelas dan bertingkah menggemaskan.


"Tapi aku tidak" tandas Aisha.


"Bohong" ucap Altezza dan bergegas pergi menuju sofa.


"Altezza, jelaskan!" Ucap Aisha kesal, Altezza yang sudah duduk di sofa itu pun menepuk-nepuk sofa di sisinya sebagai isyarat agar Aisha duduk di sana.


"Tidak. Aku mau kamu menjelaskannya sekarang" ucap Aisha yang masih kekeh dengan pendiriannya.


"Iya, makanya istriku ayo duduk kemari" ucap Altezza gemas. Dengan ragu Aisha pun menurut demi sebuah penjelasan.


"Aisha, selama ini apa kamu tak merindukan aku?" Ucap Altezza saat Aisha sudah duduk di sisi Altezza.


"Tidak" jawab Aisha begitu jutek.


"Altezza, jangan berbelit-belit. Cepat jelaskan" imbuh Aisha semakin kesal.


"Kenapa kamu marah, sayang? Apa yang harus aku jelaskan? Bukankah sekarang aku sudah kembali?" Ucap Altezza dan membelai lembut pipi Aisha.


"Altezza!! Jadi aku tidak berhak untuk tahu? Lalu kamu menganggap aku ini apa?" Tiba-tiba Aisha marah lantaran ucapan Altezza membuat Aisha menjadi sensitif.


"Heh, apa yang ku harapkan" gumam Aisha, ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan Altezza.


"Aisha" panggil Altezza, Aisha pun menghiraukannya. Altezza pun langsung menyusul Aisha yang tengah menuju ke arah lemari pakaian.


Brak... Altezza langsung menutup kembali pintu lemari saat Aisha tengah membuka lemari itu.


"Mau kemana?" Selidik Altezza.


"Apa urusanmu?" Jawab Aisha dengan ketus. Altezza pun menghela nafas panjang.


"Aisha, jangan buat kesabaran ku habis" peringatkan Altezza.


"Kamu?" Ucap Aisha. Nafasnya menjadi sesak, ia pun langsung membuang muka dari Altezza, lantaran ia merasa kecewa dan sakit hingga air matanya jatuh mengalir, dengan segera Aisha mengusap air matanya dan segera berpaling dari Altezza.


Aisha pun beranjak pergi, ia bermaksud untuk keluar dari kamar itu atau jauh dari Altezza. Rasanya ia tak mau melihat Altezza saat itu juga, namun baru beberapa langkah Altezza sudah menahannya dengan pelukan.


"Lepaskan" lrih Aisha.


"Tidak akan aku lepaskan" ucap Altezza merasa bersalah.


"Lepaskan aku Altezza!!" Berontak Aisha dengan amarahnya.


"Aisha?" panggil Altezza, saat menyadari Aisha menangis ia pun membalikkan badan Aisha.


"Aisha, kamu..." Belum sempat Altezza meneruskan ucapannya Aisha langsung menyela.


"Apa kamu sudah tidak peduli dengan perasaanku?" Ucap Aisha dengan kesal sekaligus amarah, sedangkan Altezza bingung Aisha marah sebab apa, jika tentang sengaja tidak membuat kabar apa harus semarah itu? Altezza hanya diam dan mencari apa yang telah membuat Aisha begitu marah.


"Altezza kamu bodoh sekali" ucap Aisha dengan lirih, tubuhnya bergetar dan lemas dengan segera Altezza menopang Aisha dan menuntunnya untuk duduk di sisi ranjang.


"Aisha?" Panggil Altezza dengan lembut saat dirinya jongkok tepat di hadapan Aisha yang masih menangis.


"Apa kamu bodoh, Altezza? Apa kamu tak tahu, betapa takutnya aku kehilanganmu seperti aku kehilangan papa, dan..." Belum sempat Aisha meneruskan ucapannya yang begitu lirih, Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan mulutnya. Air mata Aisha pun tumpah.


Altezza baru menyadari jika Aisha sudah tahu jika dirinya pergi untuk melawan Rendra Andara, bahkan kesalahan yang ia perbuat dengan sengaja ialah tanpa memberi kabar sedikitpun begitu lama sehingga membuat Aisha begitu cemas jika dirinya mendapat kabar hal sedemikian. Altezza pun merasa bersalah, ia tak ingin memberi kabar agar Aisha tetap fokus dengan tugas kelulusannya supaya tidak mencemaskan dirinya, dengan di beri kesempatan untuk mengelola perusahaan itu juga agar Aisha lebih mudah memahami tentang dunia bisnis dan segera menyelesaikan studynya dengan cepat.


"Jangan teruskan lagi" ucap Altezza yang masih memegang wajah Aisha dengan kedua tangannya.


"Aku Gibran Altezza, tidak akan semudah itu di kalahkan oleh siapapun, apalagi Rendra si manusia cecunguk itu" ucap Altezza.


Aisha pun tersenyum geli saat mendengar kata cecunguk, Altezza pun kembali mencium Aisha setelah itu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku" ucap Altezza dengan sesal.


"Aku juga minta maaf, Altezza. Tapi aku juga senang kamu sudah kembali dengan selamat" ucap Aisha dan membalas pelukan itu dengan erat, bahkan dengan perasaan yang lega.


"Jadi, bagaimana?" Ucap Altezza setelah melepaskan pelukannya.


"Maksud kamu?" Selidik Aisha.


"Apa istriku yang cantik jelita ini sudah tidak marah?" Goda Altezza.


"Masih lah, kenapa tidak?" Ucap Aisha dan berlagak sedang marah.


"Jika pelukan dan ciuman tidak mampu membuat amarah seorang wanita padam, maka langkah selanjutnya adalah...." Ucap Altezza, ia pun berdiri dan melepas kaosnya. Sedangkan Aisha kaget dan sedikit takut.


"A,apa yang akan kamu lakukan?" Ucap Aisha yang sudah memasang keamanan untuk dirinya tetapi jantungnya berdegup cepat dan wajahnya menjadi sedikit tersipu saat melihat tubuh Altezza yang begitu gagahnya.


"Tentu memberi hukuman istriku" ucap Altezza yang kemudian mendekati Aisha.


Aisha yang masih duduk di sisi ranjang itu pun sudah terkunci dengan kedua kaki Altezza, sedang kan Altezza mulai mendekati Aisha dengan pesonanya, namun tiba-tiba...


Pret pret... Aisha kaget bukan main saat tangan kiri Altezza dihimpitkan di dalam ketiak kanan Altezza, sedangkan tangan kanan Altezza memompa sehingga menimbulkan suara seperti kentut.


"Rasakan ini" ucap Altezza dan menyodorkan tangan kirinya ke wajah Aisha.


"Altezza, jangan bercan... Aaaaaa...." Aisha memberontak sekuat tenaga dan berusaha melindungi wajahnya sekuat mungkin.


"Masih mau marah?" Ucap Altezza yang masih jahil itu.


"Tidak. Altezza cepat singkirkan tanganmu" ucap Aisha yang masih memberontak, namun karena Altezza jahil tangannya pun mendarat tepat di hidung Aisha.


"Hoeekkkkk..." Sontak membuat Aisha menjadi mual dan ingin muntah, Altezza pun tertawa dan baru melepaskan Aisha.


Aisha dengan buru-buru pergi ke kamar mandi lantaran dirinya ingin muntah. Altezza yang masih cekikikan itu pun menyusul Aisha di dalam kamar mandi.


"Hoeekkk... Hah, hah... Huekkk..." Aisha muntah namun tak keluar apa-apa, wajahnya menjadi memerah tubuhnya pun menjadi lemas, Altezza baru merasa cemas dengan keadaan Aisha.


"Jangan sentuh aku" ucap Aisha yang masih merasakan mual.


"Kamu, cuci tangan sana. Yang bersih dan wangi, kalau perlu seratus kali" perintah Aisha dan kesal.


Setelah Aisha merasa cukup baikan, ia pun keluar dari kamar mandi dan segera bergegas turun untuk membuat minuman hangat, agar rasa mual itu segera tiada.


Beruntung, hari itu merupakan hari minggu, setelah kepulangan Altezza, Aisha hanya mau menghabiskan waktu di rumah lantaran dirinya juga merasa cukup lelah akan pekerjaan sebelumnya. Waktu siang pun Aisha hanya gunakan untuk istirahat, berbeda dengan Altezza yang masih mengurus beberapa pekerjaan di ruang kerjanya.


Altezza yang tengah membaca laporan akan kinerja Aisha pun tersenyum, ia memang tak salah untuk menguji kemampuan calon istrinya itu. Tanpa terasa waktu telah berlalu saat Altezza melihat jam yang ada di sisi ruang tersebut sudah menunjuk angka empat, dengan segera Altezza menutup laptopnya dan bangkit untuk bergegas.


Ketika Altezza membuka pintu kamarnya, ia masih mendapati Aisha sedang tidur. Dengan pelan Altezza mendekatinya dan membelai kepala Aisha, Altezza juga mengecup kening Aisha yang masih terlelap itu.


Beberapa saat itu,


"Hemm... Hoammm...." Rupanya Aisha sudah terbangun dari mimpinya dan langsung meregangkan otot-ototnya.


"Jam berapa ini" ucap Aisha dalam hati, ia pun menoleh ke sisi kiri untuk melihat jam beker di atas meja.


"Cepat sekali sudah sore" gumam Aisha dan mengucek mata, ia pun beranjak bangun untuk mengambil air minum di dapur.


Sedangkan Altezza yang sudah selesai mandi itu pun keluar dengan lilitan handuk yang hanya menutupi sebagian dari tubuhnya, mulai dari pinggang sampai batas lututnya. Aisha yang sudah kembali dari dapur itu pun kaget saat melihat Altezza hanya berbalut handuk.


"Sudah bangun?" Ucap Altezza dengan santai.


"Ya. Kalau begitu, aku akan keluar" ucap Aisha, ia tak mungkin berada di sana sembari menonton Altezza tengah ganti baju.


"Tidak perlu, kamu segeralah mandi sana" perintah Altezza.


"Masih malas" ucap Aisha terdengar merengek.


"Mau aku mandikan?" Ucap Altezza.


"Haih... Iya ya, aku pergi mandi" ucap Aisha.


"Beberapa saat setelah Altezza selesai berganti pakaian itu pun kembali membuka lemari dan memilah sebuah baju untuk Aisha kenakan, Altezza lakukan itu biar terlihat senada dengan apa yang ia kenakan saat itu.


"Lumayan" ucap Altezza saat dirinya menemukan sebuah dress putih bermotif bunga, setelah itu Altezza pun bergegas pergi untuk turun dan menunggu Aisha, tak hanya itu ia juga sudah membuat pesan yang ia tulis di kertas kecil dan meletakkannya di atas dress itu.


"Harus di pakai" ucap Aisha saat membaca sebuah memo dari Altezza.


"Hemmm... Jeli sekali dia memilihkan baju untukku" gumam Aisha saat mengangkat dress itu.


Aisha pun menaruhnya kembali, ia bergegas untuk mengenakan serangkaian perawatan untuk kulitnya, setelah selesai ia juga sedikit berdandan, mulai merubah tatanan rambut dan make up gaya natural, sesuai dengan dress yang Altezza pilih, setelah itu barulah ia mengenakan dress itu.


"Lumayan juga" gumam Aisha saat di depan cermin besar, yang kemudian bergegas pergi untuk segera menemui Altezza.


Setibanya di sebuah ruangan tengah, di mana Altezza berada. Aisha langsung duduk di sebelah Altezza dan menyandarkan dagunya di pundak Altezza, lantaran Altezza masih sibuk membaca koran.


"Tuan, kamu memilihkan baju untukku apa ada maksud tertentu?" Ucap Aisha sembari mencolek dagu Altezza dengan sengaja.


"Istriku sekarang mulai berani ya" ucap Altezza yang langsung melipat koran dan menaruhnya di atas meja.


"Mau ajak aku kemana?" Ucap Aisha manja dan merangkul lengan Altezza.


"Pusat perbelanjaan" jawab Altezza.


"Ngapain?"


"Beli persediaan susu dan popok untuk anak kita" ucap Altezza.


"Jawaban macam apa itu" ucap Aisha.


"Kamu maunya kemana, sayang?" Ucap Altezza dan meraih pinggang Aisha.


"Pusat perbelanjaan saja, setelah itu kita berkunjung ke rumah nenek Madison, bagaimana?" Usul Aisha, saat dirinya teringat dengan Chester dan Sherine.


"Kamu sudah tahu?" Selidik Aisha.


"Sudah"


"Kapan?"


"Sudah lama, sejak tidak ada kabar dari pria bodoh itu" ucap Aisha yang sengaja itu.


"Siapa yang kamu maksud pria bodoh itu" ucap Altezza dan mencubit hidung mancung Aisha.


"Hehe ampun... Tapi aku bangga padamu Altezza, sudah bersedia untuk menolong mereka" puji Aisha kemudian saat dirinya teringat akan cerita bahagia yang Chester ungkapkan begitu juga nenek Madison.


"Lalu?" Ucap Altezza dan menatap Aisha dengan isyarat apa imbalannya.


Aisha pun tersenyum dan memberi hadiah kecupan untuk Altezza tepat di pipi kiri Altezza, sedangkan Altezza yang menerima hadiah itu hanya tersenyum dan menatap Aisha dengan gemas.


Altezza pun beranjak dan berdiri, kemudian mengulurkan tangannya untuk Aisha. Dengan senang hati Aisha meraihnya dan menggenggam tangan Altezza, mereka pun bergegas pergi menuju pusat perbelanjaan, tentu waktu itu merupakan waktu kencan mereka, Altezza pun memilih untuk menyetir mobil sendiri.


Mereka berdua masih saja terlihat seperti baru pacaran, masih lengket dan menyayangi satu sama lain. Padahal hubungan mereka cukup lama dan sering menjalani hubungan jarak jauh di tambah dengan kesibukan masing-masing yang artinya waktu mereka begitu sedikit, entah apa resep rahasia mereka berdua, sungguh membuat iri bagi yang mengetahui kisah hubungan mereka.


Setibanya di pusat perbelanjaan, setelah Altezza berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah. Altezza pun turun begitu juga di susul Aisha, kali ini Aisha berinsiatif untuk memeluk lengan Altezza sembari menikmati waktu bersama.


Terlihat jelas wajah bahagia pasangan itu saling melempar tawa dan canda, bahkan mereka terlihat seperti pasangan muda yang tengah di mabuk asmara.


Hingga cukup lama mereka berkeliling dan membeli suatu perlengkapan, Aisha masih saja begitu lengket dengan Altezza.


"Sayang sekali pria tampan itu sudah ada yang memiliki" ucapan para netizen ketika Altezza dan juga Aisha melewati para netizen.


"Prianya tampan, wanitanya juga cantik. Iri sekali" curhatan para netizen.


"Seperti biasa, Altezza selalu saja terlihat mencolok karena ketampanannya. Membuatku cemburu saja" ucap Aisha dalam hati, karena ia begitu peka akan situasi, tetapi tidak dengan Altezza yang begitu acuh, bagi Altezza yang terpenting adalah Aisha.


"Sayang?" Panggil Altezza.


"Ya?"


"Melamun apa?"


"Hemm, aku pikir kamu terlalu tampan sehingga menjadi pusat perhatian" ucap Aisha sembari menyentuh dagunya namun pandangannya mengarah ke arah lain.


"Altezza, aku mau es krim" ucap Aisha saat dirinya mendapati sebuah stand es krim yang cukup terkenal akan rasa kelezatannya.


"Apa dia cemburu?" Batin Altezza.


Beberapa saat kemudian, di sebuah bangku di mana mereka berada.


"Aku senang sekali, akhirnya perjuanganku yang melelahkan terbayar hari ini" ucap Aisha sembari mengangkat kedua tangannya saat dirinya tengah meregangkan ototnya.


"Altezza, sedari tadi kamu hanya menuruti kemauanku. Kamu ada keinginan tidak? Seperti ingin main game atau apa gitu?" Ucap Aisha.


"Tidak. Keinginanku hanya ingin membuat istriku selalu bahagia" ucap Altezza dan mengusap lembut kepala Aisha.


"Jawaban macam apa itu, kamu pikir aku juga tidak ingin membuatmu bahagia, Altezza?" ucap Aisha dan sedikit mendongakkan wajahnya di hadapan wajah Altezza.


"Hemmm..." Altezza pun tersenyum mendengar ucapan Aisha.


"Kamu adalah kebahagiaanku sayang, cukup kamu ada disisiku aku akan bahagia, melihat mu tersenyum dan tertawa itu juga kebahagiaan ku. Apalagi jika kamu sangat mencintaiku dengan tulus dan menjadikan aku satu-satunya pria untukmu, itu juga merupakan kebahagiaan terbesar bagi diriku" jelas Altezza dan mengusap lembut pipi Aisha dan berhasil membuat Aisha tersentuh akan perkataan Altezza.


"Apalagi..."


"Apalagi?" Selidik Aisha.


"Kamu menjadi satu-satunya istriku, tempatku ku berlabuh dan bersandar dan melahirkan anak-anakku" ucap Altezza, sontak perkataan itu membuat Aisha teringat akan mimpinya itu dan membuat dirinya merasa tersipu malu, Aisha pun menundukkan wajahnya takut jika dirinya menjadi salah tingkah.


"Pandai sekali kamu berbicara manis" ucap Aisha kemudian.


"Istriku ini, apa kamu tengah meragukan suami mu ini?" Ucap Altezza.


"Tidak. Sejauh ini yang kurasakan, kamu memang seperti itu. Tapi kehidupan rumah tangga itu... siapa yang tahu" ucap Aisha sembari menatap jauh ke arah depan.


"Apalagi kamu seorang CEO, pria tampan dan kaya raya. Pasti tak sedikit yang menginginkanmu" ucap Aisha dalam hati, ia ingat sudah ada berapa wanita yang ingin naik ke atas ranjang Altezza.