
"Kemarilah, kakek tidak apa-apa" ucap Kakek Altezza, seketika itu Altezza mengajak Aisha untuk duduk di dekat kakek.
"Ini... Aisha tadi lupa memberikannya, maaf" ucap Aisha sedikit ragu dan menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Kakek Altezza.
"Kenapa kamu repot sekali" Ramah kakek dengan lembut.
"Em, sama sekali tidak kakek" Aisha tersenyum.
"Bagaimana? Apa kamu sudah siap?" Ucap Kakek Altezza.
"Siap apa, Kek?" Aisha tak mengerti.
"Tentu saja menikah, bukankah hari pernikahan kalian sudah begitu dekat?"
"Ah, yah, Aisha siap Kek"
"Hemp" Altezza menahan tawa.
"Apa yang kamu tertawakan" batin Aisha saat menyadari Altezza tengah menahan tawa.
"Huft... Kakek, apa kamu lupa jika cucumu ini sangatlah hebat, wanita mana yang tidak siap untuk aku nikahi?" sombong Altezza.
"Maksud kamu?" Sindir Aisha.
"Siapa yang kemarin merengek untuk menikah?" Bisik Altezza, seketika wajah Aisha berubah memerah.
"Hahaha, sudahlah, kamu sudah membuatnya malu, Altezza" Kakek menenangkan, tetapi Aisha tetap saja merasa malu.
"Altezza, hari pernikahan kalian begitu dekat. Apakah semua sudah kamu persiapkan?" Selidik sang kakek.
"Sudah" singkat Altezza.
"Bagus, kalau begitu kakek tidak akan repot" piciknya.
"Dan kamu Aisha, apa kamu sudah meminta mahar padanya?" Selidik Kakek Altezza.
"A?" Aisha tak mampu menjawab.
"Tenanglah, kamu tinggal sebutkan saja, kalau Altezza tak mau memberikannya, kakek akan memukulnya" tandas Kakek Altezza.
"Ah, s-soal itu... Aisha belum memikirkannya" Aisha cengengesan.
"Bodoh, maka katakanlah sekarang" buru sang kakek.
"I-itu, Aisha terserah Altezza saja Kakek, yang terpenting bagi Aisha, kami dapat menikah itu sudah cukup" ucap Aisha sedikit ragu.
"Gadis yang baik" kakek manggut-manggut.
"Bagaimana bisa aku menyebutkannya? Sebelum itu pun, Altezza sudah memberiku banyak uang yang entah berapa jika sekarang di jumlahkan, mengerikan" ucap Aisha dalam hati dan merasa bersalah.
"Nah, tinggal kamu Altezza. Kakek ingin tahu, kamu akan memberi dia mahar apa?" Ucap sang kakek.
"Jangan khawatirkan itu kakek, semua sudah Altezza siapkan dalam dokumen"
"Yang terpenting saat ini adalah kesehatan mu, kelak kakek harus melihat kami menikah dan melihat cicit kami nanti" imbuh Altezza.
"Ah, baiklah, baiklah. Kakek mengerti, sekarang ayo kita kembali, mungkin makanannya sudah siap" ucap kakek kemudian.
Dan mereka pun bergegas keluar dari kamar sang kakek, Altezza memapahnya sedangkan Aisha menyusulnya dari belakang. Ketika sampai di ruang makan, betapa terkejutnya Aisha saat keluarga besar Altezza sudah berkumpul di sana, semua menoleh ke arah Aisha dan hal itu telah berhasil membuat Aisha nervous dan salah tingkah, tapi beruntung Mama Via menengkan perasaannya dan mengajak Aisha untuk duduk di sebelah Mama Via. Saat itu pula, hampir semua orang mulai mempertanyai segala macam pertanyaan kepada Aisha. Mulai dari nama, tinggal dimana, lulusan apa, tentang pekerjaan orang tua, apapun itu yang berkaitan dengan Aisha.
"Cukup! kalian jangan buat cucuku merasa takut" Kakek memperingatkan, seketika membuat sang pewawancara diam tak berkutik.
"Aku juga menantu di sini, tapi kakek tua itu tidak pernah menyebutku seperti itu di hadapan semua orang. Benar-benar membuatku kesal" gumam Shopia dalam hati.
Shopia adalah wanita muda yang usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Aisha, dia merupakan seorang menantu dari adik Mama Via. Shopia memang tergolong wanita cantik, memiliki karir dan golongan dari orang yang berada, entah kenapa hari itu ketika Shopia melihat Aisha, ia menjadi tidak suka padanya. Ia merasa tersaingi akan kehadiran Aisha, lantaran respon keluar besar Altezza terhadap Aisha benar-benar membuat Shopia jengkel, apalagi kakek yang tak pernah menyanjungnya apalagi mengatakan seperti apa yang kakek lakukan barusan itu.
Padahal Shopia tak tahu, sebagian dari keluarga besar Altezza ada yang benar-benar menyukai Aisha karena parasnya menampakkan karakter yang lembut berbeda dengan Shopia yang memiliki karakter sombong. Dan sebagaian pula ada yang sekedar mencari muka terhadap Altezza, karena Altezza lah yang paling unggul dan paling menonjol di antara dari keluarga itu, apalagi kedudukan Altezza saat ini sangatlah tinggi begitu juga statusnya Altezza yang bukan main-main, pemuda sukses nan kaya raya yang memiliki banyak kerajaan bisnis di mana-mana, siapa yang tak ingin memanfaatkan kesempatan itu? Apalagi Shopia juga merasa iri kepada Aisha yang secara tidak langsung kedudukan Aisha akan ikut melambung tinggi, tak perlu susah payah mencari uang seperti dirinya, lantaran Altezza sudah pasti memenuhi kebutuhan Aisha tanpa kekurangan sedikitpun, wanita mana yang tak menginginkan posisi seperti itu?
Setelah acara makan bersama, mereka pun kembali ke ruang keluarga untuk sekedar temu kangen. Sebetulnya Mama Via merupakan anak ke tiga dari enam saudaranya, tentu mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing dan cerita masing-masing, mereka akan berkumpul selengkap itu pun agak sedikit susah lantaran harus menyesuaikan dengan jadwal mereka. Tetapi karena kedudukan Altezza yang tak main-main itu mampu membuat semua orang untuk meluangkan waktu dan penasaran seperti apa calon istri Altezza, karena kedudukan Altezza sebagai penerus keluarga Abraham yang tak lain merupakan keluarga bangsawan.
Di sisi lain,
"Lihatlah tadi, Kakek tidak adil padaku!" Kesal Shopia.
"Tenanglah istriku, bukankah ini hal yang bagus untukmu?" Ucap Jiro, suami Shopia.
"Apa maksud kamu?" Shopia masih kesal.
"Ya... Kamu dekati wanita itu lah, aku yakin wanita itu bisa kita andalkan" ucap Jiro dan menunjukkan senyum jahatnya.
"Tidak sudi aku!" Shopia menolak.
"Tenanglah. Kamu cobalah berpikir, jika kamu memiliki hubungan yang baik padanya, kamu bukan hanya bisa utnuk lebih mengembangkan karirmu, tapi mungkin kamu bisa... Tahu kan?" Jiro memberikan isyarat arti uang dengan menggesekkan kedua jarinya.
"Kenapa kamu saja yang tidak langsung mendekati Altezza?" Celetuk Shopia.
"Yah, bukannya aku tak mau, tapi bukankah posisimu jauh lebih baik dariku?" Ucap Jiro.
"Sialan! Aku menikahi suami macam apa, kerja tak mau tapi suka menghabiskan uangku saja" umpat Shopia dalam hati.
"Tidak! Aku tidak mau menjadi wanita penjilat, kalaupun aku ingin sukses aku harus mengandalkan kekuatanku" batin Shopia.
"Tidak. Aku menolak" mantap Shopia, tetapi Jiro marah.
"Kamu!! Apa kamu lupa dengan sebuah rahasiamu? Apa kamu mau aku membongkarnya, Shopia?" Ancam Jiro.
"Kamu mengancamku?" Pekik Shopia.
"Itu terserah padamu"
"Kamu!" Shopia tak bisa membantah.
"Baiklah, aku sudah memberimu kesempatan dan itu tergantung, kamu mau memanfaatkannya atau tidak" Jiro pun beranjak berdiri dan berlalu dengan masa bodoh.
"Sial!!" Umpat Shopia penuh dengan amarah.
Keesokan harinya, Altezza sudah mohon pamit untuk membawa Aisha kembali ke rumahnya, sang kakek pun dengan berat hati melepaskan Aisha pergi. Entah kenapa kakek merasa cocok pada Aisha, apalagi hanya Aisha lah satu-satunya wanita yang mampu membuat Altezza tak mau berpaling darinya, dan karena Aisha lah yang membuat sebagian memori terindah kakek dengan istrinya dulu.
Di dalam mobil,
"Kenapa?" Ucap Altezza.
"Tidak. Tidak ada apa-apa" Altezza mengerutkan Alisnya, ia menyadari jika Aisha tidak dalam keadaan baik.
"Ada apa?" Ucap Altezza yang langsung memeluk tubuh Aisha dan mencium kepala Aisha dengan lembut.
"Huft... Memang ya, aku tidak bisa lama menyembunyikannya darimu" keluh Aisha dan bersandar di dada Altezza.
"Hem?" Altezza masih menunggu.
"Aku hanya teringat dengan keluarga dari papa ku saa, yang tidak seperti keluarga mama kamu yang begitu hangat, keluarga papaku begitu..." Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan mutnya, hingga cukup lama Altezza membungkamnya.
"Jangan teruskan dan jangan kamu ingat lagi, mengerti?" pinta Altezza.
"Aku hanya... Em..." Altezza kembali membungkamnya.
"Altezza..." rengek Aisha dengan pasrah dan malu.
"Sekali lagi kamu mengingatnya, aku akan menghukummu" Altezza memperingatkan.
"Baiklah" Aisha pasrah.
"Baiklah, aku akan mendengarkan mu"
"Bagus. Jika kamu tak menemukan kebahagiaan di satu tempat, maka kamu harus ingat masih ada banyak tempat untuk membuatmu bahagia" ucap Altezza.
"Misalnya?" Aisha menggoda.
"Mungkin diriku bisa memuaskan mu, sayang, dan itu akan membuatmu bahagia" Altezza pun tak mau kalah.
"Jika kamu tidak mampu membuatku merasa puas, lantas bagaimana aku bahagia?" Aisha melawan dengan berani.
"Huft... Andai saja sudah menikah, aku sudah pasti memakannya" gumam Altezza kesal.
"Hemp. Hahahahaa..." Aisha tertawa puas.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Tidak ada"
"Percayakah? Meskipun kita belum menikah, sebetulnya aku masih ada cara untuk bisa membuatmu..." Altezza tersenyum liar dan matanya menyorotkan kearah dada bulat Aisha, bahkan tangannya mengisyarakatkan sedang meremas, sedangkan Aisha merasa linu sendiri.
"K-kamu jangan macam-macam ya" Aisha merasa terancam.
"Tenanglah, itu akan membuatmu puas. Kemarilah, sayang" Altezza mendekat.
"Altezza, k-kamu sadarlah, ada Leon di sini" Aisha memperingatkan.
"Oke, dil. Aku akan bersabar untuk sampai di rumah" ucap Altezza dan kembali ke posisi semula.
"Mau apa kamu?"
"Tentu yang tidak ada Leon, bukankah di sini ada Leon?" Ucap Altezza dengan entengnya.
"Hah?" Aisha tak percaya.
"Kenapa aku jadi menyesal telah menyinggungnya" sesal Aisha dalam hati bahkan membuang mukanya dari Altezza.
"Diam berarti setuju, jika membantah berarti sangat setuju" ucap Altezza kemudian.
"Hah?" Aisha terbelalak dengan ucapan Altezza, Aisha pun menatap tajam Altezza dengan wajah marahnya.
"Ada apa?" Aisha tetap diam.
"Kenapa marah, sayang? Apa karena ada Leon? Apa mau kita berhenti dulu dan menyuruhnya untuk keluar sebentar dari mobil?" Altezza kembali menggoda.
"Oh, masih diam. Kalau begitu, Leon..."
"Diam. Jangan dengarkan dia, Leon!" Sela Aisha tiba-tiba.
"Ah, kapan hariku tidak merasakan merinding karena mendengarkan pembicaran yang agak liar ini" keluh Leon dalam hati.
"Hemp." Altezza menahan tawa puas.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Hanya gemas melihatmu" Altezza meraih tubuh Aisha.
"Lepaskan aku" Aisha menolak.
"Tenanglah, aku hanya bercanda tadi. Mana mungkin aku memaksa istriku, kecuali istriku yang meminta"
"Altezza" protes Aisha.
"Iya, bercanda sayang" Altezza pun mengusap-usap kepala Aisha.
Setelah beberapa saat kemudian, Altezza membawa Aisha pergi ke pusat perbelanjaan untuk sekedar mengisi luang sebelum mereka akan pulang ke rumah Aisha. Di sisi lain, kebetulan Aisha juga akan mencari hadiah untuk Deva, yang sebentar lagi akan menikah. Setelah beberapa saat berkeliling dan menemukan barang yang Aisha may, mereka pun memutuskan untuk pulang. Tanpa memakan waktu yang lama, mereka pun tiba di kediaman Aisha yang baru.
Detik demi detik sudah tak terasa begitu cepatnya, hari pernikahan Deva sudah tinggal menghitung jam. Ya, malam ini merupakan malam sebelum hari pernikah Deva, Aisha pun sudah berada di kediaman Deva bersama Mama Hani dan juga Alex, suasana di rumah Deva juga cukup ramai lantaran ada pesta malam sebelum melepaskan masa lajang yang biasa di sebut bridal shower.
"Bagaimana perasaanmu?" Ucap Aisha yang menemani Deva.
"Masih seperti mimpi, tapi entah nanti" ucap Deva.
"Mungkin malam ini kamu tidak dapat tidur" tebak Aisha.
"Entahlah, tapi kamu temani aku tidur malam ini ya" pinta Deva.
"Emm, baiklah, aku akan menemani kamu" Aisha menyetujui.
"Tapi... Tuan putri maukah kamu malam ini menari bersamaku?" Ucap Aisha kemudian dan mengulurkan tangannya seperti seorang pangeran.
"Ahh... Hahahaha, lihatlah purtimu" ucap Ratih, mamanya Deva saat melihat ulah Aisha dan deva dari kejauhan.
"Kamu tahu sendiri lah mereka bagaimana" timpal mama Hani dengan tawa kecilnya.
"Ngomong-ngomong, aku dengar dari Deva jika Aisha juga akan menikah dalam dekat ini?"
"Iya, aku juga tak menyangka bisa secepat itu"
"Malah bagus, ada yang menjaga mereka"
"Ya, memang. Apa kita sudah tua ya?"
"Hahaha, kamu bisa saja" tawa Mama Ratih.
"Oh ya, kamu bisa datang kan?" Selidik mama Hani.
"Akan aku usahakan"
"Aku tunggu lho ya"
"Tentu, jangan khawatir, Han"
Sedangkan di sisi lain, Aisha tengah menari ria dengan Deva di tengah kerumuman anak-anak kecil yang tengah menari dengan riangnya, wajah Aisha dan Deva terlihat begitu riang seperti anak kecil, yah, mungkin mereka tengah mengenang masa kecilnya dulu yang pernah menari di tengah-tengah kerumunan saat ada tetangga Aisha sedang mengadakan pesta malam sebelum pernikahan. Saat itu Aisha kecil yang tengah bersedih lalu Deva datang menghiburnya, dengan mengulurkan tangan bagaikan pangeran dan kemudian mengajak Aisha ikut menari persis seperti apa yang mereka lakukan sekarang.
"Sha, nggak nyangka ya, kita sudah akan menajdi istri orang" ucap Deva dengan keras karena kalah dengan suara musik.
"Aku juga, bukankah kita baru berusia delapan tahun? Kenapa kita tiba-tiba kamu sudah mau menikah?" Balas Aisha.
"Kamu juga" timpal Deva.
"Hahaha, ku harap kita bisa seperti ini seterusnya"
"Tentu saja, kita tak akan berubah Aisha, sekalipun kita sudah memiliki anak, kita bisa menjodohkan mereka" seru Deva.
"Hahaha, boleh"
"Semuanya! Berhenti!" Tiba-tiba seisi ruangan di kejutkan dengan teriakan seorang wanita yang tak di kenal, dengan wajah marah dan arogan itu sudah cukup mengkhawatirkan jika wanita tersebut akan berbuat masalah.
"Di mana calon pengantinnya? Hah!!" Teriak wanita dengan amarahnya.
"Aku. Maaf, ada apa ya? Sepertinya aku tak mengundanh mu kemari" ucap Deva dengan berani.
"Deva, jangan" mama Ratih khawatir.
"Tenang ma"
"Ada apa ini?" Papa Deva pun datang.
"Bagus ya! Kamu ada pesta tidak mengundangku? Bagus!" Wanita itu pun mengangkat tangannya dan bersiap seperti mau menapar Deva.