Just Married

Just Married
episode 14: Kecemasan



Hari jum'at di New York, tepatnya di kota Manhattan, pukul satu siang. Hari kedua Aisha mengerjakan desain dikantor Altezza, Aisha disambut dengan sekuntum bunga mawar merah yang sudah tergeletak diatas meja kerjanya. Dengan surat kecil sebagai pesan singkat dari Altezza, sedangkan Altezza sendiri sudah berada diruangan itu.


"Orang aneh" ucap Aisha dalam hati, ia pun menyingkirkan bunga itu dari hadapannya dan bersikap biasa saja.


Pukul tiga lebih, Altezza keluar tanpa berbicara kepada Aisha sejak kedatangan Aisha. Dua jam kemudian, Altezza belum juga kembali. Tetapi Aisha merasa senang, karena Aisha bisa lebih fokus tanpa adanya Altezza. Aisha pun bisa pulang dengan tenang tanpa ada gangguan dari Altezza ataupun adanya sebuah pertunjukan drama yang biasa Altezza lakukan.


Waktu pulang pun tiba, Aisha bergegas mengemasi lembaran dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Dengan suka cita Aisha pulang tanpa ada gangguan Altezza, lantaran Altezza benar-benar tidak kembali sampai di jam pulang. Aisha sudah terlihat tengah berjalan ditrotoar dan duduk di salah satu bangku untuk menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil hitam menghampiri Aisha yang tengah duduk itu. Dengan sigap dua orang lelaki berbadan cukup besar dan berpakaian serba hitam keluar dari mobil dan langsung menenteng Aisha, kemudian memasukkan Aisha kedalam mobil secara paksa. Aisha pun memberontak agar terlepas dari dua pria itu, namun usahanya tak juga berhasil. Aisha pun terjatuh dibangku belakang yang disana sudah ada seorang pria, yang tak lain ialah Altezza.


"Kamu?" Ucap Aisha saat badannya tak sengaja menyentuh tubuh Altezza.


"Jalan" perintah Altezza. Mobil itu pun melaju.


"Lagi lagi kamu, lagi lagi kamu. Maunya apa sih?" Ucap Aisha kesal.


"Maunya? Begini..." Ucap Altezza, sembari mendekati wajah Aisha begitu dekatnya.


"A, apa-apaan sih. Dasar mesum, turunin aku gak?" Ucap Aisha dan merasa sedikit malu karena wajah Altezza begitu dekat dengan wajahnya, Aisha pun mendorong Altezza agar jauh darinya.


"Kenapa wajahmu memerah?" Goda Altezza.


"A, diam kamu" ucap Aisha merasa malu.


"Lho, wajahmu kenapa semakin memerah?" Goda Altezza.


"Gak ada yang merah, kamu itu yang buta warna" Ucap Aisha kesal namun wajah Aisha benar-benar terlihat memerah.


"Bukan buta warna, tapi buta karena cinta" ucap Altezza menggoda Aisha, Aisha semakin tersipu malu di buatnya.


"A, apa? Dasar pria gila" gerutu Aisha yang mencoba untuk menahan diri.


"Gila karena kamu"


"Diam, bodoh"


"Bodohnya juga karena kamu"


"Huh, sudahlah. Terserah kamu, lama-lama bisa stress aku ladenin kamu" ucap Aisha pasrah dan membuang muka dari Altezza


"Jadi, kamu sudah bersedia untuk menjadi istriku?" Goda Altezza. Aisha menjadi memerah lagi karena ucapan Altezza benar-benar membuatnya malu.


"Apa??? Jelas ti..."


"He? Terserah" ucap Aisha yang sudah sangat kesal.


Altezza tersenyum dengan kemenangannya. Sedangkan Aisha tetap kesal dan memandang kearah luar melalui kaca mobil yang ada disampingnya tanpa mempedulikan Altezza.


Hari sabtunya, Aisha disambut lagi dengan bunga buket kecil. Dengan surat, yang kali ini lebih romantis.


'selamat datang, calon istriku yang cantik'


Wajah Aisha memerah saat membaca surat itu. Namun Aisha singkirkan perasan yang konyol itu, Aisha mulai fokus untuk berkerja hingga tanpa terasa waktu telah berlalu. Jam sudah menunjukkan angka lima lebih, Aisha pun bergegas untuk pulang. Namun, setiba keluar dati kantor, Aisha di kejutkan lagi dengan adegan penculikan. Dan adegan itu terus terjadi kepada Aisha, semakin hari semakin besar bunga buket. Bahkan adegan penculikan itu lebih ekstrim, Aisha benar-benar merasa dipermainkan sampai hari Sabtu kembali hari sabtu.


Hampir tiga minggu berlalu dengan adegan-adegan romantis dan penculikan, hari itu hari terakhir Aisha mengerjakan desain dikantor Altezza. Namun anehnya sudah dua hari Altezza tak nampakkan diri sekalipun, bahkan mengganggunya saja juga tidak. Adegan romantis dan penculikan juga tidak ada, entah kemana Altezza. Namun Aisha merasa senang, tetapi Aisha merasa sedikit terganggu seperti ada sesuatu yang kurang.


Saat Aisha hendak pulang, didalam lift. Aisha bertemu dengan dua orang karyawan wanita. Yang sedang berbisik-bisik.


"Oh, jadi dia, Bos kita kecelakaan, gara-gara mengejarnya. Dasar perempuan tak tahu diri" bisik salah seorang wanita.


"Apa? Altezza kecelakaan? Dan itu gara-gara aku?" Batin Aisha.


Saat pintu lift terbuka, kebetulan disana ada bibi Lin. Dengan segera Aisha menghampirinya dan menanyakan, apakah betul Altezza mengalami kecelakaan. Dan sialnya, bibi Lin mengakuinya bahwa memang betul Altezza kecelakaan saat hendak mengejar Aisha waktu Aisha lebih dulu menghindar dan berlari menghindari dari adegan penculikan yang Altezza rencanakan dua hari yang lalu itu.


Kecelakaan itu dimana ketika Altezza melihat Aisha dari seberang jalan, nampak Aisha tengah berlari dan memasuki sebuah gang, dengan buru-buru Altezza mengejar Aisha namun nahas, Altezza tertabrak mobil dan Aisha pun tak tahu akan kejadian itu.


Aisha merasa bersalah saat mendengarkan detail cerita kejadian itu. Aisha menanyakan dimana Altezza dirawat. Saat Aisha sudah mendapatkan informasi dimana rumah sakit Altezza dirawat, buru-buru Aisha pergi kerumah sakit untuk menjenguk Altezza.


"Tuan, nona muda sudah berangkat" ucap bibi Lin melalui ponselnya. Saat Aisha sudah bergegas pergi.


Aisha terlihat begitu cemas, sepanjang perjalanan Aisha mencemaskan tentang keadaan Altezza. Seandainya Aisha tak menghindar mungkin kecelakaan itu tak kan terjadi. Tapi kenyataan sudah berkata lain.


Tibalah Aisha dirumah sakit, dimana Altezza dirawat. Dengan segera, Aisha berlari kecil untuk segera sampai dan menemui Altezza. Dan sampailah ia pada sebuah ruangan VIP, dimana Altezza dirawat. Dengan gemetar Aisha membuka pintu dan melihat Altezza terbaring lemah diatas tempat tidur itu. Dengan infus yang berdiri kokoh dengan selang oksigen yang sudah terpasang pada hidung Altezza. Dengan balutan perban pula dikepala Altezza.


"Altezza..." Lirih Aisha, merasa bersalah dan menghampiri Altezza dan duduk disampingnya


"Bodoh, kenapa kamu bisa seperti ini? Bukan salahku kan?? Aku hanya menghindar dari ulahmu itu, tapi aku juga merasa bersalah, tapi aku gak salah kan? Tapi aku merasa bersalah..." ucap Aisha yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Hei, Altezza bodoh. Kenapa waktu itu kamu gak nenghindar saja, apa kamu sengaja membuatku merasa bersalah?" Ucap Aisha kemudian.


"Altezza, aku sedang berbicara denganmu. Kenapa kamu hanya diam? Cepat bangun, Altezza bodoh" ucap Aisha yang masih dalam tangisannya.


Aisha menangis dan takut lantaran, ia merasa sudah tiga kali ini, seorang pria mengalami kecelakaan karena dirinua. Pertama kakaknya, kedua Gibran Abraham, dan yang ketiga Altezza. Wajar saja jika Aisha begitu terpukul, bagi Aisha itu adalah luka. Karena kejadian itu pula, yang membuat Aisha trauma akan kejadian yang sangat memilukan bagi dirinya.