Just Married

Just Married
episode 16: Ternyata Hanya Sandiwara?



Altezza dibuat bingung dengan tingkah Aisha yang tiba-tiba menangis, disaat Altezza melepaskan pelukannya. Aisha malah memeluk erat tubuh Altezza.


"Kenapa, kamu begitu bodoh. Kenapa kamu tak mati saja, kenapa kamu membuat orang cemas" ucap Aisha dengan tangis dan pelukan erat.


Altezza kaget dengan apa yang Aisha lakukan kepada dirinya. Pelukan itu, yang Altezza rindukan, begitu terasa tulus bahkan terasa hangat dan nyaman.


"Gadis cengeng, kenapa kamu memelukku seperti ini? Apa kamu benar-benar, sudah jatuh cinta kepadaku?" Ucap Altezza, yang masih membiarkan Aisha memeluknya dengan erat.


"Eh?" Aisha tersadar dengan apa yang di lakukan, dengan buru-buru ia melepaskan pelukannya.


"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak menolaknya" ucap Aisha kesal. Karena refleks memeluk Altezza yang sudah sadar dari tidurnya yang cukup lama.


"Bukannya kamu sendiri yang meme..."


"Diammm!!!" sela Aisha dengan suara sedikit keras, wajah Aisha terlihat memerah, entah apa yang telah terjadi pada dirinya yang tiba-tiba saja memeluk Altezza seperti itu.


"Aku haus, bisakah kamu mengambilkan air untukku" ucap Altezza kemudian, setelah cukup mereka berdiam diri.


"Oh, haus. Baiklah, tunggu sebentar" ucap Aisha dengan gaya cueknya, lalu bergegas mengambil segelas air untuk Altezza.


"Nih.." ucap Aisha sembari menyodorkan gelas yang berisi air mineral.


"Kamu bodoh? Mana bisa aku minum?" Ucap Altezza.


"Hehe, sorry. Biar aku bantu membangunkanmu" ucap Aisha dan meletakkan gelas diatas meja tepat disebelah ranjang Altezza.


"Mebangunkanku? Membangunkan yang mana?" Ucap Altezza berlagak bodoh.


"Da, dasar pria mesum. Ma, maksudku membangunkanmu itu membangunkan tubuhmu, bodoh" teriak Aisha kesal sekaligus wajahnya nampak tersipu malu.


"Kamu itu yang mesum, maksud aku yang kamu bantu membangunkanku itu tubuhku atau ranjangnya" ucap Altezza yang menahan tawa.


"Eh? Ma, maksud aku. Ah, tahu lah. Kamu urus saja dirimu sendiri" ucap Aisha kesal, ia pun mengambil tasnya yang ada dimeja dimana Aisha meletakkan gelas tadi.


"Kamu mau kemana?" Ucap tezza saat melihat Aisha mengambi tasnya.


"Pulang. Toh kamu sudah sadar, kamu bisa mengurus dirimu sendiri" ucap Aisha lalu membalikkan badan membelakangi Altezza yang hampir saja melangkahkan kakinya.


"Kenapa lagi?" Ucap Aisha, yang langkahnya terhenti lantaran Altezza menahannya untuk pergi.


"Mau minum" ucap Altezza dengan wajah memelas. Aisha yang melihat wajah Altezza pun luluh karena merasa iba sekaligus merasa bersalah.


"Aku cari sedotan dulu di lemari es, siapa tahu ada. Kamu bisa meminumnya dengan mudah tanpa harus bangun dari tempat tidur" ucap Aisha kemudian.


"Gak mau" rengek Altezza.


"Terus maunya yang bagaimana? Mau aku bangunkan?" Ucap Aisha dengan sedikit acuh, sedangkan Altezza yang mendengar ucapan Aisha hanya tertawa kecil.


"Apa yang kamu tertawakan? Cepatlah bangun sendiri dan minum sendiri" ucap Aisha dan langsung menyodorkan segelas air mineral.


"Gak mau" ucap Altezza dengan gayanya yang angkuh.


"Menyebalkan, kenapa kamu begitu mirip dengan Alex. Maunya apa sih kamu?" Ucap Aisha kesal.


"Apaaa???" Ucap Aisha, wajahnya memerah namun ia juga merasa kesal.


"Kamu... Baiklah" ucap Aisha, yang akhirnya mengalah.


Aisha meminum air itu dan menyimpannya didalam mulutnya, Aisha mendekati wajah Altezza. Saat sudah begitu dekat, Aisha melakukan aksinya.


'Glekk'


Suara tenggorokan yang tengah menelan terdengar cukup keras. Aisha pun merasa menang dari Altezza, dengan bangga Aisha tersenyum penuh dengan kemenangan. Bahkan tak segan Aisha meledek Altezza dengan menjulurkan lidahnya kepada Altezza seperti anak kecil.


Altezza yang tak mau kalah itu pun bangun dari tempat tidurnya, dan langsung meraih tubuh Aisha dan mendekap Aisha, bahkan Altezza langsung menjatuhkan dirinya dengan membawa Aisha di atas tempat tidurnya. Kini, posisi itu pun sudah sangat nampak, dimana setengah tubuh Aisha telah menindih tubuh Altezza, Aisha yang kaget akan perlakuan itu pun tanpa sengaja menatap wajah Altezza yang begitu dekat yang berjarak hanya beberapa senti saja.


Saat itu pula wajah Aisha menjadi memerah, namun pergerakan Altezza tak hanya sampai situ, dengan cepat tangan Altezza yang diinfus itu pun melakukan tugasnya untuk memegang kepala Aisha sebelum Aisha memberontak dari dekapannya, Altezza pun langsung dan mencium bibir Aisha hingga cukup lama.


"Emmm..." Aisha memberontak.


"Oh tidak, ciuman keduaku..." Suara tangisan dalam hati Aisha.


"Dasar pria mesum" teriak Aisha saat berhasil menarik diri dari depakan Altezza dan mengusap bibirnya. Altezza hanya tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Eh, tunggu. Kenapa kamu begitu kuat? Bukankah kamu sedang sakit?" Ucap Aisha yang telah menyadari sesuatu.


"Oh iya, aku lupa kalau aku sedang sakit. Aduh Aisha, badanku sakit" rengek Altezza yang dibuat-buat.


"Kamu... Kamu telah, menipuku?" ucap Aisha, ia tengah menebak.


"Hehe, ketahuan ya" ucap Altezza cengengesan tanpa dosa itu.


Wajah Aisha berubah menjadi muram, badan Aisha terlihat lesu dan terduduk di atas kursi tepat disebelahnya. Altezza kebingungan melihat Aisha yang tiba-tiba muram, menunduk lesu dan diam tanpa kata, bahkan untuk memandangnya pun tidak.


"Aisha? Kamu kenapa?" Ucap Altezza yang sudah bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Aisha. Namun, Aisha hanya diam tak menghiraukan Altezza.


"A, aku minta maaf. Karena sudah..."


"Bodoh, kenapa kamu menipuku? Kenapa kamu tidak tertabrak dan mati saja, kenapa kamu malah menipuku seperti ini?" Teriak Aisha marah.


"Aisha, dengarkan aku. Aku hanya..."


"Cukup!!" Aisha terlihat sangat marah, mereka terdiam cukup lama di sana.


"Kenapa? Kenapa, kamu menipuku" ucap Aisha lirih dan tiba-tiba menangis.


Altezza merasa bersalah, dengan memberanikan diri. Altezza meraih tubuh Aisha dan memeluknya, sekalipun Aisha berusaha keras untuk tidak mau dipeluk, dengan sekuat tenaga Altezza tak melepaskan Aisha dari pelukannya. Aisha pasrah dan menangis sejadi-jadinya. Aisha hanya merasa dipermainkan, apalagi perasaan trauma Aisha karena kejadian beberapa tahun lalu, yang cukup membuat Aisha terluka yang terlalu dalam.


"Maaf, maafkan aku. Jika aku tak melakukan ini, mana bisa aku mengetahui perasaanmu kepadaku dan mana bisa aku membuatmu jatuh cinta kepadaku dengan cepat" ucap Altezza dengan lembut.


"Apa?" Aisha tak mengerti maksud ucapan Altezza.


"Aisha, apa kamu tahu. Sudah berapa lama aku mencarimu? Dan betapa senangnya aku bisa menemukanmu saat itu? Kamu tahu Aisha, disaat aku sudah menemukan keberadaanmu. Aku telah berjanji untuk melindungimu, bahkan aku tak akan membiarkanmu pergi lagi dariku, Aisha" jelas Altezza, Aisha yang mendengar ucapan Altezza pun merasa terharu. Tetapi, Aisha juga tak mengerti akan maksud Altezza, yang sudah mencarinya lama.


Aisha pun hanya diam tanpa melawan, ia mencerna akan perkataan Altezza. Bahkan, Aisha tengah merasakan sebuah pelukan yang terasa hangat dan nyaman, Jantung Aisha mulai berdetak dengan cepat, hatinya pun berdebar tak menentu.