Just Married

Just Married
episode 110: Cemburu?



Beberapa hari kemudian, di sebuah bandara kota Manhattan.


"Aisha, kamu jangan lupakan aku nanti" ucap Sally yang masih memeluk Aisha.


"Aku tidak akan pernah melupakan mu Sally, kita pasti akan bertemu kembali kan?" Ucap Aisha.


"Iya, aku tahu" ucap Sally dan melepaskan pelukannya.


"Hati-hati di jalan ya, sering-seringlah beri kabar" ucap Sally kemudian dengan senyuman yang nampak terpaksa itu, Aisha pun tahu akan hal itu apalagi dirinya juga merasa berat untuk berpisah dengan sahabat terbaiknya itu.


"Sally, terimakasih selama ini kamu telah menjadi sahabat terbaikku. Kamu harus jaga dirimu baik-baik dan ingat untuk memperjuangkan apa yang harus kamu perjuangkan" ucap Aisha yang kemudian berbisik kepada Sally.


"Pokoknya, kamu harus percaya diri" ucap Aisha memperingati.


"Baiklah" ucap Sally.


"Ayo sayang" ucap Altezza kepada Aisha yang sedari tadi menunggu Aisha untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Baiklah Sally, sampai bertemu kembali" ucap Aisha kemudian dan melepaskan pelukannya.


"Yah. Sampai bertemu kembali, Aisha" ucap Sally dengan menguatkan dirinya.


Aisha dan Altezza pun membalik badannya untuk bergegas pergi menyusul yang lainnya yang sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Altezza, tak lupa Aisha juga melambaikan tangannya sebagai perpisahan salam terakhirnya. Meskipun terasa berat, tapi mereka saling menguatkan diri untuk berpisah dari seorang sahabat yang selalu menemani dalam suka maupun duka rasanya seperti kehilangan sesuatu dari dalam diri mereka.


"Aisha... Sampai bertemu kembali, jaga dirimu baik-baik ya" ucap Sally kemudian dengan suara keras, Aisha pun langsung menoleh dan membalikkan badan ke arah Sally.


Aisha tersenyum dan memberi isyarat jika dirinya akan menelponnya nanti jika sudah sampai di Indonesia, kemudian Aisha melambaikan tangannya kepada Sally yang masih melihat dirinya dari kejauhan.


Pluk... Tiba-tiba Sally di kagetkan dengan sebuah pelukan.


"Sebentar. Sebentar saja" ucap Leon dengan nada menguatkan.


"Leon?" Gumam Sally, ia pun semakin merasa terpukul. Bukan hanya berpisah dengan seorang sahabat, tetapi juga berpisah dengan seseorang yang telah mengisi hatinya setelah sekian lama pernah terluka, air matanya pun tumpah saat di dalam pelukan Leon dan refleks membalas pelukan Leon dengan erat.


"Sally, aku tak tahu bagaimana cara untuk menyemangati mu. Tapi tolong jaga dirimu baik-baik, selama aku tidak ada di sini" ucap Leon terdengar lembut, Sally pun hanya diam menurut.


"Sally, aku berharap kamu mau menungguku sampai waktunya tiba nanti" ucap Leon dalam hati.


"Sally, aku pergi sekarang" ucap Leon kemudian yang langsung melepaskan pelukannya itu, namun Sally semakin merasa enggan dan menggenggam tangan Leon.


"Tolong jangan seperti ini, ini membuatku... Semakin berat untuk meninggalkan mu" ucap Leon dalam hati yang tidak tega menatap wajah sedih Sally itu.


Dengan terpaksa Sally pun melepaskan tangan Leon dengan perlahan, Leon pun mulai berjalan mundur dengan perlahan, setelah tangan mereka lepas Leon langsung membalikkan badan dan berlari untuk segera menyusul yang lainnya, sedangkan Sally ia masih memungut sisa-sisa gambaran perpisahan itu.


"Aisha, sekarang aku tahu bagaimana rasanya perpisahan itu seperti apa" sesal Sally dalam hati.


Sedangangkan di sisi, lain di waktu yang bersamaan.


"Sally, aku berjanji padamu untuk segera kembali dan menjemputmu nanti. Kamu harus menungguku!!" Ucap Leon dalam hati saat dirinya berlarian kecil dengan tergesa-gesa.


Beberapa waktu kemudian, pesawat itu pun mulai melepaskan diri terbang ke udara. Sally yang sudah di luar dan hendak membuka pintu mobil itu pun mendongakkan wajahnya dan menatap pesawat itu yang mulai kian menjauh.


"Sampai jumpa Aisha, kamu tahu, akhirnya aku sendiri lagi di sini" ucap Sally dalam hati, ia pun mengambil nafas panjang dan langsung membuka pintu mobil dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Satu minggu kemudian, Indonesia.


"Baru satu minggu di sini, aku sudah merasa sejenuh ini" keluh Aisha dalam hati, saat dirinya tengah berjalan di trotoar seorang diri.


"Bahkan Altezza benar-benar tak mengizinkan aku bekerja sama sekali, lalu untuk apa aku di sini?" kesal Aisha dalam hati, ia pun menunduk lesu bersama dengan lamunannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti lantaran ia melihat ada sepasang kaki yang tengah berhenti tepat di hadapannya.


"Eh?" Aisha kaget dan refleks untuk melihat siapa yang begitu sengaja berhenti di hadapannya.


Pluk... Tiba-tiba Aisha langsung di peluk seseorang yang ada di hadapannya itu.


"A, Altezza?!!" kaget Aisha.


"Istriku, tidak bagus melamun di pinggir jalan sendirian, jika ada yang menculikmu bagaimana?" Ucap Altezza dengan wajah serius dan terus memeluk Aisha.


"Altezza, lepaskan. Banyak orang yang melihat kita" ucap Aisha sedikit memberontak.


"Tidak" ucap Altezza, ia pun langsung mengangkat tubuh Aisha, sontak Aisha pun kaget tak percaya akan apa yang Altezza lakukan, apa lagi di tempat umum dan hari menjelang sore dimana para pedagang kaki lima telah bersiap diri untuk memperdagangkan dagangan mereka, dan sialnya lagi tak sedikit ada pembeli yang tengah melihat dirinya yang tengah di bopong oleh Altezza bak adegan romantis.


"Dasar, Altezza. Bahkan kamu tidak memberiku sedikit muka di sini" ucap Aisha, ia pun menenggelamkan wajahnya di dalam dada Altezza karena merasa sangat malu.


"Hah, dasar pengantin baru jaman now, ada-ada saja ulahnya" suara para netizen.


"Orang kaya mah, bebas" suara netizen.


"Jiwa jombloku, kuatkanlah dirimu. Makan di pinggir jalan harusnya bikin kamu kenyang, malah melihat pemandangan seperti itu bikin lapar saja. Bang, satu porsi lagi" suara netizen.


"Ya ampun, cowoknya tampan sekali kelihatan orang kaya nih" suara netizen


"Iya, tapi ceweknya juga cantik banget. Jadi iri..." Keluh netizen.


Altezza tak begitu peduli dengan tatapan mata ataupun komentar apapun tentang apa yang ia lakukan, selama ia mencintai Aisha dirinya tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Yang ia tahu, apa yang Altezza lakukan itu merupakan ungkapan kasih sayangnya kepada Aisha dan rasa keamanan untuk Aisha, meskipun terkadang Aisha merasa malu akan perlakuan yang mungkin berlebihani, tetapi Altezza memiliki dada bidang yang tegap nan nyaman sehingga dapat untuk Aisha bersandar dan menyimpan rasa malunya di sana.


Leon yang melihat bosnya itu sudah mendekat pun langsung membukakan pintu mobil untuk Altezza, orang-orang yang melihat itu pun menggelengkan kepalanya dengan apa yang mereka lihat. Melihat seorang pria muda tampan yang tengah menggendong wanita muda cantik dan membawa wanita itu masuk kedalam mobil mewah bahkan ada sopir pribadinya yang patuh terhadap tuannya.


Setibanya di dalam mobil,


"Altezza, apa yang kamu lakukan tadi itu tolong jangan lakukan lagi kedepannya" ucap Aisha yang masih dengan wajah Malunya.


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh?" Ucap Altezza tak terima.


"Dasar bodoh, ini di Indonesia? Di tempat umum pula, kalau ada anak kecil yang melihatnya bagaimana? Jika ada anak di bawah umur melihat kita kemudian mereka...emm..." Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan mulutnya.


"Lalu, bagaimana dengan ini?" Ucap Altezza kemudian, setelah melepaskan ciumannya.


"Altezza" gumam Aisha yang menunduk malu.


"Aku tidak menciummu di tempat umum dan aku tidak memakanmu di tempat umum" bisik Altezza, Aisha pun merasa geli namun ia tak menyadari jika Altezza tengah merasa kesal.


"Sial!!! Jika aku tidak datang tepat waktu, para berandalan itu sudah pasti akan menggoda istriku" ucap Altezza dalam hati dengan geram, mengingat saat Aisha berjalan seorang diri di trotoar rupanya ada beberapa anak muda yang hendak mau mendekati Aisha untuk memgajak berkenalan atau untuk menggoda Aisha, tentu Altezza tidak terima dan lamgsunh menatap beberapa wajah anak muda itu dengan tatapan mencengkram nan mengerikan. Dan tentu, ketika Altezza sudah begitu dekat dengan Aisha ia langsung memeluk Aishq dan mengangkat Aisha sebagai pengingat jika Aisha adalah wanitanya.


"Aisha, lain kali jika kamu ingin keluar ataupun ingin jalan beritahu aku, jangan pergi sendirian seperti tadi" ucap Altezza tiba-tiba tedengar seperti sedang kesal, Aisha pun menoleh dan menatap Altezza yang terlihat tengah kesal dan menatap ke arah depan.


"Sial!! Baru satu minggu di sini sudah banyak yang mau menggoda Aisha, benar-benar tidak bisa di biarkan" ucap Altezza dalam hati yang masih merasa kesal.


"Ada apa dengan dirinya?" Ucap Aisha dalam hati, yang masih menatap Altezza dan mengerutkan dahinya dengan penuh tanda tanya.


"Altezza marah? Tapi marah karena apa?" Ucap Aisha dalam hati, ia pun menoleh ke arah Leon yang tengah mengemudi melalui kaca spion untuk mencari tahu tetapi Leon menjadi dilema.


"Jangan menatapku, nona. Bos marah karena cemburu padamu, oke" ucap Leon dalam hati.


Aisha pun mempertajam tatapan matanya ke arah Leon, agar Leon memberi sedikit petunjuk mengapa Altezza menjadi kesal seperti itu.


"Ehem. Bos, bagaimana dengan anak-anak muda yang hampir mau mengganggu nona tadi? Apakah perlu untuk turun tangan?" Ucap Leon dengan sengaja sebagai kode untuk Aisha.


"Tidak perlu!!" ucap Altezza terdengar menyeramkan.


"Ba, baiklah" ucap Leon.


"Mengerikan" keluh Leon dalam hati.


"Baik, aku sudah memberitahumu. Sebaiknya nona cepat dinginkan gunung yang hampir meletus itu" ucap Leon dalam hati yang terus mengemudi.


"Jadi, itu sebabnya Altezza melakukan itu padaku tadi?" Ucap Aisha dalam hati.


"Jangan-jangan Altezza..." Pikir Aisha yang merasa senang karena Altezza cemburu padanya.


"Hem?" Altezza tak bergeming dan masih menatap ke arah depan dengan wajah kesalnya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, boleh?" ucap Aisha merayu.


"Katakan" ucap Altezza dengan nada dinginnya.


"Tidak bisa, kamu harus mendekatkan telingamu kemari" ucap Aisha dengan sengaja agar membuat Altezza penasaran, dan akhirnya Altezza pun mendekatkan telinganya ke sisi wajah Aisha, namun wajah Altezza masih menunjukkan sikap dingin dan kesalnya.


"Aku mencintaimu suamiku, terimakasih sudah menjagaku dengan baik" bisik Aisha.



Dengan cepat Altezza menguasai dirinya saat Aisha menyebut dirinya suami, meskipun sederhana namun itu jarang sekali Aisha ucapkan untuk dirinya. Altezza pun hanya tersenyum tipis tetapi percayalah di dalam hatinya ia benar-benar ingin melahap Aisha saat itu pula, namun ia harus bersikap gentle agar Aisha terus merayunya dengan lebih manja.


"Licik sekali" ucap Aisha dalam hati.


"Lupakan, tapi aku benar-benar mencintai pria yang ada di sampingku ini" ucap Aisha dalam hati, ia pun meraih wajah Altezza dan langsung mencium pipi Altezza. Sontak membuat Altezza luluh lantak seketika, ia pun menoleh ke arah Aisha dengan tatapan matanya yang menajam.


Aisha pun hanya tersenyum manja dan memeluk lengan Altezza dan langsung menyandarkan kepalanya di atas pundak Altezza, Altezza yang melihat ekspresi kelembutan Aisha saat itu pun ikut menyandarkan kepalanya di atas kepala Aisha, meskipun masih dengan sifat arogannya yang bossy itu.


"Huft... Akhirnya, memang hanya nona yang bisa melakukan itu" ucap Leon dalam hati dengan lega.


Di sisi lain,


"Ma, apa kakak ipar tadi kesini?" Ucap Alex tiba-tiba saat baru datang dan membuka pintu ruangan khusus di toko milik mama Hani.


"Tidak. Tapi boni memberikan itu pada mama tadi, katanya dari Altezza untukmu" ucap mama Hani dan menunjuk ke arah sebuah paper bag di atas sofa.


"Oh" ucap Alex, ia pun bergegas pergi ke arah paper bag.


"Kalau begitu, Alex pulang ma" ucap Alex kemudian setelah mengambil paper bag.


"Eh? Baiklah" ucap mama Hani, Alex pun mencium tangan mama Hani dan langsung bergegas pergi meninggalkan mama Hani seorang diri.


"Anak itu, kenapa tidak seperti biasanya ya?" Gumam mama Hani yang merasa janggal akan tingkah Alex akhir-akhir ini.


"Sejak dari London dan ketemu dengan Altezza mereka seperti ada sesuatu" ucap mama Hani dalam hati.


"Ah, lupakan. Sampai mana tadi ya, ah jadi lupa kan" gumam mama Hani saat ia kembali mengecek catatan buku miliknya.


Beberapa saat kemudian, dimana Altezza yang sudah membawa pergi Aisha ke sebuah restoran mewah di kota Jakarta.


"Besok aku akan mengirim seseorang kerumah" ucap Altezza.


"Untuk apa?" Selidik Aisha.


"Pindah rumah" ucap Altezza.


"Apa?" Ucap Aisha yang hampir saja tersedak.


"Altezza, kamu jangan..."


"Habiskan dulu makananmu, tanyakan itu nanti" sela Altezza.


"Maksud kamu?" Aisha sedikit kesal.


"Istriku, apa kamu mau aku melakukan sesuatu padamu di sini?" Ucap Altezza dengan sengaja.


"Kamu" kesal Aisha, ia pun mengalah dan menurut dan menanti saat dimana ia dapat menghujani Altezza dengan banyak pertanyaan dan segala ocehannya.


"Awas saja nanti" ucap Aisha dalam hati, ia pun melahap makanannya dengan kesal.


Sedangkan Altezza hanya menahan tawa saat melihat Aisha merasa kesal, karena bagi Altezza itu sangatlah memggemaskan ketika Aisha kesal dan merajuk. Hingga beberapa saat kemudian setelah mereka selesai menyantap hidangan, Altezza pun berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Aisha untuk beranjak pergi, Aisha pun menurut dan langsung meraih tangan Altezza sebelum dirinya benar-benar menghujani Altezza dengan segala ocehannya.


"Sekarang katakan, maksud kamu pindah rumah tadi apa?" ucap Aisha setelah mereka sudah berada di dalam mobil.


"Maksudnya ya, pindah dari rumah lama ke rumah baru" ucap Altezza dengan sengaja.


"Altezza..." Ucap Aisha sedikit kesal.


"Setelah menikah, aku akan memberitahu mu. Sekarang, katakan kamu mau kemana?" ucap Altezza dan meraih kepala Aisha untuk di sandarkan kedalam dadanya.


"Kenapa aku tidak boleh tahu sekarang?" Ucap Aisha tak terima.


"Karena itu merupakan salah satu syaratnya, kamu mau kemana sayang?" Ucap Altezza denga memanjakan Aisha.


"Terserahlah" ucap Aisha yang sedikit kesal.


"Aisha..." Ucap Altezza sedikit menekan.


"Yah, baiklah baiklah aku akan menurut. Kalau begitu tuan muda yang arogan, kamu ingin membawa ku kemana?" Ucap Aisha kemudian yang akhirnya mengalah dan bersikap sedikit manja.


"Jika kamu tidak bisa menentukan akan pergi kemana, biar aku yang menentukannya" ucap Altezza.


"Baiklah, tuan" ucap Aisha yang sengaja seperti wanita manja dan penurut.


"Leon, FS hotel" perintah Altezza kemudian kepada Leon yang masih mengemudia.


"Siap" ucap Leon.


"Hotel? Altezza, kamu..." Pikiran Aisha menjadi jauh.


"Apa yang kamu pikirkan, aku hanya ingin menemui rekan bisnis di sana" sela Altezza dan mengacak-acak rambut Aisha dengan lembut.


"Tapi tunggu, kenapa akhir-akhir ini istriku jika mendengar kata hotel pikirannya menjadi jauh? Apa istriku begitu mesum padaku?" Goda Altezza.


"M-mana ada, kamu jangan sembarangan" Aisha pun kelabakan.


"Lalu kenapa wajahmu memerah?" Goda Altezza.


"Tidak ada!" Ucap Aisha membela diri.


"Kenapa membela diri?" Ucap Altezza yang masih menggoda.


"Aku tidak membela diri" ucap Aisha.


"Berarti kamu memang mengakuinya" ucap Altezza yang merasa menang.


"Tidak, tidak. Kamu menjebakku!" Aisha terus membela diri.


"Sudahlah akui saja, aku juga sudah lama berpikiran mesum padamu. Bagaimana kalau kita mencobanya..."


"Altezza!!" Sela Aisha dengan teriakan, bahkan ia langsung menjauh dan melindungi tubuhnya dari Altezza.


"Hehe, aku hanya bercanda, ayo kemari" ucap Altezza dan memberi isyarat agar Aisha mendekat.


"Tidak" Aisha langsung menolak.


"Hehe, dasar bos begitu blak-blakan" tawa Leon dalam hati, apalagi ia tahu betul bagaimana Altezza yang sama-sama seorang lelaki, Leon sangat memahami jika bosnya sudah lama menahannya untuk Aisha.


"Apa yang kamu takutkan? Bukankah kita juga sebentar lagi akan menikah?" Ucap Altezza.


Deg, Aisha yang mendengar ucapan itu pun merasa sedikit bersalah dan malu, karena faktanya Altezza memanglah calon suaminya.


"Yah, aku tahu. Tapi tolong perhatikan kata-kata mu itu, meskipun aku mencintaimu aku tidak akan pernah....." Tiba-tiba Aisha berhenti dan tak meneruskan ucapannya.