
Dalam perjalanan itu, Altezza sudah tidak sabar lagi untuk segera bertemu dengan kekasihnya itu, Aisha. Altezza menatap lekat wajah Aisha yang ada di layar ponsel miliknya itu, ia terus memikirkan tentang Aisha yang kini entah sedang apa, tapi yang pasti Altezza akan segera datang untuk menemui kekasihnya itu, memeluknya dan melepaskan kerinduan yang ada.
Tak lama kemudian, perjalanan itu telah Altezza lewati. Ia dengan mantap melangkahkan kakinya secepat mungkin. Altezza melirik jam tangan yang melekat di tangan kirinya itu, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Dengan langkah yang pasti, Altezza sudah sampai pada sebuah mobil yang telah menunggunya. Dengan sigap Leon membukakan pintu itu, Altezza segera masuk. Begitu di susul Leon, dan kemudian mobil itu pun berjalan dengan cepat meninggalkan bandara.
"Bos, apa kita akan langsung bergegas menuju rumah?" Ucap seorang sopir pribadi Altezza, yang juga merupakan anak buah Altezza.
"Iya, nona kalian sudah pasti sudah pulang ke rumah" ucap Altezza.
"Baik, bos" ucap sang sopir dengan mantap.
Mobil itu pun melaju dengan cepatnya, Altezza semakin tak sabar untuk segera memberi kejutan kepada Aisha. Ia pun membuka sebuah kotak berwarna hitam dengan aksen variasi gold, Altezza tersenyum melihat kalung yang sudah ia pilih.
"Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya. Aisha, bersabarlah, menanti waktu itu" ucap Altezza dalam hati.
Altezza kembali menutupnya dan memasukkannya kembali kedalam saku celananya. Tanpa terasa, mobil sudah tiba di halaman villa miliknya itu. Terlihat, paman Albert, paman Edo dan juga bibi Lin tengah menungguinya. Altezza kemudian turun dan begitu pula di sambut oleh mereka yang tengah menunggunya.
"Selamat datang kembali, tuan muda Altezza" salam mereka kepada tuannya.
"Dimana, nona kalian?" Ucap Altezza.
"Tuan, nona sedang mandi. Baru saja ia kembali dari kampusnya" ucap bibi Lin.
Altezza langsung bergegas pergi menuju kamar utama, dimana Aisha berada. Setibanya di depan pintu, Altezza membukanya dengan perlahan dan melihat kedalam, ternyata ia tak mendapati Aisha didalam sana. Namun, Altezza teringat sesuatu, ia pun kembali menutup pintu dan melangkah pergi.
Tak lama kemudian, Aisha telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono handuk berwarna putih. Ia berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Setelah kering, Aisha berencana untuk mengganti baju, tetapi ponsel Aisha berdering di atas meja dekat sofa, ia pun segera mengambilnya.
"Missed call?" Gumam Aisha.
"Eh? Ada pesan masuk?" Gumam Aisha, ketika melihat ada beberapa pesan masuk.
"Altezza? Tumben dia ngirim pesan" gumam Aisha, ia pun membuka pesan itu.
Pesan itu berisi,
'sayang, jika selesai mandi. Datanglah ke balkon utama, aku menunggumu disana'
Sontak, membuat Aisha kaget, haru, senang sekaligus gembira. Ia tak percaya, jika Altezza telah pulang. Aisha yang juga sudah menahan rindu itu pun tak segan-segan untuk melangkah pergi, untuk memastikan sekaligus berharap, bahwa Altezza benar-benar pulang.
"Altezza..." Gumam Aisha dengan mata yang berbinar dan gejolak dalam dirinya, ia menutup pintu dengan buru-buru dan memandang ke arah depan, dimana balkon utama berada.
Aisha berlari kecil agar segera sampai untuk menemui Altezza, ia sudah menahan rindu. Ia mencintai Altezza, tak ingin berpisah dan ingin bersama-sama kembali.
"Altezza, kamu pulang?" Gumam Aisha dalam hati, matanya berbinar ketika dirinya sudah mendekati balkon utama.
Tirai putih nan tipis itu terlihat melayang-layang di terpa angin malam, lampu disana nampak kurang terang seperti biasanya, bahkan Altezza pun seperti tak nampak ada disana. Aisha merasa kecewa karena ia merasa, Altezza tengah membohonginya. Namun, Aisha ingin memastikannya sekali lagi dan lebih dekat lagi, di balik tirai itu nampak siluit sosok seorang pria.
"Tak salah lagi, dia Altezzaku" gumam Aisha dalam hati. Ia pun mencoba untuk memanggil nama Altezza.
"Altezza...?" Panggil Aisha dengan hati yang berdebar.
Sosok itu pun membalikkan tubuhnya, Altezza yang berdiri gagah di sana dan tersenyum kepada Aisha, matanya pun menyorot tajam, seoalah-olah mengatakan, kemarilah sayang. Sontak membuat Aisha tak mampu menahan diri, air matanya hampir keluar karena rasa haru dan bahagia, ia pun tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kakinya gemetar, seakan-akan ia tak mampu untuk melangkah.
"Tidak. Ini bukan waktunya, dia memang lelaki ku, dia Altezzaku" ucap Aisha dalam hati, ia pun mengusap air matanya dan berlari kepada Altezza.
"Altezza..." Lirih Aisha, ia pun langsung menubruk tubuh Altezza dan memeluknya disana. Tanpa terasa, Aisha menitikkan air mata.
"Altezza, kamu pulang?" Ucap Aisha dengan suara berat lantaran ia tengah menahan tangis.
"Aku pulang, sayang" ucap Altezza, Aisha pun kembali memeluknya dengan erat.
"Altezza, aku senang kamu pulang" ucap Aisha.
"Sayang..." Panggil Altezza denga lembut, namun sepertinya Aisha masih enggan untuk melepaskan pelukannya. Altezza hanya mengalah dan membiarkan kekasihnya itu memeluknya, sebab dirinya juga merindukannya.
Setelah Aisha puas memeluk Altezza, Aisha pun mendongakkan kepalanya dan menatap lekat wajah Altezza, terlihat Altezza tengah menyambutnya dengan senyuman dan tatapan kasih sayang.
"Ada apa dengan air matamu, sayang? Bukankah aku sudah kembali untukmu?" Ucap Altezza.
"Aku, aku hanya senang kamu pulang. Tapi kenapa kamu tak memberitahuku sebelumnya?" Rengek Aisha.
"Jika aku memberi kabar, bagaimana aku bisa tahu seberapa kamu merindukanku" ucap Altezza
Ia pun berlutut dihadapan Aisha dengan satu kaki ditekuk di depan. Layaknya seseorang yang tengah menyatakan cinta, Altezza pun mengeluarkan sebuah kotak hitam yang ia pegang sebelumnya dan membukanya dan menyodorkan di hadapan Aisha. Terlihat wajah Aisha begitu senang, haru, dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia bahagia bukan lantaran berlian yang nampak menyilaukan, melainkan Altezza yang tengah menyatakan sesuatu kepadanya.
"Aisha. Mau kah kamu membelinya? Ini rancangan khusus dari London untuk kamu" ucap Altezza.
"Apa?" Wajah, Aisha yang awalnya ceria, kini seketika cemberut dan kecewa.
"Hehe. Maksud aku...ehem..." Ucap Altezza, kali ini ia terlihat lebih serius.
"Aisha... Mau kah kamu menjadi satu-satunya wanita untukku? Sejak kini, nanti, esok dan selamanya" ucap Altezza begitu tegas tanpa ada keraguan sedikitpun. Seketika, membuat Aisha luluh.
"Altezza, kamu sedang menjual apa sedang menyatakan?" Ucap Aisha, ia ragu jika Altezza kembali bercanda.
"Tidak, Aisha. Aku serius. Maukah kamu menjadi istriku?" Ucap Altezza kemudian dengan mantap.
"Hemmm, tapi aku kan masih kuliah Altezza. Yah, meskipun tinggal beberapa bulan sih" ucap Aisha dengan pura-pura mempertimbangkan, tetapi dalam dirinya begitu ingin meledak dan bilang, iya aku mau. Bahkan jantungnya berdetak begitu hebat.
"Ya aku tahu, tapi kita bisa menikah setelah kamu lulus. Bagaimana? Kaki ku keram nih" ucap Altezza.
"Hehe, baiklah. Aku mau" ucap Aisha dengan wajah bahagianya.
Altezza pun berdiri, ia mengambil kalung itu dan kemudian memaikan kalung itu di leher Aisha. Sejurus kemudian Altezza, mencium kening Aisha dan memeluknya. Kini perasaan Altezza semakin lega, langkah demi langkah ia sudah lalui, sedikit lagi Altezza dapat melampaui itu semua.
"Aisha..." Panggil Altezza begitu lembut, Aisha pun mendongakkan kepalanya dan menatap lekat mata Altezza.
"Aku mencintaimu..." ucap Altezza kemudian, ia pun mencium bibir Aisha, seketika itu pula. Kembang api bermunculan begitu meriahnya di langit malam.
"Aku juga mencintaimu, Altezza" ucap Aisha dengan mantap, ketika Altezza melepaskan ciumannya.
Altezza tersenyum dan kembali menciumnya dengan lembut dan hangat, sedangkan langit itu masih meriah dengan kerlap kerlip kembang api yang begitu indah dan memprsona. Setelah mereka berciuman, Aisha merangkul manja Altezza dan memandang kembang api di langit.
"Altezza. Malam ini mengingatkanku akan malam yang pernah dulu kamu lakukan untukku. Terima kasih Altezza" ucap Aisha.
"Sayang. Malam itu yang aku ingat hanyalah bagimana aku menciummu, apa itu yang kamu maksud?" Ucap Altezza dengan entengnya.
"Altezza..." Ucap Aisha, ia pun mencubit tubuh Altezza.
"Auu.. sakit, sayang" ucap Altezza yang pura-pura sakit.
"Nona Aisha... Nona Aisha" suara teriakan dari bawah, tepat di sisi balkon. Suara teriakan itu tak asing bagi Aisha.
Aisha yang mendengar itu pun langsung berjalan menepi sisi balkon, begitu juga di susul oleh Altezza. Dan benar saja, di bawah terlihat jelas Lala dan Lulu tengah memainkan kembang api kecil di tangannya, sembari melambaikan tangan kepada Aisha. Tak hanya itu, di halaman sisi balkon itu ada sebuah pesta kecil-kecilan, bahkan di sana ada Sally, Leon, bibi Lin, paman Albert, paman Edo, Lala dan Lulu, dan juga beberapa anak buah Altezza.
"Nona Aisha, ayo turun. Kita pesta barbeque sekarang" teriak Lala.
"Oke, aku akan segera turun" sahut Aisha.
"Altezza, apa ini rencanamu?" Ucap Aisha dan menoleh ke arah Altezza.
"Hemmm. Apa ada pria lain yang merencanakannya untukmu, sayang?" Ucap Altezza.
"Hehe, terima kasih Altezza" ucap Aisha dengan manja, ia pun memeluk lengan Altezza dengan manjanya.
"Sayang..." Panggil Altezza.
"Iya?" Altezza langsung mencium mesra bibir Aisha di hadapan para saksi yang ada di bawahnya.
"O ow, Lulu aku tidak melihatnya" ucap Lala, ia pun menutup matanya meskipun masih ada sela untuk melihat.
"Bodoh, kamu masih bisa melihatnya" protes Lulu, lantaran melihat cara Lala menutup matanya.
"Yah, anak muda jaman sekarang" batin paman Albert.
"Dasar si bos, selalu saja membuat jiwa kejombloanku meronta" keluh Leon dalam hati.
"Oh, tidak. A, apa yang telah aku lihat?" Gumam Sally dalam hati, wajahnya memerah. Ia pun mengalihkan pandangannya, namun sialnya ia menoleh dan tanpa sengaja menatap Leon. Seketika, wajah mereka memerah dan langsung menoleh ke arah lain.
"Ehem..." Suara dehem Leon, lantaran ia merasa canggung.