Just Married

Just Married
episode 82: Perasaan Seorang Ibu



Aisha menyusul Altezza yang masih terlihat berjalan menuju kamarnya, dengan berlari Aisha menghampiri Altezza yang hampir membuka pintu itu.


"Aisha?" Ucap Altezza, ketika menyadari Aisha tengah berlari mengarahnya.


Brukk... Aisha langsung menubruk tubuh kekar Altezza dan memeluknya disana. Entah kenapa, Aisha terlihat sangat senang.


"Ada apa, sayang?" Ucap Altezza dan membalas pelukan Aisha.


"Altezza, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu" ucap Aisha, lantaran ia telah mendapatkan restu dari ibunda Altezza.


Altezza hanya mengerutkan alisnya, dan berfikir ada apa dengan Aisha. Altezza pun membuka pintu kamarnya, mereka berdua masuk kedalam sana. Karena, Altezza merasa gemas akan tingkah Aisha yang tiba-tiba bersikap manja.


"Sekarang. Katakan, ada apa?" Ucap Altezza, ketika mereka telah sampai pada tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.


"Tebak saja" ucap Aisha dengan senyum manjanya.


"Hemmm... Oh, aku tahu. Pasti..." Altezza langsung mencium Aisha.


"Altezza, bukan itu" rengek Aisha.


"Salah ya? Lalu apa?" Altezza pura-pura tak tahu.


"Mamamu, aku pikir mamamu benar-benar menerimaku" ucap Aisha dengan riang.


"Bukankah, sudah ku katakan. Cuma kamu yang akan menjadi nona mudanya tuan Altezza" ucap Altezza, ia pun memeluk Aisha dan mengecup bibir Aisha.


"Altezza..." Ucap Aisha dengan lembut. Altezza hanya diam dan menatap Aisha.


Dengan lembut Aisha meraih leher Altezza dan menjatuhkan tubuh mereka di atas tempat tidur, Aisha memeluknya disana dan membenamkan wajahnya di dalam dada Altezza, begitu terasa nyaman.


"Sayang. Aku pikir, kamu mau mengajakku untuk membuatkan cucu untuk mama" ucap Altezza.


"Altezza..." Geram Aisha, ia pun mencubit tubuh Altezza.


"Iya, iya. Kita tidur siang" ucap Altezza.


Siang itu pun mereka tertidur pulas di atas ranjang yang nyaman itu, apalagi kehadiran Aisha sangat di terima oleh orang tua Altezza, meskipun Aisha belum tahu dengan papanya Altezza. Akankah sama seperti mamanya atau kebalikan dari mamanya. Entahlah, yang Aisha tahu ia harus menjadi yang terbaik untuk Altezza dan orang tua Altezza, karena Aisha sudah sangat menyayangi Altezza dengan tulus dan sepenuh hatinya.


Di ruangan lain, kamar pribadi ibunda Altezza.


"Liana. Kamu darimana? Kenapa kamu pergi tanpa pamit, bahkan tidak menyambut mama" ucap ibunda Altezza dengan tegas.


"Maaf, ma. Liana salah" ucap Liana yang masih menunduk.


"Liana. Kamu sudah besar, seharusnya kamu tahu adat di rumah ini. Kamu sudah besar Liana"


"Maafkan Liana, ma"


"Baiklah. Kembali ke kamarmu, istirahatlah" perintah ibunda Altezza.


Liana pun beranjak dari pergi dari kamar ibunda Altezza, Liana merasa kesal dan menyalahkan Aisha. Begitu membara dendam yang ia sematkan ke dalam hatinya, apalagi sepertinya orang tua Altezza telah menyerujui hubungan Altezza dengan Aisha, semakin geramlah Liana.


"Dasar orang tua, kayak gak pernah muda saja" umpat Liana, ketika ia sudah sampai di kamarnya.


"Huft. Altezza, aku mebcintaimu. Kenapa kamu tak peduli denganku" rengek Lianan, ia pun menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Hehe, tak apa. Sebentar lagi, aku akan memilki Altezza sepenuhnya. Sayang, aku sudah tidak sabar untuk menantimu" ucap Liana seperti kesetanan.


Sore telah tiba, Aisha membersihan badannya di dalam kamar mandi, sedangkan Altezza tengah pergi ke suatu tempat lantaran ada sesuatu yang harus ia urus. Setelah selesai mandi, Aisha memakai baju dress santai. Setelah itu, Aisha pergi untuk menemui ibunda Altezza, karena sebelumnya Aisha mendapat laporan dari Lala untuk menemani ibunda Altezza di ruang perpustakaan keluarga.


Aisha berjalan dengan di temani Lala yang selalu setia menemaninya, hingga sampailah mereka di ruangan perpustakaan keluarga yang cukup besar. Mata Aisha terperangah akan rak buku dengan susunan buku-buku yang tertata rapi dan elegan. Sungguh membuat mata Aisha terpana dan takjub.


"Sayang. Kemari..." Ucap ibunda Altezza.


Aisha pun kaget dari lamunannya, ia baru menyadari jika disana ada Liana. Aisha tetap bersikap sopan dan lembut kepada ibunda Altezza.


"Sayang, apa kamu sudah mengenal Liana? Adik angkat Altezza?" Ucap ibunda Altezza.


"Sebelumnya, Altezza pernah menceritakan tentang Liana kepada Aisha. Tapi, Aisha belum pernah melihat Liana secara langsung, ma" ucap Aisha.


"Nah, kebetulan. Liana ada di sini, Liana beri salam kepada kakak iparmu" ucap ibunda Altezza.


"Cih. Kakak ipar?" Pekik Liana dlam hati.


Dengan terpaksa, Aisha menyalami Liana dan tersenyum ramah kepada Liana. Sedangkan Liana terlihat jelas senyum yang ia buat, bahkan Liana memeras tangan Aisha. Dan Aisha tak mau kalah, ia pun memeras lebih kuat dan Liana merasakan sakit disana.


"Sepertinya, ada yang tidak beres dengan mereka berdua" batin ibunda Altezza, ia tetap berpura-pura tidak menyadari itu.


"Aisha. Sore ini Altezza sedang keluar, karena ada urusan. Mama juga lagi malas untuk keluar jalan-jalan, mama pikir Aisha sudah harus tahu tentang keluarga Altezza" ucap ibunda Altezza.


"Nah, ini ada beberapa album keluarga kami. Kamu bisa melihatnya dengan mama, sayang" ucap ibunda Altezza, ia pun menggeserkan album foto keluarga Altezza.


"Bolehkah, ma?" Ucap Aisha, sebelum ia membuka album. Karena ia juga penasaran masa kecil Altezza.


"Tentu..."


Aisha pun membuka album foto keluarga Altezza, tetapi yang terlihat di sana hanya ketika Altezza sudah dewasa. Berfoto dengan kedua orang tua, dan kakek dan juga neneknya. Namun, ada satu pria yang membuat Aisha bertanya.


"Ini..." Gumam Aisha dan menujuk seorang pria yang ia belum kenal sama sekali.


"Ini, ini kakaknya Altezza. Sekarang dia sudah menikah dan menetap di indonesia" jelas ibunda Altezza.


"Nyonya. Ada telfon dari tuan besar" ucap seorang pelayan kepada ibunda Altezza.


"Baiklah" ucap sang ibunda Altezza.


"Aisha, jika kamu ingin tahu tentang masa kecil Altezza. Aisha bisa mencarinya di lemari kaca itu, mama keluar sebentar ya" ucap ibunda Altezza, sembari menunjuk sebuah lemari kaca di sudut perpustakaan tepat dibelakang bangku yang cukup besar, seperti bangku untuk bekerja.


"Baik, ma" ucap Aisha.


Ibunda Altezza pun bergegas keluar untuk menerima telfon. Setelah ia sudah tak terlihat dari ruangan itu, Liana beranjak dan berlari menuju lemari kaca, ia bermaksud untuk mengambilnya lebih dulu. Lantaran, Liana tak ingin Aisha melihatnya. Aisha merasa geram, ia pun membiarkan Liana mengambilnya, Aisha berfikir pasti ada album lainnya. Aisha pun tertarik akan sebuah Album berwarna silver dengan sampul penuh tulisan kecil G.A. berwarna emas.


"Bodoh. Mana ada masa kecil Altezza disana" gumam Liana dalam hati.


Aisha pun meraihnya, ia mengambil album itu dan membawanya ketempat duduk sebelumnya. Liana dengan jelas dihadapan Aisha tengah memotret foto Altezza berkali-kali. Aisha hanya mencoba sabar, dan tak terpancing akan ulah Liana.


"Dasar penyihir. Untung nona Aisha sangat sabar" umpat Lala dalam hati.


Aisha membuka Album itu dan membuka setiap lembaran demi lembaran, di dalam album itu ia hanya melihat sosok Altezza yang sudah dewasa, foto itu terkadang dengan kakaknya, terkadang juga dengan papanya.


"Haiss... Cowok semua, ternyata tidak ada masa kecilnya" keluh Aisha dalam hati.


"Hihihi... Rasain kamu" gumam Liana.


"Oh, jadi dia tahu rupanya" batin Aisha.


"Wow... Manis sekali, dari kecil memang sudah tampan" ucap Liana dengan jelas.


Aisha tertegun dengan sebuah foto Altezza disana, ia merasa Altezza tak asing baginya. Aisha terus menatap foto itu, berharap ia tahu. Apa lagi Altezza pernah menyinggungnya yang telah lupa dengannya, Aisha pun membuka lembaran berikutnya, berharap ia menemukan jawabannya.


"Ini..." Gumam, Aisha ketika melihat foto Altezza di suatu tempat tak asing baginya.


"Dihalaman itu, semuanya tuan muda nona" ucap Lala, saat mendengar ucapan Aisha ketika Lala menyadari ada sebuah halaman, foto masa kecil Altezza dan di sampingnya foto Altezza saat beranjak dewasa.


Aisha pun mengingat-ingat wajah itu dan juga tempat yang tak asing bagi Aisha. Namun, tiba-tiba kepala Aisha merasa pusing.


"Nona, nona Aisha kenapa?" Lala merasa cemas, tiba-tiba Aisha menjatuhkan album itu.


"Tidak tahu, tiba-tiba kepalaku pusing" ucap Aisha, dengan memegang kepalanya yang di rasa semakin sakit.


"Alah. Cuma akting" celetuk Liana.


"Nona Aisha, apa sebaiknya kita kembali ke kamar saja?" Ucap Lala dan tak mebghiraukan ucapan Liana.


"Iya, La. Tolong bantu aku" ucap Aisha, wajahnya terlihat pucat, tubuhnya melemah, dan kepalanya pusing. Dalam pikiran Aisha pun seperti ada pecahan-pecahan memori, tetapi pecahan memori itu membuat kepala Aisha semakin pusing.


"Lho, Aisha. Kamu kenapa sayang?" Ibunda Atezza tiba-tiba merasa cemas, ketika melihat Lala tengah membantu Aisha beranjak dari tempat duduk, bahkan wajah Aisha terlihat pucat..


"Tidak tahu, nyonya. Setalah nona melihat foto tuan muda, nona Aisha menjadi pusing" ucap Lala.


"Apa?" Ibunda Altezza pun langsung mengambil album foto.


"Lho? Kenapa album ini ada di sini? Siapa yang menaruhnya?" Gumam ibunda Altezza dalam hati.


"Ma? Itu Altezza umur berapa?" Ucap Aisha, ia merasa ada yang tidak beres. Aisha pun mencoba untuk mengingat-ingat wajah Altezza yang ada di album foto itu.


"Apa kamu benar-benar lupa, sayang?" Selidik ibunda Altezza.


"Lupa?" Ucap Aisha.


"Aaau..." Kepala Aisha semakin pusing, setelah ia mencoba untuk mengingat-ingat siapa Altezza.


Dalam ingatan Aisha, ia hanya teringat akan suara dirinya yang tengah menangis dan memanggil nama Deva, sahabatnya itu. Karena Aisha merasa, Deva tahu itu. Tetapi, kepala Aisha semakin sakit saat ia mencoba untuk mengingatnya.


"Deva..." Ucap Aisha melemah, dan tiba-tiba Aisha terjatuh pingsan.


Sontak membuat Lala sangat cemas dan kewalahan, apalagi ibunda Altezza. Liana hanya menyaksikan itu, ia merasa Aisha hanya tengah berakting. Altezza yang baru datang dan mendengar kabar, jika Aisha jatuh pingsan itu pun berlari panik dan langsung lari untuk segera menghampiri Aisha.


Tanpa pikir panjang, Altezza langsung membopong Aisha dan membawanya di sebuah kamar yang tak jauh dari ruang perpustakaan. Altezza pun menyuruh Leon untuk memanggil dokter pribadinya. Leon dengan sigap melaksanakan perintah Altezza.


"Aisha. Kamu kenapa?" Altezza cemas, ia terus memegang tangan Aisha dan mengusap kening Aisha. Wajah Aisha terlihat pucat dan badannya terasa demam namun mengeluarkan keringat dingin.


"Ma, Aisha kenapa bisa seperti ini?" Ucap Altezza.


"Nak. Mama rasa, Aisha telah melihatmu di sebuah album yang kamu rahasiakan" ucap ibunda Altezza.


"Apa?" Altezza merasa cemas.


"Album rahasia?" Batin Liana.


"Bagaimana bisa?" Umpat Altezza.


"Ma, maaf tuan. Dua minggu yang lalu tuan meletakkan album itu di meja, saya pikir tuan lupa mengembalikannya. Sa, saya hanya membersihkan saja tuan, saya tidak tahu kalau itu album rahasia tuan. Tapi saya tidak membukanya sama sekali tuan" pengakuan seorang pelayan wanita.


Altezza geram, bagaimanapun itu murni kesalahan Altezza yang telah lupa untuk menyimpannya kembali. Ibunda Altezza terus mencemaskan Aisha, sedangkan Altezza terus menggenggam tangan Aisha.


Beberapa menit kemudian, dokter pribadi sudah datang. Ia memeriksa keadaan Aisha, cukup lama setelah memeriksa kondisi Aisha. Altezza pun langsung menanyakan akan keadaan Aisha kepada dokter pribadinya.


"Tuan muda. Sepertinya nona Aisha pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan gegar otak ringan, yang menyebabkan sebagian ingatannya menghilang" jelas dokter.


"Apa?" Altezza merasa geram, ia mengepalkan tangannya.


"Itulah kenapa, kamu tidak mengingatku Aisha?" Gumam Altezza dalam hati.


"Aku akan memberinya obat untuk meringankan rasa sakitnya, nona Aisha hanya perlu istirahat" ucap dokter.


Setelah dokter memberi obat dan menginfus Aisha untuk menunjang tubuhnya, agar tidak semakin melemah dan kehilangan cairan. Altezza meminta semuanya untuk keluar, dan menyuruh dokter untuk tetap standby di luar kamar. Di dalam kamar itu hanya ada Aisha yang masih terbaring lemah dan Altezza yang setia menemani. Ibunda Altezza pergi untuk memberitahu kabar kepada suaminya, sedangkan Lala menangis di luar kamar mencemaskan Aisha.


Tubuh Aisha memberi respon, ia seperti tengah ketakutan. Dalam memori Aisha, ia hanya melihat seorang pria kecil yang terjatuh dan terlihat kesakitan, sedangkan dirinya hanya menangis memeluk pria kecil itu.


"Kenapa dia bisa terjatuh? Apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Aisha di alam bawah sadarnya.


"Sayang..." Altezza mencemaskan Aisha, yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.


Tanpa pikir panjang, Altezza naik di atas ranjang, ia memeluk Aisha supaya Aisha merasa nyaman, seperti sebelumnya jika Aisha mengalami mimpi buruk, Aisha akan merasa tenang jika Altezza memeluknya.


Sedangkan dalam diri Aisha, ia terus bergulat dengan memorinya yang hilang. Aisha hanya melihat seseorang yang terjatuh dan kesakitan, ia hanya melihat dirinya yang menangis dan menangis. Hanya itu yang terus terngiang-ngiang dalam memorinya.


"Dia... Siapa dia?" Ucap Aisha dibawah alam kesadaran Aisha. Sedangkan Altezza, terus memeluk kekasihnya itu dan mencium kening Aisha, berharap Aisha cepat sadar.


Sedangkan di Indonesia, di kediaman mama Hani.


"Aisha..." Teriak mama Hani, di tengah malam saat dirinya tengah bermimpi buruk tentang Aisha.


Alex yang mendengar teriakan mamanya pun langsung berlari menemui mamanya.


"Mama. Mama mimpi buruk?" Ucap Alex, ketika sudah membuka pintu.


"Alex?" Ucap mama Hani, perasaanya merasa tak tenang. Ia pun langsung memeluk Alex dan menangis di sana.


"Ma?"


"Aisha, kakakmu Lex. Lex, cepat telfon kakakmu, di sana pasti masih siang, cepat telfon kakakmu" perintah mama Hani tidak sabar.


"Ma, jam segini kakak masih sibuk kuliah" ucap Alex.


"Telfon saja, Alex. Cepat" ucap mama Hani.


Alex, pun menuruti perintah mamanya, Alex mencoba untuk menelfon kakaknya. Beberapa kali tidak ada jawaban, dan membuat mama Hani semakin gusar dan cemas. Alex terus mencoba untuk menelfon, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.


"Ma, kakak sibuk dengan kuliahnya. Tenanglah ma, itu kan hanya mimpi" ucap Alex, untuk menenangkan mamanya.


"Tapi, Alex...."


"Mama. Alex sudah pernah menelfon kakak waktu itu. Kakak tidak mengangkatnya, tapi setelah pagi, kakak menelfon Alex, dan kakak marah-marah. Katanya, ponsel kakak menggaggu jam belajarnya" celetuk Alex, meskipun ia tengah berbohong tak pernah menelfon kakaknya disaat ia tidur.


"Apa benar itu, Alex?" Ucap mama Hani, rasa cemasnya sedikit berkurang.


"Iya, ma. Sebaiknya mama cepat kembali tidur. Alex tidak mau, besok mama bangun kesiangan lagi" ucap Alex.


Mama hani pun menuruti ucapan Alex, sedangkan Alex duduk menemani mamanya. Mama Hani tahu, Alex hanya mengawasinya jika ia tak dapat tidur. Dengan perasaan cemas dan khawatir akan Aisha, mama Hani hanya mampu berdo'a dalam hatinya.