Just Married

Just Married
episode 59: Kesedihan



Aisha benar-benar tak berkutik, sedangkan beberapa pria itu sudah semakin mendekatinya. Aisha hanya mampu memberontak semampunya, Aisha pun berteriak meminta tolong sekencang-kencangnya.


Brakkk...


Suara dobrakan pintu itu sangat keras, sontak membuat beberapa pria yang mendekati Aisha terhenti dan menoleh ke arah pintu, begitu juga Aisha. Anehnya yang datang itu rombongan, dalam sekejap beberapa pria yang hampir mencelakai Aisha pun dapat dibekuk dalam hitungan detik. Seseorang pria maju dan melepaskan jaketnya untuk menutupi tubuh Aisha yang bajunya terlihat robek. Pria itu hendak menggendong Aisha, namun Aisha menolaknya, lantaran ia teringat akan Sally.


"Sally, dimana Sally?" Aisha sangat mencemaskan Sally, bahkan dengan linangan air mata Aisha berlari untuk mencari Sally.


"Nona, tenanglah. Teman nona sudah aman bersama kami" ucap salah seorang pria.


"Dimana? Dimana Sally?" Ucap Aisha yang sudah tak sabar.


"Menuju mobil, nona. Sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini, karena tempat ini akan segera di hancurkan" tandas seroang pria.


"Mari nona" ucap salah seorang pria berbadan tinggi dan kekar.


Aisha melangkah cepat untuk menemui sahabatnya itu. Aisha terus menangis, ia takut jika sudah terjadi apa-apa dengan Sally. Beberapa rombongan pun mengawal Aisha tanpa celah sedikitpun. Langkah Aisha terasa semakin berat, ketika ia telah hampir mendekati sebuah mobil, dengan beberapa kawalan yang tengah berdiri tegap dengan wajah yang serius. Benar saja, di dalam sanalah Sally berada.


Langkah kaki Aisha semakin pelan, ia tak kuasa lantaran ia sangat mencemaskan Sally dan takut, sangat takut. Karena sebelumnya, Aisha mendengar teriakan Sally begitu keras.


"Sally..." Lirih Aisha, ia tak mampu untuk meneruskan langkahnya.


Sally yang melihat Aisha tengah menangis itu langsung membuka pintu dan keluar dengan langkah yang terlunta-lunta.


"Aisha" panggil Sally, ia berlarian kecil menghampiri Aisha.


Asiah melihat wajah Sally begitu memar datang menghampirinya. Mereka pun saling berpelukan, tumpahlah air mata mereka berdua. Dengan ketakutan yang sama, apa lagi ini baru pertama kali menimpa Sally.


"Nona, sebaiknya kita cepat meninggalkan tempat ini" sela seorang pria, lantaran tempat itu cukup berbahaya.


Aisha buru-buru masuk kedalam mobil dengan Sally. Setelah itu, mobil mereka melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, tempat itu pun meledak dan hancur sehancur-hancurnya.


Aisha yang melihat ledakan itu, merasa bersyukur meskipun air matanya tak mampu untuk berhenti. Aisha terus memeluk Sally, lantaran Sally terlihat seperti ketakutan. Aisha tahu bagaimana rasanya dalam kondisi itu, bahkan Aisha sudah keberapa kali mengalami nasib seperti itu, namun beruntung. Berulang kali Aisha terselamatkan.


"Nona, minumlah. Supaya nona bisa merasa jauh lebih tenang" ucap seorang pria yang duduk di depan sembari menyerahkan minuman botol kepada Aisha.


"Terima kasih" ucap Aisha.


"Sally, minumlah dulu" ucap Aisha penuh dengan perhatian.


Sally langsung meraih minuman botol itu, ia langsung meminumnya dengan cepat. Bahkan langsung habis, Aisha melihat Sally merasa terhunus hatinya.


"Sally, apa kamu mau lagi?" Ucap Aisha.


"Hausku sudah hilang, Aisha. Sebaiknya kamu yang minum" ucap Sally.


"Tak apa, jika kamu mau meminumnya" ucap Aisha.


"Nona, ini masih ada minuman lagi" ucap pria itu sembari mengulurkan minuman botol.


"Sally..." Ucap Aisha dan menyerahkan minuman botol itu.


Sally menerima minuman botol itu dari tangan Aisha, kemudian mereka diam tanpa kata sepanjang perjalanan. Aisha ingin bertanya namun ia tahan, takut jika melukai hati Sally. Sedangkan Aisha sendiri juga trauma akan kejadian itu. Aisha memandang ke arah luar, untuk sejenak menghibur diri dengan memandang luar. Ia hanya mencoba untuk tegar, yang terlintas dalam benaknya, alangkah tenangnya jika Altezza hadir disana untuk menyelamatkannya atau untuk menenangkannya, tetapi itu tak mungkin lantaran Altezza sudah berada jauh dari sana. Tetapi Aisha sadar, jika Sally lebih membutuhkan dirinyanya.


Perjalanan itu cukup memakan waktu yang lama, hingga tibalah mobil itu berhenti tepat di depan rumah besar, yang tak lain ialah villa milik Altezza. Seorang pria pun segera turun dan membukakan pintu untuk Aisha. Kagetnya Aisha, ternyata ada beberapa banyak mobil yang telah mengaraknya. Mungkin ada sepuluh lebih, Aisha langsung menuntun Sally untuk masuk ke dalam rumah.


Terlihat bibi Lin, juga Lala dan Lulu terlihat sangat cemas kepada Aisha dan juga Sally. Bibi Lin langsung menghampiri Aisha, sedangkan Lala dan Lulu menghampiri Sally dan menuntunnya masuk kedalam.


"Paman Edo, sedang menyelesaikan masalah di suatu tempat nona. Maafkan kami, jika gerakan kami lambat" ucap bibi Lin.


"Bibi Lin, biarkan aku sendiri. Bibi, bisakah Aisha minta tolong?"


"Silahkan nona"


"Bibi, tolong siapkan makanan ringan dan juga minuman untuk mereka semua. Setelah selesai, bibi tolong bawakan Aisha lemon tea"


"Baik, nona" bibi Lin pun melangkah pergi meninggalkan Aisha seorang diri.


Aisha melangkah menaiki tangga dengan perasaan yang entah bagaimana rasanya, intinya sulit untuk di ungkapkan. Setelah ia mulai mendekati pintu kamar utama, tiba-tiba air mata Aisha berjatuhan begitu derasnya. Ia merasa berat, bahkan rindu itu ikut berpartisipasi dalam dirinya yang kacau. Baru saja Aisha mulai terbiasa akan keadaan itu, tetapi kondisi telah berkata lain. Aisha membuka pintu dengan perlahan, yang ia temui hanyalah ruangan kosong, tidak ada yang mampu untuk menenangkan dirinya. Aisha berjalan menghampiri ranjang berselimut putih bersih. Aisha terduduk lemas di sana, ia memeluk bantal yang biasa Altezza gunakan. Asiha hanya membayangkan, jika bantal itu merupakan Altezza.


Aisha terus menangis sesenggukan, hingga cukup lama ia menumpahkan rasa kesedihan itu. Hatinya belum sepenuhnya merasa puas, belum sepenuhnya menjadi ringan.


Tok tok tok...


Pintu itu terbuka, bibi Lin masuk dengan membawa lemon tea dan bubur hangat untuk Aisha. Namun, ketika bibi Lin melihat wajah sembab Aisha, bibi Lin merasa sangat terpukul sekaligus iba kepada Aisha.


"Nona..."


"Biarkan aku sendiri, bibi Lin" ucap Aisha.


"Tapi nona..."


"Tolong..."


"Baiklah. Tapi nona harus makan" ucap bibi Lin. Ia pun menaruh nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas lemon tea, diatas meja dekat sofa.


Bibi Lin keluar dengan berat hati, sebelum bibi Lin menutup pintu ia menghembuskan dengan nafas yang berat, dan akhirnya bibi Lin menutup pintu dan meninggalkan Aisha kembali seorang diri di dalam kamar itu.


"Bibi Lin, bagaimana nona?' ucap Lala begitu cemasnya, ketika melihat bibi Lin masih berada didepan pintu kamar Aisha.


"Sebaiknya jangan di ganggu dulu, nona telah meminta waktu untuk menyendiri" ucap bibi Lin.


"Yah..." Lala merasa khawatir akan kondisi Aisha, yang pasti membutuhkan seseorang.


"Andaikan tuan muda ada disini" gumam Lala dengan lesu.


"Bagaimana dengan teman nona?" Ucap bibi Lin.


"Lumayan bi, Lulu masih menemaninya. Karena kak Sally memintaku untuk menemani nona. Makanya Lala kesini, semoga nona tidak apa-apa" ucap Lala.


Bibi Lin dan juga Lala pun pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Aisha di dalam sana, ia mencoba untuk bangkit. Ia ingin segera membersihkan diri dari tangan kotor yang telah menyentuhnya. Aisha begitu membencinya, meskipun hanya sebatas menyentuh dagu Aisha dan sama sekali belum menyentuh yang lain, Aisha sudah merasa jijik.


Aisha mengguyuri badannya dengan air hangat, dan itu cukup membuat dirinya rileks. Meskipun masih ada air mata disana. Kemudian Aisha masuk kedalam bathtub untuk berendam, hingga cukup lama Aisha berendam di sana, ia pun mulai merasa dingin di tubuhnya. Dengan segera ia meraih handuk untuk mengeringkan badannya, kemudian ia memakai kimono handuk yang cukup tebal. Aisha melangkah dengan berat, ia pun duduk didepan meja rias, untuk mengeringkan rambutnya. Ia melihat dirinya di dalam cermin dengan wajah sedihnya, ia hanya mampu menunduk lemah di sana dan mengacuhkan wajahnya yang terpantul ke dalam cermin.


Setelah kering, Aisha melihat sajian yang telah disajikan oleh bibi Lin. Aisha sudah kehilangan nafsu untuk makan, bahkan hanya sekedar untuk minum. Ia nampak lemah dengan segalanya, Aisha berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali mengingat Altezza, Aisha kembali menangis dengan memeluk guling dan bertumpu di bantal Altezza. Aisha menghayalkan, seolah-olah Altezza tengah memeluknya.


Dengan deraian air mata, Aisha menenggelamkan wajahnya. Ia terus menangis, hingga terlelap dalam kesedihan. Bibi Lin datang kembali untuk mengecek nonanya itu. Ketika bibi Lin melihat makanan dan minuman itu masih utuh bahkan audah menjadi dingin, bibi Lin merasa kasihan kepada Aisha. Bibi Lin hanya cemas, jika nonanya akan jatuh sakit setelah mengalami kejadian itu, jika tak mau makan sedikitpun.


Bibi Lin melangkah dengan perlahan mendekati Aisha, tanpa terasa bibi Lin menitikkan air matanya. Dengan segera bibi Lin menyeka air matanya, ia pun menyelimuti tubuh Aisha dengan perlahan. Begitu nampak wajah sedih Aisha, bahkan wajah Aisha terlihat sembab.


Bibi Lin segera pergi dari kamar Aisha, tak lupa bibi Lin mengambil makanan dan minuman itu dan akan segera menggantinya yang baru, jika Aisha sudah bangun.


Dikamar lain, Sally yang sudah tertidur pulas dengan di temani Lala dan Lulu. Bibi Lin membangunkan Lala, dan mengajak Lala untuk berjaga di luar, jika Aisha membutuhkan sesuatu di saat bangun. Rupanya, di rumah itu masih di kawal oleh rombongan tadi, karena tempat yang ia hancurkan merupakan tempat markas geng mafia. Mereka hanya berjaga-jaga disana, sebelum paman Edo kembali dengan membawa kabar yang memuaskan.