
New York University,
"Tidak terasa, sudah lima bulan sejak kejadian itu. Aku rasa, sampai sekarang aman-aman saja. Hah, hidup kita sudah terasa tenang" ucap Sally, ketika tengah mengobrol dengan Aisha di kantin.
"Aku jadi puas, beberapa hari kejadian itu. Semua terungkap berkat Altezza, aku tak menyangka Hilda serendah itu. Apa lagi Marry yang ternyata juga salah satu simpanan pria tua yang kebetulan sugar daddy nya Amy. Ih, memalukan" ucap Sally, namun Aisha tetap diam.
"Hahhh... Kita bisa jadi lebih bebas, iya kan Aisha?" Seru Sally.
"Aisha?" Panggil Sally, lantaran Aisha sedari tadi hanya diam dan memandang ponsel yang ada di genggamannya.
"Aisha?!??" Panggil Sally, kali itu cukup mengagetkan Aisha.
"Eh, iya? Ada apa Sally?" Aisha gelagapan.
"Jadi. Dari tadi kamu tidak mendengarkanku?" Ucap Sally.
"Hehe, maaf"
"Kamu, lagi kenapa sih Sha? Dari tadi diam saja, ada apa dengan ponsel kamu?" Selidik Sally.
"Hemmm... Haahhhh... Lagi sebal saja, sama laki-laki tidak peka" keluh Aisha.
"Tunggu. Maksud kamu Altezza?"
"Siapa lagi kalau bukan pria bodoh itu?"
"Ada apa, ada apa? Sini cerita" ucap Sally, mulai siap untuk mendengarkan.
"Sejak kejadian itu, sampai sekarang. Dia sama sekali belum menjengukku"
"Sudah tahu alasannya kenapa?"
"Sibuk..."
"Hemmm... Lalu?"
"Masalahnya..."
"Kangen" sela Sally.
"Yaaa, ya gitu lah. Ah, Sally. Kau tahu, sudah dua minggu ini dia sama sekali belum memberi kabar, pesan aku gak di balas. Telfon pun gak di angkat. Sampai sekarang pun, gak ada kabar. Padahal sudah aku spam" keluh Aisha.
"Apa sebelumnya sudah memberi kabar?" Ucao Sally.
"Yah, katanya dekat ini akan sangat sibuk" ucap Aisha.
"Hemmm... Aisha, aku rasa saat ini kamu dalam fase, dimana rindu itu sangat berlebihan. Wajar sih, merindukan seseorang yang kita cintai sebegitu rindunya" jelas Sally.
"Tapi..."
"Sudahlah, kan sebelumnya sudah di kasih kabar kalau dekat-dekat ini akan sangat sibuk, percaya sama dia. Sebaiknya kita pergi ke suatu tempat" ajak Sally.
"Hemp. Awas saja kalau pulang nanti, aku tidak akan bicara dengannya" ucap Aisha dengan perasaan kesal.
"Hahaha... Sudah ayok" Sally sudah berdiri dan menarik tangan Aisha.
"Kemana?"
"Suatu tempat untuk mengubah suasana hati yang sedang galau" seru Sally.
"Kamu menyindirku?" Wajah Aisha nampak cemberut.
"Haha, wajah kamu lucu juga kalau lagi cemberut. Hehe, maafkan aku deh" ucap Sally dengan sabarnya.
"Belikan aku es krim coklat dua" ucap Aisha dengan cemberut.
"Hemmm... Iya iya, mau sepuasnya juga tak masalah. Asal bayarnya sama uang kamu saja. Hahaha"
"Mana boleh, kan aku minta di belikan"
"Jangan sebut namanya"
"Iya iya, gitu saja marah"
"Biarin"
"Ya ampun, sensitif amat. Ayo lah" ajak Sally.
Sally pun menggandeng Aisha, dan mengajaknya pergi ke suatu tempat yang entah dimana. Sally masih merahasiakannya, meskipun hari begitu sudah sore. Tetapi jalanan kota masih tetaplah ramai, apalagi suasana malam. Kota itu tak akan pernah tidur.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Sally mengajak Aisha untuk naik sebuah gedung berlantai tiga. Mereka menaiki tangga demi tangga untuk sampai atap. Setibanya di sana, pemandangan itu cukup menakjubkan. Di tambah suasana langin malam menyisakan senja, dengan gugusan bintang dan rembulan. Dengan lampu-lampu kota, dengan pohon-pohon yang mulai menggelap lantaran tiada cahaya.
Seketika, Aisha mengingat akan suatu tempat dimana Altezza pernah membawanya di atap. Dengan sigap Aisha menghilangkan kenangan itu dari pikirannya, lantatan ia masih kesal dengan Altezza. Aisha melihat Sally mendekat balkon dan berdiri menikmati hembusan angin. Aisha pun mengiluti gerakan Sally, memang cukup menenangkan bagi Aisha.
"Aisha. Kamu boleh mengeluarkannya disini" seru Sally.
Aisha nampak malu, ia tahu maksud Sally. Aisha pun memejamkan mata dan perlahan berbaur dengan angin malam. Dan seketika...
"Altezza..... Aku benci kamu ...." Teriakan Aisha sudah terucap dengan keras. Bahkan dengan perasaan cukup melegakan.
"Aaaaa...." Gantian Sally yang menjerit. Sally menoleh ke arah Aisha, Aisha pun mengangguk.
"Aaaaaa....aaaaaa...." Mereka pun sama-sama berteriak.
"Ahahha... Sally, ini memang ampuh. Tapi bagaimana kalau ada yang mendengar?" Seru Aisha.
"Tidak akan, gedung ini setiap malam kosong. Jarak kepadatan dari penduduk pun cukup jauh, di tambah suara kita berbaur dengan angin. Kalaupun mereka mendengar, sudah pasti akan masa bodoh dari mana asalnya suara itu" ucap Sally.
"Hemm... Sally, sebaiknya kita cari makan saja yuk" ajak Aisha kemudian.
"Boleh"
Molekul yang tersimpan dalam dirinya, merupakan rasa yang tak mampu untuk di jelaskan, namun dengan teriakan sudah cukup melegakan untuk melepaskan molekul-molekul itu. Entah perasaan sedih, marah, galau, bahkan rasa sepwrti putus asa. Akan terbayar dengan teriakan.
Mereka berjalan menuruni tangga dengan suka cita, kini wajah Aisha pun tak lagi cemberut. Ia mulai bercerita seputar dunia kampus yang melekahkan, kejahilan teman-teman, bahakan kejadian-kejadian yang tak terduga.
Malam itu, mereka habiskan sebagian waktu untuk menyenangkan diri. Bangku dari pinggiran jalanan kota, dengan berbagai hiburan malam yang tersedia. Aisha dan juga Sally, tengah menikmati makan malam, street food yang cukup mengesankan itu.
Dengan bertukar cerita sembari melahap makanan, membuat mereka lupa akan beban-beban yang ada di pundaknya. Namun sepertinya tidak dengan Sally.
"Sally" panggil seorang pria yang langsung mendekati Sally.
"Glen? Ngapain kamu kesini?" Sally nampak tak senang, mungkin inilah beban Sally.
"Sally, aku benar-benar menyesal. Tolonglah aku, Sally. Maafkan aku" ucap Glen memohon.
"Lepasin tangan aku. Kamu sudah gila ya, datang-datang langsung narik-narik tangan orang" ucap Sally sedikit marah.
"Sally, aku mohon. Kita balikan ya, Hilda perempuan ular. Aku menyesal Sally, kamu memang yabmng terbaik Sally"
"Ih, apa-apaan ini. Benar-benar tidak tahu malu" batin Aisha.
"Kamu. Kamu pasti tunangannya tuan Altezza, mohon tolong aku nona" ucap Glen.
"Cukup!! Glen, sebaiknya kamu pergi" hardik Sally.
"Sally, aku mohon. Keluargaku bangkrut, Hilda juga telah menipuku, hidupku hancur Sally" keluh Glen dengan tidak sabar.
"Aku bilang lergi" tegas Sally.
"Sally..."
"Pergi!!!" Teriak Sally.
Seketika Glen menelan ludah, ia merasa Sally begitu semena-mena dengan dirinya. Dalam diri Glen ada percikan api kemarahan, ia pun pergi dengan wajah menyimpan amarah. Seandainya Sally, bukanlah perempuan. Sudah pasti Glen akan menghajarnya.
"Sally, kau yang telah membuatku menderita. Suatu saat, pasti akan ku balas perbuatanmu itu" gumam Glen yang sudah cukup jauh dari Dlly dan Aisha, bahkan dengan kepalan tangan menahan amarah.