Just Married

Just Married
episode 75: Canggung



Kejar-kejaran itu terus berlangsung, Glen yang begitu gila tak mau menyerah. Entah apa yang telah merasuki dirinya, rupanya ia masih memiliki golongan hitam di sekitarnya. Sally semakin panik di buatnya dengan adegan itu, sedangkan Leon masih diam tegas dan garang menegemudi mobil. Jalanan raya berubah menjadi jalanan liar, Leon telah mendapatkan intrupsi dari Altezza untuk kembali ke basecamp Glen. Karena di sana anak buahnya telah siap untuk bertarung.


"Haha, bodoh. Mereka memasuki kawasan kita" seru Glen dengan tawa gila.


Mereka tertawa riang di dalam mobil, Glen pun merencanakan untuk menghabisi komplotan Leon, setelah itu ia akan menjelajahi Sally, lantaran ia begitu marah kepada Sally.


Leon memasuki kawasan basecamp Glen di sana, para komplotan Glen pun langsung di hadang dengan pasukan anak buah Altezza. Kegaduhan suara pistol dari komplotan Glen semakin menggila, Sally semakin ketakutan. Di siang hari itu, sungguh hal tak terduga. Begitu secara terang-terangan, tanpa memandang bulu. Glen benar-benar gila.


Leon membanting setir dan membelokkan mobil dengan sigap kemudian terhenti di sana, Leon pun mengambil sarung tangan dan langsung menggunakam sarung tangan itu, setelah itu Leon mengeluarkan pistol dari laci mobil, Sally yang melihat itu pun kaget bukan main. Leon hanya memberi isyarat untuk tetap tenang dan membuka kaca pintu mobil yang tepat di sampingnya itu. Leon telah siap dan langsung mengarahkan pistol itu ke arah Glen dari kejauhan, Leon berkonsentrasi tinggi untuk menepatkan sasaran musuh. Dan, pelatuk itu telah siap Leon hantamkan.


Dorrr.... Peluru timah itu pun meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi, dan menancap tepat di kaki kanan Glen. Glen pun langsung tersungkur kesakitan, para anak buah Glen langsung mengelilingi Glen untuk melindungi, namun Leon bukanlah orang yang langsung mengampuni. Leon langsung mendaratkan pelurunya di beberapa kaki anak buah Glen. Dan akhirnya Glen dan para komplotannya dapat di lumpuhkan, Leon langsung menancap gas mobil untuk meninggalkan basecamp itu. Tak lama kemudian, basecamp itu pun hancur di sertai suara ledakan untuk merobohkan bangunan. Seakan-akan untuk mengelabuhi, jika pada lokasi itu terjadi penghancuran bangunan tua untuk suatu proyek.


"Sisanya, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan" ucap Leon melalui earphone yang masih melekat di telinganya.


Leon terus menancap gas mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum polisi akan datang, wajah Leon begitu terlihat serius. Baru kali itu Sally melihat wajah Leon yang begitu garangnya, dengan keberanian Sally ia mencoba untuk berbicara kepada Leon.


"Le, Leon? Lukamu" ucap Sally.


"Bagaimana denganmu? Apa kamu masih takut?" Ucap Leon.


"Sedikit" ucap Sally dengan ragu.


Suara sirene mobil polisi pun terdengar dari arah yang berlawanan, Leon dengan santai melewati beberapa mobil polisi. Rupanya Leon sudah memprediksinya, mobil-mobil polisi sudah terlihat jauh. Kini Leon telah sampai pada jembatan jalan raya, Leon kembali membuka kaca pintu mobil dan melempar jauh pistol kedalam dasar sungai. Leon kembali menutup kaca pintu mobil.


Leon pun menggigit sarung tangan yang masih melekat di tangannya. Ia tengah melepaskan sarung tangan itu, Sally yang melirik itu ingin membantunya. Tetapi tatapan Leon begitu masih nampak menyeramkan.


"Kita akan kembali ke rumah nona" ucap Leon.


"Ha? Kenapa?" Sally tak mengerti.


"Dokter Meisha sudah menunggumu di sana, lagi pula keadaan di apartemenmu masih dalam penyelidikan. Belum saatnya kamu kembali" tandas Leon.


"Baiklah" ucap Sally dengan pasrah.


Mobil itu pun melaju dengan cepatnya, di dalam mobil itu pun mereka hanya diam tanpa kata. Bukankah semalam Leon sudah bersikap lembut terhadapnya, kenapa hari ini Leon begitu dingin dan menyeramkan. Entahlah, tiada yang tahu bagaimana jalan pikir seorang pria.


Sedangkan di Villa, kediaman Altezza, di Manhattan.


"Altezza? Apa yang telah terjadi? Dan Sally? Ada apa dengannya? Sebenarnya ada apa?" Ucap Aisha, ia terlihat cemas saat Altezza masih belum bercerita, di tambah lagi kedatangan seorang dokter perempuan muda di rumahnya.


"Sayang. Tenanglah, sebentar lagi Sally akan datang kemari" ucap Altezza, ia pun meraih Aisha dan memangkunya sembari menatap layar monitor.


"Altezza. Apa kamu akan diam menyembunyikan dariku?" Ucap Aisha merasa sebal dan ingin marah.


"Baiklah. Jika aku bercerita, apa yang akan kamu hadiahkan padaku?" Ucap Altezza.


"Altezza!!" Aisha marah.


"Iya iya, aku akan cerita" Altezza mulai memeluk erat tubuh Aisha.


"Sally di culik Glen sejak tadi malam, tetapi Leon sudah berhasil menyelematkannya" ucap Altezza.


"Apa??" Aisha kaget bukan main.


"Sayang. Aku sudah cerita, lalu apa hadiahnya?" Ucap Altezza, ia pun mulai bersikap manja.


"Altezza, lepaskan. Tak sebaiknya kita begini, jika keadaan belum stabil" Aisha hanya merasa tak seharusnya ua tersenyum bahagia di atas penderitaan sahabatnya.


"Iya, iya..." Altezza pun menutup laptopnya.


Altezza fokus dengan Aisha yang mulai gelisah, ingin marah, ia tahu bagaimana sikap Aisha saat itu. Altezza pun meraih dagu Aisha untuk menenangkannya.


"Tuan, nona. Nona Sally sudah datang" suara Lala di balik pintu luar perpustakaan pribadi terdengar cukup jelas.


Aisha yang mendengar itu pun terperanjat turun dari pangkuan Altezza, ia buru-buru untuk segera menemui Sally. Namun Altezza telah menarik tangan Aisha sehingga Aisha jatuh kedalam pelukan Altezza, dengan cepat Altezza mencium Aisha.


"Ingat, jangan terlalu cemas. Berikan mereka ruang untuk berbicara" ucap Altezza.


Aisha tak mengerti dengan ucapan Altezza barusan ia, namun Altezza sudah menggandeng tangan Aisha untuk mengajaknya keluar menemui Sally. Tetapi, perasaan Aisha kini telah kembali stabil lantaran sebelumnya ia sangat mencemaskan Sally. Pantas saja Altezza berusaha mencium Aisha hanya untuk menenangkannya.


Setibanya di ruang tamu, Aisha melihat Sally tengah mengoleskan obat di pipi Leon. Dan kemudian menutup luka itu dengan perban, padahal di sana ada dokter Meisha yang siap untuk membantu merawat luka Leon. Aisha yang melihat itu pun tersenyum geli, ia pun baru menyadari maksud dari ucapan Altezza sebelumnya.


"Kenapa?" Ucap Altezza.


"Tidak. Ku rasa, waktunya kurang tepat untuk datang sekarang" ucap Aisha.


"Tak perlu di sesalkan, kita bisa mengulanginya di sini" ucap Altezza, ia pun langsung menahan tubuh Aisha di tembok dengan tubuhnya.


"A, apa yang kamu lakukan?" Wajah Aisha memerah.


"Ehem... Uhuk.. emgh ehem..."


Terdengar suara seseorang yang tengah batuk seperti di sengaja, terlihat jelas wajah Altezza yang tidak begitu senang di ganggu. Aisha hanya menahan tawa dan merasa malu.


"Tuan dan nona muda. Apa sebaiknya, tuan dan nona kembali ke kamar. Sebab, adegan romantis kalian sangat membuat jiwa kejombloan kami meronta" ucap Lala.


"Hemp. Hahahahaa..." Aisha pun tertawa, lantaran melihat ekspresi wajah Altezza seolah-olah tepat sasaran.


"Lala..." Geram Altezza, ia pun melirik tajam ke arah Lala.


"Maaf,tuan. Iya iya, Lala akan segera pergi. Dan memberikan tuan ruang, silahkan di lanjutkan tuan" ucap Lala, ia pun langsung kabur dengan nampan yang ia bawa untuk para tamu.


"Apa? Masih mau ketawa?" Ucap Altezza terlihat kesal.


Altezza menyandarkan kepalanya di atas pundak Aisha, ia merasa adegan itu gagal. Sisi lain ia malu lantaran di pergoki seorang bocah, di tambah dirinya dirinya masih ingin bermanja dengan Aisha. Altezza pun bangkit dan mengalah, Aisha pun berjalan untuk menemui Sally di sana. Begitu Altezza wajahnya begitu berubah dingin membuntuti Aisha.


"Sally..." Panggil Aisha.


"Aisha?" Wajah Sally terlihat senang ketika melihat Aisha.


Aisha pun memeluk Aisha, sebenarnya dirinya masih memiliki rasa takut tentang kejadian yang ia alami. Pertunjukan yang gila begitu nyata ia lihat. Andai ia masih tertidur pulas karena bius, bagaimana yang akan terjadi? Mungkin Leon akan terkena tembakan lebih parah lagi.


"Tak apa, Sally. Yang penting kalian sudah selamat" ucap Aisha dengan lembut.


"Ehm, maaf nona. Biarkan nona Sally saya periksa dulu" sela dokter Meisha.


"Ah, baiklah" ucap Aisha.


Dokter Meisha pun memeriksa keadaan Sally, lantaran Sally terlihat cukup pucat. Sedangkan Aisha duduk di samping Altezza dengan melihat dokter Meisha yang tengah memeriksa kondisi Sally.


Tak lama kemudian, dokter Meisha telah selesai memeriksa tubuh Sally. Dokter Meisya pun memberikan suplemen dan vitamin untuk memulihkan kondisi tubuh Sally. Dokter Meisha pun pamit undur diri untuk pulang, paman Edo di perintahkan oleh Altezza untuk mengantarnya pulang. Setelah itu, bibi Lin datang untuk memberitahukan. Jika makanan sudah siap sepenuhnya, Altezza berjalan lebih dulu kemudian Aisha mengikutinya dengan menggandeng sahabatnya itu. Begitu disusul Leon dan yang lainnya.


Siang itu acara makan besar, karena ia tahu. Sudah pasti Sally sudah kehabisan banyak tenaga, ditambah ia belum makan dan harus memulihakan kondisi tubuhnya. Setibanya di ruang makan, Sally berinsiatif untuk melayani Leon lantaran ia merasa harus balas budi. Tetapi Leon tak tega lantaran kondisi Sally masih lemah, apalagi ia pasti syok akan kejadian yang menimpanya.


"Ehem... Ehm.." suara deheman Lala kembali mencuat, begitu besar nyalinya ketika melihat pemandangan Leon yang tengah menolak dan malah melayanai Sally.


Sontak membuat mereka merasa canggung dan berdiam seperti tidak terjadi sesuatu darinya. Aisha yang melihat itu pun hanya menahan senyum sembari melayani Altezza untuk mempersiapkan makanan di atas piring untuk Altezza. Sedangkan Lala dan Lulu sudah pasti salung lempar senyum melihat adegan itu.


Drrrtt.... Drtt... Ponsel Altezza bergetar, tanda ada panggilan masuk. Altezza mengecek ponselnya, saat ia melihat nama yang tertera dalam ponsel itu. Raut wajah Altezza, seketika muram dan langsung menutup telfonnya. Bahkan tak segan Altezza menonaktifkan ponselnya.