Just Married

Just Married
episode 93: Pesta Dan Kejutan



Kediaman keluarga Abraham, kota London. Pukul sembilan belas lebih sepuluh menit.


"Abraham, semakin tua semakin tampan saja kamu" ucap seorang pria yang seumuran dengan papa Abraham.


"Haha, bisa saja kamu. Bagaimana perusahaan?"


"Berkat anak bungsu mu, semua berjalan dengan lancar" puji pria itu.


"Ah, bisa saja kamu. Terlalu memuji, haha"


"Ngomong-ngomong, anak bungsumu apa sudah ada calon?" Bisik pria paruh baya itu dekat di telinga papa Abraham.


"Hehe, soal itu. Silahkan tanya pada orangnya saja, itu orangnya ada di sana" seru papa Abraham.


"Altezza" panggil papa Abraham kepafa Altezza, saat Altezza menoleh papa Abraham langsung melambaikan tangannya agar Altezza datang kemari.


"Ada apa, pa?" Ucap Altezza, ketika sudah berada di dekat papa Abraham.


"Selamat malam tuan muda" salam seorang pria yang masih bersama papa Abraham sebelumnya.


"Oh, tuan Wilton. Selamat malam, selamat datang di kediaman kami tuan" ucap Altezza dan memberi salam.


"Haha, kamu terlalu sopan anak muda" ucap pria itu yang bernama Wilton.


"Oh tuan muda, aku lihat anda masih sendirian malam ini. Apakah..." Selidik Wilton.


"Terimakasih tuan, sebelumnya saya minta maaf karena terlambat memberikan kabar bahagia jika saya sudah menemukan calon istri yang paling saya cintai" tandas Altezza.


"Haha, iya iya. Boleh aku bertanya, siapa gadis yang sudah beruntung mendapatkan anak muda sepertimu?"


"Untuk itu, anda akan mengetahuinya segera" ucap Altezza dengan sopan.


"Altezza..." Panggil mama Via dan mendekati Altezza.


"Nyonya Abraham, apa kabar? Tak ku sangka beberapa tahun ini nyonya semakin cantik saja" Ucap Wilton saat melihat mama Via ikut berbaur di sana.


"Dasar pria rubah tua, bukannya semakin tua semakin baik malah menjadi-jadi" umpat mama Via dalam hati.


"Lancang sekali, rupanya tidak mudah jadi papa" ucap Altezza dalam hati.


"Wilton sialan, mencoba merayu istri orang" batin papa Abraham.


"Oh, anda..." Mama Via pura-pura tidak ingat.


"Wilton, nyonya"


"Oh, anda tuan Wilton. Oh ya Altezza, acara akan segera di mulai cepatlah kamu susul Aisha. Di ruangan seperti biasanya" ucap mama Via begitu acuh dan langsung menyuruh Altezza pergi untuk menyusul Aisha.


"Baik, ma. Mari tuan..." Ucap Altezza undur diri.


"Oh ya, saya masih ada sesuatu yang harus di urus. Silahkan tuan Wilton menikmati hidangannya dan silahkan kalian mengobrol kembali" ucap mama Via dan bergegas pergi.


"Hai pak tua, aku rasa anda sudah bosan hidup ya?" ucap papa Abraham pelan dan sedikit menekan.


"Hahaha, aku hanya bercanda tuan Abraham. Tapi ngomong-ngomong istriku juga tak kalah cantik, bagaimana kalau..."


"Pak tua, otakku masih suci dan akalku masih tersegel normal. Aku berharap anda cepat sadar sebelum neraka menelanmu" sela papa Abraham.


"Hahaha, iya ya aku tahu. Aku hanya bercanda" ucap Wilton dengan tawa renyahnya itu.


Di sisi lain.


Tok tok tok, ceklek. Altezza langsung menerobos masuk kedalam ruangan dimana ruangan itu Aisha berada.


"A, Altezza???" Aisha kaget bukan kepalang, lantaran ia tengah mencari sesuatu yang Lindsey katakan sebelumnya.


"Ya Tuhan. Pemandangan apa ini, kenapa Aisha malam ini, benar-benar sangat... Menggoda" keluh Altezza dalam hati, wajahnya memerah dan pandangannya seketika buyar saat melihat Aisha yang sudah berbalut gaun indah dan mempesona, di tambah sentuhan make-up mampu membuat merubah dirinya menjadi gadis paling cantik malam ini.


Tentunya Altezza terpesona akan kecantikan Aisha malam itu, tetapi di sisi lain ia tergoda akan kemolekan tubuh Aisha yang berisi dan sintal, bahkan Altezza baru menyadari jika Aisha malam itu terlihat sangatlah menggoda apalagi dengan volume besar yang terpancar indah dan menyihir mata Altezza. Gaun mewah namun sedikit sensual dan melekuk membentuk tubuh indah Aisha, benar-benar membuat memaksa Altezza bekerja lebih keras untuk membangun pertahanan diri.


"Altezza. Apa yang kamu lihat..." Ucap Aisha, dan menyilangkan tangan untuk menutupi dadanya.


Glek, Altezza menelan ludahnya.


"Sial. Ini pasti ulah mama " ucap Altezza dalam hati, ia pun berjalan mendekati Aisha meskipun wajahnya masih merona dan suhu tubuhnya pun ikut naik turun, sedangkan Aisha sedikit takut jika Altezza melakukan sesuatu kepadanya, apalagi pandangan mata Altezza sebelumnya tentu Aisha tahu mengarah kemana.


"A, Altezza. A,apa yang akan kamu lakukan?" Ucap Aisha dengan gugup, sedangkan Altezza tetap diam dan acuh.


"A, Altezza" Aisha sedikit gemetar dan gerogi, tetapi jantungnya berdetak kencang tak menentu bahkan wajahnya ikut merona.


Saat Aisha terpentok dengan meja rias, Altezza semakin mendekat bahkan Aisha masih tetap berusaha menutupi dadanya, tetapi Altezza begitu dekat dan semakin dekat. Aisha pun langsung menutup matanya, namun selang beberapa detik Aisha tak merasakan apa-apa.


"Kamu sedang apa memejamkan mata?" Ucap Altezza dengan sengaja.


"A, aku. Ti, tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Altezza, cepat menyingkir dariku" ucap Aisha dan mendorong Altezza, tetapi karena Altezza yang licik, ia sengaja menarik tangan Aisha. Tentu saja Aisha terjatuh ke dalam pelukan Altezza.


"A, apa??? Ini... Dekat sekali, rasanya..." Suara jeritan hati Altezza yang mencoba untuk melawan pertahanan Altezza saat tanpa sengaja Altezza melihat jelas keindahan bahkan merasakan sesuatu yang mengganjal namun terasa nyaman di sana.


"Ahh... Altezza, apa yang kamu lihat" Aisha yang menyadari itu dan langsung melepaskan diri dan menjauh dari Altezza.


"Sial. Ini benar-benar membuat konsentrasiku menurun" batin Altezza.


"Jika aku tidak boleh melihatnya, lalu siapa yang boleh melihatnya?" Ucap Altezza.


"Cepat kemari" perintah Altezza.


"Ma, mau apa?"


"Apa kamu mau membiarkan pria lain melihatnya? Jika tidak, maka cepatlah kemari" ucap Altezza, Aisha baru menyadari jika di tangan Altezza sudah menggenggam sesuatu benda putih yang panjang dan berbulu lembut.


Aisha dengan ragu berjalan menghampiri Altezza, saat itu pula Altezza membantu Aisha untuk menutupi sebuah keindahan yang bukan milik pria manapun.


"Dari mana kamu mendapatkannya? Sedari tadi aku mencarinya tidak ketemu" ucap Aisha yang sudah sedikit merasa nyaman.


"Di meja tadi, saat kamu memejamkan mata" ucap Altezza.


"Heh... Jangan sindir soal itu" Aisha membuang muka.


"Siapa yang menyindir?"


"Baguslah, kalau tidak" Aisha terlihat sedikit cemberut.


"Tapi Aisha...." Tiba-tiba Altezza meraih tubuh Aisha dan mendekapnya dengan satu tangannya, sedangkan tangan kanannya mulai mengangkat dagu Aisha dan bibirnya mulai mencium bibir Aisha.


Brakkk...


"Hoi, Altezza!" Tiba-tiba sosok seorang pria muncul dan membuka pintu dengan kerasnya, sontak membuat Aisha dan juga Altezza kaget bukan main bahkan Aisha langsung mendorong dan menjaga jarak dari Altezza. Sedangkan Altezza kesal bukan main, wajahnya datar tak berekspesi dan menoleh kearah pintu yang sudah terbuka lebar itu untuk melihat sosok pengganggu yang telah mengganggunya.


"Waduh. Sepertinya timingnya kurang tepat" gumam pria itu yang langsung membuang muka, bahkan pria itu berpura-pura tertarik melihat lukisan dengan wajah polosnya.


"Gavinnn.... Kau..." Altezza mulai geram dan mengepalkan tangannya sembari meghirup nafas kuat-kuat.


"Gavin?" Gumam Aisha dalam hati, seketika ia lemas dan wajahnya memerah padam.


"Maaf, maaf. Kalau begitu silahkan di lanjutkan kembali" ucap Gavin dan buru-buru menutup pintunya kembali.


"Oh tidak, aku melihatnya. Adik iparku, pasti hal ini akan menjadi sangat canggung. Oh sial, dasar mama" suara jeritan hati gavin.


"Vin? Kamu kenapa? Lalu dimana Altezza dan calon adik ipar?" Ucap seorang wanita cantik nan anggun dengan seorang anak perempuan kecil yang sudah berusia sekitar tiga tahun. Wanita itu adalah istri Gavin, Dathu namanya.


"Ah, tidak ada apa-apa. Ayo, sebaiknya kita jangan ganggu mereka dulu" ucap Gavin dan segera membawa istri dan anaknya menjauh dari ruangan itu.


Beberapa saat kemudian, di aula utama sudah mulai ramai dengan tamu-tamu yang sudah ikut hadir di sana, ada yang sedang menikmati hidangan, ada pula yang sedang berbaur dengan yang lain ada juga yang memanfaatkan untuk sekedar temu kangen dalam acara itu. Seperti pada sebuah tempat di salah satu sisi Aula, terlihat ada beberapa gadis remaja yang tengah bercanda ria.


"Indah sekali gaun mu, Liana. Ngomong-ngomong, bagaimana rencanamu?" Ucap seorang wanita yang merupakan teman Liana.


"Tentu, malam ini adalah waktunya bermain" ucap Liana dengan senyum liciknya.


"Hahaha, aku tahu aku tahu. Tapi aku sungguh iri padamu, nanti jangan lupa ceritakan kepada kami ya" ucap salah satu teman Liana.


"Sedetail mungkin, aku juga ingin tahu kehebatan tuan muda Altezza. Uhh, aku tidak bisa membayangkannya" timpal teman Liana yang lainnya.


"Dasar bodoh. Hentikan membayangkannya, karena hanya aku yang akan menikmatinya, kalian cukup jadi pendengar saja" ucap Liana dengan senangnya.


"Aku sungguh iri"


"Bukankah semalam kamu sudah bersama si pria bodoh itu?" Ucap Liana.


"Jangan ingatkan lagi, aku sudah menyesalinya. Dia benar-benar bodoh"


"Hahaha, tenang. Di luar sana masih ada banyak sekali pria yang lebih bagus" ucap Liana.


"Iya. Tapi ku rasa, tidak ada yang semenarik seperti tuan muda. Tapi Liana, aku sungguh iri padamu. Malam ini kamu begitu terlihat cantik, kulitmu begitu mulus, bahkan dengan gaun yang mewah ini kamu benar-benar begitu mempesona" puji teman Liana.


"Tentu, siapa dulu dong. Liana" ucap Liana berbangga diri.


"Eh, ada apa itu. Kenapa semua orang menuju ke arah anak tangga? Apa acara utamanya sudah di mulai?" Ucap salah seorang teman liana, saat menyadari semua orang mulai berbondong-bondong menuju ke tengah aula dan mulai menghadap anak tangga.


Rupanya, di sana ada sosok seorang wanita cantik nan anggun yang tengah merangkul lengan seorang pria gagah yang tampan dan rupawan, merekalah Aisha dan juga Altezza. Semua terkagum akan pesona kecantikan yang Aisha miliki, dengan melihat tubuh Aisha yang berbalut gaun itu pun dapat melihat keistimewaan Aisha. Yaitu memiliki tubuh yang indah dan sempurna.


"Sial. ****** itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian" hardik Liana dalam hati, tangannya pun mengepal erat.


"Ya Tuhan. I,itu, itu saingan kamu Liana?" Ucap salah seorang teman Liana sedikit gagap.


"Kenapa?" Liana mulai merasa tidak senang.


"Tapi, dia... Dia sungguh cantik dan tubuhnya juga terlihat sempurna" ucap salah seorang teman Liana yang terkagum akan pesona Asiha.


"Diam bodoh, apa kamu cari mati?" Bisik salah seorang teman Liana.


"Wah ternyata calon istri tuan muda Altezza benar-benar cantik, aku sungguh iri" bisik-bisik para tamu.


"Iya, aku rasa itu sepadan dengan tuan muda"


"Sungguh pasangan yang serasi" bisik-bisik para tamu.


Liana yang mendengar bisik-bisik itu pun merasa panas dan ingin sekali marah kemudian mencabik-cabik Aisha, namun ia tahan karena ia ingat akan rencananya yang sudah ia atur matang-matang.


"Hah. Silahkan kamu tertawa, nanti kita lihat siapa yang akan tertawa pada akhirnya" ucap Liana dalam hati.


"Vin, itu benar adeknya Ares?" Ucap istri Gavin yang mencoba untuk memastikan.


"Iya, dia putri om Amon, Adiknya Ares. Aku sendiri tidak menyangka, Aisha sudah tumbuh dewasa dan bocah bodoh itu sudah berhasil meraih cintanya" ucap Gavin dengan senyum bangga.


"Cantik sekali, ya sepadan lah sama Altezza. Sama-sama cantik dan tampan" puji istri Gavin.


"Seperti kita ya, sayang" ucap Gavin yang percaya diri itu.


"Huuu, kamu itu masih tidak berubah kalau masalah beginian" ucap istri Gavin.


"Ayah, apa Arsya boleh ikut dengan paman, ayah?" Ucap anak Gavin, dengan nada khas anak perempuan kecil.


"Boleh. Tapi Arsya, apa ayah boleh minta tolong pada Arsya?" ucap Gavin dengan rencana yang terlintas dalam pikirannya.


"Tentu ayah" ucap Arsya.


Gavin pun mulai membisiki telinga Arsya, entah apa yang akan di rencanakan Gavin. Arsya pun hanya tertawa geli namun terlihat gemas, berbeda dengan istri Gavin yang mulai curiga dan sedikit was-was akan rencana Gavin.


"Sudah siap?" Ucap Gavin. Arsya pun hanya mengangguk gemas.


"Baiklah" Gavin pun menurunkan Arsya dari gendongannya, kemudian Gavin meminta orang-orang untuk memberi jalan kepada Arsya menuju Altezza.


"Eh, anak kecil ini lucu sekali" bisik-bisik beberapa orang yang saat memberi jalan untuk Arsya.


Arsya berjalan dengan gemasnya dan terus menuju ke arah Altezza dan juga Aisha, Arsya pun berlari kecil untuk segera mendekati Altezza.


"Papa..." Seru Arsya yang cukup keras dan berlarian ke arah altezza.


"Arsya?" Altezza kaget saat Arsya memanggilnya papa.


Sontak membuat beberapa orang tertawa karena tahu itu adalah cucu pertama di jeluaega Abraham dari Gavin, sedangkan yang lainnya mulai ingin tahu siapa anak kecil itu.


Di sisi lain, Aisha juga kaget dan sedikit lemas bahkan dirinya mulai melepaskan rangkulannya dari lengan Altezza, tetapi Altezza menahannya. Tetapi, terlihat cukup jelas Aisha shock saat melihat ada seorang anak kecil menuju ke arah Altezza dan memanggil papa.


"Hemp. Hahaha... Hahahaha... Anak pintar. Lihat, bagaimana reaksi Aisha" ucap gavin dengan sedikit menekan tawanya agar tak terdengar begitu keras.


"Kamu ini, bercandanya kelawatan. Kan kasihan Aisha, dasar bodoh" ucap istri Gavin dan mencubit perut Gavin.


"Aduh, duh. Sakit mi, sudah dong. Percayalah, Altezza bisa mengatasinya" ucap Gavin.


"Papa. Arsya kangen sama papa" ucap Arsya dan mencium pipi Altezza , saat Arsya sudah berada dalam gendongan Altezza namun tangan kiri Altezza tetap menggenggam erat tangan Aisha, agar Aisha tetap berada di sisinya dan tidak pergi ataupun mencoba untuk menjauh darinya.


Meskipun Aisha sudah jelas merasakan sakit, namun ia berrtahan tentunya karena dalam sebuah acara yang mama Via buat, ia mencoba untuk tetap tegar dan bersikap seprofesional mungkin. Di sisi lain pun beberapa tamu undangan yang belum tahu tentang Arsya mulai merasa gemas dengan tingkah Arsya dan berhasil menggiring opini.


"Arsya, apa Arsya mau es krim?" Ucap Altezza dengan sabar, namun tangan kirinya tetap menggenggam erat tangan Aisha dan memberi isyarat untuk mendengar kejelasannya.


"Tidak"


"Permen?"


"Tidak" Arsya menggelengkan kepalanya dengan gemas.


"Baiklah. Apa Arsya tidak ingin bersama nona cantik ini?" Ucap Altezza begitu lembut san menunjukkan Aisha, tentu membuat Arsya menengok ke arah Aisha, begiru juga Aisha yang langsung mencoba melihat Arsya dan berusaha tersenyum semanis mungkin saat Altezza sedikit menarik tangan Aisha. Arsya pun tersenyum gemas dan riang bahkan membuat Arsya lupa akan rencananya.


"Paman, bibi cantik seperti tuan putri" ucap Arsya yang sudah keluar dari rencana.


"Tentu, Arsya katakan pada paman. Di mana ayahmu?" Ucpa Altezza.


Arsya pun menunjuk kearah depan, dimana Gavin dan juga istrinya berada. Seketika itu pula para tamu menoleh ke arah yang Arsya tunjuk dan membelah jalan dan terlihatlah sosok Gavin dan juga istrinya, Gavin sama sekali tidak merasa bersalah malah melambaikan tangan dengan riangnya sedangkan Dathu istru Gavin mengerucutkan kedua tangannya dan memohon ampun kepada hadirin.


"Itu bukankah Gavin putra pertama tuan Abraham?" Bisik-bisik.


"Oh iya, baru ingat jika tuan Abraham sudah memiliki cucu pertama dari putra pertamanya" bisik-bisik.


"Jadi dia putra pertama tuan Abraham, wah sama-sama tampan ya" bisik-bisik.


"Ayah" panggil Arsya sembari melambaikan tangannya kepada Gavin, dengan tawa riangnya.


"Arsya anak Gavin, percayalah padaku. Gavin hanya mengerjai kita" bisik Altezza dan merangkul pundak Aisha, sedangkan Aisha hanya mampu menuruti apa kata Altezza dan merasa sedikit lega, tetapi adanya kejadian seperti itu membuat Aisha memiliki beberapa perranyaan yang sudah memenuhi pikiran Aisha, yang suatu waktu akan siap untuk di hujankan kepada Altezza.