
Altezza tengah memberikan Leon sebuah tugas yang harus Leon laksanakan, yaitu Leon harus mengurus beberapa anak buah Altezza untuk mengawasi dan menjaga Aisha secara diam-diam, Altezza khawatir jika terjadi suatu hal yang tak terduga kepada Aisha. Lantaran sebelumnya, Aisha di culik oleh seseorang yang kini masih Altezza selidiki secara menyeluruh, namun dugaan itu semakin kuat mengarah pada seseorang yang pernah Aisha temui dalam pesta sebelumnya.
Di sisi lain waktu Altezza di kota Manhattan hanya tinggal satu minggu, sedangkan Altezza juga tak tahu harus bersikap apa kepada Aisha yang kini telah menyuruhnya untuk menjauh. Padahal sebentar lagi, Altezza akan segera kembali ke London untuk menangani perusahaan terbesarnya di kota London.
Lantas, rencana apa yang akan Aisha lakukan untuk menghukum Altezza? Sedangkan waktu Altezza hanya tinggal sedikit lagi, Altezza akan meninggalkan Aisha begitu jauh. Sayangnya lagi, Aisha tak tahu akan hal itu.
Hari demi hari sudah berlalu, bahkan sudah tiga hari ini Aisha tak pernah bertemu dengan Altezza ataupun sebaliknya, Altezza juga tak pernah muncul di hadapan Aisha. Ternyata Altezza benar-benar menepati ucapan Aisha, dan itu mampu membuat Aisha untuk dapat berfikir dengan tenang akan perasaannya yang cukup membingungkan dirinya.
Disisi lain, Aisha juga harus fokus dengan study untuk mebalas dendam kepada Rendra Andara, tetapi perasaannya telah membuatnya bimbang akan muncul seorang pria yang telah hadir dalam kehidupannya. Dengan cara saling berjauhan itu pula, Aisha ingin menguji akan perasaan hatinya. Jika berjauhan tanpa pernah bertemu, apakah Aisha akan merasakan sesuatu yang hilang? Atau perasaan rindu kepada Altezza. Atau malah Aisha masih belum bisa melupakan sosok Gibran Abraham, namun sudah tiga hari itu pun masih belum ada titik terang sedikitpun kepada Aisha.
Tanpa terasa, hari ini merupakan hari ke enam dimana Altezza akan pergi ke London. Bahkan hari itu juga Leon sudah tak menampakkan dirinya dihadapan Aisha maupun Sally. Aisha semakin ragu akan perasaannya itu namun juga ada rasa kesepian tanpa adanya Altezza, Altezza pun masih tidak pernah menampakkan diri dihadapan Aisha. Altezza benar-benar menepati janjinya.
"Maaf, bos. Apa bos yakin, tidak memberi tahu nona Aisha?" Ucap Leon, ia khawatir jika bosnya akan kehilangan Aisha yang sudah lama ia cari.
"Itu tidak perlu" ucap Altezza, namun merasa kangen tak terkendali.
"Tapi, bos..."
"Sudah kubilang, tidak perlu" ucap Altezza tegas.
"Baiklah" ucap Leon.
Cukup lama Altezza berdiam diri didepan jendela apartemen. Dengan wajah datar nan dingin, Altezza dibuat kalut akan perkataan Aisha, namun dalam diri Altezza menahan rasa rindu yang begitu berat.
"Mau sampai kapan kamu akan menghukum ku, Aisha?" gumam Altezza dalam hati, namun setelah itu Altezza pun beranjak dari diamnya.
"Eh, mau kemana bos?" Tanya Leon, saat melihat bosnya mengambil jas dan bergegas pergi.
"Menemuinya" ucap Altezza.
"Ahaha, baiklah" ucap Leon.
"Dasar bos, plin plan" batin Leon, ia pun langsung bergegas menyusul bosnya itu.
Ya, Altezza berencana untuk menemui Aisha, dengan cara menjemput Aisha di kampusnya bersama Leon. Namun saat Altezza sudah sampai didepan kampus Aisha, Altezza menyadari akan sesuatu pemandangan yang sanggup membuat wajah Altezza begitu muram.
Pemandangan itu nampak, Aisha yang sedang mengobrol dengan wajah cerianya dengan seorang pria Altezza yang melihat itu pun memukul pintu mobil cukup keras, Leon yang berada disana pun merasa takut, bahkan suasana begitu berubah mencekam.
"Haduh, kenapa nona malah bersama pria lain. Bos, benar-benar marah" batin Leon, yang sudah merinding itu.
"Jalan" perintah Altezza dengan nada tegasnya.
"Jadi, seperti itu maumu" gumam Altezza, wajahnya sudah semakin muram.
Sedangkan di sisi lain, dengan keadaan yang sebenarnya.
"Aisha, kenapa?" Ucap pria itu yang tak lain ialah Danial.
"Tidak, tidak apa-apa" ucap Aisha.
"Sepertinya, mobil yang barusan tak asing. Apa Altezza? Ah sudahlah" batin Aisha.
"Sha, untukmu" ucap Deva yang sudah datang bersama Sally membawa minuman.
"Makasih... Masih ingat saja kesukaanku" seru Aisha, yang kemudian membuka tutup botol itu untuk minum.
"Tentu" seru Deva.
Mereka berempat, yang merupakan Aisha, Sally, Deva dan juga Danial. Mereka berada di arena depan kampus, mereka nampak mengobrol dan bercerita ria sejenak di sana sebelum mereka pergi ke apartemen, lantaran Danial dan Deva baru saja datang untuk menjemput Aisha dan Sally di kampus. Dan sebenarnya, sebelum Altezza datang dan melihat Aisha hanya bersama Danial. Waktu itu Deva merasa haus dan mengajak Sally untuk di temani membeli beberapa minuman botol di suatu tempat, lantaran Deva melihat wajah Aisha nampak begitu lesu dan kelelahan.
"Oh ya, kalian kapan rencananya mau menikah?" Ucap Aisha kemudian.
"Secepatnya, ya gak Dan?" Ucap Deva kepada Danial.
Deg, Aisha melihat pemandangan itu pun teringat akan Altezza yang pernah lakukan kepadanya saat dirinya terbaring dirumah sakit.
"Sha? Kamu kenapa?" Ucap Deva, saat menyadari Aisha yang tiba-tiba nampak murung.
"Eh, gak kok. Terus, ceritain dong gimana ceritanya Danial bisa melamar kamu" seru Aisha.
"Iya, tuh. Gimana ceritanya?" Timpal Sally penasaran.
"Hehe, jadi begini...." Deva mulai bercerita tentang lamaran Danial.
Lamaran itu terjadi setelah Danial menguji perasaan Deva, yang waktu itu Danial dengan sengaja menanyakan tentang Aisha kepada Deva. Dua hari setelah itu, Danial datang bersama keluarganya dirumah Deva untuk melamar, tanpa pemberitahuan apapun, tanpa rencana apapun. Tak ada persiapan sama sekali, karena Danial ingin memberi kejutan kepada Deva. Aisha sebenarnya sudah mengetahui akan hal itu dari rencana Danial, tapi untuk harinya Aisha belum mengetahui dari Danial. Aisha hanya tahu dari Danial, bahwa Danial akan melamar Deva secepatnya. Dan Aisha baru mengetahuinya, kapan Danial melamar Deva melalui kabar dari Deva saat selesai acara tunangan mereka.
"Akhirnya, mereka resmi bertunangan" gumam Aisha dalam hati, ia merasa bersyukur akan kabar itu, yang berarti Deva tak perlu lagi cemburu kepadanya dan sudah saatnya Aisha harus menjaga jarak dengan Danial demi perasaan Deva, sahabatnya itu.
"Wahhh, rasanya jadi pengen dilamar seorang pria" seru Sally, ia pun membayangkan seorang pangeran.
"Hahaha, dasar Sally" ucap Aisha.
"Oh, iya Sha. Terus mana, cowok yang kamu maksud itu?" Ucap Deva, dengan wajah keingintahuan.
"Iya, Deva selalu bercerita jika kamu sudah mendapatkan calon suami. Bagaimana ceritanya? Bukankah kamu sedang mencari Gibran Abraham, Aisha?" Timpal Danial.
"Ehem, ternyata sudah dianggap calon suami nih ceritanya?" Sindir Sally, karena Sally tahu siapa yang dimaksud si calon suami.
"Sally juga tahu?" Ucap Deva dengan wajah lebih penasaran.
"Tahu dong" ucap Sally dengan bangga.
"Kalau begitu, ceritain dong" seru Deva, yang sudah tak sabar itu.
"Biar Aisha yang bercerita" ucap Sally.
"Emm, anu. Ceritanya panjang, lebih baik kita ke apartemen dulu" ucap Aisha, ia terlihat sedikit tersipu malu.
"Ah, iya. Ke apartemen aja, toh luas dan kalian tahu, apartemen kami itu apartemen kelas atas lho" seru Sally, dengan bangga ia pamer akan tempat tinggal barunya itu.
"Lho? Bukannya apartemen kalian yang ada di..." Ucap Danial terhenti, lantaran di terobos oleh Sally.
"Kami, sudah pindah" seru Sally dan memeluk pundak Aisha.
"Baiklah, ceritakan disana. Ayo" ucap Danial dan berdiri, ia pun meraih tangan Deva untuk menggandengnya.
Aisha dan Sally pun berdiri dan menyusul Danial dan Deva, yang sudah bergegas menuju mobil yang terparkir dibeberapa meter dari keberadaanya.
Perjalanan itu tak begitu lama, meskipun jaraknya lebih dekat apartemen sebelumnya daripada yang sekarang. Namun, mereka tetap menikmati perjalanan itu dengan santai, setibanya di apartemen baru Aisha dan juga sudah hampir sampai pada kamar Aisha, Aisha dikejutkan dengan seorang pria yang tak lain ialah Altezza yang sedang menggandeng tangan seorang wanita cantik. Leon pun juga ada disana tepat dibelakang mereka berdua.
"Kenapa kisah mereka jadi begini?" Batin Leon, saat melihat situasi ketika ada Aisha tepat didepan pandangan Altezza.
"Dasar, Altezza bodoh. Kenapa bersama perempuan lain?" Batin Sally merasa geram dan melirik Leon, Leon hanya menggelengkan kepalanya. Tanda Leon tak ingin ikut campur akan masalah mereka.
Aisha nampak murung dan menundukkan kepala, dan anehnya Aisha merasakan sesuatu didalam hatinya ada sebuah perasaan yang tak nyaman saat melihat Altezza sedang menggandeng perempuan lain.
"Aisha? Bagaimana kabarmu?" Ucap Altezza dengan sengaja, saat mereka sudah berpas-pasan cukup dekat.
"B, baik" ucap Aisha dengan senyum yang ia paksa.
"Baguslah. Ayok sayang, kita pergi" ucap Altezza kepada perempuan itu, dan berlalu meninggal Aisha dengan acuhnya.
Aisha pun seperti terlihat murung, dengan segera Aisha menghampiri pintu dan membukakan pintu untuk segera masuk ke dalam sana. Sedangkan Sally begitu terlihat sedang buru-buru menyusul Aisha. Sedangkan Deva dan juga Danial, hanya menatap satu sama lain, sebagai isyarat apa yang telah terjadi. Buru-buru Deva menyusul Aisha dan juga Sally yang sudah masuk kedalam sana.