Just Married

Just Married
episode 96: Penyesalan



Keesokkan harinya, di London.


Pagi itu, keluarga Abraham tengah mempersiapkan acara pernikahan Liana dengan Riko di salah satu hotel ternama kota London, acara pesta itu di gelar cukup sederhana namun tetap terkesan berkelas dan tidak begitu mengundang banyak tamu, karena setelah itu Liana sudah tidak lagi menjadi anggota keluarga Abraham.


"Sial. Kenapa aku harus menikah dengan Riko si pria bodoh itu dan aku... Tamatlah riwayatmu Liana, sekarang kamu sudah kehilangan segalanya bahkan kamu menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak kamu cintai. Oh sungguh sial" umpat Liana dalam hati, ia pun menitikkan air mata sesal sekaligus kebencian.


Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu kamar Liana, dengan buru-buru Liana mengusap air matanya ketika pintu itu telah terbuka dan seseorang tengah masuk ke kamarnya.


"Kamu!" Liana terbelalak saat melihat Aisha datang menghampirinya.


"Bagaimana?" Ucap Aisha.


"Untuk apa kamu kemari!" Ucap Liana yang mulai marah.


"Aku hanya ingin tahu perasaan mu, Liana. Bagaimana?" Ucap Aisha yang masih terlihat tenang.


"Apa maksud kamu? Mau menertawakan aku?!?" Liana marah.


"Huft... Ya sudah, aku harap kamu mau instropeksi diri" ucap Aisha dan berbalik badan untuk meninggalkan Liana, namun langkahnya terhenti.


"Liana, kamu sudah melewatkan kesempatan emas sebagai anggota keluarga Abraham. Tapi sekarang kamu sudah menghancurkannya sendiri dengan egomu yang terlalu obsesi dengan Altezza, kakakmu sendiri" ucap Aisha kemudian.


"Liana, andaikan dulu kamu mau berfikir lebih jernih, mungkin kita akan menjadi teman yang baik" imbuh Aisha dan menoleh kearah Liana.


"Diam!! Aku tidak butuh nasehatmu, pergi kamu dari hadapanku" hentak Liana yang mulai frustasi, lantaran ucapan Aisha memang ada benarnya.


"Liana, aku harap kamu akan berubah menjadi baik dan kuat" ucap Aisha kemudian dan bergegas pergi meninggalkan Liana di dalam kamar seorang diri.


"Aaarghhh...." Teriak Liana dan menghempas semua yang ada di meja rias, ia mulai frustasi dengan apa yang sudah terjadi. Bahkan ucapan Aisha juga telah membuatnya tersadar jika dirinya telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang begitu fantastis sebagai anggota keluarga Abraham yang mungkin tidak di miliki oleh orang lain.


Semua telah hancur, Liana menangis dan teringat awal mula ia bisa datang dalam keluarga Abraham, tapi ia juga tetingat jika dirinya juga sudah berlaku jahat dan curang terhadap Lala dan juga Lulu yang seharusnya menjadi anggota keluarga Abraham bukan dirinya.


Ia sering memanipulasi keluarga Abraham dan sering memfitnah Lala dan Lulu sehingga membuat mama Via kecewa dan membatalkan untuk mengangkat dua orang anak perempuan yang malang itu, Liana melakukannya hanya semata-mata ingin tinggal dalam istana megah dan memiliki cita-cita yang lebih dan tak ingin menjadi seorang pelayan dalam keluarga Abraham, tapi semua sudah hancur sejak awal karena kecurangannya dan juga perasaan yang membelenggu dirinya.


Jam sepuluh pagi, acara pernikahan Liana dengan Riko itu pun di mulai, hingga beberapa waktu acara itu berjalan cukup hikmat, prosesi demi prosesi sudah mereka lalui, meskipun nampak jelas wajah Liana terlihat datar dan ada guratan kesedihan, ia terpaksa menerima pernikahan itu lantaran semua aset kekayaan yang ia miliki sudah di tarik kembali oleh Altezza hingga membuatnya tak mampu untuk kabur ataupun meninggalkan pernikahan itu, bahkan sebelum acara itu pun Liana dalam pengawasan yang sangat ketat. Hingga tiba akhirnya, acara pernikahan itu pun akhirnya selesai dengan lancar dan saat itu pula tanda Liana sebagai anggota keluarga Abraham telah berakhir sepenuhnya.


"Mama, aku minta maaf untuk selama ini. Aku tahu mama pasti membenciku bahkan kecewa dengan diriku" ucap Liana dalam hati ketika ia sudah duduk di dalam mobil pengantin.


"Pa, maafkan Liana" ucap Liana dalam hati, matanya pun mulai berkaca-kaca, saat melihat mama Via dan juga papa Abraham yang masih berdiri untuk melepaskan Liana untuk pergi bersama Riko.


"Selamat tinggal semuanya, selamat tinggal kak Altezza. Dan juga Lala, Lulu mungkin ini hukumanku" ucap Liana dalam hati, ia pun menunduk pilu bahkan mobil yang ia tumpangi itu sudah mulai melaju meninggalkan tempat itu.


"Kak Aisha..." Gumam Liana, ia pun menangis pilu, begitu sesak Liana rasakan.


"Liana??" Riko panik dan mencoba untuk menenangkan Liana, karena tubuh Liana cukup bergetar hebat dan tangisannya terdengar amat pilu menyayat hati, Riko tahu jika Liana tengah menyesalinya.


"Sudah Liana, sudah. Masih ada aku, kita kembali dan mulai dari awal, oke" ucap Riko dan memeluk Liana, ia pun tak segan membenamkan kepala Liana di dalam dadanya agar Liana merasa tenang di sana.


"Liana, aku percaya kamu adalah wanita yang baik. Aku pasti akan menjagamu dengan segala kekuatanku, bersabarlah Liana" ucap Riko dalam hati yang ikut merasakan kepiluan Liana.


Dalam pelukan itu pula, tangisan Liana semakin menjadi ia pun meratapi semua perbuatannya. Selama ini ia telah lupa akan siapa dirinya dulu, jika bukan kebaikan mama Via mungkin kehidupannya tak kan seindah yang pernah ia rasakan akan hangatnya dalam keluarga Abraham bahkan hidup serba ada tak lagi merasakan kelaparan seperti dulu tanpa harus mencuri lagi. Tapi semua telah hancur akibat nafsu egonya akan kekayaan yang membuatnya terjerumus dalam pergaulan yang salah, yang hanya memburu nafsu, ketenaran, kecantikan dan materi yang sanggup membuat Liana semakin buta dan semakin menghancurkan dirinya sendiri.


"Tapi Liana masih beruntung, aku yakin Riko pasti bisa mengubahnya menjadi lebih baik lagi" ucap Aisha saat berada dalam mobil yang tengah melaju cepat saat hendak kembali ke kediaman keluarga Abraham.


"Kamu ini" ucap Altezza dan menarik pundak Aisha dan memeluknya.


"Altezza. Tapi itu apa tidak keterlaluan, menikahkan dengan orang yang... Emmm.." ucap Aisha yang terhenti lantaran Altezza membungkam mulut Aisha dengan mulutnya.


"Sudah jangan bahas soal itu, besok kita sudah akan kembali ke Manhattan" ucap Altezza.


"Leon, putar arah dan pergi ke suatu tempat" perintah Altezza.


"Mau kemana?" Ucap Aisha.


"Membawa istriku jalan-jalan" bisik Altezza.


"Altezza" ucap Aisha yang terlihat sedikit tersipu malu.


"Mobil Altezza putar balik tuh, pa" Ucap mama Via yang juga berada dalam mobil lain, saat melihat mobil Altezza tepat dihadapannya yang hendak berbelok arah.


"Biarkan ma, besok kan Aisha sudah harus kembali ke Manhattan" ucap papa Abraham.


"Ya, baiklah. Mungkin ini waktunya mama untuk istirahat" ucap mama Via dan menghela nafas panjang.


Meskipun mama Via terlihat tenang tapi percayalah naluri seorang ibu pasti ada rasa sedih yang amat dalam akan perpisahan yang seperti itu, apalagi itu keputusan Altezza dan mama Via tahu persis jika Altezza tidak mengambil tindakan tegas Liana tidak akan pernah menyadarinya. Karena sebelumnya mama Via sudah mengetahui jika Liana memiliki perasaan kepada Altezza, namun ia tengah memberi kesempatan untuk Liana agar tersadar dari perbuatannya, tetapi kenyataan yang terjadi adalah Liana telah memilihnya untuk menghancurkannya dirinya sendiri.


Di sisi lain, setelah mobil Altezza cukup lama menelusuri jalanan aspal.


"Altezza, ini...." Ucap Aisha saat menyadari di seberang jalan keluar stasiun ada sebuah patung tokoh legendaris dari sebuah novel ternama, patung Sherlock Holmes.


Altezza hanya diam dan memberi senyum kecil kepada Aisha, sedangkan Aisha tak henti-hentinya melihat patung itu meskipun sudah melaluinya cukup jauh.


"Altezza, katakan padaku. Apa kita ada di..." Ucap Aisha yang hampir menebak, wajahnya pun terlihat sumringah.


"Beker Street. Ya kita akan pergi ke museum detektif itu" ucap Altezza.


"Altezza? Kamu serius?" Aisha tampak senang, kapan lagi ia akan berkunjung seperti dalam sebuah komik yang terkenal dari jepang.


"Altezza...." Ucap Aisha dan memeluk Altezza.


"Terima kasih" bisik Aisha dan mencium pipi Altezza.


"Tak ku sangka, Altezza mengenalku sejauh itu. Padahal itu hanya keinginanku dulu yang hanya gara-gara Deva mengajakku membaca komik manga itu" ucap Aisha dalam hati.


"Oh tunggu, tapi darimana kamu tahu aku suka itu?" Selidik Aisha.


"Gadis bodoh. Aku seorang pria, sudah pasti punya banyak rahasia yang bisa di andalakan, apa lagi untuk istriku" ucap Altezza dengan bangga.


"Ya, aku tak peduli itu. Tapi aku benar-benar berterima kasih padamu" ucap Aisha dan kembali memeluk Altezza dengan perasaan senang.


"Dasar bos, kalau bukan karena seseorang yang memberitahumu, mana mungkin bos bisa tahu akan hal itu" gumam Leon dalam hati, karena iri akan pancaran bunga-bunga yang bermekaran di dalam diri Altezza.


Apalagi Leon tahu darimana Altezza mendapatkan informasi itu, tentu dari Gavin yang pernah mendengar cerita dari sahabatnya itu, Ares. Karena dulu, Aisha pernah bercerita dengan kakaknya jika ia ingin berlibur ke London dan berkunjung ke museum Sherlock Holmes, tentu Ares juga akan memenuhi keinginan Aisha namun keadaan telah membuat mimpi itu pupus lantaran Ares sudah meninggal dunia lebih dulu.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah gedung museum Sherlock Holmes, betapa senangnya Aisha saat itu. Altezza pun turun dan menggandeng Aisha untuk membawanya menjelajahi museum itu, Aisha pun tak mau melepaskan genggaman tangan Altezza, sedangkan Leon hanya pasrah menjadi orang yang tidak penting dalam dunia asmara itu.


"Sudah biasa seperti ini" rintihan hati Leon yang merasa tertindas lantaran jomblo yang selalu iri akan kilauan romantis bosnya itu.


"Kak, lihatlah Aisha. Sekarang Aisha sudah bisa ke sini dengan pria yang kakak percayakan untukku dulu" ucap Aisha dalam hati ketika ia tengah meraba sebuah kursi sofa legendaris itu.


"Kak. Aisha harap, kakak di sana juga senang melihat Aisha yang sekarang. Kak, terimakasih sudah menjagaku dan memanjakanku selama ini, tenang-tenang ya di sana bersama papa" ucap Aisha dan memejamkan mata sejenak.


"Eh?" Aisha kaget saat membuka mata lantaran jari Altezza tengah mengusap air matanya yang tanpa ia sadari telah menetes.


"Ares sudah pasti ikut merasakan kebahagiaan mu, sayang" bisik Altezza saat memegang wajah Aisha dengan kedua tangannya layaknya adegan romantis.


Aisha hanya diam dan tersenyum haru menatap sorot mata Altezza yang terpancar indah dan jelas, seolah-olah mata Altezza berkata jika dirinya akan selalu ada untuk Aisha. Altezza pun tersenyum lembut menatap Aisha, tapi ia pun hanyut dalam tatapan itu dan membuat dirinya ingin menyerobot Aisha.


"Ehemm..." Leon sengaja berdehem untuk menyadarkan pancaran asmara yang terlalu menyilaukan mata kaum jomblo, apalagi ada pengunjung lain yang tanpa sengaja ikut merasakan pancaran itu.


"Silahkan nona, bos, Leon akan memandu untuk kalian" ucap Leon kemudian yang telah siap untuk memotret dengan ponselnya.


Dengan perasaan malu Aisha pun segera melupakan kejadian itu dan segera mencari posisi yang terbaik untuk ia abadikan dalam momen itu, apalagi jarang sekali ia bisa foto bersama dengan Altezza saat liburan bukan dalam acara yang resmi, meskipun mereka masih mengenakan gaun formal.


Detik demi detik telah berlalu dengan cepatnya, tak terasa langit London sudah nampak mulai gelap. Leon yang masih mengemudi itu pun terlihat tenang membelah jalanan aspal yang entah Aisha tak tahu itu ke arah mana dan hendak pergi kemana, yang ia tahu hari itu merupakan hari terakhir di kota London, sudah pasti Altezza membawanya pergi untuk menikmati indahnya kota London sesuai janji Altezza.


"Tumben kamu tidak tanya mau pergi kemana?" Ucap Altezza, saat Aisha hanya diam melamun dan menatap luar jalanan.


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang mau mengajakku jalan-jalan" ucap Aisha yang tak mau berpaling dari lamunannya.


"Apa kamu tidak takut, jika aku membawamu pergi dan menjualmu atau meninggalkan dirimu sendirian di suatu tempat?" Ucap Altezza.


"Mana mungkin" ucap Aisha yang menyepelekan itu.


"Meremehkan ku?" Ucap Altezza.


"Tidak. Tapi itu tidak mungkin, karena kamu..."


"Leon, segera menepi" perintah Altezza.


"Baik, bos" ucap Leon.


"Eh? Altezza, apa kamu serius?" Aisha pun terperanjat tak percaya akan yang Altezza lakukan.


"Altezza?" Panggil Aisha dan memegang lengan Altezza, Altezza hanya diam dan mobil pun sudah menepi di sisi jalan.


Altezza pun turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Aisha, sedangkan Aisha merasa ragu dengan sikap Altezza yang terlihat cukup serius.


"Apa mau aku menggendongmu, tuan putri?" Ucap Altezza.


"Hemmm" Aisha pun merasa tertindas, ia membuang muka dan tak mau meraih tangan Altezza yang sedari tadi untuk Aisha genggam, Aisha memilih turun sendiri lalu bergegas pergi menjauh dari Altezza.


"Mau kemana?" Ucap Altezza saat menarik tangan Aisha.


"Katanya mau membuangku, tentu aku akan pergi sendiri" ucap Aisha yang sudah sensitif itu.


"Iya, tapi jalannya bukan ke sana. Tapi ke arah sana" ucap Altezza dan menunjuk sebuah toko brand ternama.


"Hem. Kamu mau menukarku di sana?" Ucap Aisha yang masih sensitif.


"Gadis bodoh, apa kamu mau kita jalan-jalan seperti ini?" Ucap Altezza dan melihat dirinya juga Aisha, Aisha pun tersadar jika dirinya masih mengenakan gaun formal.


"Hemmm. Tadi kamu bilang..."


"Aku hanya bercanda, ayo masuk" sela Altezza dan menarik Aisha, mereka pun masuk ke dalam toko itu untuk memilah beberapa pakaian yang lebih fleksibel.


Selang beberapa waktu setelah Aisha mengganti pakaiannya, begitu juga Altezza yang sudah hanya memakai kaos santai lengkap dengan celana hitam panjangnya yang masih menunggu Aisha untuk keluar dari kamar pas.


Klak


Aisha pun keluar dengan pakaian santai yang terlihat elegan saat ia kenakan, yaitu celana jeans panjang yang dan blouse putih lengkap dengan sepatu yang hampir senada dengan apa yang ia kenakan.


Apa yang Aisha kenakan rupanya kebetulan senada dengan Altezza, mereka berdua pun terlihat bagaikan anak muda yang telah siap untuk menikmati indahnya malam di kota London. Bahkan Altezza pun sudah menyewa seseorang untuk merapikan rambut Aisha agar lebih terlihat santai lantaran sebelumnya masih tertata dengan tema gaun yang Aisha kenakan sebelumnya. Setelah itu, mereka pun bergegas pergi untuk menikmati malam terakhir di kota London.