
Keadaan itu membuat Aisha mengingat akan kejadian dulu yang pernah ia alami dulu, dimana ia mengalami hal yang sama dalam kasus pembunuhan. Penghilangan nyawa dengan kekejaman tanpa pandang bulu bahkan dengan tatapan bengis sang preman yang haus dan nafsu untuk membunuh, Aisha terlingat dengan jelas mengingat dimana ia bersama Gibran Abraham dalam melewati maut itu, kala itu wajah Aisha yang sedang putus asa namun dengan sekuat tenaga untuk melindungi Gibran Abraham yang sudah terlihat tak berdaya, hingga akhirnya Aisha lah yang menjadi korban pemukulan yang seharusnya diarahkan kepada Gibran Abraham.
Brakkk... Suara pintu terbuka dengan paksa, di sana terlihat berdiri seorang pria dengan siluet tak asing bagi Aisha. Aisha melihat pria itu dengan linangan air matanya yang cukup deras, dalam pandangan Aisha pria itu adalah Gibran Abraham yang datang untuk menolongnya. Namun kenyataannya, pria itu sebenarnya adalah Altezza bersama beberapa anak buahnya.
Sedangkan Sally yang menyadari, jika Altezza datang dengan rombongan itu pun, membuatnya merasa bersyukur lega. Dengan sigap, Altezza bergerak dan beberapa dari rombongan lainnya membantu untuk melepaskan Sally, sedangkan Altezza sudah tentu dengan segera menolong Aisha yang terlihat sudah begitu lemah. Dengan cepat Altezza melepaskan ikatan Aisha dan segera membawanya pergi sebelum bangungan tua itu rubuh.
"Aisha" ucap Altezza, saat selesai melepaskan tali Aisha dan langsung membopongnya, agar Aisha tidak pingsan ditempat.
"Kamu... Akhirnya, kamu datang" lirih Aisha yang mengira Altezza adalah Gibran Abraham dengan senyum di sisa tenaganya itu, namun beberapa saat kemudian, Aisha tiba-tiba pingsan didalam dekapan Altezza. Dengan cepat Altezza berlari membawa Aisha dan bergegas pergi meninggalkan gedung tua itu. Sedangkan Sally telah dibopong oleh asisten Altezza, yang tak lain ialah Leon.
Bangunan itupun mulai runtuh, keadaan itu berubah menjadi menegangkan, sedangkan Altezza masih dengan sekuat tenaga untuk berlari lebih cepat lantaran Aisha masih pingsan di dalam gendongan Altezza. Dengan kekuatan dan tekat Altezza yang begitu kuat, wajahnya pun berubah menjadi sangat serius dengan sigap Altezza berlari sangat cepat itu lantaran bangunan sudah menandakan akan ambruk beberapa waktu lagi.
"Aisha. Bertahanlah, sayang" ucap Altezza di dalam hatinya, Altezza terus berlari dengan keadaan di kejar oleh reruntuhan bangunan tua yang siap melahap siapapun disana.
Sally yang masih sadar itu pun ketakutan bukan main dan memejamkan matanya kemudian menenggelamkan kepalanya di dalam dada Leon yang cukup terasa kekar itu. Tanpa sadar Sally telah menggenggam erat pundak Leon karena rasa takutnya, ia pun berdo'a semoga Tuhan masih memberikan umur yang panjang bagi dirinya, Aisha dan juga orang-orang yang telah menolongnya dari detik-detik maut itu.
Bruuaakkkk... Bangunan itu pun roboh tanpa tersisa sedikitpun, namun beruntung mereka telah selamat dari maut yang menegangkan itu. Meskipun sebelumnya hampir saja, mereka tertimpa dan mati di sana. Untung pergerakan mereka cukup gesit.
Namun tidak dengan wajah Altezza yang masih terlihat muram itu, ia tak peduli akan bangunan itu. Baginya yang terpenting sekarang adalah, harus cepat membawa Aisha pergi dari tempat itu. Lantaran Aisha terlihat sangat lemah, wajahnya sudah terlihat pucat. Dan itulah yang membuat Altezza muram sekaligus panik.
Altezza langsung membawa masuk Aisha kedalam mobil yang masih mendekap Aisha di dalam pangkuannya, mobil itu pun langsung melaju pergi menuju rumah sakit. Begitu juga di susul oleh Leon yang juga harus segera mengantarkan Sally ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan penanganan.
Malam yang mencekam itu sudah berlalu, dan malam itu sudah berganti pagi yang sangat cerah, Aisha merasakan hangat cahaya mentari pagi yang telah menyorot ke tubuhnya yang masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Aisha membuka mata dan melihat langit-langit bangunan berwarna putih dengan garis hijau muda, kemudian Aisha menoleh kearah jendela yang ia rasa cukup menyilaukan itu, terlihat jendela itu dengan bayangan infus disebelahnya, ia menyadari jika dirinya tengah dirawat di rumah sakit. Beberapa saat itu pun, Aisha merasa tangannya sedang dipegang oleh seseorang, dengan cepat Aisha menoleh ke sisi lainnya untuk melihat siapa yang ada di sana.
"Altezza?" Aisha terkejut, saat melihat Altezza yang masih tertidur dengan menggenggam tangannya, dengan kepalanya yang menyandar tepat disamping tangannya. Persis seperti yang ia lakukan dulu ketika sedang menunggui Altezza yang terbaring di rumah sakit. Namun, kali ini tangan Altezza terasa tengah menggenggam erat tangan Aisha.
"Semalam... Ternyata Altezza" Gumam Aisha, ketika ia teringat akan kejadian semalam.
"Hemm... " Geliat Altezza, ia pun mulai membuka matanya lantaran ia mulai sadar dari tidurnya.
"Aisha? Aisha. Kamu sudah sadar?" Ucap Altezza begitu lega dan senang, ketika melihat Aisha tengah menatapnya.
Namyn, Aisha hanya terdiam dan menangis di sana, Altezza pun bingung dibuat olehnya. Aisha pikir Gibran Abraham yang telah menolongnya, memang tidak mungkin hal itu terjadi. Tetapi Altezza telah menolongnya malam itu, disaat harapan Aisha untuk hidup telah hampir pupus. Namun ia masih bersyukur telah di selamatkan oleh Altezza, bahkan Altezza nampak bersikap begitu lembut terhadap dirinya.
"Altezza..." lirih Aisha. Altezza dengan sigap memegang tangan Aisha dan memandang wajah gadis pujaannya itu.
"Terima kasih" ucap Aisha kemudian, dengan tangisannya sudah hampir mereda itu
"Tidak perlu. Bukankah sudah kubilang, aku akan melindungimu" ucap Altezza dan mencium tangan Aisha, begitu lembut sosok Altezza saat itu.
Aisha hanya mamou menitikkan air mata lantaran ia terharu, akan ucapan Altezza dan kebaikan Altezza yang telah menolongnya tanpa pamrih itu. Tentu saja, itu membuat Aisha mengingat akan ucapan Altezza yang akan membuatnya jatuh cinta, Aisha merasa ada benih perasaan yang muncul.
"Gibran Abraham. Ku pikir, aku akan menyerah saja untuk mencarimu. Maafkan aku telah putus asa, untuk mencarimu dua tahun lebih ini. Andaikan kamu sudah dialam yang lain, ku harap kamu di tempatkan di sisi yang terbaik, dan maafkan aku harus melukapan mu" ucap Aisha dalam hati.
"Tapi, jika kamu sampai sekarang masih hidup dan aku tak tahu kamu ada dimana. Aku berdo'a semoga kamu selalu dalam keadaan terbaik dan menemukan wanita yang terbaik untukmu. Gibran, kebaikanmu akan selalu ku ingat selamanya. Terima kasih telah menolongku waktu itu, terima kasih atas pengorbananmu" ucap Aisha kemudian di dalam hatinya dengan linangan air mata.
"Sudah saatnya dan maafkan aku, Gibran Abraham selamat tinggal. Walaupun berat, biarkan aku yang akan melangkah untuk membalas dendam kepada Rendra Andara" ucap Aisha dalam hatinya, ia pun mengusap air matanya. Dengan sekuat tenaga Aisha mulai untuk melupakan Gibran Abraham dan mencoba membuka pintu hatinya untuk Altezza, yang begitu tulus mencintainya. Bahkan ia sendiri telah menyadari akan benih perasaan itu.
"Altezza?" Panggil Aisha.
"Iya, calon istriku? Apa yang kau inginkan?" Ucap Altezza penuh kelembutan, setelah sabar menunggu Aisha tenang yang tak mau berbicara itu.
"Aku... Aku, aku haus dan lapar" ucap Aisha terlihat gugup, lantaran ia hampir saja mengucapkan sesuatu yang di rasa belum saatnya, lantaran ia harus tahu Altezza itu beneran tulus atau karena ada sesuatu.
"Hemmm, baiklah. Aku akan menyuruh bibi Lin membawakan makanan kemari untukmu, apakah kamu ingin memakan sesuatu, sayang?" Ucap Altezza dan mengusap lembut kepala Aisha.
"Tidak. Asal makanan itu membuatku kenyang aku pasti akan memakannya" ucap Aisha.
"Kalau begitu, kamu makan vas bunga saja bagaimana?" Goda Altezza. Aisha pun refleks mencubit tangan Altezza yang masih menggenggam tangannya tiu. Altezza hanya tertawa kecil kepada Aisha yang terlihat sedikit manja.
"Eh, dimana Sally?" Ucap Aisha, saat ia menyadari akan keberadaan dan keadaan Sally yang telah menjadi tawanan bersama dirinya.