Just Married

Just Married
episode 27: Masih Rahasia?



"Aduh, Aisha kemana, sih. Aku tak bisa, kalau hanya berdiam diri di sini" gumam Sally dengan cemas.


Ring..ringg..


Suara ponsel Aisha berdering, dengan sigap Sally melihat ponsel milik Aisha. Di sana hanya nampak nomor tanpa nama.


"Angkat gak ya. Duh, takut tapi... Angkat deh angkat" gumam Sally.


"Halo, Sally.." seru Aisha dibalik telepon.


"Eh buset, sialan kamu Aisha. Kamu lagi ada dimana? Lagi apa? Sama siapa? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sedang tersesat atau gimana?" Ucap Sally, yang langsung saja melontarkan segala pertanyaan.


"Aku diculik, Sally. Apa kamu sudah sarapan Sally?" Seru Aisha


"Bodoh. Diculik malah nanyain orang sudah sarapan apa belum" pekik Sally.


"Hihi, Sally. Tenanglah, yang menculikku adalah pria bodoh" ucap Aisha.


"Kamu bilang apa?" Terdengar suara Altezza.


"Altezza??!?" Ucap Sally, ia mulai sadar tentang Altezza.


"Iya, siapa lagi" ucap Aisha.


"Sialan. Aisha, katakan padanya. Kalau pulang mengantarkanmu, suruh membelikan stok makanan yang banyak. Kau tahu, kenapa?"


"Kenapa?" Ucap Aisha.


"Kalau kamu diculik dia lagi, aku bisa makan sepuasnya" rengek Sally tersedu-sedu.


"Hahaha... Sally, Sally. Bisa saja kamu"


"Memangnya orang jomblo tak butuh tenaga" celetuk Sally.


"Hahaha iya iya, kita-kita sama jomblo kok Sally" hibur Aisha.


"Siapa bilang? Sebentar lagi kan kita akan menikah" suara Altezza.


"Diam bodoh. Siapa juga yang akan menikah denganmu?" Bela Aisha.


"Bukannya tadi kamu sudah menci..."


"Diaammmmm...." Teriak Aisha.


"Aduh, Aisha. Bisa budeg ini telinga aku" ucap Sally.


"Hallo, Sally. Nanti akan ada beberapa orang datang untuk memenuhi lemari es mu" ucap Altezza.


"Bagus. Kalau bisa secepatnya" ucap Sally dengan Angkuh.


"Tenang, tidak ada satu menit mereka akan datang. Sally, tutup telfonnya" perintah Altezza.


"Baiklah, jaga baik-baik Aisha untukku" ucap Sally.


"Tentu" ucap Altezza.


Ting... Suara bel kamar apartemen berbunyi.


"Wah, cepat sekali" gumam Sally, ia buru-buru turun untuk membuka pintu. Saat ia membuka, yang benar saja dua pelayan toko swalayan tengah menenteng beberapa kantong plastik besar.


"Apakah benar dengan nona Sally Rahmawati?" Ucap salah aatu pelayan.


"I, iya?" Ucap Sally bingung, dari mana ia tahu nama lengkapnya.


"Dari tuan Altezza" ucap pelayan itu.


"Oh, taruh disana saja" ucap Sally sembari menunjuk kearah dekat sofa.


Kedua pelayan itu pun menempatkan barang-barang belanja sesuai yang Sally perintah. Sally tak habis pikir akan ucapan Altezza, benar-benar mengerti. Sally pun berdo'a dalam hati, semoga Aisha benar-benar berjodoh dengan Altezza.


Setelah pelayan itu keluar, Dengan sigap Sally membawa barang-barang itu ke dapur. Sally terbelalak, saat menggeledah semua isi dari kantong plastik besar itu, mulai dari mi instan, telur, sayuran, buah-buahan bahkan daging, makanan ringan, beberapa bumbu dan paling mengejutkan ialah ada beberapa bumbu instan dari indonesia. Bahkan makanan ringan yang banyak, ada roti, snak, chiki dan lain-lain.


"Ya Tuhan, aku kaya... Aku kaya" ucap Sally dengan riangnya


"Poppy, Sally disini terselamatkan. Sally akan buktikan, jika Sally mampu" ucap Sally dengan semangat.


"Woahhh... Benar-benar penuh. Bahkan tak muat lagi" seru Sally saat selesai menata stok makanan didalam lemari es


Sally sibuk dibuatnya, Sally benar-benar senang. Selain menghemat Sally dapat makan sepuasnya.


"Apa yang sudah kamu rencanakan?" Tanya Aisha, saat Aisha sudah selesai mengganti gaun, dan dipersilahkan duduk oleh pelayan untuk memperbaiki make-upnya.


"Nanti kamu juga akan tahu" ucap Altezza yang tengah duduk di ranjang, dengan senyum menyeringai.


"Sudah ku bilang. Kamu itu, calon istriku"


"Dasar, bodoh. Kamu terlalu percaya diri" ejek Aisha.


"Aisha, suatu saat kamu akan benar-benar menjadi istriku" ucap Altezza kemudian dengan mantap.


Plukk... Kuas make-up telah meluncur di tubuh Altezza.


"Omong kosong apa itu" ejek Aisha.


"Pelayan" ucap Altezza.


"Ah, sudah selesai. Tuan muda, nona memang benar-benar cantik. Aku tidak sabar, melihat nona akan memakai gaun pengantin dan riasan pengantin" seru pelayan itu.


"Cepat keluar" perintah Altezza.


"Baik, bos" ucap pelayan itu dengan tegap.


Saat pelayan sudah keluar, Altezza menatap Aisha dengan tatapan menantang dari pantulan kaca. Aisha yang masih menata rambut itu pun tak menyadari dengan tatapan Altezza. Aisha kaget, tiba-tiba tangan Altezza sudah melingkar dibahu Aisha.


"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha mendongakkan kepala dan menatap Altezza.


"Kamu telah meremehkanku" ucap Altezza dan mencium kepala Aisha.


"Hemmm... Tapi, sebenarnya. Kenapa kamu benar-benar begitu yakin?" Ucap Aisha.


"Karena aku sudah mencarimu cukup lama"


"Maksud kamu?" Ucap Aisha, yang ingin tahu itu.


"Ah, kita sudah terlambat. Kita harus cepat turun" ucap Altezza.


"Hemmm, kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Ucap Aisha agak kecewa.


"Suatu saat kamu kamu akan mengetahui semuanya, jadi bersabarlah. Tunggu aku sampai benar-benar membuatmu jatuh cinta kepadaku" ucap Altezza.


"Aisha. Sesuatu yang menyakitkan ialah, kehilangan orang yang kita cintai. Bukan karena kematiannya, melainkan ia telah keluar dalam hidup bahkan hati kita. Aisha, aku tidak mau kehilanganmu lagi" ucap Altezza begitu menyentuh hati Aisha, bahkan Aisha merasakan rasa kesepian itu.


"Kenapa? Kenapa Altezza? Apa kita pernah menjalin atau bertemu sebelumnya? Atau kita pernah ada janji sebelumnya?" Batin Aisha sembari mengingat-ngingat jika ada sesuatu yang ia lupakan.


"Aisha?" Panggil Altezza, seketika lamunan Aisha buyar.


"Iya?"


"Ayo" seru Altezza dan meluangkan lengan agar Aisha dapat menggandeng lengan Altezza.


Aisha melingkarkan tangannya di lengan Altezza, kini Aisha berbalut gaun berwarna silver dengan perpaduan potongan tile yang memukau, nanpak terlihat sangat elegan dan mewah. Bahkan begitu serasi dengan jas dan celana berwarna abu yang Altezza kenakan. Mereka nampak kompak dan serasi, apalagi ketika mereka berjalan menyusuri Aula, hampir semua mata tertuju akan sosok mereka bak pangeran dan permaisuri.


Orang-orang berbisik, bahwa mereka pasangan yang serasi ada juga yang memuji kecantikan Aisha, gaun yang Aisha kenakan bahkan Altezza yang menjadi pengusaha termuda yang berhasil menggaet gadis cantik dan berkarisma tinggi. Ya Aisha, memang nampak wanita yang anggun, cerdas dan berdedikasi tinggi. Tak jarang jika ada yang iri krpada Aisha, apalagi Aisha telah menjadi pasangan pengusha termuda, bahkan seorang bos besar, CEO.


Aisha belum menyadari jika Altezza memiliki kedudukan yang sangat tinggi, setahu Aisha Altezza hanyalah pengusaha kaya yang ada di New York. Dan yang ia ketahui hanyalah kantor yang pernah ia tempati sebelumnya.


"Bos..." Panggil Leon yang sudah menghampiri Altezza dan Aisha.


"Bagaimana?" Ucap Altezza.


"Ternyata dia salah satu tamu dalam pesta ini, dan juga dialah yang akan bekerjasama dengan..."


"Batalkan. Apapun itu, beri dia pelajaran yang setimpal" perintah Altezza dengan tegas.


"Baik, bos" ucap Leon, dan berlalu.


"Tenang Aisha" ucap Alrezza sembari mengusap-usap lembut tangan Aisha yang masih melingkar dilengan Altezza.


Aisha, sempat bergetar dan takut lantaran laporan Leon cukup membuat Aisha ingin segera pergi dari pesta, namun Altezza cukup menenangkan Aisha, hingga Aisha mampu mengontrol diri dan mereka mulai berbaur di kerumunan orang-orang.


"Aisha, kamu akan belajar dari sini" ucap Altezza saat melihat ada seseorang datang menemui Altezza dan juga Aisha.


Di tempat lain,


Ting... Suara ponsel Sally berbunyi, tanda ada pesan masuk. Sally yang sedang sibuk memasak itupun tak memperdulikan, hingga pada akhirnya, ponsel Sally berdering.


Sally melihat panggilan itu yang ternyata dari, Glen. Sally pun mengangkat telepon itu.


"Iya, Glen?" Ucap Sally yang masih sibuk dengan pekerjaan memasak.


"Maaf. Glen, aku sedang memasak. Bisa bicara nanti?" Ucap Sally.


Sally pun meletakkan ponselnya, dan kembali memasak, ia terlihat begitu antusias. Saking senangnya memasak, ia pun jadi lupa diri bahkan membuat dirinya ogah untuk diganggu. Entah mengapa Sally begitu terlihat sangat bersemangat, entah stok makanan lengkap atau alasan lain, entahlah. Yang jelas Sally bisa memasak dan senang memasak, setelah sekian bergulat dengan tugas-tugas kampus yang begitu melelahkan.