
"Aduh... Perut aku" keluh Aisha yang tengah menonton TV di ruang atas bersama Altezza.
"Kenapa? Sakit perut?" Ucap Altezza yang langsung meraih tubuh Aisha dan menyandarkannya di tubuhnya dengan merangkul punggung Aisha, ia pun mengelus perut Aisha dengan lembut.
"Gak tahu, rasanya kayak mules tapi gak mules, gak nyaman Altezza. Pokoknya sulit untuk di jelaskan?" Aisha seperti menahan sakit.
"Sayang, apa jangan-jangan kamu mau datang bulan?" Ucap Altezza.
"Mana ada, ini kan sudah tanggal..." Aisha tengah memikir sesuatu.
"Ini sudah tanggal 21, biasanya kamu datang bulan setiap tanggal berapa?" Ucap Altezza, yang masih mengelus lembut perut Aisha.
"Hehe, aku pikir sudah baru kemarin. Ternyata waktu begitu cepat berlalu" Aisha cengengesan, saat mengingat siklus haidnya.
"Emm, pantesan tadi marah-marah. Ini to penyebabnya" Altezza menepuk lembut perut Aisha.
"Hemmm, biarin. Sakit tahu, kamu kan gak ngerasain" rengek Aisha.
"Iya, iya. Stoknya masih kan?"
"Kenapa? Gak mau beliin?"
"Hem, bawel. Kalau stoknya habis, kita beli yang banyak, sekalian di jual di depan"
"Hahaha. Ada-ada saja kamu"
"Bagaimana? Perutnya masih sakit?" Ucap Altezza penuh dengan perhatian.
"Sudah mendingan. Altezza, kita keluar yuk" rengek Aisha dengan manja.
"Kemana?"
"Kemana saja, yang penting kita jalan-jalan" seru Aisha.
"Hem, boleh boleh. Tapi ada syaratnya" ucap Altezza dengan senyum yang tersembunyi.
"Apa?"
"Cium dulu"
"Kamu... Hemmm, gak jadi lah. Nonton TV di rumah saja" Aisha memasang wajah cemberut dan berusaha menjauh dari Altezza.
"Hehe"
"Kenapa?' ketus Aisha.
"Gak apa-apa. Ya sudah, ayo" Altezza berdiri dan mengulurkan tangan kepada Aisha.
"Gak mau" Aisha merajuk.
"Yakin gak mau?" Goda Altezza.
"Hem... Gak, kalau syaratnya seperti itu aku gak mau" Aisha masih cemberut.
"Ya sudah, gak ada syaratnya. Ayo" seru Altezza, ia hanya berusaha menjaga mood Aisha.
"Ya sudah. Tunggu sebentar, aku mau ke kamar mandi sekalian ganti pakaian" ucap Aisha, ia pun beranjak dari sofa.
"Iya iya, aku tunggu disini" ucap Altezza.
Aisha berjalan cepat menuju kamar untuk bersiap-siap diri. Sedangkan Altezza masih menunggu di ruang televisi. Tak lama kemudian, Altezza beranjak berdiri untuk menyusul Aisha, lantaran Altezza jugw harus ganti pakaian. Sebab, ia masih memakai kimono handuk putih itu.
Tok tok..
"Sayang, sudah selesai? Aku mau masuk ganti pakaian" ucap Altezza, setelah mengetuk pintu.
"Masuk saja" terdengar suara Aisha dari dalam.
Altezza pun membuka pintu dan melihat Aisha tengah merapikan rambut, yang di bentuk cepol di atas kepala. Meskipun sederhana, namun Aisha tetap terlihat simpel dan elegan, dan juga sudah pasti tetap terlihat cantik.
Altezza membuka lemari besar dan mengambil kaos berwarna putih bersih, Altezza sengaja memilih kaos itu lantaran Aishw tengah mengenakan dress putih simpel. Ya, Altezza hanya ingin menunjukkan, jika Aisha adalah miliknya. Karena baju yang sama menandakan pasangan yang tengah di mabuk Asmara.
Aisha pun keluar, ia belum menyadari jika Altezza tengah memakai kaos putih. Di saat Aisha keluar, Altezza pun segera memakai celana heans hitam panjang, lengkap dengan sepatu gaya santainya. Setelah siap, Altezza keluar dan menghampiri Aisha yang tengah menunggu duduk di sofa, di ruang TV itu.
Mereka pun turun bersamaan, Aisha begitu nampak santai dan elegan, ia hanya berbalut dress putih yang panjangnya hanya dibawah lutut lebih beberapa senti, sepatu hitam gaya santainya dengan aksesoris tas selempang kotak berwarna abu-abu variasi hitam yang sudah bergantung santai di pundaknya. Mereka terlihat sangat serasi, sehingga Lala dan Lulu melihat kilauan itu pun bersorak gembira, lantaran begitu amat serasi mereka berdua.
"Kamu sengaja pakai kaos itu?" Ucap Aisha, ia pun merasa malu.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa" Aisha terlihat senyum sumringah, namun wajahnya jelas ada malu lantaran ia baru menyadari jika Altezza sengaja membuat peraamaan pada dirinya.
"Tuan dan nona, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa, pajak buat kita" seru Lala.
"Kamu itu, ya" ucap Aisha.
"Hehe.." Lala hanya cengengesan.
"Ya sudah, kalian baik-baik di rumah" ucap Aisha.
Malam itu, Altezza sengaja menyetir seorang diri tanpa memerintah paman Edo. Karena suasana malam itu cukup bagus untuk mengeratkan hubungan itu tanpa ada rasa canggung. Di saat menyetir, tangan kiri Altezza mencoba untuk membelai kekasihnya itu. Ia hanya gemas dan begitu mencintai kekasihnya itu.
Sedangkan Aisha tengah menahan gejolak hatinya yang begitu berdebar kencang, entah kenapa malam itu Altezza yang hanya mengenakan baju santai begitu nampak lebih memesona. Apalagi dadanya yang bidang begitu terlihat perkasa di mata Aisha.
"Aku tak menyangka, punya Altezza sesempurna ini. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikanku lebih bahkan lebih baik dari manapun" ucap Aisha dalam hati, ketika Altezza tengah menggenggam lembut tangannya.
"Papa, kak Ares, lihatlah pria yang tengah bersamaku, aku berharap dia yang akan selalu menjadi pengganti kalian untukku. Papa, kakak, Aisha mohon do'a restu kalian di sana" gumam Aisha dalam hati, ia pun mengecup tangan Altezza dengan lembut.
Altezza yang menyadari itu, hanya mampu tersenyum bahagia. Tanpa diminta, Aisha sudah mencium tangannya dengan lembut. Altezza merasa, Aisha telah tulus untuk menjaha hati dan cintanya.
Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di sebuah parkiran wahana malam yang nampak meriah. Altezza turun dari mobil dan kemudian berjalan menghampiri Aisha, ia pun membuka pintu untuk Aisha dan menggandeng tangan Aisha. Ketika mereka berjalan dan mulai memasuki arena permainan, tak sedikit mata memandang kearah mereka. Pasangan yang serasi, cantik dan tampan, anggun dan menawan. Entah silau apa, malam itu terasa istimewa, Aisha pun tak hentinya terus menggandeng lengan Altezza.
Lalu terlihat warna yang begitu mencolok dan memesona, pink. Sebuah stand cotton candy, membuat Aisha terpikat dan mengajak Altezza kesana. Aisha hanya merasa, ia pernah merasan malam seperti itu ketika waktu kecil bersama keluarga yang saat itu msih lengkap dan sebelum ada Alex lahir di dunia ini.
Altezza terus melakukan yang terbaik untuk Aisha, hingga membuat malam yang sangat bahagia dan menyenangkan bagi Aisha. Meskipun hanya sederhana, tak perlu ke tempat yang mewah, Aisha sudah bersyukur berkali-kali lipat. Altezza pun sudah tidak salah pilih untuk mencari tempat, untuk sejenak menghabiskan waktu bersama.
"Altezza. Aku mau boneka coklat itu" ucap Aisha, sembari menunjuk boneka beruang besar yang ada di salah satu arena permainan.
"Ya sudah, kita beli ke tempat lain" ucap Altezza.
"Gak mau. Maunya yang disana" rengek Aisha.
"Hemmm. Ada hadiahnya tidak?" Goda Altezza.
"Baikalah" Altezza berjalan tegap menuju penjaga arena itu untuk membeli karcis agar dapat bermain disana.
Altezza sudah mencoba beberapa kali untuk melempar bola ke arah satu angka yang merupakan angka untuk mendapatkan hadiah beruang besar yang Aisha maksud. Aisha pun tak kalah seru, ia terus menyoraki Altezza untuk menyemangatinya.
Sudah kesekian kali, akhirnya Altezza berhasil melempar bola ke arah gawang basket kecil dengan angka 89. Meskipun sebelumnya Altezza sudah berhasil memasukkan bola ke gawang dengan angka lainnya.
Akhirnya, Altezza mendapatkan beruang coklat besar itu dan beberapa boneka lainnya. Aisha nampak senang dan memeluk boneka beruang itu, Aisha pun berterima kasih kepada Altezza.
"Hadiahnya?" Pinta Altezza.
"Ah, Altezza. Bagaimana dengan boneka lainnya? Aku hanya mau yang ini saja" ucap Ausha, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Altezza hanya diam dan menatap beberapa boneka kecil yang masih ia pegang, Altezza pun melihat sekitar. Ketika ada gadis kecil, Altezza pun menghampirinya dan memberikan satu boneka untuk gadis kecil itu. Altezza pun nampak begitu lembut, bahkan ia mengelus lembus kepala gadis kecil itu, wajah gadis kecil itu pun terlihat senang dan berterima kasih kepada Altezza. Aisha yang melihat itu pun tersenyum, lantaran Altezza ternyata memiliki sisi kelembutan terhadap anak kecil.
Ketika gadis kecil itu berlari kecil menuju seseorang, dari kejauhan nampak wajah gadis kecil itu terlihat sangat senang dan memamerkan boneka itu kepada seseorang yang di duga merupakan seorang neneknya. Aisha pun meraih tubuh Altezza dari sisi kiri untuk merangkulnya, Aisha merasa tersentuh akan perlakuan Altezza yang begitu lembut.
"Kenapa kamu tidak memberikan semuanya?" Ucap Aisha kemudian.
"Mana mungkin, bukankah kamu melihatnya. Gadis kecil itu hanya bersama neneknya, setidaknya kita bisa memberikan kepada anak kecil yang lainnya. Kamu mau mencobanya?" Ucap Altezza.
"Baiklah" seru Aisha.
Mereka kembali berjalan, kali ini mereka berjalan untuk mencari anak kecil untuk memberikan hadiah boneka. Setelah berhasil menemukan anak kecil, boneka itu masih tersisa satu. Aisha mulai melihat sekeliling untuk mencari, namun sepertinya sudah tidak ada. Lantaran malam sudah begitu larut.
Aisha menggandeng lengan Altezza sembari menenteng boneka besar itu. Mereka bermaksud untuk berjalan menuju parkiran mobil. Setibanya disana, Aisha memasukkan boneka besar itu di dalam mobil bagian belakang, sejurus kemudian mereka segera meninggalkan area wahana itu.
Mobil itu berkeliling kota untuk mencari sesuatu makanan untuk Lala dan Lulu. Mobil itu pun memasuki kawasan street food berbagai sajian makanan disana, meskipun sudah larut. Namun suasana malam itu masih ramai, Aisha meminta Altezza untuk berhenti di salah satu stand yang menarik perhatiannya. Aisha pun turun dari mobil dan segera memesan beberapa shackburger. Aisha hanya mengingat itu ketika masih bersama Sally tinggal di apartemen sebelum adanya Altezza.
Altezza yang sudah memarkirkan mobil itu pun menyusul Aisha disana. Sembari menunggu, Altezza membeli minuman dingin yang tak jauh dari stand yang Aisha pilih. Di bangku itu, mereka berdua saling bercanda dan menikmati indahnya malam di kota Manhattan.
Setelah pesanan itu sudah terbungkus rapi, Altezza langsung membayarnya. Mereka pun kembali kedalam mobil untuk segera pulang. Namun, sebelum pulang Aisha tanpa sengaja mendapati seorang anak kecil yang tengah merenung di sudut bangunan yang cukup remang. Aisha kembali menutup pintu mobil dan berjalan mengarah anak kecil itu. Altezza yang melihat itu pun buru-buru mengikuti Aisha.
"Sayang? Mau kemana?" Ucap Altezza.
"Itu.." Aisha memberi kode menunjuk ke arah seorang lelaki kecil yang umurnya sekitar delapan atau sembilan tahun.
Setelah mereka sampai, Aisha lebih maju untuk mencoba mendekati anak kecil itu. Pakaiannya cukup lusuh, wajahnya pun terlihat agak sembab seperti habis menangis.
"Adek? Ini sudah begitu malam, kenapa adik masih di sini?" Ucap Aisha lembut, anak kecil itu pun mendongakkan kepala dan menatap lekat wajah ayu Aisha, sedangkan Altezza hanya berdiri di belakang Aisha tlyang tengah jongkok di hadapan anak kecil itu.
"Dimana orang tua adek?" Ucap Aisha kemudian, lantaran anak kecil itu masih terdiam.
"Jangan takut. Kami tak akan melakukan kejahatan kepadamu, mari ikut kakak duduk disana" Aisha pun mengulurkan tangannya dan menunjuk ke arah bangku kosong. Namun, anak kecil itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tak apa, ayo" Aisha masih sabar untuk merayu.
Anak kecil itu terlihat ragu, Altezza pun tanpa sabar langsung meraih anak laki-laki kecil itu dan langsung menggendongnya.
"Altezza? Apa yang kamu lakukan?" Aisha membuntuti Altezza yang tengah berjalan cepat meskipun tengah menggendong anak kecil itu, lantaran sikap Altezza seperti arogan.
"Aku capek lihat kalian jongkok seperti itu. Sayang cepat pesan makanan dan minuman" perintah Altezza, sepertinya Altezza sudah membaca gerak gerik anak kecil itu.
Aisha pun berlari kecil untuk memesan sebuah makanan dan minuman yang Altezza perintahkan, tak lama kemudian Aisha kembali dengan menenteng sebuah kantong plastik yang berisi makanan dan minuman.
"Pria kecil, cepatlah makan. Aku tahu kamu lapar, tidak baik kalau kamu masih gengsi seperti itu" ucap Altezza dengan tegas.
"Altezza, lembut sedikit kenapa" bisik Aisha, ia pun mencubit tubuh Altezza.
"Ah, dek. Aku punya sesuatu, mungkin hadiah ini tak kan cocok untuk kamu. Tapi aku berharap kamu menerimanya" ucap Aisha, ketika ia ingat ada sisa satu boneka yang cukup besar untuk anak kecil.
Aisha berjalan menghampiri mobil dan mengambil sebuah boneka, Aisha pun kembali ke arah anak kecil yang masih duduk bersama Altezza.
"Em, mungkin ini gak cocok sama kamu. Tapi ini kenangan dari kami, semoga kamu suka" ucap Aisha dengan lembut.
Ketika lelaki kecil itu melihat boneka beruang berwarna pink, wajahnya nampak sumringah. Ia pun dengan ragu menerima boneka itu. Tanpa sadar air matanya jatuh, seperti ia tengah bersyukur.
"Terima kasih kak, boneka ini sangat membantu kami" ucap lelaki kecil itu.
"Ya sudah. Kamu cepatlah makan" ucap Aisha dengan santun.
Anak lelaki kecil itu pun makan dengan lahap, namun anehnya ada sebagian lauk yang ia sisakan. Aisha merasa curiga akan hal itu.
"Dek? Kenapa gak di habisin sekalia" selidik Aisha.
"I,ini..."
"Habiskan" sela Altezza begitu tegas.
Dengan berat hati, anak kecil itu pun menghabiskan makanan itu. Meskipun ia terlihat begitu berat, namun Altezza berdiri dan melangkah pergi. Aisha hanya bingung akan sikap Altezza, setelah anak kecil itu selesai makan. Ia nampak murung, Aisha pun mencoba untuk menyelidikinya.
"Kenapa kamu terlihat murung?" Ucap Aisha dengan kehati-hatian.
"Bagaimana tidak. Aku di sini dapat makan enak, sedangkan adikku tengah menunggu dengan perut kelaparan di gubuk kami" lirih anak kecil itu.
Deg. Hati Aisha merasa tersayat akan perkataan anak kecil itu. Aisha sudah pasti menduga, anak kecil itu tak memiliki keluarga yang hangat.
Brak... Altezza menaruh beberapa bungkus plastik di atas meja tepat di hadapan anak kecil itu.
"Cepatlah pulang, tak perlu bersedih. Aku sudah mengganti makanannya dengan lebih" ucap Altezza.
Anak kecil itu menatap lekat Altezza, ia menduga Altezza begitu kasar namun kenyataannya, ia merasa Altezza memiliki hati yang lembut. Ucapan Altezza pun sanggup membuat dirinya untuk tetap tegar. Anak kecil itu pun tersenyum kepada Altezza, ia mengambil beberapa kantong plastik itu dan menentengnya, tak lupa dengan bonekanya.
"Terima kasih, kakak" ucap anak kecil itu, ia pun berlari kecil dengan wajah sumringah.
Dari kejauhan, anak kecil itu berhenti berlari dan membalik badannya, ia tersenyum untuk Aisha dan juga Altezza. Sebagai tanda ucapan terima kasih dan sampai jumpa.
"Sayang, ayo pulang. Sudah jam sebelas lebih" ucap Altezza, ia pun memeluk pundak Aisha.
"Kasihan anak kecil itu" gumam Aisha.
"Lebih kasihan mana sama aku, calon suamimu ini?"
"Bicara apa kamu?"
"Katanya akan ada hadiah" ucap Altezza, ia pun memandang ke arah langit malam.
"Em, Altezza. Sebaiknya kita cepat pulang, aku lupa kalau ada tugas yang harus di selesaikan" ucap Aisha, ia pun berdiri dan melangkah pergi menuju mobil.
"Huh... Ternyata cuma harapan palsu, tapi kenapa terasa sedikit sakit" keluh Altezza dalam hati.
Altezza berjalan menyusul Aisha yang sudah masuk kedalam mobil. Mereka pun bergegas untuk pergi meninggalkan tempat itu. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Bahkan Altezza sepertinya tengah merajuk, ia tak lagi membelai Aisha dengan lembut seperti sebelumnya. Sedangkan Aisha memang sengaja tak memulai untuk bicara.