
Manhattan, pagi itu terlihat menghangatkan. Di kediaman Altezza, pagi yang cerah itu sudah tercium aroma wangi masakan. Altezza yang masih tertidur itu pun mencium harumnya aroma masakan itu. Altezza membuka matanya dan mencari Aisha, namun dirinya tak mendapati keberadaan Aisha di sana.
Dengan segera Altezza bangun, dan mengenakan handuk kimono berwarna putih, karena awalnya ia hanya telanjang dada. Altezza segera turun dan pergi ke dapur, karena ia tahu, pasti Aisha telah memasak sesuatu.
"Ah, Altezza. Kamu sudah bangun?" Seru Aisha, saat Altezza datang dan langsung memeluk Aisha dari belakang.
"Hemm... Istriku masak apa? Harum sekali" puji Altezza.
"Altezza, jangan ngelantur. Coba kamu cicipin" ucap Aisha dan menyodorkan sendok yang berisi kuah itu. Altezza pun mencicipinya.
"Istriku memang pandai memasak, ini sungguh lezat. Sama seperti baunya, harum. Sayang, kita menikah saja yuk" Altezza kembali merangkul Aisha dengan gemas dan manja.
"Ah, bibi Lin. Apa nasinya sudah matang?" Ucap Aisha.
"Sudah, nona"
"Bagus. Bibi Lin, tolong bantu aku menyiapkan mangkuknya" pinta Aisha.
"Baik, nona" bibi Lin pun menyiapkan mangkuk serta sendok dan garpu diatas meja.
"Bibi, kenapa hanya ada dua?" Ucap Aisha, saat Aisha tengah meletakkan panci berisi kuah soto ayam.
"Maaf, nona"
"Ambilkan dua lagi, untuk Leon dan juga bibi" pinta Aisha dengan tegas.
"Sayang, kenapa ada Leon?" Rengek Altezza yang masih menempel pada Aisha.
"Altezza, cepat lepaskan" pinta Altezza dan berusaha melepaskan tangan Altezza yang masih saja melingkari perutnya.
"Apa karena ada Leon?" Rengek Altezza yang masih manja itu.
"Huft... Altezza, apa kamu..." Aisha pun memutar badannya, mereka pun saling berhadapan, namun Altezza masih tak mau lepas dari Aisha.
"Bibi, tolong Leon ajak kemari ya" seru Aisha, bibi Lin mengangguk dan berjalan menuju kamar Leon yang ada di kamar tamu.
"Altezza... Lepasin" pinta Aisha.
Altezza menghiraukannya, dan mengarahkan tubuh Aisha untuk duduk diatas pangkuannya. Altezza sudah dalam posisi duduk dan memangku Aisha dengan posisi duduk menyamping, Altezza pun enggan melepaskan Aisha sekalipun Aisha berusaha memberontak.
Tak lama kemudian, Leon datang bersama bibi Lin.
"Leon, ayo duduk. Kita makan bersama" seru Aisha.
Leon yang melihat tingkah Altezza pun merasa sungkan, takut jika kehadirannya akan mengganggu kesenangan bosnya itu, apalagi adegan yang bisa di anggap senonoh oleh seseorang yang jomblo seperti Leon, meskipun adegan itu hanyalah sebatas memangku dan memeluk manja, bukanlah adegan vulgar.
"Ah, tidak tidak. Nona..." Belum sempat Leon meneruskan ucapannya, Altezza sudah menatapnya dengan tajam.
"Haia... Baiklah, bibi Lin. Mari kita duduk" ucap Leon. Bibi Lin dan Leon pun duduk cukup jauh dari jarak Alrezza yang masih saja enggan melepaskan Aisha. Mereka pun menunggu Aisha dan Altezza lebih dulu untuk mengambil nasi dan lauk pauk serta kuah soto yang terlihat menggoda.
"Altezza, mau makan tidak? Kamu sudah janji antarin aku ke kampus lho" ucap Aisha yang berusaha melepaskan diri.
"Gak mau. Bibi Lin, bantu Aisha" perintah Altezza.
"Eh, Altezza. Biarkan bibi Lin makan dulu, Leon gak perlu sungkan. Cepatlah ambil, hari ini aku masaknya kebanyakan kok" ucap Aisha yang masih berusaha melepaskan diri.
"Altezza" Altezza enggan melepaskan.
"Baru kali ini, bos begitu lengketnya dengan nona Aisha" batin Leon, ia pun merasa iri.
"Ah, kenapa kalian belum juga mengambil. Cepat ambil lebih dulu, atau aku akan marah" ucap Aisha, Leon dan bibi Lin pun dengan segera mengambil sesuai selera.
"Huft... Baiklah, Altezza. Lepaskan dulu, nanti aku akan kembali kepangkuanmu dan menyuapimu. Tapi lepaskan aku dulu untuk mgambil nasi untukmu" Aisha mengalah.
Altezza tersenyum menang, ia pun melepaskan Aisha. Dengan segera Aisha mengambil nasi, lauk pauk lalu menyiramnya dengan kuah soto. Aisha pun menaruh mangkuk itu di depan Altezza, kemudian kembali duduk di pangkuan Altezza.
"Setidaknya masih hangat, Altezza buka mulutmu. Ini pasti akan membuatmu berkeringat" ucap Aisha dan mulai menyuapi Altezza. Altezza pun terlihat lahap saat di suapi oleh Aisha. Tak lama kemudian, Leon dan juga Bibi Lin sudah selesai makan, karena memang mereka sengaja cepat-cepat untuk menghabiskan makanan mereka.
"Nona, ini lah pertama kali aku memakan soto. Begitu lezat" puji Leon.
"Jika kau mau, kau boleh menambah" ucap Aisha.
"Ah, nanti saja nona. Sekarang, aku harus pergi mandi" ucap Leon.
"Kalau tidak segera pergi, gajiku bisa terancam" batin Leon. Ia pun bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Begitu juga bibi Lin.
"Sayang. Biarkan aku yang menyuapimu" ucap Altezza dan merebut sendok dari tangan Aisha.
"Baiklah" Aisha hanya pasrah.
Aisha pun memakannya dengan lahap, anehnya lagi saat Altezza menyuapi Aisha, ia pun ikut makan kembali. Setelah Aisha selesai mengunyah Altezza menyuapi Aisha, setelah itu Altezza menyuapi untuk dirinya sendiri.
"Altezza. Sadar tidak, kamu sudah makan banyak lho" ucap Aisha, Altezza hanya diam dan sibuk mengunyah. Setelah selesai mengunyah Altezza menyuapi Aisha.
"Di cuekin???" Ucap Aisha dalam hati.
"Masakan kamu terlalu enak, sayang" puji Altezza dan mencium kening Aisha.
"Entah kenapa, aku jadi ingin selalu memasak untuknya. Setidaknya, Altezza tak pernah protes seperti Alex. Bahkan dia selalu membuatku nyaman, sekalipun dia yang telah mencuri ciuman pertamaku bahkan keberapa sekian kali, tapi membuatku menjadi kecanduan. Tidak, apa yang aku pikirkan" ucap Aisha dalam hati, dengan wajah yang tiba-tiba memerah itu.
"Sayang, kenapa kamu terus memandangi dadaku, lalu kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Ucap Altezza dengan sengaja.
"Tidak. Tidak ada. Altezza, aku sudah kenyang. Aku mau mandi" ucap Aisha kemudian.
"Mau mandi bersama?" Tawar Altezza.
"Omomng kosong apa itu? Dasar kamu, Altezza mesum" ucap Aisha dan menepuk wajah Altezza dengan kedua tangannya lantaran Aisha begitu gemas.
Aisha pun beranjak, dan segera pergi untuk membersihkan diri di kamar mandi. Tak lama Aisha menjalani ritual mandi, itu pun keluar dengan kimono handuk putih yang sudah membaluti tubuhnya. Disitu Aisha mulai bingung, Aisha harus memakai baju apa?
Tok tok... Ceklek.. Altezza yang langsung menerobos masuk.
"Eh? Altezza?" Asiha kaget.
"Sayang, kamu sedang menggodaku?" Goda Altezza.
"Diam" teriak Aisha dan melemparkan handuk kepada Altezza.
"Oi, Altezza. Tak ada kah pakaian untuk ku kenakan?" Ucap Aisha kemudian.
"Hemmm..." Altezza melangkah menuju lemari besar itu. Dibukalah lemari itu.
"Ha???" Aisha terbelalak sekaligus menganga, saat melihat tumpukan bahkan baju yang bergantungan di dalam lemari cukup banyak.
"Altezza, itu baju siapa? Kenapa, kenapa ada banyak baju di sana?" Ucap Aisha, bingung sekaligus curiga.
"Hemm... Sayang, apa yang kamu pikirkan? Kemarin kita ke toko pakaian dan memborongnya untukmu" ucap Altezza.
"Sejak, sejak kapan?" ucap Aisha hampir tak percaya.
"Hemmm... Sejak kamu terus memandangi sebuah gaun berwarna hitam yang yang terpampang di sebuah kaca"
Aisha mengingat-ingat, dan benar saja. Saat itu Aisha memang tertarik dengan model gaun itu.
"Benar-benar peka. Tapi..." gumam Aisha dalam hati.
"Tapi kita kan gak mampir, bahkan beli" ucap Aisha
"Iya, aku menyuruh bibi Lin untuk memborong yang ada disana" ucap Altezza dengan entengnya.
"Apa?" Aisha tak percaya, Aisha pun mencari gaun hitam itu. Dan benar saja, gaun itu ada disana, bahkan segala baju yang terlihat sepintas pun sudah ada dilemari itu.
"Altezza. Kenapa kamu membeli begitu banyak?"
"Kamu kan istriku"
"Omong kosong apa itu? Ah, Altezza. Keluar dulu, aku mau ganti baju" pinta Aisha.
"Ganti saja, aku akan melihatnya. Eh, maksud aku, aku tak akan melihatnya" ucap Altezza.
"Omong kosong macam apa itu. Cepat keluar" Aisha pun mendorong Altezza. Setelah Altezza sudah berada di luar, Aisha pun buru-buru memilih baju dan memakainya.
Tak lama kemudian, Aisha sudah selesai dengan segalanya, dari memakai baju, menggunakan lotion dan ritual-ritual lainnya. Entah mengapa, kamar itu sudah seperti kamar sepasang suami istri, semua kebutuhan Aisha sudah kengkap disana, padahal sebelumnya tidak ada perlengkapan untuk seorang perempuan seperti diringa. Aisha pun mempersilahkan Altezza untuk masuk, namun sialnya Altezza ternyata sudah mandi dan hanya mengenakan handuk yang dan telanjang dada.
"Ya Tuhan, kenapa begitu berat ujian yang Kau berikan kepadaku" ucap Aisha dalam hati.
Altezza hanya diam dan menerobos masuk. Aisha pun segera keluar, namun tiba-tiba tangan Aisha ditarik oleh Altezza, dan memeluknya di sana.
Deg deg...
"Ya Tuhan, jantungku serasa mau copot. Altezza benar-benar membuatku goyah" ucap Aisha saat dirinya memeluk Altezza yang masih telanjang dada.
Altezza langsung melumat bibir kekasihnya itu, dan bermain dengan ciuman itu. Entah mengapa Altezza merasa gemas dan ingin selalu melumat habis bibir Aisha.
Aisha yang menerima ciuman itu pun hanya membalas dengan memeluk Altezza, Altezza yang menyadari itu pun merasa enggan melepaskan ciuman itu, ingin terus melumatnya. Altezza mengerahkan kedua tangannya ke wajah Aisha untuk menahan wajah Aisha. Altezza pun mencium gemas disana.
Altezza pun melepaskan ciuman itu, Altezza mencium kening Aisha. Di sana Aisha nampak malu.
"Sayang. Aku ingin terus bersamamu, tapi aku harus pergi untuk bekerja. Sayang, kamu kalau di kampus jangan nakal ya" ucap Altezza dengan manjanya.
"Entah kenapa, dua hari ini Altezza terlihat begitu manja. Bahkan wajahnya terlihat menggemaskan, jika sedang merengek seperti ini" ucap Aisha dalam hati, yang masih memandangi wajah Altezza.
"Iya, iya" ucap Aisha dengan nada sedikit kesal tetapi ia merasa cukup senang, Altezza meraih tangan Aisha dan menempelkan tangannya ke wajah Altezza, tepatnya di pipi.
"Ya Tuhan, manis sekali" ucap Aisha dalam hati yang hampir meleleh itu.
"Altezza, kenapa akhir-akhir ini, kamu begitu manja sekali?" ucap Aisha kemudian.
"Hemmm..." Altezza menyenderkan keningnya diatas bahu Aisha
"Aisha, ingin sekali aku menikahimu. Tapi aku tahu, kamu ingin fokus dengan studymu dan bekerja lebih dulu. Jika bersamamu, ingin sekali rasanya aku terus bermanja denganmu. Aisha, bisakah kita menikah secepatnya?" Ocehan Altezza membuat Aisha berdebar tak menentu.
Aisha tersenyum, ia pun memeluk erat tubuh Altezza. Aisha lupa jika Altezza masih telanjang dada dan hanya mengenakan handuk.
"Aku pun ingin, seperti ini terus Altezza. Kau selalu membuat jantungku berdebar cepat, dan membuatku semakin untuk jatuh cinta kepadamu" ucap Aisha dalam hati.
"Altezza, sebaiknya kamu cepat ganti baju. Aku tunggu di bawah ya" ucap Aisha kemudian.
"Gak mau, tunggu aku di ruang tengah" rengek Altezza
"Baiklah, cepat lepaskan" ucap Aisha, Altezza pun melepaskan pelukannya itu. Dengan segera Aisha keluar dan menuju ruang tengah yang berada di lantai dua. Sedangkan Altezza, tengah sibuk mengenakan baju formalnya di dalam kamar.