
Mama Hani, tak percaya dengan apa yang telah di lakukan Alex. Entah dari mana Alex mendapatkan keberanian seperti itu. Bahkan masa kecil Ares kakak sulung Alex, tak memiliki kemampuan yang sungguh di luar nalar seperti Alex barusan. Para tetangga pun sudah membubarkan diri, mama Hani, Alex dan Elan pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Alex... Bisa ceritakan ke mama, dari mana kamu tahu? Bahkan kamu, Elan. Kamu terasa janggal bagi tante, jujur tante bingung dengan keadaan ini" ucap mama Hani yang mulai curiga sekaligus gusar dan penasaran.
"Mama, nanti Alex cerita. Tapi mama harus makan dulu" ucap Alex yang kemudian menyajikan makanan untuk mamanya itu.
"Lagi-lagi kamu... Baiklah, mama akan makan" ucap mama Hani, Alex pun menyiapkan makanan untuk mamanya.
Mama Hani terlihat hanya diam sekaligus haru, ternyata Alex memiliki sisi yang lembut. Dengan segera mama Hani pun mulai makan makanannya setelah Alex selesai menyajikannya, dengan cepat mama Hani menyantapnya agar cepat mendapatkan penjelasan, sebab ia tahu sifat Alex. Begitu mama Hani makan, Alex ikut untuk makan, bahkan Elan pun di paksa untuk makan bersama.
Tak lama mereka menyantap makanan itu, dengan segera mama Hani meminum obat karena ia merasa memarnya terasa berdenyut dan sakit.
"Sekarang, katakan. Jelaskan pada mama" pinta mama Hani, yang sudah selesai meminum obat.
"Ah, sudah jam dua lebih, sepertinya Alex harus bobok siang" ucap Alex dengan sifat kekanak-kanakannya. Sontak mama Hani merasa geram dengan Alex yang selalu saja menghindar.
"Alex" panggil mama Hani, saat Alex melenggang pergi tanpa dosa itu.
"Dasar anak satu itu" gumam mama Hani.
"Sepertinya, Alex sengaja melimpahkan semuanya kepadaku" ucap Elan dalam hati, yang merasa terintimidasi oleh anak kecil.
"Elan... Yang tersisa disini hanya kamu, berarti kamu yang harus menjelaskan. Benar tidak?" ucap mama Hani dengan wajah seriusnya.
"Ah, ahaha, baiklah tante" ucap Elan yang tak bisa lari.
Elan pun mulai bercerita, bermula ia ditugaskan oleh bosnya untuk melindungi keluarga Aisha. Hal yang pertama, ketahuan dengan Alex tanpa sengaja dan Alex pun sudah curiga akan gerak-gerik dirinya. Alex pun membuktikan dugaannya dengan cara Alex sengaja masuk ke dalam suatu masalah, dan benar saja Elan datang menolongnya bahkan beberapa lainnya.
Suatu ketika, Alex sengaja pergi ke taman anak-anak seorang diri. Di sanalah Alex membongkar Elan, dengn cara Alex berpura-pura menjadi anak polos yang tak tahu akan bahaya di suatu kerumunan preman yang tengah memalak seseorang pria yang hendak lewat, dari sanalah Elan datang bersama yang lainnya untuk membekuk beberapa preman yang hampir saja melakukan kejahatan kepada Alex.
Dan setelah itu pula, Alex menggertak Elan untuk mengaku siapa dirinya, dengan terpaksa Elan mengakui lantaran perintah dari bosnya, yaitu bos Gibran untuk selalu menjaga keluarga Aisha.
Alex pun mengambil keuntungan dari itu untuk menjaga mamanya, karena ia tahu, Alex yang masih kecil belum mampu untuk melindungi mamanya. Namun, mereka belum tahu siapa Gibran. Yang Elan tahu, ia di perintahkan melalui seseorang yang paling dekat dengan bos mereka. Bahkan sampai sekarang Elan belum pernah melihat bos mereka, hanya sesekali pernah mendengar suaranya melalui telepon. Itu pun jarang sekali dan hanya sepatah kata atau dua patah kata.
"Tapi, maaf tante. Alex meminta ada bekas luka pada tante, untuk sebagai bukti" ucap Elan dengan sungkan.
"Apa? Jadi?" Mama Hani terbelalak tak percaya.
"Ehehe. Maaf tante, sebetulnya bisa saja sih, Elan langsung menolong tante, tapi Alex yang memintanya, membiarkan ada bekas untuk bukti" ucap Elan dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Pantesan, anak itu langsung pergi. Jadi ini alasannya. Sengaja mamanya kena tamparan orang, tapi... Tak apa lah, semua juga berkat Alex" ucap mama Hani dalam hati.
"Tante. Kalau begitu, Elan permisi dulu..." Ucap Elan kemudian.
"Baiklah. Tapi Elan, bisakah kamu membantuku? Untuk memberiku nomer ponselnya Gibran. Karena aku merasa Gibran seperti orang yang Aisha cari" ucap mama Hani.
"Soal itu, tante. Alex sudah mengetahuinya, ehehe. Elan pamit ya tante" ucap Elan dan mencium tangan mama Hani.
"Mari, tante"
Elan pun bergegas keluar dan masuk kedalam mobil, Elan pun pergi dan melaju meninggalkan rumah mama Hani. Mama Hani pun membereskan apa yang ada di atas meja ruang tamu. Cukup lama mama Hani membereskannya, dan rumah sudah nampak kembali rapi. Mama Hani bermaksud untuk menemui Alex, putra kecilnya itu di dalam kamarnya.
Mama Hani membuka pintu kamar Alex, terlihat Alex yang sudah terlelap dengan wajah mungilnya itu. Memang benar, Alex terlihat tampan dan mirip dengan Amon bahkan melebihi Amon. Mama Hani membelai wajah anaknya itu dan mencium kening Alex yang masih terlelap.
"Mama, Alex sayang mama... emmm uemmm uemm... Mama jangan sedih lagi" igauan Alex, membuat mama Hani terenyuh sekaligus tetawa kecil, begitu mungilnya anak itu.
"Amon, kau lihat anak kita? Begitu pemberani sepertimu. Bahkan jauh melampaui dirimu" ucap mama Hani dalam hati dan menyeka air mata yang hampir jatuh itu.
Mama Hani beranjak bangun dan keluar untuk istirahat sejenak. Didalam kamar mama Hani, ia mengambil foto dirinya dan juga Amon, suaminya itu dari atas meja tepat disamping ranjangnya itu. Mama Hani nampak menitikkan air mata karena kerinduan.
Mama Hani pun terlelap dengan memeluk foto itu, hingga pulasnya tanpa sadar hari sudah sore. Alex yang melihat mamanya tertidur dengan memeluk foto itu pun mengambil dan memandang wajah kedua orang tuanya di foto itu, Alex pun menyeka air matanya, lantaran dirinya juga rindu akan sosok seorang ayah, sekaligus kakak Ares yang selalu mengajak Alex bermain waktu kecil dulu. Dengan segera, Alex menaruh foto itu di atas meja. Alex pun mencium kening mamanya yang masih pulas itu.
"Emmm... Amon..." Mamanya mengigau, membuat Alex kaget, lantaran Alex selalu diam-diam mencium mamanya sebagai rasa kasih sayang Alex. Gengsi dong jika Alex ketahuan mencium mamanya, dengan segera Alex pergi dan keluar dari kamar itu.
Tak lama kemudian, mama Hani bangun dari tidurnya. Ia meregangkan otot-ototnya. Ia merasa ringan setelah tidur. Mama Hani kaget, ternyata waktu sudah hampir malam. Dengan segera mama Hani pergi untuk mandi. Dan segera untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya juga untuk anak bungsunya, Alex.