Just Married

Just Married
episode 64: Memori kejam



Aisha yang telah mendengar cerita Lala pun merasa iba, hampir saja Aisha tak mamou untuk menahan air matanya. Lala dan Lulu yang sudah kehilangan seorang ibu di masa kecilnya, pada saat umur empat tahun. Sang ayah kembali menikah dengan seorang wanita yang jahat, Lala dan Lulu tak henti menerima perlakuan jahat dari ibu tirinya itu, di tambah kakak perempuan Lala dan Lulu lah yang selalu melindungi mereka dari kejahatan ibu tirinya.


Seiring berjalannya waktu, kaka Lala dan Lulu tumbuh semakin dewasa, parasnya cantik mirip sekali dengan ibu mereka, bahkan kakak Lala dan Lulu itu sangat lembut dan baik terhadap mereka. Di saat itu pula, umur Lala dan Lulu sudah menhinjak sembilan tahun. Hanya kakak perempuannya lah yang selalu menjadi sosok ibu bagi mereka, sedangkan ayah mereka terjerumus dalam perjudian yang menyebabkan kakak mereka mengalami kekerasan, lantaran harus memberi uang untuk ayah mereka karena kecanduan judi. Sedangkan ibu tiri mereka pun tak henti berlaku kasar.


Hingga suatu ketika, kakak Lala dan Lulu memergoki ibu tirinya berselingkuh dengan seorang mafia yang jahat, ibu tiri itu meninggalkan ayah mereka yang pada akhirnya ayah mereka menjadi budak selingkuhan ibu tiri mereka. Ayah mereka pun tewas mengenaskan, lantaran mencoba untuk lari dari naungan mafia itu. Kakak Lala dan Lulu yang ingin membantu ayahnya agar terlepas dari jeratan itu pun, harus menanggung resiko yang amat keji. Kakak Lala dan Lulu di perkosa oleh berandalan mafia, hingga pada akhirnya kakak Lala dan Lulu sudah kehilangan arah, ia pun tak menyesali yang telah terjadi kepada dirinya.


Asalkan, ia bisa melindungi Lala dan Lulu dan mampu melepaskan ayahnya dari jeratan mafia, kakak Lala dan Lulu rela berkorban. Karena ia tahu, dalang kematian ibunya merupakan ulah dari ibu tiri mereka lantaran memiliki dendam di masa silam. Hingga suatu ketika, berandalan mafia itu merendahkan kakaknya secara paksa dan membuat kakak Lala dan Lulu sudah sangat frustasi, bahkan disaat ia mengandung yang entah anak siapa, anak itu pun tak dapat terselamatkan lantaran begitu keras yang ia terima, hingga tubuh dan parasnya meredup. Lala dan Lulu pun di bawa kakaknya ke suatu tempat untuk melindungi adik-adiknya dari penjualan manusia alias di jadikan wanita penghibur oleh salah satu geng mafia yang juga komplotan mantan ibu tiri mereka, yang saat itu umur Lala dan Lulu sudah menginjak sebelas tahun.


Penderitaan yang mereka alami, telah berakhir semenjak ada seorang pasangan suami istri datang untuk menolong mereka. Namun, di saat itu pula kakak Lala dan Lulu menghembuskan nafas terakhir, lantaran infeksi kelamin yang ia derita, dan juga depresi berat yang menyebabkan ia menanggung berbagai penyakit dalam. Di kematian kakaknya, merupakan pukulan terberat bagi Lala dan Lulu, lantaran ia tahu bagaimana kakaknya di paksa di depan mata mereka, kekerasan yang juga menyelimuti mereka dan penderitaan hidup yang di topang oleh seorang kakak perempuan yang begitu kuat dan tegar. Rasa trauma sudah pasti, sangat menyakitkan. Apalagi ayahnya, yang malah tega memanfaatkan kondisi itu untuk menghasilkan sejumlah uang banyak untuk judi.


"Aku masih ingat jelas, ketika kakak meninggal, tubuhnya begitu kurus serta wajahnya terlihat sedih menanggung derita kami" lirih Lala.


Aisha tak kuasa mendengar pengakuan cerita yang menyakitkan itu, ternyata apa yang di derita Aisha masih ada yang lebih menderita dan sekejam itu di banding dirinya. Aisha mengusap air matanya, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang di cintai. Ia tahu rasanya kelejaman yang ia alami, namun tak sekejam penderitaan Lala dan Lulu. Di sisi lain Aisha juga bersyukur, lantaran penderitaan yang ia alami tak sepedih yang Lala dan Lulu rasakan.


"Itu sebabnya, kami sangat menyukai kak Aisha. Kakak Aisha begitu baik dan lembut seperti kak Lily" ucap Lala kemudian.


"Maafkan aku, Lala" lirih Aisha, ia pun memeluk Lala.


Tanpa sadar Aisha menangis bahkan Lala lebih pedih saat itu. Aisha hanya mampu menenangkan Lala yang terguncang akan masa lalunya, Aisha hanya mampu memeluk seperti seorang kakak yang lama Lala rindukan. Kini Aisha mengerti, sejak kedatangan Lala dan Lulu dengan sorot mata yang berbinar, merupakan rasa rindu akan seseorang yang ia cintai.


Di sisi lain, di balik tembok dekat dengan pintu ada Lulu yang tengah mendengar pembicaraan mereka. Ia menangis di sana, ia teringat bagaimana penderitaan yang ia alami bersama sang kakak dan juga Lala. Bagaimana rasanya kehilangan. Namun, Lulu lah yang paling kuat dan tabah di banding Lala. Lulu selalu menyembunyikan kesedihan itu dan bersikap kuat untuk menahan diri agar tidak menangis, namun malam itu Lulu telah kalah dengan memori masa silam yang begitu pedih dan kejam.


Lulu mengusap air matanya, ia pun bangkit untuk bangun sebelum mereka akan memergoki dirinya. Lulu hanya ingin tegar sebagaimana, perjuangan kakaknya yang selalu berusaha melindungi dirinya.


"Suara apa itu?" Ucap Aisha kaget, lantaran pecahan vas bunga terdengar cukup kuat, ia pun buru-buru mengusap air matanya.


Aisha berdiri dan melangkah keluar untuk mengecek, namun saat membuka pintu. Aisha di kejutkan oleh paman Albert yang kebetulan baru datang. Dan mereka melihat ada pecahan vas bunga di lantai sudut ruang.


"Kok bisa pecah?" Ucap Aisha.


"Maafkan, saya nona. Mungkin ada kucing liar yang masuk" ucap paman Albert.


"Syukurlah, aku pikir ada sesuatu yang terjadi" ucap Aisha dengan nafas lega.


"Sekali lagi, maafkan saya nona. Saya akan membersihkannya" ucap paman Albert.


"Baik. Terima kasih, paman" ucap Aisha.


Aisha pun kembali masuk dan menutup pintu kembali, sedangkan paman Albert tengah membersihkan pecahan vas bunga.


"Hampir, saja" gumam Lulu, di balik lorong tembok menuju kamarnya itu.


"Lulu?"


"Ha? Bibi Lin?" Ucap Lulu gelagapan.