
Perjalanan yang melelahkan, hingga mobil Altezza sudah berada di kawasan villa yang cukup besar. Leon segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Altezza. Dengan sigap Altezza memapah Aisha yang masih terlelap itu. Altezza membawanya masuk ke dalam villa, setelah itu Leon kembali masuk kedalam mobil untuk memarkirkan mobil di dalam garasi mobil yang ada disamping villa tersebut.
Altezza sangat kuat untuk memapah tubuh Aisha hingga kelantai dua, sesampainya di kamar utama, dimana kamar itu merupakan kamar Altezza. Dengan perlahan Altezza membaringkan tubuh Aisha dengan pelan.
Datanglah bibi Lin untuk membantu tuannya untuk membersihkan badan Aisha, Altezza pergi mandi sedangkan bibi Lin tengah telaten mengganti baju Aisha. Tak lama kemudian, Altezza sudah selesai mandi dan badannya sudah merasa segar, ia pun memandang Aisha yang sudah berselimut tebal dengan mata yang terpejam. Altezza merangkak naik di atas ranjang dan ikut dibawah satu selimut dengan Aisha, disanalah Altezza merangkul tubuh Aisha hingga terlelap.
Suara kicauan burung terdengar dengan asiknya mereka bernyanyi menyambut sang mentari, pagi hari telah tiba. Hari itu tepat hari senin, dimana waktu untuk sibuk. Terutama Aisha yang harus masuk ke kampus, Aisha merasakan hangatnya mentari menyorot wajah cantiknya itu. Aisha meregangkan otot-ototnya, namun ia merasa janggal lantaran ada rasa berat di perut dan juga diatas kaki.
"Aaaa.... Altezza, bodohhh" Aisha menjerit, saat mengetahui Altezza tengah memeluknya layaknya seperti guling. Aisha bergeliat bangun dan terduduk.
Sedangkan Altezza nampak masih mengantuk itu pun seperti orang yang linglung. Aisha melihat badannya yang sudah memakai piyama satin berwarna navy. Ia mulai panik, sedangkan Altezza malah malas-malasan dan meraih tubuh Aisha.
"Lepaskan tanganmu, Altezza" ucap Aisha.
"Hemmm... Pagi sayang" ucap Altezza dengan malasnya.
"A, apaan. Cepat bangun Altezza" ucap Aisha seperti ingin meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah memenuhi pikirannya itu.
"Hemmm... Ada apa, sayang" ucap Altezza yang sudah bangun dan bersandar itu.
"Ya Tuhan, dia, dia telanjang dada" ucap Aisha dalam hati, dan membuat hati Aisha berdebar tak menentu.
"Altezza, bodoh. Kenapa kamu telanjang dada" teriak Aisha.
Altezza hanya diam dan melihat dirinya memang telanjang dada. Altezza melihat Aisha yang enggan melihat dirinya telanjang dada, dengan sigap Altezza meraih tubuh Aisha dan menyandarkan didadanya. Mereka sudah saling berhadapan.
Deg deg... Jantung Aisha memburu, lantaran badan Altezza benar-benar membuat Aisha bergejolak. Benar-benar membuat mata terpana, apalagi tubuh Aisha telah menempel disana, Altezza nampak lebih gentle dan gagah. Aisha benar-benar kalut dibuatnya.
"Aa, lepaskan aku, Altezza..."
Tiba-tiba Altezza menyantap bibir manis Aisha dengan hangatnya. Aisha terengah-engah dengan kelembutan itu, Altezza pun memegang kepala Aisha agar Altezza bisa lebih lama mencium Aisha. Aisha seperti sedang kehabisan nafas, Altezza pun melonggarkan ciumannya itu hingga membuat Aisha kembali bernafas.
Aisha tak mampu memungkiri gejolak dalam dirinya, ia pun merelakan ciuman itu terjadi cukup lama. Altezza melepaskan ciuman itu dan melihat Aisha dengan senyuman. Altezza tahu, jika Aisha mulai menerima dirinya. Hal yang membuat Altezza senang sekaligus bahagia, bahwa usaha Altezza tak sia-sia.
"Aisha, bukankah kamu memintaku untuk membuatmu benar-benar mencintaiku? Apa ciuman tadi sudah membuatmu jatuh cinta kepadaku" goda Altezza yang masih memeluk tubuh Aisha yang masih menindih diatas badannya dengan sandaran diatas bantal.
Aisha memejamkan mata sebentar dan membuka matanya kembali dengan di iringi ia bangkit dari dakapan Altezza.
"Altezza, berhenti menggodaku. Lalu ini apa? Siapa yang menggantikannya? Lalu, apa yang kamu lakukan kepadaku semalam?" Aisha langsung melontarkan pertanyaan dengan rasa cemas.
"Coba tebak, siapa ya kira-kira mengganti pakaianmu. Lalu apa yang telah terjadi semalam..." ucap Altezza dengan senyum piciknya.
"Kamu..."
Tok tok tok...
"Tuan, sarapannya telah siap tuan" suara bibi Lin di balik pintu kamar Altezza.
"Pergilah" balas Altezza dari dalam kamar.
Altezza melihat Aisha menghembuskan nafas lega, setelah mendengar bibi Lin yang artinya kemungkinan bibi Lin lah yang melakukannya.
"Tapi, semalam... Tapi aku tidak merasakan hal aneh di tubuhku. Hanya saja, jantungku yang aneh, tiba-tiba berdebar kencang" ucap Aisha dalam hati.
"Aisha. Kan aku yang menggantikan pakaianmu, kenapa kamu bernafas lega seperti itu" ucap Altezza.
"Bodoh. Mana mungkin kamu yang mengganti pakaianku" ucap Aisha, walau sebenarnya ia merasa sedikit cemas.
"Kamu meremehkanku?" Ucap Altezza dan duduk dengan tegap.
"Aa, Altezza. Cepat pakai bajumu" ucap Aisha yang merekah malu melihat dada bidangnya Altezza.
"Kenapa? Bukannya kamu sudah meremehkanku?" Ucap Altezza dan mendekati Aisha.
Aisha dengan sigap beranjak dari ranjang, ia berdiri dan hendak menjauh dari Altezza.
"Altezza bodoh..." Ucap Aisha dengan tengah berlari menuju pintu.
"Aisha.." panggil Altezza, namun Aisha sudah keluar dari kamar.
Aisha turun dan mencari bibi Lin, terlihat bibi Lin sedang berada di dapur dengan cepat Aisha menghampirinya.
"Bibi Lin. Aisha mau tanya, apa semalam bibi yang menggantikan pakaianku?" Ucap Aisha dengan cemas.
"Iya, nona. Bibi yang telah mengganti pakaian nona, maafkan bibi yang telah lancang..."
"Ah, tidak. Sama sekali tidak apa-apa bibi Lin, justru aku sangat berterima kasih padamu. Tapi, apakah semalam Altezza melakukan hal yang macam-macam kepadaku?" Ucap Aisha setengah berbisik.
"Hem, maaf nona. Saya tidak tahu, tapi yang pasti, tuanku selalu menjunjung tinggi martabatnya" ucap bibi Lin, sedikit menahan tawa lantaran kepolosan Aisha.
"Ngomong-ngomong, ini rumahnya Altezza ya bi?" Ucap Aisha, tersadar itu bukan apartemen Altezza yang pernah ia tempati.
"Ini rumah kita, sayang" sahut Altezza yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
"Diam. Aku tidak bertanya kepadamu" ucap Aisha kesal.
"Hehe. Coba saja tanyakan pada bibi Lin" ucap Altezza, Aisha menoleh ke arah bibi Lin.
"Apa kalian bersekongkol?" Selidik Aisha.
"Maaf. Nona, memang inilah kebenarannya" ucap bibi Lin.
"Jika ini villa kamu, lalu kenapa kamu tinggal di apartemen?" Ucap Aisha kepada Altezza
"Ya itu karena, villa ini baru di renovasi, sayang" ucap Altezza dengan entengnya, Altezza duduk dan minum segelas air putih.
Nampak melegakan dan jakun Altezza benar-benar terlihat seperti lelaki yang gentle. Aisha menelan ludah saat melihat posisi Altezza, apalagi dengan dadanya yang nampak terbuka.
"Kamu mau minum sayang?" Ucap Altezza, saat menyadari Aisha telah memperhatikannya.
"Ini tidak benar. Aku bisa gila dengan apa yang ada didepan mataku, aku tidak boleh terbuai dengan tubuhnya. Tapi, benar-benar indah... Ya Tuhan, begitu berat godaan ini" batin Aisha.
"Aaa, aku lupa. Aku harus ke kampus" ucap Aisha kemudian, Aisha kelabakan melihat jam di dinding. Jam itu sudah menunjukkan angka delapan lebih.
"Buset. Kenapa jam itu begitu kejam kepadaku" rengek Aisha.
Bibi Lin yang melihat tingkah Aisha hanya tersenyum gemas, sedangkan Altezza ingin sekali mendekapnya dengan erat.
"Nona, sebaiknya nona sarapan dulu" ucap bibi Lin dan mempersilahkan Aisha untuk duduk.
"Ah, tidak mau. Aku harus pergi ke kampus sekarang" ucap Aisha.
"Aisha... Jarak villa ini dengan kampusmu sangatlah jauh. Cepatlah temani aku makan, nanti akan aku ajak kamu pergi ke suatu tempat" ucap Altezza yang mulai melahap.
"Bodoh. Masa iya aku harus membolos?" Ucap Aisha.
"Satu hari tak masalah, sayang. Lagipula kamu sudah benar-benar terlambat" ucap Altezza dengan entengnya.
"Silahkan, nona" ucap bibi Lin dan mempersilahkan Aisha untuk duduk
"Aku tidak akan makan, kalau bibi Lin tidak makan bersama kita" Aisha merajuk manja.
"Tapi, nona..."
"Ikuti apa kemauannya" perintah Altezza.
Bibi Lin merasa sungkan, sebab baru pertama kali ini bibi Lin makan satu meja dengan tuannya di tambah Aisha, yang sudah dinobatkan sebagai nona muda di rumah itu.
"Bibi Lin, aku sangat merindukan ibuku" ucap Aisha kemudian.
"Nona, pasti ibu nona juga sangat merindukan nona" ucap bibi Lin
"Tentu. Makanya, aku lebih suka makan bersama seperti ini, lebih menyenangkan" Ucap Aisha, dan melahap makanannya.
"Nona Aisha, benat-benar beda. Tuanku sangat beruntung memiliki nona Aisha" batin bibi Lin.
"Dirinya bahkan tidak malu memerlakukan bibi Lin dengan sedimikian, Aisha kamu benar-benar membuatku jatuh hati lebih dalam" ucap Altezza dalam hati.
"Ah, maaf. Bibi sudah selesai makan, nona bibi ada pekerjaan lain" ucap bibi Lin dan kemudian pamit untuk pergi, kini tinggallah Aisha dan juga Altezza.
"Sayang... Cepat suapi aku" perintah Altezza, yang sengaja tak menghabiskan makanannya.
"Makan sendiri" ucap Aisha dan membereskan piring.
"Mau ku cium?" Ucap Altezza.
"Ah, iya iya" Aisha berdiri dan mendekati Altezza dan mulai untuk menyuapi Altezza.
"Buka mulutmu, Altezza" perintah Aisha, namun Altezza tetap mengatupkan mulutnya. Aisha sudah berusaha untuk menyuapi Altezza, namun sesuap pun Altezza menolaknya.
"Mau kamu apa?" Ucap Aisha mulai kesal.
"Maunya peluk kamu dan kamu suapi aku" ucap Altezza dengan senyum piciknya.
"Apa? Benar-benar..." Altezza langsung meraih tubuh Aisha dan mendudukkan Aisha dipangkuan Altezza, posisi Aisha menyamping seperti waktu di ranjang kemarin.
Aisha melotot kepada Altezza, lantaran Altezza yang selalu saja seenaknya tanpa izin lebih dulu. Altezza hanya bersikap manja dan menundukkan kepalanya dibahu Aisha
"Altezza, lepas atau tidak aku suapin?" Ucap Aisha
"Suapin"
"Kamu memelukku..."
"Langsung saja suapi aku, seperti aku menyuapimu kemarin" pinta Altezza.
"Huhhh..." Aisha menghela nafas, ia pun tak mungkin meberontak, karena Altezza selalu bertenaga jika Aisha memberontak dan ujung-ujungnya Aisha hanya kalah.
Aisha mulai menyuapi Altezza, Altezza nampak manja itu pun tak pernah melepaskan tangannya untuk melingkari tubuh Aisha. Aisha benar-benar terpenjara dalam dakapan Altezza.
Makanan Altezza sudah habis, tanpa sadar perut Altezza benar-benar terasa kenyang. Altezza tidak menyadari sudah berapa banyak yang ia makan, ia hanya merasakan suapan dari kekasihnya itu sangatlah menyenangkan dan terasa nikmat.