
Ketika wanita itu telah mengangkat tangan kanannya dengan lekat, Aisha sudah berkesiap untuk menampis sedangkan Ayah Deva sudah hendak buru-buru untuk melindungi putrinya, dengan keras wanita itu pun berteriak,
"Musik..." Teriak wanita tersebut dan musik pun langsung berdendang ria, sontak hal itu membuat Deva dan Aisha melongo, begitu juga orang tua Deva bahkan orang yang menyaksikan pun ikut melongo di buatnya, di tambah lagi dengan gerakan-gerakan tarian yang aneh dari wanita itu tampak seperti orang yang bodoh, ya mungkin lebih tepatnya agak sedikit gila karena tarian dan musik sama sekali tidak sinkron.
"Apa wanita itu baik-baik saja?" bisik-bisik tamu yang ada di sana, sedangkan Aisha dan Deva hanya saling bertatapan satu sama lain dan menunjukkan sikap tanda tanya, Deva pun mengangkat pundaknya sebagai tanda jika dirinya juga tak mengerti.
"Hei! Kenapa kalian tak menari?" Teriak wanita itu dengan angkuh, tetapi nada suara wanita itu sudah berbeda dari sebelumnya, tentu hal itu membuat Aisha dan Deva bisa menebak siapa wanita aneh itu.
"Sally?!" Teriak Aisha dan Deva bersamaan.
"Surprise..." Seru wanita itu yang ternyata Sally, ia pun langsung melepas rambut palsunya, tetapi make up-nya masihlah terlihat tebal bahkan hampir tak mengenali wajah asli Sally, benar-benar penyamaran yang sempurna.
"Teman, kamu mau menikah pun tak mengundangku?" Ucap Sally tanpa dosa.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu sudah hampir membuat semua orang jantungan" cerewet Aisha.
"Hehehe, maaf" Sally cengengesan dan mengacungkan dua jari.
"Dia teman kamu, Nak?" Selidik Ayah Deva, begitu juga Mama Deva ikut penasaran, sedangkan Mama Hani tentu saja hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sally, sahabat Aisha di Manhattan.
"Ah, Paman, Bibi, maafin Sally" ungkap Sally yang juga merasa tak enak akan perbuatannya tadi.
"Kamu..." Ucap Mama Deva penasaran.
"Ah, iya. Saya Sally tante, teman Aisha juga teman Deva" jelas Sally.
"Oh, apa yang pernah kamu ceritakan itu Va?" Tebak mama Deva.
"Iya, Ma. Sally si blasteran bule itu, teman Aisha waktu di Manhattan" terang Deva.
"Nak Sally, sebaiknya kamu hapuslah make up kamu dulu ya, aku malah ingin ketawa melihat kamu seperti ini" ucap mama Hani dan menahan tawa.
"Ah, i-iya tante, sebetulnya Sally juga merasa aneh dengan wajahku sendiri" ucap Sally seperti orang bodoh.
"Ayo, ikut aku. Orang-orang sudah menatapmu dengan aneh, apalagi dengan anak kecil yang sudah bersembunyi karena wajahmu itu" ajak Aisha.
"Eh, apa iya seburuk itu?" Sally pun melihat sekeliling dan ternyata sebagian orang terus menatapnya dengan tatapan aneh lantaran rasa penasarannya.
"Ah, baiklah. Sebaiknya aku ikut kamu sekarang" Sally pun menjadi salah tingkah dan langsung menempel pada Aisha.
Saat itu pula Aisha pamit membawa Sally pergi ke kamar tamu untuk membantu menghapus riasan Sally, kemudian mama Hani menjelaskan kepada orang tua Deva siapa Sally itu sebetulnya, dan cerita dari Mama Hani tentu membuat orang tua Deva dan beberapa orang yang ikut mendengarkan pun merasa tergelitik. Bagaimana bisa seorang keturunan bule berpenampilan aneh seperti itu, bahkan berlagak arogan dan sombong. Orang-orang yang mendengarkan cerita itu pun mulai penasaran akan sosok Sally yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat, Aisha dan Sally pun keluar kembali berbaur dalam acara itu, anak kecil yang tadinya menatap aneh sekarang mulai kagum akan paras Sally yang berdarah campuran itu, wanita yang berkulit putih, berhidung mancung dan wajahnya ada paras orang barat, benar-benar keberadaan Sally seperti seorang turis yang tengah tersesat di acara pesta malam sebelum perkawinan Deva.
"Paman, Bibi, sebelumnya Sally minta maaf jika tadi Sally sudah bertindak semena-mena" sesal Sally.
"Tak apa nak, kami malah senang kamu bisa datang di acara Deva" ungkap Mama Deva.
"Terimakasih bibi, anda memang orang yang baik. Ini ada titipan dari orang tua Sally untuk Bibi dan Paman, mohon di terima" ucap Sally sembari menyerahkan sebuah paper bag yang cukup besar.
"Ya ampun, kamu repot-repot sekali. Kalau begitu sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami untuk orang tuamu ya, Nak Sally" ucap mama Deva begitu lembut.
"Baik Bibi"
"Lalu untukku?" Deva sengaja.
"Em? Maksud kamu?" Sally berlagak tak tahu.
"Ya sudah kalau tidak ada" Deva tak mau kalah, ia pun berlagak marah.
"Oh" Sally masa bodoh.
"Ih, kamu nyebelin banget ya. Sudah datang bikin rusuh, sekarang tidak mau tanggung jawab" Deva mulai cerewet.
"Aisha, Aisha, tolong aku, kenapa Deva jadi marah-marah padaku"
"Kamu"
Dan terjadilah momen seperti anak kecil yang tengah berlarian dan saling mengejar, Aisha yang sebagai penengah itu pun hanya terdiam terombang-ambing seperti perisai bagi anak kecil bermain. Sedangkan orang tua Deva juga mama Hani yang melihat itu pun hanya mampu menggelengkan kepalanya, lantaran melihat gadis berusia dua puluhan bersikap seperti anak kecil.
"Dasar, orang dewasa lupa umur" gumam Alex yang sedari tadi sudah bosan berada di acara itu, Alex pun berniat pergi dan mencari udara segar di luar.
"Alex..." Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang memanggil Alex saat dirinya sudah berada di luar.
"Ada apa?" Ucap Alex acuh tak acuh.
"Kamu... Mau kemana?" Ucap gadis kecil itu dengan imutnya.
"Apa urusanmu?" Alex nasa bodoh, ia pun kembali melangkahkan kaki dan meninggalkan gadis kecil itu.
"Tunggu aku, kamu mau kemana?" Gadis kecil itu pun buru-buru mengejar Alex, tetapi sialnya gadis kecil itu malah terjatuh.
Brakkk... "Aduh" dengan refleks, Alex lansgung menghampiri gadis kecil itu dan menolongnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Alex pun merasa khawatir lantaran ada darah yang keluar dari lutut gadis kecil itu.
"Dasar, anak bodoh" tiba-tiba Alex di kejutkan dengan suara pria yang tak asing bagi dirinya, yaitu, Altezza. Gadis kecil yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah Altezza, tetapi ketika gadis kecil itu menatap Altezza ia merasa terpesona kepada Altezza.
"Wah... Kakak tampan" batin gadis kecil itu.
"Sampai berdarah seperti ini kenapa kamu hanya bertanya?" Altezza pun meraih tubuh gadis kecil itu dan membawanya pergi menuju mobil untuk mengobati luka.
"Wah... A-aku di gendongnya" batin gadis kecil yang sedang terpana akan sosok Altezza yang tampan nan gagah.
"Kalau di pikir-pikir, kakak ini jauh lebih tampan daripada Alex" gumam gadis kecil itu, ia pun melihat Alex dan langsung menunjukkan sikap acuhnya.
"Heh" gadis kecil itu membuang muka.
"Eh?" Alex pun menyipitkan matanya.
"Duduklah, paman akan membersihkan luka mu" ucap Altezza yang terdengar gagah itu.
"Iya" gadis kecil itu pun menunjukkan sikap penurut.
"Sial" umpat Alex dalam hati, saat dirinya menyadari akan sikap gadis kecil itu entah kenapa Alex merasa kesal sendiri, ketika melihat Altezza tengah membantu membersihkan luka gadis kecil itu.
"Minggir" Alex menerobos dengan angkuhnya.
"Kenapa kamu kemari?" Gadis kecil itu marah.
"Kenapa kamu marah padaku?" Alex pun tak mau kalah.
"Heh" gadis itu pun membuang muka dan bersikap acuh tak acuh, bahkan ia juga melipat kedua tangannya.
"Ishhh..." Gadis itu meringis krsakitan ketika Alex tengah mengobati luka yang ada di lutut gadis kecil itu.
"Lembutlah sedikit, Alex" Altezza memperingatkan.
"Diamlah. Kakak ipar, sebaiknya kamu cepatlah pergi sebelum kakak melihat kamu sedang menggoda anak kecil di sini" celetuk Alex, sontak Altezza pun menahan diri untuk tidak tertawa, sedangkan Leon yang menyaksikan itu pun juga tengah berusaha menahan tawa, rupanya mereka tahu jika Alex tengah menyukai gadis kecil itu, tetapi Alex bersikap acuh.
"Dasar anak bodoh, siapa yang akan merebutnya darimu? Kalaupun aku menyukai gadis kecil, aku bisa memilikinya sendiri dengan kakakmu, heh" terang Altezza dengan sombongnya.
"Altezza!" Tiba-tiba Aisha datang.
"Apa yang kamu bicarakan barusan itu?" Aisha pun mencubit pinggang Altezza dan kemudian menghampiri gadis kecil itu.
"Khansa, kenapa dengan lututmu?" Ucap Aisha saat sudah berada di dekat gadis kecil itu yang bernama Khansa. Khansa hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.
"Kak Aisha? Apa kakak kenal dengan orang itu?" Ucap Khansa kemudian, Aisha pun menoleh ke arah Altezza.
"Oh, dia? Dia itu..."
"Aku calon suaminya Kakak Aisha, sebentar lagi kami akan menikah" potong Altezza, gadis kecil itu pun terdiam.
"Eh?" Aisha pun seidkit kaget dengan ucapan Altezza, ia pun menoleh kearah Altezza.
"Ternyata kakak itu punya kakaknya Alex" batin Khansa yang sedang patah hati, ia pun menunduk lesu, tetapi ia teringat kembali akan pesona Alex yang arogan, dengan cepat ia menoleh ke arah Alex dan tersenyum dengan imut.
"A-ada apa dengan tatapan aneh mu itu?" Tiba-tiba Alex merasa merinding saat di tatap oleh Khansa.
"Alex, boleh kamu membantuku?" Ucap Khansa.
"Biarkan aku yang membantumu" tawar Aisha.
"Em" Khansa menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Kakak tampan itu pasti mau menemui mu, kak Aisha baiklah dengannya" ucap Khansa dengan polosnya.
"Eh?" Aisha tak mengerti maksud yang terselubung itu.
"Ayo Alex, bantu aku" ucap Khansa, Alex pun menurut dan membantu untuk memapah tubuh gadis kecil itu.
"Bukankah anak kecil begitu menggemaskan?" Ucap Altezza yang tiba-tiba sudah berada di samping Aisha.
"Maksud kamu?"
"Apa kamu tidak cemburu jika anak kecil tadi menyukaiku?"
"Hemp" Aisha menahan tawa.
"Altezza, apa kamu suka anak kecil? Apa kamu mau jadi predator anak kecil?" Remeh Aisha.
"Aku memang menyukai anak kecil, tapi bukan menjadi predator atau semacamnya" Altezza membela diri.
"Lalu?"
"Aku lebih suka membuatnya denganmu" bisik Altezza, seketika wajah Aisha memerah padam.
"A-apa yang kamu ucapkan" Aisha merasa geli.
"Ya aku tidak sembarangan berbicara, apa menurutmu itu tidak akan terjadi istriku? Sedangkan sebentar lagi kita akan menikah?" Aisha tak sanggup menanggapinya.
"Ngomong-ngomong, siapa gadis kecil tadi?" Ucap Altezza kemudian.
"Kenapa?"
"Hanya ingin tahu" Aisha pun menyipitkan matanya saat mendengar jawaban singkat itu.
"Ya... Setahu aku dia anak daerah sini sih, ya bisa di bilang Khansa itu adik kelas Alex, usianya sih terpaut dua tahun lebih muda dari Alex. Kenapa memangnya?" Aisha penasaran.
"Tidak ada"
"Lalu kenapa kamu kemari?" Ucap Aisha, lantaran ia tahu jika Altezza sebelumnya berada di rumah calon mempelai pria, alias Danial.
"Kangen istriku"
"Apa yang kamu katakan?" Aisha jadi salah tingkah.
"Ini" tiba-tiba Altezza menyodorkan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita berwarna silver.
"Apa ini?"
"Gaun untuk kamu gunakan besok" jelas Altezza.
"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk sekarang, jika lama-lama mereka akan mencariku nanti" ucap Aisha kemudian.
"Baik" Altezza menyetujui dan Aisha pun bergegas pergi masuk kedalam rumah calon mempelai wanita.
Keesokkan harinnya, sudah tibalah dimana waktu yang paling mendebarkan bagi Deva. Tepat di pukul delapan pagi, Deva sudah siap untuk pernikahannya. Jantungnya berdegup tak menentu, ia tiba-tiba merasa nervous dan gugup. Aisha dan Sally yang setia mendampingi Deva pun menguatkan Deva untuk percaya diri, dan kini Deva pun berkesiap untuk pergi menaiki mobil menuju sebuah gedung di mana acara itu di selenggarakan. Tak sampai setengah jam mempelai wanita sudah tiba di gedung itu, semakin gugup lah Deva di buatnya. Tangan Deva terasa dingin tetapi seluruh tubuhnya terasa panas, Aisha yang tengah menuntun Deva juga tahu akan kegugupan Deva apalagi kedatangan Deva menjadi pusat perhatian pagi itu.
Danial yang sudah berada di sana langsung menjemput calon istrinya dan menaiki sebuah panggung yang telah di sediakan bersama, dekorasi yang mewah dan berkelas tinggi semakin membuat sang ratu semalam menjadi paling yang tercantik dan paling bahagia di sana. Setelah beberapa saat, Deva dan Danial pun mulai untuk mengucapkan janji suci mereka, tanpa menunggu waktu lama akhirnya mereka sudah berhasil mengucapkan janji sucinya dan sudah sah menjadi suami istri, dengan lega Deva mengucapkan rasa syukurnya lantaran upacara paling sakral sudah berjalan dengan baik.
Dan kini tiba saatnya untuk pengantin wanita melemparkan bunga buket dari belakang, Sally pun langsung menggeret Aisha untuk ikut berbaur untuk berebut bunga buket dari pengantin. Begitu juga para pengiring pengantin lainnya juga tak mau kalah, mereka berlairan ikut dalam kerumunan bahkqn sebagian orang pun berdiri ikut berbaur dan berkesiap untuk menangkap bunga buket. Dalam hitungan mundur, Deva pun melemparkan bunga buket ke belakang, tapi sayangnya bunga itu melesat cukup jauh dari kerumunan orang yang mau menangkap, seketika semua orang menoleh ke arah mana bunga itu terjatuh.
"Hehe, anu. A-aku tidak sengaja menangkapnya" Leon cengengesan dan merasa bersalah lantaran bunga itu tanpa sengaja terjatuh padanya.
"Ah, ini buat bos saja" Leon mengulurkan bunga buket itu kepada Altezza, dengan tatapan sini Altezza menatap Leon seketika membuat Leon semakin salah tingkah, Altezza pun bergegas pergi dan menarik tangan Aisha bahkan langsung memeluk pundak Aisha.
"Kami sudah mau menikah, apa perlu kami membutuhkan itu?" Ucap Altezza dengan angkuhnya.
"Wah... Hahahaha" para hadirin pun tertawa akan adegan itu dan mereka pun bertepuk tangan.
"Siapa pria itu?" Bisik-bisik, sebagain orang juga tertawa melihat tingkah konyol Leon.
"Iya, aku juga baru menyadarinya, padahal dari tadi sepertinya tidak ada" bisik-bisik.
"Tampan sekali pria itu, ah tapi sayang sudah ada yang punya" bisik-bisik.
"Itu bukannya Aisha?" Gumam seorang wanita muda dari kejauhan.
"Sial! Darimana Aisha bisa mendapatkan pria seperti itu? Bahkan dari cara berpakaian pria itu pun seperti bukan orang biasa" pekiknya dalam hati, entah mengapa ia merasa iri dengan Aisha.
Sedangkan di sisi lain, Sally yang melihat Leon yang masih memegang bunga itu pun hanya terdiam, sedangkan para hadirin juga terdiam menatap Leon, akan kemanakah bunga itu Leon berikan. Karena kegugupan Leon, ia pun hanya mampu untuk memberikan salam hormat dengan membungkukkan badannya dan berkata,
"Maaf, aku akan menyimpannya dengan baik, maaf" ucap Leon.