
Keesokan harinya, Altezza tak kunjung memberi kabar kepada Aisha. Pagi itu pun, wajah Aisha terlihat muram. Ia seperti nampak marah, tapi enggan untuk bercerita. Namun sekilas wajah Aisha terlihat lesu tak bersemangat, namun bagaimana lagi. Mau tak mau Aisha harus berangkat ke kampus, meskipun dengan perasaan yang sulit untuk di jelaskan.
Aisha melewati pergulatan dunia kampus dengan teratur, tanpa sadar hari sudah sore. Bahkan Aisha tak mencari Sally untuk bertemu, kini Aisha berkunjung di perpustakaan untuk menyelesaikan beberapa tugas-tugas kampus yang cukup menguras energi dan pikirannya. Tanpa terasa, hari sudah malam. Aisha buru-buru untuk pulang, yang ternyata di depan kampus sudah ada paman Edo yang setia menunggu Aisha.
Entah kenapa, di dalam perjalanan itu terasa sangat lambat. Bahkan malam yang begitu ramai, entah kenapa bagi Aisha terasa sangat sepi. Bahkan perasaannya sulit untuk di jelaskan, ia sendiri kesulitan dalam menangani perasaan itu. Setelah menempuh perjalanan pulang, sampailah mereka di villa milik Altezza. Aisha hanya nampak bernafas berat, lantaran hari-harinya entah kenapa terasa begitu sulit untuk di hadapi. Bahkan Altezza sudah lama tak pernah memberi kabar, jangankan kabar untuk sekedar menjenguk Aisha pun tidak.
Lala dan Lulu menyadari kehampaan Aisha, apalagi akhir-akhir ini Aisha begitu sibuk akan dunia kampus. Terkadang Aisha sampai ketiduran di ruang perpustakaan, lantaran harus mengerjakan tugas-tugasnya. Lala dan Lulu merasa iba akan keadaan Aisha yang sekarang. Aisha sudah jarang wajahnya terlihat tersenyum ceria, hanya terlihat wajah dengan guratan kelelahan, beban pikiran dan juga wajah yang serius lebih dominan. Lala dan Lulu sudah berusaha untuk menghibur, namun apa daya, itu hanya mampu membantu Aisha hanya sedikit, tidak seperti sebelumnya saat kehadiran Lala dan Lulu.
Hingga waktu telah berlalu, tanpa terasa sudah satu minggu lamanya. Aisha semakin putus asa akan kabar Altezza, Aisha berfikir jika Altezza di sana sudah ada pengganti dirinya, atau Altezza sudah mulai bosan dan mencampakkan dirinya. Tapi kenapa Aisha harus menetap di villa yang bukan miliknya itu. Pikiran negatif sudah berandai-andai di kepala Aisha, Aisha pun menjadi sensitif dan cemburu buta. Hingga akhirnya malam itu, Altezza baru menelfon Aisha.
"Tumben telfon, ada apa?" Ucap Aisha dengan ketus.
"Sayang, ada apa dengan dirimu?" Suara Altezza di balik ponsel Aisha.
"Ada yang penting tidak? Aku sibuk" Aisha masih saja ketus.
"Sayang. Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa. Altezza, aku sibuk aku akan tutup telfonnya" ucap Aisha, ia pun menutup telfon dari Altezza.
Aisha pun menonaktifkan ponselnya, entah kenapa hati Aisha tiba-tiba terasa teriris, sakit dan ingin menangis tetapi juga ada perasaan marah fan rindu.
Sedangkan di kota London, kediaman Altezza. Altezza yang tengah berbaring di atas ranjang itu sudah mencoba menelfon kembali Aisha, namun telefon Aisha tidak aktif. Altezza mulai geram, dan bertanya-tanya kepada dirinya.
"Ada apa dengan Aisha?" Gumam Altezza.
"Sudahlah, tunggu sampai dia tenang" ucap Altezza.
Altezza pun memejamkan mata, namun fikirannya mengarah kepada Aisha. Ada apa dengannya, apakah dirinya telah melakukan kesalahan? Altezza pun mengecek ponsel, siapa tahu ada pesan singkat dari Aisha sebelumnya. Namun tidak ada sama sekali, Altezza berfikir jika Aisha sudah mengerti jika ia akan sangat sibuk, tapi kenapa dia marah?
"Apa karena aku tidak memberinya kabar, dia jadi semarah itu?" Gumam Altezza yang tak dapat tidur.
"Atau karena rindu berat?" Pikiran Altezza mulai melayang dan membayangkan Aisha yang tengah merunduinya. Membayangkan Aisha yang tengah berhalusinasi menciumi foto dirinya. Padahal kenyataannya, Aisha selalu sibuk dan hampir sangat membenci dirinya.
Manhattan, hari sudah berlalu. Semenjak Altezza menelpon itu pun sampai sekarang tidak ada usaha untuk menghubungi Aisha, bahkan untuk membujuk pun tidak ada. Aisha benar-benar marah. Aisha pun beranjak keluar dari perpustakaan dan pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Saat Aisha menuruni tangga, rumah itu begitu terasa sepi. Wajar, malam sudah sangat larut. Tapi ada yang aneh, Aisha seperti mendengar sesuatu yang samar-samar seperti seseorang yang tengah menangis.
Aisha ragu mencari sumber suara itu, Aisha pun merasa merinding. Tetapi Aisha juga penasaran akan suara itu seperti suara yang tak asing bagi dirinya. Aisha pun berjalan perlahan untuk mencari sumber suara itu. Suara itu mengarah pada kamar tamu yang tak jauh dari ruang TV kusus pelayan. Aisha berjalan semakin mendekat, suara itu semakin jelas dan gamblang. Suara isak tangis itu semakin jelas dan jelas.
"Lala?" Aisha merasa cemas, buru-buru ia menghampiri Lala dan memeluknya.
"Ka... Nona..." Lirih Lala.
"Aku masih kakakmu, tak perlu sungkan untuk memanggilku kakak" ucap Aisha, ia pun menjelma menjadi sosok seorang kakak.
Lala pun hanya mampu menangis di dalam pelukan Aisha, Aisha dengan tulus menenenangkan Lala. Aisha mengelus lembut punggung Lala. Sampai Lala cukup tenang, barulah Aisha bertanya kepada Lala.
"Lala. Ada apa? Apa yang telah membuatmu menangis seperti ini?" Ucap Aisha dengan lembut.
Lala hanya menunduk lemah dan melepaskan pelukannya dari Aisha, di wajah Lala seperti ada nampak kesedihan yang amat dalam. Apakah, ini yang pernah di bilang oleh Aisha? Jika Lala dan Lulu menyimpan sesuatu? Entahlah, Aisha masih sabar menunggu untuk Lala bercerita. Namun cukup lama, Lala masih enggan untuk bercerita.
"Ya sudah, kalau Lala masih enggan untuk bercerita. Sebaiknya, kamu cepatlah tidur" ucap Aisha kemudian dengan lembut.
"Kak...." Lirih Lala, ia pun menahan Aisha untuk bangkit dari sisinya.
"Iya, Lala?" Ucap Aisha.
"Lala akan cerita" ucap Lala kemudian, ia pun menunduk lemah dan hampir menjatuhkan air mata kembali.
"Tak apa, Lala. Jika belum siap untuk cerita, lain kali Lala boleh cerita" ucap Aisha.
Aisha menuntun tubuh Lala untuk duduk di atas ranjang, Aisha pun tak segan keluar hanya sekedar untuk mengambil segelas air putih untuk Lala.
"Minumlah, supaya kamu tenang" ucap Aisha, sembari menyodorkan segelas air putih untuk Lala.
"Nona?" Lala merasa sungkan.
"Hem, panggil saja kakak" ucap Aisha.
"Terima kasih, no.. eh kakak" Lala refleks memeluk Aisha.
Setelah, Lala meminum dan terlihat cukup tenang. Aisha menyuruhnya untuk segera tidur, namun Lala menahan Aisha agar Aisha lebih lama di kamar itu. Lala pun mulai membuka suara, tentang kesedihan yang ia rasakan selama ini.