
Setelah Aisha cukup tenang meneteskan air mata, Altezza pun meraih segelas air minuman untuk Aisha. Altezza menyuapi Aisha dengan telaten, penuh kasih sayang. Aisha kembali meneteskan air mata, kali ini Aisha lebih erat melingkarkan tangannya ke tubuh Altezza, Altezza bingung di buatnya. Altezza pun memaki-maki dirinya bahkan Amy.
"Altezza..." Lirih Aisha dengan sisa-sisa air mata.
"Katakan sayang, jangan menangis dan membuatku tak tenang" ucap Atezza khawatir dan mengusap air mata Aisha, namun kagetnya air mata Aisha semakin deras.
Aisha meraih wajah Altezza, dengan pandangan mata yang berkaca-kaca itu, Aisha memandang lekat-lekat pria yang tengah menenangkannya itu. Altezza pun menggenggam tangan Aisha yang ada diwajahnya itu.
"Aisha, aku akan membalas perbuatan Amy untukmu" ucap Altezza
"Jangan..." ucap Aisha dengan suara seraknya.
"Tapi, dia telah menyakitimu, sayang" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha.
"Bukan itu, Altezza" lirih Aisha.
"Lalu kenapa kamu menangis seperti ini?" Ucap Altezza yang begitu perhatian dengan Aisha.
"Karena aku bersyukur sekaligus terharu denganmu Altezza, aku bersyukur bisa dipertemukan denganmu, aku merasa kamulah lelaki paling baik, paling mengerti, yah paling nyebelin juga sih. Tapi aku merasa benar-benar teduh di pelukanmu seperti ini, kamu terasa berbeda dari laki-laki sebelumnya, Altezza... Apa kamu benar-benar..." ucap Aisha dalam hati.
"Tunggu. Apa yang aku katakan? Masak iya, aku..." Batin Aisha. Aisha melepaskan tangannya dari wajah Altezza, Altezza bingung dengan sikap Aisha yang tiba-tiba menangis, tiba-tiba terdiam.
"Bukan karena Amy, yang membuatku gampang terkalahkan Altezza" ucap Aisha penuh teka-teki, Altezza yang mendengar itu pun hanya mengernyitkan dahi.
"Maksud kamu?" Ucap Altezza, nampak bingung dengan ucapan Aisha
"Kamu benar-benar bodoh, Altezza. Berdasarkan sifatku, aku tidak mudah untuk di intimidasi. Apa lagi kejadian itu terasa janggal, hanya saja aku tak memiliki kekuasaan untuk itu. Karena aku merasa asing di dunia seperti ini" ucap Aisha.
"Aisha... Kamu bisa gunakan kedua tanganku, sayang" ucap Altezza merasa haru akan perkataan Aisha. Ia merasa Aisha benar-benar perempuan yang kuat, tapi kenapa ia menangis.
"Tapi... Kenapa kamu menangis seperti anak kecil?" Ucap Altezza ingin tahu.
"Itu, karena... Emmm... Karena, anu... Hehe..." Aisha merasa salah tingkah akan pertanyaan itu dan tak mampu untuk menjawab.
"Kenapa?" Selidik Altezza
"Karena..." Aisha bergerak dan melingkarkan kedua tangannya di atas bahu Altezza. Aisha memberanikan diri untuk menatap mata Altezza yang tengah kebingungan akan sikap Aisha.
"Altezza... Buatlah aku benar-benar mencintaimu" ucap Aisha dengan menahan malu, namun ia tak dapat menahan gejolak dalam dirinnya. Aisha pun memeluk Altezza dan menenggelamkan kepalanya dibahu Altezza, dengan tujuan untuk sejenak menyembunyikan wajahnya yang memerah padam dan mengontrol rasa malu nya itu.
"Aisha..." Panggil Altezza, dan mendorong tubuh Aisha agar terlepas dari pelukannya, Aisha hanya menunduk malu tak berani menatap wajah Altezza.
Altezza menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Aisha untuk menahan wajah Aisha agar tetap menghadap ke wajah Altezza, namun Aisha yang malu itu pun memandang kebawah untuk menghindar dari tangkapan mata Altezza.
"Aisha..." Panggil Altezza dengan lembut. Aisha mulai berusaha untuk menatap mata Altezza, baru saja Aisha memberanikan diri untuk menatap mata Altezza, tiba-tiba wajah Altezza sudah begitu sangat dekat, bahkan bibir Altezza sudah sangat dekat dengan bibir Aisha.
"Sial. Timingnya sudah sangat bagus malah ada gangguan" pekik Altezza dalam hati dan menepuk dahinya.
"Hihihi..."suara tawa Aisha terkikik, Altezza kembali menatap wajah Aisha yang sudah ceria itu. Dengan gemasnya, ingin sekali Altezza melumat habis bibir Aisha.
"Tuan. Ini saya, Katty. Saya di suruh tuan Lester untuk mengecek kondisi nona, apakah..." Suara Katty dibalik pintu.
"Ya, sebentar lagi kami akan keluar. Tunggulah di bawah" ucap Altezza, yang langsung menyela ucapan Katty.
"Baik, tuan" ucap katty, dan terdengar langkah Katty yang sudah menjauh.
Aisha segera turun dan membasuh mukanya dengan air yang ada di wastafel di sisi kiri menuju kamar mandi itu. Altezza yang hendak meneruskan itu pun harus menahannya, lantaran Aisha sudah buru-buru untuk turun dan membasuh mukanya. Aisha terlihat segar kembali, meskipun dengan riasan yang masih menempel di wajahnya itu pun masih terlihat bagus dan tidak luntur sedikitpun. Hanya rambut Aisha yang sedikit berantakan, Altezza pun datang menghampiri dan membantu Aisha untuk merapikan rambut Aisha.
Setelah selesai, mereka keluar dari kamar itu dan segera turun untuk ikut berbaur kembali di acara pesta pernikahan putri Lester. Pesta itu kembali dengan lancar tanpa ada gangguan maupun masalah sedikitpun.
Setelah pesta itu selesai, Altezza dan Aisha mengundurkan diri untuk pamit pulang. Sebelum itu mereka menemui Lester dan juga kedua pengantin untuk meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Nyonya Lester pun malah nemuji kabaikan Aisha, yang setulus hatinya untuk merendahkan diri atas kejadian tadi, padahal nyonya Lester tahu akan sifat Amy, yang tak lain masih keponakan nyonya Lester.
Hari ternyata sudah gelap, malam itu terasa berkesan bahkan dimana pengakuan secara tak langsung dari mulut Aisha. 'Altezza. Buatlah aku benar-benar mencintaimu'
"Aaa... Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu? Sungguh, memalukan" batin Aisha dan megepak-ngepakan kedua tangannya di pipi Aisha.
Altezza yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah Aisha, itu pun mulai mengganggu Aisha.
"Tampaknya, calon istriku masih malu" ledek Altezza. Aisha melongo mendengar ucapan Altezza.
"Diam, bodoh" ucap Aisha, ia merasa sangat malu sekaligus kesal, lagi-lagi tebakan Altezza selalu tepat sasaran.
"Ngapain malu? Kemarilah, kita lanjutkan hal yang tertunda tadi" ucap Altezza dengan sengaja, Altezza pun merentangkan tangannya dan mulai memanyun-manyunkan bibir. Aisha pun memukul wajah Altezza dengan tas yang ia bawa, sebagai setelan dengan gaun yang ia kenakan.
"Au... Sakit, sayang" rengek manja Altezza, ia pun memaksa Aisha dan memeluknya.
"Hal yang tertunda? Sepertinya, ada kemajuan" batin Leon yang tengah menyetir itu.
"Lepaskan, tanganmu!" Ucap Aisha dan memberontak untuk melepaskan diri dari Altezza. Altezza benar-benar jahil.
"Tidak akan"
"Lepaskan. Atau ku gigit nih?"
"Haha. Sayang, sebelum kamu menggigitku aku sudah menggigitmu lebih du... Aaaa..." Altezza meraung lantaran Aisha benar-benar mengigit tangannya.
Perjalanan yang cukup jauh, mobil yang mereka tumpangi itu pun tetap melaju dengan tenang, sekalipun sebenarnya didalam sana sangatlah berisik akan rengekan Aisha dan juga kejahilan Altezza, sedangkan Leon sebagai penikmat suara gaduh disana. Sesekali Altezza juga mencuri kesempatan, seperti mencium kening, pipi tapi bagian bibir belum berhasil. Sepertinya Altezza malam ini akan sulit tidur karena hal yang tertunda itu yang belum berhasil ia dapatkan.