
Altezza terdiam sejenak dan mengusap lembut kepala Aisha yang masih terbaring itu. Dengan mengernyitkan dahi, Altezza bersikap seolah-olah nampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sally?" Ucap Altezza, dengan gaya yang tengah mengingat-ingat sesuatu yang ia lupakan.
"Iya, Sally. Dimana dia? Apakah dia baik-baik saja?" Ucap Aisha cemas.
"Hemmm, menurut kamu apa dia baik-baik saja?" ucap Altezza, dengan gaya seperti tengah mengajak Aisha main tebak-tebakan.
"Apa Sally baik-baik saja, Altezza? Jawab dong" ucap Aisha, yang sudah tak sabar.
"Baiklah, baiklah. Dia baik-baik saja, satang. Bahkan lebih baik dari yang kamu duga" ucap Altezza, ia pun kembali mengusap kepala Aisha dengan lembut.
"Syukurlah... Tapi... Lepaskan tangan kamu, bodoh" ucap Aisha dengan wajah kesalnya.
Altezza tertawa jecil lantaran Aisha yang masih terbaring itupun masih sajas menghujat Altezza dengan wajah kesalnya itu, bukankah sebelumnya Aisha telah berterima kasih pada Altezza? Entahlah.
Beberapa saat itu pun, bibi Lin datang dwngan membawa makanan dan minuman hangat untuk Aisha dan juga Altezza. Altezza mengambil makanan itu, kemudian membuka sebuah kotak makanan yang cukup besar itu berisi bubur, lauk pauk, beberapa potong roti panggang, dan juga potongan macam-macam buah segar. Sebelum itu, Altezza membantu Aisha untuk duduk terlebih dahulu, berhubung ruangan itu class VIP, Altezza tinggal memencet sebuah tombol untuk membuat posisi seorang pasian nyaman jika ingin duduk bersndar.
Setelah itu Altezza, menyodorkan sebuah minuman botol kepada Aisha. Setelah Aisha meminum, Altezza mulai untuk menyuapi Aisha, namun Aisha sepertinya enggan untuk Altezza suapi.
"Apa aku harus menghukum mu dulu, supaya kamu mau aku suapi?" ucap Altezza.
"Maksud kamu?" Aisha mencoba untuk menerawang maksud Altezza.
"Sayang. Apa kamu ingin kehilangan lagi, ciuman ke tiga mu?" ucap Altezza dengan sengaja.
"Ha? Kamu... Hemp, baiklah. Cepat suapi aku" ucap Aisha, ia pun tak mau kalah.
Alezza hanya tersenyum, begitu terlihat menawan. Dengan terpaksa, Aisha mau di suapi oleh Altezza. Dan entah kenapa, suapan Altezza terasa menyenangkan, bahkan tanpa sadar Aisha begitu lahap memakannya.
"Nampaknya, kamu begitu lapar sayang" ucap Altezza, saat masih menyuapi Aisha yang hanya tinggal sedikit itu.
"A,aku sudah kenyang" ucap Aisha, ia tersadar akan nikmatnya merasakan suapan dari Altezza.
"Tidak. Kamu harus menghabiskannya, ini sudah tinggal sedikit" ucap Altezza.
"Tidak, aku tidak mau" ucap Aisha acuh.
"Sayang, apa perlu aku suapi kamu melalui mulutku?" ucap Altezza dengan entengnya.
"iya, iya. Baiklah" ucap Aisha, ia pun mengalah lagi untuk di suapi kembali oleh Altezza.
Dan beberapa saat itu pun, Aisha berhasil menghabiskannya tak tersisa. Altezza pun langsung menyodorkan obat untuk Aisha minum. Beberapa saat itu pula, Sally datang bersama asisten Altezza, yaitu Leon. Sally memeluk Aisha dan mengucapkan syukur, karena sahabatnya telah selamat tanpa kekurangan apapun.
"Aisha.." ucap Sally kemudian.
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja" ucap Aisha kemudian.
"Aisha, kau tahu. Apa yang telah Altezza lakukan?" Ucap Sally.
"Apa?" Aisha mengernyitkan kedua alisnya, karena penasaran dengan ucapan Sally itu.
"Altezza telah membantu kita, memberikan tempat tinggal yang layak untuk kita. Bahkan tempat itu, jauh jauh jauh lebih baik dari sebelumnya" ucap Sally dengan wajah gembira.
"Apa?" Ucap Aisha tak percaya, ia pun menoleh kearah Altezza dengan wajah penuh tanda tanya kepada Altezza, tetapi Altezza hanya bersikap masa bodoh dan fokus dengan makanannya.
"Iya... Bahkan koper dan barang kita pun, Altezza yang temukan" ucap Sally dengan wajah yang ceria.
"Benarkah? Bagaimana bisa...?" Ucap Aisha dan memandang Altezza dengan mengangkat kedua alisnya.
"Baiklah, aku akan mengakuinya" ucap Altezza dan berhenti makan, ia pun meletakkan kotak makanannya di atas meja.
"Aisha, maafkan aku. Sebenarnya akulah penyebabkan kalian di usir dari apartemen , karena aku akan membawa kalian ke apartemen yang jauh lebih bagus lagi" ucap Altezza.
"Dekat denganmu?" tebak Aisha.
"Iya. Tapi soal penculikan, itu sungguh di luar dugaan. Maafkan aku Aisha" ucap Altezza.
"Apa?" Aisha terbelalak tak percaya. Aisha hanya tertunduk diam, Sally hanya tertegun dengan apa yang Altezza ucapkan barusan.
"Maaf, Aisha. Mungkin aku yang terlalu egois" ucap Altezza kemudian.
Aisha tetap diam dan memikirkan atas tindakan Altezza yang semena-mena itu. Sekalipun kasus penculikan itu bukanlah ulah Altezza, namun Aisha benar-benar takut, kalau saja Altezza tak datang pasti Aisha dan juga Sally tak akan selamat. Aisha pun tak tahu harus bersikap apa, di sisi lain ia kecewa dengan ulah Altezza, tapi di sisi lain juga Aisha berterima kasih lantaran telah menolongnya.
"Hemmm... Huhhh" Aisha mengambil nafas panjang dan mengeluarkan dengan perlahan dan terdengar berat.
"Sudahlah. Nasi telah menjadi bubur, setidaknya kami selamat itu sudah lebih baik. Tapi Altezza, kamu harus mendapatkan hukuman" ucap Aisha.
"Untuk sementara ini, jangan pernah temui aku lagi, dan berhenti melakukan kekonyolanmu itu kepadaku" ucap Aisha tegas.
Altezza kaget dengan ucapan Aisha, namun Altezza harus menerimanya dengan lapang dada, toh untuk sementara bukan untuk selamanya. Setidaknya Altezza masih bisa memantaunya dari kejauhan.
"Baiklah. Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik" ucap Altezza, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu. Sedangkan Asisten Altezza itu keluar menyusul Altezza, sedangkan bibi Lin, ia tetap berasa di sana untuk memantau Aisha.
"Sha? Apa yang kamu lakukan?" Ucap Sally merasa khawatir, takut jika mereka tak kan kembali bersatu.
"Biarkan saja" ucap Aisha acuh.
"Kok, tega kamu Sha. Dia kan..."
"Husst... Diam, Sally" sela Aisha. Namun Aisha tengah memberi kode kepada Sally akan sesuatu hal tanpa di ketahui oleh bibi Lin. Sally pun langsung memahaminya dan diam menuruti Aisha.
n
Waktu itu pun telah berlalu, sore itu Aisha sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun, atas perintah Altezza, Leon kembali datang untuk nenjemput dan mengantarkan Aisha dan juga Sally ke apartemen yang baru, yang sudah di siapkan oleh Altezza sebelumnya
Sungguh diluar dugaan, apartemen itu sangatlah mewah mungkin kelas atas mungkin juga hanya orang kaya raya yang mampu untuk tinggal disana. Yang membuat heran lagi, biaya itu sudah lunas untuk dua tahun kedepan. Luar biasa, Aisha benar-benar tak habis pikir dengan yang Altezza lakukan, mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menampung dua manusia biasa dan juga demi ke egoisannya. Aisha merasa berdebar dengan ketulusan Altezza sejauh ini yang Altezza lakukan.
"Jauh lebih bagus bukan?" Seru Sally saat sudah didepan pintu kamar mereka.
"Hehe, iya" ucap Aisha dengan senyuman.
"Oh, iya. Terima kasih kak Leon, telah mengantar kami" ucap Sally kepada Leon
"Baik. Silahkan kalian masuk lebih dulu" ucap Leon, mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Terima kasih" ucap Sally.
"Oh ya, kak Leon..." ucapan Aisha terhenti, lantaran Leon buru-buru memotongnya.
"Mohon jangan panggil saya, kakak nona mu.. eh maksud aku, nona Aisha. Panggil saja namaku. Hehe" ucap Leon cengengesan.
"Hampir saja..." Batin Leon.
"Hemm, baiklah. Leon, apakah bos kamu juga tinggal disini?" Ucap Aisha.
"Kalau soal itu, maaf kami tidak dapat memberitahu nona dengan pasti, karena bos kami selalu berpindah-pindah, jadi tidak tentu tinggal dimananya. Hehe" ucap Leon.
"Wah, banyak uang mah bebas" ucap Sally.
"Baiklah Leon, silahkan pulang duluan. Dan terima ka..."
"Tidak nona, sebaiknya kalian masuklah lebih dulu. Untuk memastikan nona dan juga Sally dalam keadaan selamat" sela Leon.
"Yang benar saja, kalau aku yang pulang duluan bisa gawat. Kamar bos kan tepat ada didepannya" batin Leon.
"Oh, baiklah" ucap Aisha.
Mereka berdua pun masuk dan kemudian menutup pintu. Namun, setelah sudah berada di dalam Sally baru ingat akan sesuatu. Sally pun membuka pintunya kembali untuk menanyakan kepada Leon yang siapa tahu masih ada di luar sana.
"Kak Leon...? Lhoo? Dimana dia? Cepat sekali hilangnya" ucap Sally, ia pun celingak-celinguk mencari keberadaan Leon.
"Sudahlah" ucap Sally, kemudian kembali masuk dan menutup pintunya.
"Hufftt... Syukurlah... Hampir saja ketahuan..." Gumam Leon mengusap-usap dadanya merasa lega, dibalik pintu itu.
"Sedang apa kamu disana?" Ucap Altezza mengagetkan Leon, yang nampak seperti seseorang sedang mencemaskan sesuatu.
"Ahaha... Tidak. Tidak ada apa-apa, iya tidak ada apa-apa bos" ucap Leon dengan tersenyum paksa dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Hampir saja. Kalau ketahuan, bisa mati aku. Bos kalau marah, haduh... Jangan dibayangin jangan dibayangin" batin Leon dan berjalan kearah meja kerjanya Altezza.
"Sudahkah kamu menyelesaikan tugasmu dengan baik?" Ucap Altezza dengan aura dinginnya, karena efek dari Aisha telah memintanya untuk menjauh.
"Hehe, bos. Iya, terlaksana dengan baik" ucap Leon dengan wajah senyum yang terpaksa.
"Nona Aisha, aku harap nona bisa baikan dengan bos" batin Leon merasa merinding karena hawa dingin itu.
"Leon, kemari" panggil Atezza.
"Baik, bos" ucap Leon dan segera mendekat kepada Altezza.