
Di salah satu kamar hotel berbintang, di kota Manhattan.
"Sial. Ponselnya langsung di nonaktifkan" pekik seorang wanita, yang tak lain ialah Liana.
"Aku baru saja datang kemari, kenapa dia begitu acuh padaku. Apa lebihnya Aisha? Selalu saja di bangga-banggakan di depan tante. Membuatku geram saja" ucap Liana, raut mukanya begitu terbalut dengan amarah sekaligus kesal.
"Lihat saja nanti kamu Aisha, akan ku pastikan kamu pergi dari Altezzaku. Tidak ada yang boleh memiliki Altezza selain aku" hardik Liana.
Rupanya Liana tak main-main, ia pergi ke Manhattan untuk menyusul Altezza di sana. Liana pun melepaskan jaketnya, ia bermaksud untuk membersihkan dirinya. Setelah ia begitu rapi, bahkan balutan gaunnya cukup terbuka sekalipun dadanya begitu terlihat besar. Sudah pasti Liana lakukan untuk menarik perhatian, jika di London Liana sudah pasti di larang untuk berpakaian terbuka. Tetapi di Manhattan, Liana telah bebas untuk melakukan aksinya.
Liana berjalan keluar pergi untuk makan siang, gaun merah yang melekat ditubuhnya itu membentuk lekukan tubuhnya, ditambah rambut gelombang yang cukup panjang. Dadanya yang terlihat menonjol, apalagi wajahnya terkesan muda nan belia. Pemandangan itu sanggup membuat mata terpana olehnya.
"Haha, lihatlah Altezza. Semua orang takjub padaku, bagaimana mungkin kau takkan takjub padaku" seru Liana dalam hati, ia merasa puas.
Sedangkan di Villa kediaman Altezza. Sally sudah terlelap di atas ranjang dengan di temani Aisha yang masih terdiam disana. Sudah cukup lama Aisha tak lagi melakukan aktifitas bersama Sally. Namun, pikiran Aisha saat itu telah melayang, ketika sepintas melihat Altezza saat melihat sebuah panggilan telfon wajahnya begitu muram. Aisha beranjak dari sofa, ia keluar untuk menemui Altezza. Pikiran itu terlalu mengganggu dirinya, ia cemas jika Altezza tengah berada dalam masalah.
"Lulu, bisakah kamu temani Sally?" Pinta Aisha, saat melihat Lulu tengah membawa beberapa baju untuk Sally.
"Baik, nona" ucap Lulu.
Aisha langsung berjalan cepat menuju kamar utama, saat ia sampai di kamar utama, Aisha tak menemukan Altezza di sana. Aisha berfikir jika Altezza tengah berada di ruang perpustakaan. Aisha kembali keluar dan berjalan menuju ruang perpustakaan, Aisha pun membuka pintu dan melihat Altezza tengah menerima telfon.
"Sayang?" Ucap Altezza, ketika melihat Aisha masuk kedalam ruangan.
Aisha hanya diam dan mengamati Altezza yang tengah berbicara melalui telfon dengan nada yang sangat sinis, tentu saja membuat Aisha ingin tahu.
"Siapa?" Ucap Aisha dengan isyarat ucapan tanpa suara, namun Altezza hanya memberi isyarat untuk diam.
"Cukup!! Aku perintahkan kamu, sekarang juga kembalilah ke London" suara tegas Altezza.
Altezza duduk di sofa di sudut ruang dengan perasaan kesal, Aisha yang melihat itu pun menghampirinya. Namun Altezza tengah mengutak-atik layar ponselnya untuk menelfon seseorang.
"Pesankan tiket pesawat terbang sekarang juga, dan bawa Liana kembali ke London" perintah Altezza kepada seseorang dengan kesalnya.
Namun hati Aisha terasa teriris ketika mendengar nama, Liana. Wanita yang mana? Apakah Altezza menyimpan sebuah rahasia dari Aisha? Tapi kenapa Altezza menyebut namanya dengan jelas dan gamblang di depan Aisha. Tiba-tiba raut wajah Aisha tertunduk diam, seperti ia tak mau berbicara. Bahkan duduknya ia bergeser dan enggan untuk dekat dengan Altezza, apakah Aisha cemburu? Sudah pasti cemburu. Altezza yang melihat gelagat Aisha pun menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sebelum ia akan mendapat perlakuan yang entah bagaimana jika Aisha tahu.
"Sayang, kamu kenapa?" Ucap Altezza, ia pun meraih pundak Aisha untuk ia sandarkan di dadanya.
"Tidak"
"Sudah ketebak" gumam Altezza dalam hati.
"Sayang, boleh aku cerita sesuatu padamu?"
"Ceritakan" Aisha sudah tahu akan maksud Altezza.
"Sayang. Waktu aku umur tujuh belas tahun, mamaku membawa masuk seorang gadis kecil dari jalanan kedalam rumah kami. Namun seiringnya waktu, gadis itu tumbuh semakin dewasa" ucap Altezza, Aisha yang mendengar itu pun pikirannya menjadi negatif.
"Lalu?"
"Dia, sepertinya dia menyukaiku" ucap Altezza dengan berat hati.
"Lalu?"
"Aku tidak menyukainya, bagaimana mungkin seorang kakak bisa menyukai seorang adik" tandas Altezza.
"Bisa saja, kan kalian tidak sedarah. Lagian, Liana itu bukan adik kandung kamu" ucap Aisha terdengar ketus.
"Sayang. Dengarkan aku, di dalam keluargaku hanya kamu sebagai nyonya muda untuk Altezza. Sayang, kamu harus ingat. Kamulah wanitaku satu-satunya, Liana hanya seorang adik yang tersesat" ucap Altezza.
"Lalu, ada apa dia menelfonmu?" Ucap Aisha.
"Huft. Dia menyusulku kemari, sekarang dia ada di hotel TM sekarang. Tapi tenang, aku sudah menyuruh anak buah untuk memulangkannya kembali" tandas Altezza.
"Di London? Apa dia tinggal dalam satu rumah denganmu?"
"I, iya" ucap Altezza ragu.
Aisha terdiam, ia tak mampu untuk membayangkan. Altezza berusaha memanggil Aisha, namun Aisha hanya terdiam dan tak mau berbicara. Tiba-tiba, Aisha menangis dan membuat Altezza terdiam, karena ia tak tahu harus bagaimana menyikapinya.
"Altezza. Apa kamu tahu, bagaimana perasaan seorang perempuan yang mencintai lelakinya. Jika mengetahui lelakinya tinggal satu rumah dengan perempuan lain, padahal mereka sama-sama dewasa" ucap Aisha dengan deraian air mata.
Altezza hanya diam, ia tahu bagaimana tanggapan Aisha. Keadan tanpa sengaja telah menyakiti hati Aisha, tetapi itu adalah keadaan dulu. Bahkan Altezza juga tak tahu, kenapa Liana bisa menyukainya, menyukai seorang kakak angkat yang telah memberinya kasih sayang sebagai seorang kakak kepada adiknya.
"Aisha. Apa yang kamu tangiskan, sayang. Percayalah padaku, aku hanya milikmu Aisha" ucap Altezza, ia pun memeluk kekasihnya itu menangis di dalam dadanya hingga cukup tenang.
"Altezza. Aku minta kamu jaga jarak darinya" ucap Aisha, ketika ia sudah mulai tenang dari tangisnya.
"Tentu, sayang. Aku akan menjauh darinya, bila perlu sejauh mungkin. Aku hanya mencintaimu, tak akan ada yang mampu mengambilku darimu" ucap Altezza, dan mengecup lembut kepala Aisha.
Aisha berusaha untuk tetap tenang, karena ia percaya akan Altezza. Di tambah ia teringat akan kejadian dulu, ketika Amy mencoba untuk merebut Altezza darinya, Altezza pun tak segan-segan memberikan pelajaran kepada Amy berserta komplotannya. Altezza mengusap airmata Aisha, ketika Aisha sudah terdiam dari tangisnya. Meskipun sesekali ia mendengar sesenggukan Aisha karena tangisannya. Yang bisa menandakan bahwa, itu sangat melukainya.
"Sayang. Beberapa bulan lagi kamu akan lulus kan?" Ucap Altezza.
"Lalu?" Ucap Aisha.
"Kita menikah" ucap Altezza dengan mantap.
"Bagaimana dengan Liana?" Singgung Aisha.
"Buang saja kelaut, biar jadi santapan hiu" ucap Altezza dengan ketus.
"Hehe, sadis juga kamu" ucap Aisha.
"Sudah tenang? Jadi, jangan menangis lagi. Disini tidak ada yang perlu kamu tangisi, sayang. Dia tidak ada apa-apanya di banding kamu" ucap Altezza.
Drrrtt... Drrtt... Ponsel Altezza kembali berdering, Aisha yang melihat itu pun mengerucutkan bibirnya. Altezza hanya tertawa kecil melihat tingkah Aisha yang manja itu.
Aisha hanya diam dan berfikir sejenak, ia pun langsung menyahut ponsel Altezza dan mengangkat telfon Liana, Aisha pun mengaktifkan speaker.
"Altezza, kamu apa-apaan menyuruh anak buahmu untuk membawaku kembali ke London" suara Liana terdengar kesal, namun tetap dengan rengekan di buat-buatnya. Andai saja Aisha tidak sabar, ponsel itu sudah pasti melayang jauh ke luar jendela.
"Hallo. Maaf, Altezza nya lagi mandi tuh" ucap Aisha dengan percaya diri.
"Halo!! Kamu siapa? Dimana tunanganku?" suara Liana menjadi kesal.
"Apa? Tunangan?" Kesal Aisha dengan suara pelan dan menutup ponsel, ia pun melirik ke arah Altezza. Namun Altezza hanya menahan tawa dan meraih tubuh Aisha dan mencium pipi Aisha.
"Oh, kamu tunangannya Altezza? Tapi maaf ya, Altezzanya lagi mandi tuh" ucap Aisha dengan gaya nakalnya.
"Cepat kasih ke dia, sekarang!!"
"Tidak bisa, nona. Aku tidak bisa bergerak untuk jalan" ucap Aisha.
"Kamu kan punya kaki, jangan mengada-ada. Cepat serahkan kedia, aku mau bicara penting dengannya" hardik Liana.
"Iya, nona. Tapi maaf, aku benar-benar tidak bisa berjalan. Kan kamu tahu sendiri, bagaimana perkasanya Altezza. Sejak pagi dia membuatku susah untuk berdiri. Bukannya tadi ponsel Altezza ia nonaktifkan? Bahkan waktu kamu telfon kamu di marahi bukan?" ucap Aisha semakin nakal. Altezza yang mendengar itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa?? Apa yang sudah kalian perbuat? Oh, kamu pasti Aisha kan? Pantas saja Altezza mau sama kamu, ternyata kamu sangat rendahan dan menggoda Altezza dengan tubuhmu. Dasar jalang"
"Tapi, Altezzanya mau tuh. Gimana dong? Aku juga tidak bisa menolak perlakuannya yang begitu lembut padaku" Suara nakal Aisha cukup membuat Liana kehilangan kesabaran.
"Sial. Dasar kamu wanita jalang. Dimana kamu sekarang, cepat kasih tahu aku. Kalau tidak, akan ku buat kamu menderita" pekik Liana.
"Aku? Ada di mana? Ya jelas sama Altezza lah nona, sudah ya. Sepertinya dia sudah selesai mandi. Aku harus siap-siap untuk ronde berikutnya. Ingat ya, nona tolong jangan ganggu kesenangan kami" ucap Aisha dan langsung menutup telfonnya, ia merasa puas dan menang.
"Hahaha. Rasain kamu, marah marah kamu" tawa Aisha.
Namun, Liana pun terus menghubungi ponsel Altezza. Yang akhirnya, Aisha menonaktifkan ponsel Altezza. Setelah itu, Aisha tertawa puas di samping Altezza.
"Sayang. Apa maksudnya dengan, tidak mampu membuatku berdiri dan ronde berikutnya?" Ucap Altezza, seketika membuat Aisha terdiam dan memerah. Ia baru menyadari akan perkataannya yang begitu senonoh.
"Hehe, tidak tahu" Aisha mengelak.
"Kamu belajar dari mana?" Selidik Altezza.
"Tidak, Altezza. Itu hanya spontan saja"
"Katakan. Kamu tahu istilah itu dari mana?" Altezza masih menyelidiki.
"Bukan dari mana-mana, ya spontan saja Altezza. Kan aku sudah dewasa dan...." Aisha tak mampu mengucapkannya.
"Dan apa?"
"Cukup umur untuk tahu" suara Aisha pelan.
"Darimana?"
"Iya iya, aku hanya tahu dari sebuah artikel di internet saja" Aisha pun mengakui.
Altezza mendekat, dan menatap Aisha dengan lekat. Tatapan Altezza kini membuat Aisha gelagapan.
"A, Altezza. Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah jujur mengatakannya. Bukankah kamu sendiri yang mencuri ciuman pertamaku, bahkan kamulah orang pertama yang berani menyentuh...dadaku. Jadi, jangan mencurigaiku tentang masa laluku" ucap Aisha dari nada tinggi menjadi pelan lantaran, ucapan itu menjadi sensitif kemudian ke nada tinggi lagi.
"Aku tahu, tapi aku hanya ingin mengetes sampai tahap mana kamu belajar dari internet" ucap Altezza, ia pun memainkan jari tangannya di udara seperti tengah memeras dan itu membuat Aisha menjadi geli.
"Al, Altezza. Jangan macam-macam" Aisha menjauh dari Altezza dan berusaha melindungi dirinya.
"Kemarilah sayang" goda Altezza.
"Tidak. Jangan mendekat!!" Aisha sudah merasa geli. Sedangkan Altezza semakin jahil untuk mengerjai Aisha.
Sedangakan di sisi lain, di mana Liana berada itu tengah geram, kesal dan marah setengah mati. Bagaimana tidak, ia merasa dirinya paling sempurna Altezzap sedikitpun tak pernah meliriknya. Sedangkan Aisha yang sampai saat itu pun ia belum pernah melihatnya dengan jelas bisa mendapatkan Altezza, bahkan tidur dengan Altezza tak hanya satu kali tapi...
"Ah... Sial. Wanita jalang itu, harus aku beri pelajaran" celetuk Liana
"Hah, tak apa. Nikmati saja pernainanmu, sebentar lagi Altezza akan jatuh ke dalam pelukanku. Bahkan, aku bisa pastikan jika Altezza akan lebih senang dengan tubuhku daripada kamu Aisha" ucap Liana dalam hati dengan piciknya.
"Kalian. Cepat pergi, atau kalian mau aku pecat? Katakan pada Altezza, aku tidak akan pulang sebelum dia menemuiku. Atau aku akan membuat masalah di perusahaannya" ancam Liana.
Anak buah Altezza pun bingung untuk melakukan tugasnya, mau tak mau ia mencoba untuk menghubungi bosnya terlebih dulu. Namun sialnya, ponsel bosnya itu tidak aktif. Salah satu anak buah Altezza pun mencoba untuk menghubungi bibi Lin.
Setelah memberi kabar kepada bibi Lin, anak buah itu tetap berjaga jika Liana berbuat onar. Sedangkan bibi Lin, mencari tuannya untuk menyampaikan pesan. Lala dan Lulu yang mendengar itu pun mencibir Liana.
"Ah, si wanita penyihir itu. Aku sudah tak suka dengannya sejak dulu" ketus Lala.
"Husst... Pelankan suaramu, jika kakak dengar. Bisa menjadi masalah" bisik Lulu.
"Ah. Sampai kapanpun aku tidak setuju jika tuan muda sama wanita penyihir itu. Lebih baik dengan kakak Aisha" ucap Lala.
"Lala, jaga ucapanmu. Bagaimana jika nona Aisha tahu, kamu mau di pecat tuan muda?" Ucap bibi Lin.
"Tidak, aku tidak mau" ucap Lala.
"Sebaiknya, kamu tutup mulut" ucap bibi Lin.
Sepertinya Lala dan Lulu, serta bibi Lin tahu tentang Liana. Bahkan, kesan Liana bagi mereka cukup buruk. Setelah bibi Lin memberi kabar kepada tuannya, Altezza menjadi geram.
"Biarkan saja, suruh untuk tetap awasi dia. Jangan sampai tahu di mana rumah ini, ingat jangan sampai lengah. Kalau perlu tambah prngawal" ucap Altezza.
"Baik, tuan" ucap bibi Lin.
Bibi Lin pun berangsur pergi dan segera melayangkan kabar dari tuannya.