Just Married

Just Married
episode 99: Rindu Yang menyakitkan



"Kakak..." Seru seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul dri dalam rumah dan langsung memeluk pria kecil yang bersama Aisha saat mereka sudah berada di halaman rumah pria kecil itu.


"Eh? Kak, mereka siapa?" Bisik gadis kecil itu.


"Mereka..." Belum sempat pria kecil berkata, tiba-tiba seorang nenek keluar dan menghampiri mereka.


"Chester, mereka siapa?" Selidik nenek itu.


"Nenek, Sherine. Mereka adalah tamu istimewa kita" ucap pria kecil itu bernama Chester dengan riang.


"Jangan bilang..." Wajah nenek itu pun terlihat gembira saat menatap Aisha.


"Hallo nek, apa kabar? Saya Aisha, salam" seru Aisha dan memberi hormat kepada nenek itu.


"Ya Tuhan, kamu adalah nona Aisha, istri tuan Altezza?" seru nenek itu dan langsung memeluk Aisha.


"Eh... I,iya" ucap Aisha sedikit ragu.


"Dan kamu..." Ucap nenek itu sembari melihat ke arah paman Edo.


"Saya, Edo, nyonya. Sopir pribadi nona Aisha" ucap paman Edo seraya memberi salam kepada nenek itu.


"Saya Madison. Ayo silahkan masuk, kita mengobrol di dalam saja" seru nenek Madison dan menggandeng hangat tangan Aisha.


Setibanya di dalam ruangan itu, nenek Madison langsung memerintah Chester untuk mebawakan hidangan teh racikan nenek Madison untuk Aisha juga paman Edo.


"Sherine, kamu juga bantu bawakan kue kukis yang baru kita buat tadi" pinta nenek Madison dengan lembut.


"Ah, nona Aisha. Kami sungguh beruntung bisa bertemu denganmu, berkat nona yang mau menolong Chester dulu, kehidupan kami sekarang terasa lengkap" ungkap nenek Madison dengan lembut, ia pun merasa bahagia akan ucapannya itu.


"Ah, itu hanya sebuah kebetulan saja nek kami bertemu dengan Chester saat itu" ucap Aisha


"Tidak, tidak, ini adalah takdir. Sama sepertimu yang telah bersatu kembali dengan suamimu, aku bersyukur untuk kalian dan sekarang pun aku bersyukur bisa bertemu denganmu" ucap nenek Madison dan mengusap lembut pipi Aisha.


"Ah, nenek Madison hanya melebih-lebihkan saja" ucap Aisha dengan santun.


"Tidak kok, kakak memang istimewa bagi kami, begitu juga tuan Altezza" sahut Chester dengan sebuah nampan yang berisi teko dan beberapa gelas cangkir mungil, bahkan aroma teh itupun sudah tercium wangi yang menenangkan.


"Silahkan kak, ini teh racikan nenek lho. Dan kukis ini baru saja nenek buat dan kebetulan kakak dan paman mau untuk berkunjung kemari" ucap Chester kemudian saat datang dengan setoples kue kering dan sepiring kukis lezat.


"Kamu selalu saja membuat nenek merasa berbangga diri, nak" puji nenek Madison kepada Chester.


"Memang kenyataannya seperti itu kan?" Ucap Chester.


"Haha, Chester memang anak yang baik. Sherine juga pasti gadis yang sangat baik kan?" Seru Aisha dan mengusap lembut pipi Sherine, saat Sherine langsung menempel ke nenek Madison, namun Sherine hanya menunduk malu lantaran ia terlalu senang bisa bertemu dengan Aisha yang memberinya boneka, karena Chester yang mengatakannya.


"Yaa, Sherine masih malu rupanya" ucap nenek Madison dan tertawa kecil.


"Kakak cantik, terimakasih bonekanya waktu itu ya" ucap Sherine dengan nada sedikit pelan dengan khas anak kecil yang malu.


"Ah? Iya, sama-sama Sherine" ucap Aisha dan tersenyum lembut kepada Sherine.


"Tuan, ayo silahkan di minum" ucap nenek Madison saat menuangkan secangkir teh untuk paman Edo.


"Terima kasih nyonya Madison" ucap paman Edo.


"Ah, biar Aisha sendiri yang melakukannya nek" ucap Aisha yang hendak mengambil alih saat nenek Madison hendak menuangkan untuk Aisha.


"Tak apa, aku senang melakukannya. Nona santai saja dan nikmatilah hidangan sederhana kami" ucap nenek Madison, yang masih lihai untuk menuangkan teh untuk mereka.


"Syukurlah, sekarang kalian terlihat jauh lebih baik. Kapan-kapan kalian gantian berkunjung kerumah kami ya" seru Aisha kepada Chester dan Sherine juga nenek Madison.


"Dengan senang hati, nona" ucap nenek Madison.


"Baiklah, aku menunggu waktu untuk itu" ucap Aisha.


Mereka pun menikmati hangatnya teh yang begitu harum dan menenangkan, di tambah kue kukis yang terasa lezat membuat suasana terasa lebih hangat. Mereka terlihat bahagia bersama, tertawa dan bercanda ria bersma, persis sebuah keluarga yang hangat dan harmoni dalam sebuah rumah yang sederhana.


Bahkan tak terasa Aisha sudah berada di sana cukup lama lantaran saking asyiknya mereka berbincang ria, meskipun terkadang menguras air mata, tapi tawa mereka begitu terasa hangat apalagi Chester dan Sherine pasti mereka sangat bahagia sekarang di banding dulu.


Beberapa saat kemudian, Aisha pun pamit undur diri untuk segera pulang. Dengan berat hati nenek Madison melepas kepergian Aisha, mereka pun berpisah namun masih dengan lekat senyum keramahan, Aisha yang melambaikan tangan dari kejauhan itu pun merasa enggan untuk meninggalkan mereka, tetapi ia ingat akan tugas kampus yang menumpuk dan membuat dirinya harus rela.


"Tuan Altezza memang tak salah pilih, nona Aisha memang pilihan yang sangat tepat" gumam nenek Madison yang masih menatap kepergian Aisha yang kian menjauh itu.


"Sepertinya nona memang selalu baik dengan siapapun" puji paman Edo, saat mereka berjalan menuju mobil.


"Tidak juga, jika ada yang mengusikku aku masih bisa membalasnya. Paman hanya terlalu memuji saja" ucap Aisha.


"Aku justru lebih tak menyangka, tuan mu lah yang jauh lebih baik dari diriku" puji Aisha yang merasa bangga dengan Altezza yang telah membawa perubahan hidup kepada Chester, Sherine dan juga nenek Madison.


"Ku rasa, nona dengan tuan muda memang sangat cocok" puji paman Edo dengan ramahnya.


"Aku harap juga begitu, terimakasih paman sudah memujiku" ucap Aisha yang tersipu akan ucapannya sendiri.


"Sama-sama, nona" ucap paman Edo, yang tengah membukakan pintu mobil untuk Aisha.


"Terimakasih" ucap Aisha saat sudah masuk dan duduk di dalam mobil. Dengan sigap paman Edo melanjutkan tugasnya sebagai sopir pribadi.


Tak lama kemudian mereka pun melakukan perjalanan pulang dan Aisha membatalkan untuk memanjakan diri, setibanya di rumah, Aisha langsung bergegas untuk membersihkan badannya dan segera untuk mengerjakan tugas kampusnya, tapi entah kenapa malam itu Aisha merasa sangat rindu kepada Altezza, bahkan ia tak sabar untuk menelfon Altezza. Dengan sigap Aisha mengambil ponselnya dan bermaksud untuk menelfon Altezza.


"Nomornya tidak aktif?" Gumam Aisha, saat mencoba menelfon Altezza.


"Mungkin dia sedang sibuk, aku buat pesan singkat saja lah, biar nanti dia yang telfon balik" ucap Aisha, yang langsung mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimnya untuk Altezza. Setelah itu, Aisha kembali mengerjakan tugas di dalam kamarnya.


Tok tok tok


"Nona, ini saya bibi Lin" Suara bibi Lin di balik pintu kamar Aisha.


"Ya, segera datang" dengan buru-buru Aisha beranjak dan bergegas pergi membukakan pintu untuk menemui bibi Lin.


"Nona..." Ucap bibi Lin saat Aisha sudah membuka pintu.


"Nona, makan malam" ucap bibi Lin memperingatkan.


Setibanya diruang makan, rupanya di sana Lala dan Lulu sudah menunggunya untuk makan bersama.


"Hehe, maaf membuat kalian menunggu" ucap Aisha terkekeh.


"Huft... Jika tuan muda tahu, kami yang akan di salahkan" keluh Lala.


"Iya. Bagaimana jika kakak sakit? Pasti tuan akan marah" timpal Lulu.


"Iya, iya. Aku minta maaf, ayo kita mulai" ucap Aisha dengan tertawa kecil, sedangkan bibi Lin hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.


Saat tiba di pertengahan menikmati makan malam itu, tiba-tiba Aisha teringat dengan Altezza saat menatap sebuah kursi yang biasa Altezza duduki yang biasa juga untuk menjahili dirinya dengan memaksa memangku di dalam pangkuan Altezza. Aisha yang melihat kenangan itu pun tanpa terasa menitikkan air mata, bahkan pandangannya terus memandang kursi itu.


"Nona?" Cemas bibi Lin saat menyadari Aisha menjadi sedih.


"Tidak, aku tidak apa-apa" ucap Aisha yang langsung mengusap air mata, ia pun kembali untuk menelan apa yang ia makan. Namun entah mengapa perasaan itu terasa menyesakkan dalam dada Aisha, ada sebuah kerinduan dan sebuah perasaan yang entah bagaimana Aisha rasakan.


"Kak Aisha... Rindu dengan tuan muda ya?" Selidik Lala, namun dengan intonasi nada bicara pelan dan berhati-hati.


Namun, ucapan lala membuat Aisha menunduk dan pecah dalam tangis, bahkan ia sudah tak berselera untuk meneruskan makan malam itu. Sontak membuat bibi Lin langsung menggeser kursi untuk menenagkan Aisha, begitu juga Lala dan Lulu ikut cemas.


"Aku... Aku tiba-tiba teringat dirinya dan itu membuatku menjadi sedih" ucap Aisha dengan isak tangis.


"Kak..." Lirih Lulu.


"Nona, minumlah dulu" ucap bibi Lin yang telah siap untuk menyuapkan kepada Aisha.


"Iya. Minum dulu kak" imbuh Lala.


Aisha pun menurut dan meminum air mineral meskipun terasa susah untuk menelan, Aisha memaksanya agar dirinya merasa sedikit lebih tenang. Aisha pun mengungkapkan akan perasaannya yang tak karuan itu, sehingga membuat Aisha menjadi cemas dan tidak tenang malam itu. Sedangkan dari kejauhan, paman Edo yang mengamati kejadian itu pun ikut merasa iba.


"Memang, jika seseorang sudah saling mencintai satu sama lain dan saling percaya satu sama lain, pasti akan merasakan adanya ikatan batin. Tuan, aku berharap tuan segera kembali dengan selamat" gumam paman Edo dalam hati, entah mengapa suasana itu membuat paman Edo akan teringat suatu kenangan yang menyisakan kesedihan untuk dirinya.


Ting, sebuah notifikasi dari ponsel paman Edo, dengan segera paman Edo bergegas pergi untuk melanjutkan tugasnya.


Sedangkan di sisi lain, Altezza yang masih berada di London untuk mempersiapkan keseluruhannya sebelum ia akan menyatakan perang.


"Bos. Nona..." Leon berhenti untuk meneruskan ucapannya lantaran Altezza sudah memberi isyarat untuk tidak melanjutkan ucapan Leon yang pasti akan membuat dirinya sedih, lantaran raut wajah Leon terlihat cukup cemas.


"Baik" ucap Leon tanda mengerti.


"Sudah ku duga" ucap Altezza dalam hati, ia pun tersenyum namun dengan perasaan sedikit sedih pula.


Dengan nafas berat dan panjang, Altezza pun memantapkan akan rencananya saat itu.


"Aisha istriku, jangan lemah. Kamu berjuanglah di sana untuk kelulusan mu dengan hasil yang membanggakan, aku akan berjuang untuk kebahagiaan kita. Aku berjanji akan segera kembali" ucap Altezza dalam hati, ia pun memantapkan langkah kakinya untuk pergi ke medan perang yang mungkin nyawa taruhannya.


Di kota Manhattan, kediaman Altezza.


Aisha yang sudah terlelap itu wajahnya masih terlihat sedih, mungkin Aisha juga merasakan akan suatu bahaya, namun ia tak menyadari dengan apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia tahu saat itu, ia harus mampu menguasai dirinya. Lantaran sebentar lagi ia akan selesai dalam studinya yang artinya ia harus fokus dan lulus dengan hasil yang membanggakan. Setidaknya itulah yang di harapkan Aisha yang selama ini Altezza lakukan yang terbaik untuk dirinya selama menjalani studinya dengan lancar, berbagai rintangan Altezza lah yang selalu melindungi dirinya.


Di dalam mimpi Aisha yang semakin terlelap dengan tenangnya.


"Istriku..." Panggil Altezza yang langsung melingkarkan kedua tangannya ke perut Aisha dari belakang, dengan hangat Altezza memeluk Aisha dan memandang sebuah hamparan bunga yang indah di balkon yang terasa tidak asing.


"Hem?" Ucap Aisha yang hanya bermanja dengan sentuhan Altezza.


"Apa kamu bahagia, sayang?" Ucap Altezza di dekat telinga Aisha dengan lembut, tentu membuat Aisha menjadi geli dan membalikkan badan, kini kedua tangan Aisha merangkul tengkuk leher milik Altezza.


"Apa aku terlihat tidak bahagia?" Ucap Aisha dengan manja.


"Kalau begitu, coba panggil aku suamiku?" Tantang Altezza.


"Tentu. Suamiku sayang?" ucap Aisha dan mengecup bibir Altezza dengan manja.


"Sekarang kamu lebih agresif, tapi aku suka" puji Altezza dengan pandangan ingin segera menyantap makanan, sedangkan Aisha hanya tersenyum manja nan menggoda Altezza.


"Istriku?" Panggil Altezza dengan lembut.


"Ya?" Ucap Aisha dengan raut wajah menanti.


"Kita buat anak ya? Yang banyak.." rayu Altezza yang langsung mengangkat tubuh Aisha.


Altezza pun membawa tubuh Aisha di atas ranjang, Aisha yang terlihat sudah siap itu pun dengan senang hati untuk melayani Altezza yang sudah menjadi suaminya itu, sedangkan Altezza tangannya mulai membelai lembut wajah Aisha. Aisha hanya tersenyum hangat menatap sorot mata Altezza, yang kini ia rasa wajah Altezza semakin dekat dan lebih semakin dekat, Altezza pun mulai mendaratkan ciumannya dengan kelembutan dan cinta. Namun, tiba-tiba ada suara kegaduhan seperti pistol yang tak asing bagi Aisha dan suara itu cukup membuat Aisha terhentak kaget saat menikmati ciuman itu.


Tok tok tok


"Kak Aisha? Kakak?" Suara Lala di balik pintu.


Tok tok tok


"Hah???" Tiba-tiba Aisha terbangun dari mimpinya, ia baru menyadari akan mimpinya yang hampir vulgar itu dan jika di ingat kembali membuat Aisha merasa merinding.


"Ke, kenapa aku bisa mimpi seperti itu??" Ucap Aisha dengan wajah yang terlihat sedikit shock, bahkan tangannya merapatkan piyama di bagian dadanya.


"Kak Aisha, cepat bangun sudah hampir terlambat" suara Lala di balik pintu kamar Aisha.


"Ah, tidak tidak... Apa yang aku pikirkan" ucap Aisha dan menggelengkan kepalanya.


"Ah, iya. Aku sudah bangun, Lala" sahut Aisha kemudian.


"Hah! Memangnya sudah jam bera..pa... Aaaaa... Aku telat..." teriak Aisha yang kaget lantaran waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.


"Dasar Altezza bodohhh" teriak Aisha lagi, lantaran tiba-tiba ia merasa kesal kepada Altezza.


Dengan secepat kilat, Aisha langsung beranjak dari tempat tidurnya, dengan tergesa-gesa ia menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri secepat mungkin dan sesimpel mungkin.


Sedangkan di sebuah pesawat pribadi milik Altezza yang masih dalam perjalanan.


"Uhuk uhuk... Uhukk.." Altezza yang tiba-tiba saja tersedak saat sedang meminum secangkir kopi hangat.


"Sial, sepertinya ada yang sedang mengumpatku" gumam Altezza dalam hati.