
Leon yang tengah bergulat dengan laptop dan beberapa alat canggih lainnya mencoba untuk mencari keberadaan Rendra yang sebenarnya, bahkan Leon memerintahkan beberapa anak buah Altezza yang masih menyebar untuk mencari informasi atau petunjuk-petunjuk lainnya.
Leon begitu serius dalam hal itu, ia terus berusaha untuk menggali dan terus menggali tentang keberadaan Rendra Andara, hingga beberapa waktu Leon bergulat dengan kepiawaiannya akhirnya ia pun dapat menemukan keberadaan Rendra Andara, rupanya ia tengah berada di sebuah hotel pusat kota Paris, dengan segera Leon memerintahkan anak buah Altezza untuk segera kesana dan meringkuk Rendra Andara. Leon pun beranjak dengan membawa beberapa barang elektronik canggihnya dan bergegas pergi.
"Leon? Kamu mau kemana?" Ucap salah seorang anak buah Altezza saat melihat Leon berjalan dengan buru-buru.
"Menangkap ikap besar" ucap Leon.
"Aku ikut denganmu" ucap salah seoeang anak buah Altezza.
Leon hanya diam dan langsung masuk kedalam mobil, begitu juga di susul salah seorang anak buah Altezza. Leon kini pun langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi, Leon ingin segera sampai dan menghajar Rendra Andara. Mobil Leon pun terus membelah kota Paris dengan garangnya dengan tatapan yang penuh dengan amarah pula.
Di sebuah hotel di kota Paris, Hotel LV.
Rendra yang masih menikmati ketenangan itu tengah berdiri menatap jauh ke sudut kota Prancis di tepi jendela kaca yang cukup besar, dengan kimono handuk yang masih melekat di tubuhnya itu nampak terlihat ada wajah kemenangan setelah ia menerima kabar bahwa ia telah berhasil membunuh sebuah kartu rahasia terbakar habis di dalam mobil.
"Tuan, apa yang telah membuatmu senang?" Ucap seorang wanita bayaran yang masih bersamanya itu dengan manja dan merangkul tubuh Rendra dari belakang.
"Hanya sampah kecil. Sepertinya kamu masih bertenaga, sayang" ucap Rendra dan mengelus lembut tangan wanita itu.
"Emmm, karena aku hanya mencintai tuan. Tuan..." Ucap wanita itu yang semakin manja.
"Hahaha, lihatlah siapa pemenangnya? Amon, meskipun kamu sudah mati dan masih saja mencoba untuk menjadi beban hidupku, lihatlah. Tetap aku yang menang" ucap Rendra dalam hati dan membiarkan wanita itu tetap bergelayut manja dengannya.
Krukkk... Tiba-tiba terdengar suara perut wanita itu yang tengah lapar.
"Apa kamu lapar?" Ucap Rendra.
"Maafkan aku, tuan" ucap wanita itu terdengar lembut dan manja.
"Dasar bodoh" ucap Rendra dan mengusap lembut kepala wanita itu.
Rendra pun kembali menelpon untuk meminta agr segera mengirimkan makanan untuk dirinya, lantaran hari itu memang sudah siang. Tak harus menunggu lama, makanan itu pun datang dengan paket mewah dan banyak sajian yang terhidangkan di sana.
"Makanlah yang banyak, karena kamu perlu tenaga yang banyak untuk melayaniku" ucap Rendra, wanita itu pun hanya tersenyum malu.
"Heh. Meskipun usiaku cukup tua, tapi kemampuanku masihlah begitu hebat. Sayang sekali, aku tak bisa menemukan putri Amon" pikir Rendra dengan mesum.
"Wanita ini... Meskipun hanya mengincar uangku tapi kehebatannya sangat memuaskan, tubuhnya juga sangat...." Ucap Rendra dalam hati saat memandang wanita itu yang tengah menikmati hidangan dengan membiarkan kimono handuknya sedikit terbuka, pikirannya pun menjadi mesum.
"Tidak seperti dia, setelah melahirkan seorang anak tubuhnya semakin tak terurus. Hah... mengingatnya saja sudah membuatku jengkel" ucap Rendra dalam hati.
"Lupakan. Aku sudah bahagia hidup di sini dan sepertinya aku sudah menginginkan wanita ini" pikir Rendra dengan nafsu yang memburu.
"Eh? Tuan?" Ucap wanita itu, saat Rendra tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan memeluknya dengan kuat.
"Kamu sudah bersamaku berapa lama?" Ucap Rendra dan menciumi leher wanita itu.
"Ah... Sejak awal, tuan sudah aku temani. Tapi..." Ucap wanita itu dan berhenti makan.
"Tapi apa?" Selidik Rendra.
"Tuan selalu menduakan aku" ucap wanita itu dengan wajah cemberut.
"Hehe, baiklah. Mulai sekarang aku tak akan menduakanmu, tapi kamu harus berjanji padaku, kamu harus layani aku seterusnya" ucap Rendra.
"Baiklah, aku janji" ucap wanita itu dengan wajah ceria.
"Dan jangan panggil aku tuan, panggil namaku saja" ucap Rendra.
"Tapi..." Wanita itu sedikit takut.
"Tidak ada tapi, ini perintah dariku"
"Baiklah, tuan. Eh, maksud aku... Rendra?" Ucap wanita itu dengan manja dan menggoda.
"Bagus, selanjutnya kamu harus sebut namaku" ucap Rendra dan langsung membanting tubuh wanita itu di atas ranjang.
"Tu... Eh, Rendra. Tapi aku belum menghabiskan makanannya" ucap wanita itu.
"Kalau begitu makan saja aku" ucap Rendra.
"Tapi..."
"Layani aku, jika aku puas maka aku akan membawamu pergi ke suatu tempat yang pasti kamu akan suka" ucap Rendra yang sudah menindih wanita itu.
"Baiklah, jika itu mau mu aku tak akan sungkan lagi" ucap wanita itu dan melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk leher Rendra.
Brakkk.... Tiba-tiba pintu sudah jebol saat di dobrak paksa oleh seseorang yang saat itu pula Rendra tengah menikmati tubuh wanita itu.
"Sial!!! Siapa yang sudah berani menggangguku" geram Rendra yang langsung berhenti dan menoleh ke arah pintu.
"Aaaa...." Wanita itu hanya berteriak saat tiba-tiba ada segerombolan serba hitam datang, lantaran dirinya nampak telanjang bulat.
"Siapa kalian?!!!" Hentak Rendra yang langsung menutupi tubuh wanita itu dengan selimut dan juga dirinya langsung meraih kimono handuk yang sebelumya ia kenakan.
"Kami datang atas perintah seseorang untuk menangkapmu" ucap salah seorang pria.
"Apa?? Siapa??" Ucap Rendra dan mengenakan kimono handuknya.
Gerombolan orang-orang itu pun memberi celah jalan kepada seseorang yang akan datang, begitu juga dengan Rendra yang merasa penasaran dengan siapa yang telah berani menganggu kesenangannya apalagi untuk menangkapnya. Lantaran setahu Rendra lawannya sudah mati terbakar, sedangkan kabar seseorang yang ia duga seorang asisten sudah masuk dalam jebakan bahkan sudah terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas.
"Aku" tiba-tiba suara seorang pria yang cukup tegas nan menggelegar membuyarkan lamunan Rendra.
"Kamu? Siapa?" Pekik Rendra, saat seorang pria datang dengan gagahnya lengkap dengan kacamata hitam.
"Bukankah kamu sudah sangat ingin bertemu denganku, Rendra Andara?" Ucap pria itu dan membuka kacamata hitamnya, kini wajah pria itu pun sudah terlihat sangat jelas.
"Kamu!?" Rendra pun terbelalak, ia ingat akan sesuatu.
"Ya. Gibran Altezza, penerus keluarga Abraham" ucap pria itu yang rupanya Altezza.
"Sial! Rupanya kamu yang selama ini mengusik ketenangan ku??!?" Pekik Rendra.
"Apa arwah tuan Amon? Atau Ares?" Imbuh Altezza dengan sengaja.
"Cih. Biar aku tunjukkan seberapa hebatnya aku" ucap Rendra yang masih sombong dan hendak untuk menelpon seseorang.
"Mau menelpon siapa? Istrimu?" Sindir Altezza dan melihat sekilas wanita yang kini masih menutupi dirinya dengan selimut, wanita itu pun langsung menunduk lantaran merasa takut dengan tatapan Altezza.
"Pria ini, tatapannya memang menakutkan. Tapi dia..." Pikir wanita itu dengan kotornya.
"Sial!! Kemana mereka" pekik Rendra dalam hati, saat dirinya tidak bisa menghubungi siapapun.
"Bagaimana. Bagaimana dia masih hidup? Bukankah dia sudah... Sial!! apa kerjaan orang-orang bodoh itu" Pekik Rendra dalam hati, ia pun memikirkan cara untuk meloloskan diri.
Namun belum sempat Rendra memikirkan cara untuk meloloskan diri, tiba-tiba dirinya sudah di kepung tanpa celah sedikitpun. Rendra pun memberontak untuk mencari celah, ia pun berhasil mengambil sebuah pisau yang ada dalam meja hidangan sebelumnya dan melukai beberapa anak buah Altezza, tanpa sadar tangan Rendra yang ia gunakan untuk memainkan pisau itu pun di tendang oleh Altezza saat dirinya kesetanan, dan pisau itu pun terlepas dan terlempar. Pisau itu menancap ke tembok tepat di sisi kiri wajah wanita itu berada, wanita itu pun kaget bukan main dan langsung merasa ketakutan dengan keringat dinginnya yang mulai bercucuran bahkan jantungnya memburu dengan cepatnya saat pisau hampir melukai wajahnya.
Rendra yang melihat itu pun sempat khawatir kepada wanita itu, saat itu pula Rendra semakin menjadi dan wanita itu yang tengah menyaksikan pemberontakan itu pun menjadi kalut, betapa berbahayanya dirinya jika dirinya terus berada di sana, wanita itu pun mencari celah untuk mencari tempat persembunyian yang cukup aman. Tak perlu waktu yang lama Rendra pun berhasil di bekuk dan langsung di bawa keluar oleh beberapa anak buah Altezza dengan ketat.
Saat Altezza berjalan dengan kerumunan anak buahnya, tiba-tiba wanita itu menahan langkah kaki Altezza.
"Tuan, aku mohon ampuni aku" ucap wanita itu yang sudah memeluk erat tubuh Altezza dari berlakang.
"Lepaskan tangan kotormu itu dariku!!!" Ucap Altezza tegas.
"Tidak tuan, mohon ampuni aku. Aku akan memberi tuan semuanya, oke" wanita itu pun langsung memohon di hadapan Altezza dengan tubuhnya yang di biarkan terbuka agar Altezza tergoda.
"Kamu... " Wajah Altezza pun berubah terlihat lebih menyeramkan saat menatap mata wanita itu.
"Enyahlah!!!" Pekik Altezza dan mengayunkan tangannya dengan kuat agar wanita itu menyingkir dari hadapannya.
Brakkk... wanita itu pun terpanting jatuh menatap meja kecil yang ada di sisi pintu, bahkan membuat vas bunga yang ada di atasnya pun jatuh dan pecah.
Altezza pun tak peduli dan langsung saja meninggalkan wanita itu seorang diri, entah wanita itu akan terluka atau pun tidak ia tak peduli. Yang terpenting bagi dirinya ialah, hanya Aisha lah yang berhak menyentuh dirinya bukan wanita manupun.
"Sial. Aku sudah kehilangan uangku dan aku terluka" ucap wanita itu yang tengah mencoba untuk berdiri, lantaran ia merasa nyeri di bagian pinggangnya.
Penjara bawah tanah, dalam markas rahasia ke dua milik Altezza.
"Kamu!!! Lepaskan aku sekarang!!" Pekik Rendra yang sudah terkurung di dalam penjara bawah tanah.
"Dulu hukum bisa kamu beli, sekarang kamu bisa merasakannya kan tuan Rendra Andara?" Ucap Altezza dan duduk di sebuah kursi sofa hitam yang cukup besar, bahkan para penjaga dan anak buah Altezza mengkawalnya di sana.
"Sial!! Cepat lepaskan aku, atau aku akan..."
"Akan apa?" Sela Altezza dengan tegas.
Altezza pun mengisyaratkan jarinya agar seseorang datang untuk menemui dirinya, saat seseorang itu datang betapa kagetnya Rendra melihat salah seorang yang paling ia percaya telah berhasil di tangkap oleh seseorang yang ia mungkin tahu siapa orang itu.
"Kamu... Kamu? Ke, kenapa kamu masih hidup? Marius!! Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi??!?" Ucap Rendra yang tak sabaran itu, saat melihat Leon dengan seseorang yang sangat ia kenal berada tepat di hadapannya.
"Maafkan aku tuan, kawanan kita semua sudah di bekuk tanpa sedikitpun yang tersisa. Kita semua sudah ada di dalam genggamannya sekarang" ucap Marius, komplotan Rendra Andara.
"Bodoh!!! Kenapa kau bodoh sekali, Marius!! Hilang sudah semuanya" Pekik Rendra.
"Maafkan aku tuan, karena..." Ucap Marius yang tak meneruskan ucapannya, lantaran ia sudah merasa takut.
"Karena apa?!!" Pekik Rendra.
"Tuan ini memiliki koneksi pada bos terbesar dunia bawah" ucap Marius.
"Apa?? Maksud kamu dia..."
"Cukup!! Leon, bawa dia kembali" perintah Altezza.
"Sial!!" Pekik Rendra dalam hati
"Siap, bos" ucap Leon dan bergegas pergi membawa Marius.
"Kamu, Gibran lepaskan Aku!! Lepaskan aku!!" Teriak Rendra.
"Haih... Berisik sekali" gumam Altezza, ia pun beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Rendra yang masih di dalam sel penjara itu yang masih saja bersikap arogan.
"Aku sarankan, sebaiknya kamu renungkan baik-baik tentang dirimu" ucap Altezza yang langsung berlalu.
"Sialan kamu Gibran!!! Lepaskan aku, lepaskan aku!!!" Teriak Rendra yang mulai kesetanan dan menggebrak jeruji besi.
"Diam!!!" Hentak penjaga penjara itu dengan suara yang menggelegar.
Sedangkan di sisi lain, di mana Leon yang telah memasukkan kembali musuh itu ke dalam sel penjara yang letaknya cukup jauh dari Rendra.
"Heh, mau mengalahkan bos? Tak semudah itu" ucap Leon dalam hati saat ia sudah mengunci pintu sel dengan senyum piciknya.
"Perkiraan bos memang selalu tepat, sekarang saatnya nona yang harus menunjukkan kehebatannya di sana" ucap Leon dalam hati, ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Rupanya, Altezza dengan mudah meringkuk komplotan Rendra Andara karena semua perkiraan yang ia perkirakan begitu tepat, bahkan jauh sebelum itu terjadi ia sudah menghilangkan semua jejak dan informasi tentang keberadaan Aisha. Bahkan keluarga Aisha yang ada di Indonesia juga sebenarnya selalu dalam pengawasan Altezza agar terhindar dari ulah Rendra, setiap kali anak buah Rendra mencoba mencari keberadaan keluarga Amon, pasti akan selalu gagal. Bahkan Rendra yang sempat mendengar rumor jika putri Amon tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita membuat Rendra penasaran sekaligus ingin memilikinya. Tentu Altezza sudah mengetahui karakter Rendra dengan baik, ia pun langsung menghilangkan semua jejak maupun informasi tentang Aisha sedikit pun.
Dalam peperangan ia juga memainkan sebuah drama untuk mengelabuhi musuh, saat Altezza hendak tertabrak truk besar ia sudah meloloskan dirinya lebih dulu dan segera menghilang dari tempat itu secepat mungkin dari tempat kejadian terbakarnya mobil, bahkan ia sudah mempersiapkan mobil yang sudah tersembunyi yang tak jauh pula dari tempat itu.
Sedangkan Leon, ikut berperan layaknya seseorang yang tengah kehilangan tuannya. Karena ia tahu, ada seseorang penyusup yang tak lain ialah Marius yang menyamar menjadi bawahan Altezza bahkan mencoba untuk membocorkan informasi siapa yang telah berani melawan Rendra. Penyusup itu bermaksud untuk menjebak Leon setelah insiden kecelakaan yang di alami Altezza dan mencari tahu dimana lokasi markas milik Altezza. Namun penyusup itu tak tahu, jika markas itu juga sebuah jebakan untuk komplotan Rendra Andara.
Leon yang bergulat dengan alat-alat canggih, rupanya diam-diam telah memasang bom untuk meratakan gedung itu. Saat Leon berkata ingin menangkap Rendra, penyusup itu pun tetap mengikuti Leon agar ia dapat memberi informasi untuk mencelakai Leon. Namun sebelum itu, Leon mendadak menaikkan kecepatan mobilnya dengan kecepatan penuh dan langsung berbalik arah untuk kembali ke markas, saat itu pula penyusup kembali membuntutinya untuk mengetahui kemana Leon akan pergi.
Saat penyusup menyadari, bahwa Leon kembali ke markas dan markas itu pun sudah rata, penyusup itu pun mulai merasa was-was dan baru menyadari, jika Leon nampak seperti tengah mencurigai dirinya. Dengan diam-diam penyusup pergi sebelum dirinya di bekuk. Namun, rencananya telah sia-sia lantaran sebelum dia berhasil pergi ia sudah berhasil di ringkus lebih dulu, bahkan yang memberi kabar jika seorang bos dan juga asisten sudah mati adalah Leon, setelah merampas ponsel milik penyusup itu.
Tentu, hal itu begitu mudah untuk menangkap Rendra. Kini Altezza sudah merasa cukup untuk bernafas lega, lantaran telah berhasil menangkap Rendra. Dengan segera ia mengurus semuanya agar Rendra mendapatkan hukuman yang setimpal, di tambah bukti kejahatan Rendra yang masih tersimpan rapi di sebuah chips yang ada didalam kalung Farosha.
Itulah sebabnya Rendra ingin membunuh keluarga Amon, lantaran Ares menyadari jika ada sesuatu di dalam kalung itu saat pelelangan dulu terjadi, Rendra begitu antusias dan sangat menginginkannya untuk memenangkan kalung itu. Ares yang menyadari akan gerak-gerik yang mencurigakan itu pun berusaha keras agar Amon lah yang memenangkan pelelangan kalung Farosha yang kebetulan Amon juga ingin memberikan kalung itu sebagai hadiah untuk istrinya, mama Hani.
Saat kalung di menangkan papa Amon, Ares meminta papa Amon agar tak menyerahkan kalung itu kepada mama Hani, sebab jika itu terjadi mama Hani akan dalam bahaya besar. Akhirnya kalung Farosha di bawa ke dalam keluarga Abraham untuk di teliti, dan rupanya memang ada sebuah rahasia tentang kejahatan Rendra yang tersembunyi begitu rapi di sana.
Saat itu pula, ketika Amon mengetahui suatu rahasia besar tersebut, Rendra merasa terancam. Namun Amon masih berbaik hati untuk memberi kesempatan agar Rendra dapat berhenti dari kejahatannya, tetapi kesempatan itu tak di gubris dan tetap untuk menyerang Amon, karena Amon juga merupakan pesaing bisnis terberat bagi dirinya jika menggunakan jalur kemampuan bukan kelicikan ataupun melalui jalan kegelapan.